
Di kebun belakang, Tian mengejar Erik memukulnya, tapi berhasil menghindar. Billa hanya diam saja di tatap tajam Bella.
"Kurang ajar kamu Rik." Tian teriak kesal.
"Billa bagaimana rasanya?" Bella menahan tawa, sedangkan wajah Billa memerah.
"Sabar kak Tian, Erik pasti tanggung jawab."
Erik sudah teriak kuat, rambutnya dijambak kuat, Ravi dan Tian mengeroyok Erik. Kasih tertawa bahagia, anak-anak asuh Erik juga tertawa melihat aksi gulat.
Jum yang mendengar keributan langsung berlari panik, melihat anak-anak bertengkar. Teriakan kuat Jum meminta berhenti terdengar sampai ke dalam rumah.
"Kalian sudah tua tidak malu dengan umur, bertengkar di depan anak kecil." Jum melotot.
Rambut Erik rontok banyak, baju Tian kotor seperti sedang ada gulat di lumpur, Ravi yang rencananya ingin melerai ikut berantakan bajunya sobek, sampai terlihat perutnya.
Kasih mendekati Ravi, menarik sobekan untuk menutupi perut suaminya. Widlan hanya merekam menahan tawanya.
"Ada apa Jum? allahu akbar." Viana kaget melihat penampilan Ravi, Erik dan Tian.
Reva berlari bersama Septi juga kaget, menatap lucu penampilan ketiganya.
"Apa yang kalian lakukan?" Bisma menggelengkan kepalanya.
"Kak Erik cium Billa, jadinya kak Tian marah. Aak ingin menghentikan, tapi ikut berkelahi juga." Kasih bicara polos.
Erik mengerutkan keningnya, Tian menghela nafas, Ravi hanya bisa gigit jari melihat istrinya. Widlan tertawa lepas bersama Vira, kepolosan Kasih menimbulkan petaka.
"Wil, kamu bisa tertawa?" Vira menatap Widlan sambil tersenyum.
Wajah Wildan kembali dingin, membuang pandangannya terhadap Vira.
Bisma melihat Jum yang terdiam, mengaruk tengkuknya pasti istrinya akan marah besar, Tian juga menundukkan kepalanya.
Jum langsung melangkah masuk, Billa mengejar Jum untuk meminta maaf. Erik juga melangkah masuk untuk meminta maaf.
"Bunda, maafkan Billa." Bil memeluk Jum erat, air matanya menetes.
"Maaf Bunda, Bil ikut semua perintah Bunda. Jika ingin Bil pergi, sekarang juga Billa akan pergi, meninggalkan semuanya. Bunda harus percaya Billa, Billa tidak pernah mengabaikan ajaran Bunda."
"Maafkan Erik Bunda, semua ini kesalahan Erik. Billa tidak bersalah, maafkan Erik yang lancang."
"Apa yang kalian berdua inginkan? ciuman setelahnya apa?"
__ADS_1
Erik diam, Billa hanya menangis. Ammar geram melihat diamnya Erik, Bisma juga kesal menunggunya. Sebagai seorang lelaki Erik tidak bertanggung jawab.
"Maafkan Erik Bunda, izinkan Erik menikahi Billa. Izinkan Erik bertanggung jawab untuk masa depan Billa." Erik menyentuh tangan Jum, menggenggamnya mencium tangan Jum.
Jum meneteskan air matanya, tidak sedikitpun Jum marah, bahkan dulu Bisma menciumnya tanpa mengungkapkan rasa cinta.
"Lama sekali anak kamu Mar, kesal menunggu Erik hanya untuk meminta izin." Bisma menggelengkan kepalanya.
"Setidaknya dia sudah mengatakannya."
"Erik mengikuti jejak kamu, sulit mengatakan cinta, sampai tua baru menikah." Bisma menepuk bahu Ammar.
"Karena wanita pilihan kami wanita istimewa, prosesnya panjang."
"Panjang dari mana Om, dulu yang selalu minta makan ke restoran siapa? banyak kompline siapa? Om Ammar orang yang menyebalkan." Septi melotot, Bisma menggelengkan kepalanya melihat Ammar yang tidak punya pengalaman soal cinta.
"Memangnya Ammar meminta kamu menjadi kekasihnya, atau jangan-jangan ...." Jum menatap Septi yang menghela nafasnya.
"Jangan ditanya kak Jum, dia tidak mengatakan untuk pacaran. Langsung menarik Septi tidak boleh dekat pria lain, bilangnya kamu calon istri saya."
Bisma meminta Erik mandi, melihat penampilan Erik lebih mirip gembel. Semuanya langsung bergerak untuk mandi, sarapan bersama, baru membahas pernikahan.
"Kita tidak jadi pulang hari ini?" Winda menatap yang lainnya.
