
Malam semakin larut, seluruh keluarga sudah terlelap tidur. Ravi dan Wildan masih berada di dekat perapian, Ravi mengeluarkan rokok memberikannya kepada Wildan.
"Ingin mencoba, kamu sekarang sudah 17tahun jadi sudah boleh merokok."
"Aku belum ingin mati muda, pekerjaan sudah menumpuk tidak punya waktu untuk bersantai dan merokok."
"Hidup jangan dibawa serius, nanti kamu bisa jadi batu es." Ravi membuang kotak rokok, keinginannya menguji pergaulan Wildan selama tinggal di LN, tapi ternyata dia memang putranya Bima Bramasta.
Ravi menyerahkan selembar foto, tersebut senyuman melihat Wildan meremas foto. Orang pertama yang akan menjadi target mereka, Wildan harus pergi saat usia muda demi mengejar orang yang menyerang adiknya, tapi yang Wildan temukan hanyalah mayat.
"Mereka mulai bergerak lagi Wil, kak Ravi tidak mau kejadian lima tahun yang lalu terulang kembali. Kamu jangan pernah mencoba bergerak sendiri."
"Ya, kita harus pindah markas Daddy sudah mulai mengetahui pergerakan kamu."
"Jangan lupakan siapa Daddy dan Mommy, sekalipun kita sembunyi di lubang semut tidak akan luput dari pantauan mereka, tapi percayalah selama kita bergerak di jalan yang benar Daddy tidak akan ikut campur.
"Jadi Mommy tahu soal pria yang menyerang istrimu."
"Entahlah, tapi mata Mommy menatap tajam dan tersenyum sinis, Daddy juga tersenyum tipis."
Wildan mengambil ponselnya, melihat keamanan di lokasi rumah mereka, dalam tiga hari Wildan sudah mengontrol keadaan tapi tidak ada tanda pergerakan penyerang.
"Ini hanya ancaman kak Ravi, mereka sedang mengetes kehebatan wanita itu. Keamanan kompleks kita tidak akan. mudah di tembus."
"Satu pemikiran."
Wildan mengerutkan keningnya, memperbesar layar ponselnya. Melihat kejadian malam penyerangan, Ravi ikut melihat yang Wildan perhatikan.
"kamu normal Ravi, urat malu kamu sudah putus sampai harus menggunakan rok." Wildan menggeleng.
"Semuanya karena Erik, salah Erik memberikan bokser kucing."
"Bikin jijik!"Wildan langsung merinding dan melangkah pergi, Ravi cemberut langsung menendang angin.
***
"Vira bangun, ada pesta kembang api tidak jauh dari sini."
"Tahu dari mana."
"Bella yang menemukan lokasinya, ayo kabur." Winda nyegir turun perlahan, diikuti oleh Vira.
Sesampainya di depan rumah, Bella dan Billa sudah menunggu. Sebelum melangkah, Billa menahan ketiganya karena takut Wildan mengetahui pergerakan mereka, apalagi Wildan juga sedang berada di rumah.
__ADS_1
"Billa takut,"
"Aku juga takut, tapi kesenangan kita datangnya satu kali, sedangkan di marah kak Wildan setiap hari." Winda tidak perduli sekalipun harus mengemis kepada kakaknya yang super galak, tegas, dingin.
"Ayo cepat." Bella dan Vira sudah melangkah lebih dulu.
Penjaga juga sudah tidur di pos jaga, ketiganya membuka gerbang, sedangkan Winda masih di belakang melihat keadaan.
Berhasil ke luar keempatnya langsung berlari di tengah malam, berjalan kaki mengikuti lokasi yang Bella dapatkan, yang jaraknya sangat dekat.
Belum 10menit Wildan memejamkan mata, suara ponselnya terdengar. Di lihatnya rekaman empat bocah kabur, Wildan menghubungi Tian untuk mengatakan jika empat bocah kabur, Wildan ingin tidur karena belum sempat tidur hampir dua hari.
Tian langsung berlari bersama Tama mengejar keempat bocah nakal, tidak jauh dari motor Tama pertarungan sudah terlihat.
Vira geng di serang orang, cepet Tian lompat dari motor untuk menolong adik-adiknya. Tama juga langsung meninggalkan kendaraannya, ikut bertarung.
"Twin B, W dan V kalian aman, terluka tidak?"
"Kita berempat aman," jawab Winda, memastikan kedua sepupunya juga Vira tidak terluka.
Ada sekitar 10orang yang menyerang, mengeluarkan senjata diarahkan di depan kepala Tian. Bella langsung teriak ingin maju, tapi Winda menahannya.
Tian masih santai, Tama lebih santai lagi dia sudah biasa melihat senjata bahkan menggunakannya. Tian juga sudah biasa karena sering melakukan olahraga menembak.
"Seperti palsu Tian, lihatlah dia bahkan tidak bisa menggunakannya."
Tian hanya tertawa, padahal keduanya tahu jika orang di hadapan mereka sangat berpengalaman. Tian mengirimkan lokasi ke Ravi dan Wildan tapi keduanya off, langsung ke Erik tapi belum juga di respon.
Semuanya diam saat tembakan di arahkan ke atas, Billa langsung teriak karena kaget, Winda sudah lompat bersama Vira.
Doooorrr
"Awww pocong, kaget monyet kalian." Umpat Vira membuat Bella tertawa, belum lagi mendengar Winda.
"Kodok kucing nenek lampir, aduhhh kaget." Winda menutup mulutnya lalu tertawa bersama yang lainnya.
Suasana tegang berubah menjadi tawa karena ulah empat wanita, saat mereka tersadar pertarungan sudah terjadi. Tama dan Tian bertarung mengalami banyak orang.
"Ayo maju, berhati-hati mereka bukan preman pasar, tapi orang berpengalaman." Vira memperingati gengnya