Wildan menemui orangtuanya untuk pamitan pulang lebih dulu, Reva sudah menyetujui keinginan Widlan untuk pergi ke Roma, bersama Karan, dan Gemal. Karin juga ikut pulang.
"Karin, Mommy sama Mami ingin bicara." Viana meminta bicara pribadi dengan Karin.
Karin dan Reva mengikuti Viana, ketiganya melihat beberapa berkas VCLO. Viana ingin menyerahkan VCLO kepada Karin untuk menjadi pemimpin selanjutnya.
"Karin, VCLO perusahaan yang Mommy bangun, perusahaan yang Mami Reva pertahankan. Sudah banyak sekali penerus sebelumnya, sudah satu tahun VCLO kosong pemimpin, sudah saatnya kamu mengambil alih." Viana meminta Karin membaca berkas.
"Karin tidak pantas Mommy, VCLO perusahaan besar, sedangkan Karin kuliah saja tidak. Karin hanya seorang supir taksi."
"Mami dulu hanya anak lulusan SMA, bekerja berawal dari mencari uang, menjadikan hobi, hingga kuliah dan bisa seperti sekarang."
"Kasih jauh lebih berpengalaman dari Karin Mom, Mami."
"Kasih calon seorang Ibu, dia juga tidak menyukai sesuatu yang tidak menantang. Perusahaan membutuhkan orang seperti kamu, pemimpin yang bijaksana, mengutamakan kepentingan bersama."
"Pemimpin VCLO wanita hebat, mereka juga kuat dan tangguh. Viana wanita arogan, Reva wanita gila, bahkan rapat bersama Mommy dan Mami seperti memasuki bara api, sedangkan Karin."
Reva tertawa, menatap Karin menunjukkan beberapa foto Karin bersama Vira, menolong Winda, menjaga Bil dan Bella. Karin juga melihat dirinya yang bertarung dengan beberapa preman, ada juga foto Karin yang memenangkan banyak penghargaan.
__ADS_1
"Kamu wanita mandiri, kuat, juga berbakat. Kamu bisa menciptakan karya kamu di VCLO. Sudah saatnya kamu memulai Karin, jalan kamu panjang. Menjadi pemimpin VCLO bukan berarti kamu tidak bisa menikah."
"Mami, Karin belum ingin menikah. Karan juga masih banyak pekerjaan, bahkan dalam waktu dekat kami tidak bisa bertemu."
"Kamu mencintai Karan, secepat ini kamu melupakan Ravi. Dulu Mommy takut, jika kamu bisa saja menjadi orang jahat karena cinta." Viana mengusap kepala Karin.
"Bukan mudah melupakan Mommy, Karin hanya tidak ingin kehilangan kak Kasih, Karin juga ingin melihat Kasih dan Ravi bahagia. Jika mereka bahagia, sudah saatnya Karin mencari kebahagiaan juga. Karin tidak ingin memaksa sesuatu yang seharusnya tidak Karin dapatkan, suatu hari nanti, akan ada orang yang beruntung memiliki Karin."
Viana memeluk Karin, sangat bangga dengan pemikiran Karin yang memilih sakit diawal, menerima kenyataan, sampai luka sembuh, mencari bahagia lainnya.
"Semoga kamu bahagia Karin, kamu wanita istimewa yang Ravi kenal, walaupun kalian tidak berjodoh, Mommy bangga dengan kedewasaan Karin."
"Jadi, kamu bisa menjaga VCLO?" Reva menatap Karin yang mengagukan kepalanya.
"Alhamdulillah,"
Viana menceritakan asal dibangunnya VCLO, bahkan VCLO sudah 4 kali menganti pemimpi, Karin akan menjadi pemimpin ke lima VCLO.
"Selamat datang di VCLO Karin."
"Terima kasih Mommy, Karin membutuhkan bimbingan Mommy."
"Selamat Karin."
"Terima Kasih Mami, tolong bantu Karin untuk terus belajar."
Viana, Reva keluar, mengantar Karin ke depan pintu, Karan dan Widlan sudah menunggu Karin untuk segera berangkat.
"Wildan hati-hati kamu di negara orang, setiap hari harus menghubungi Mami."
"Iya, pasti Mami, doakan Wildan." Widlan memeluk Reva, Viana, juga Bima.
"Karan, jaga adik kamu Wildan. Kamu juga hati-hati, hubungi Papi setiap hari." Bima memeluk Karan, memeluk Bima membuat Karan merindukan Ayahnya.
"Terima Kasih Uncle, mohon doanya." Karan menundukkan kepalanya.
"Kamu bisa menggagap Uncle Ayah kamu, jadi anak yang baik Karan. Ayah kamu lelaki baik, dermawan tidak heran dia memiliki putra jenius."
"Terima kasih Uncle."
"Panggil Papi Karan, sini peluk Mommy. Senengnya dapat anak laki-laki lagi." Reva tersenyum memeluk Wildan dan Karan.
***
__ADS_1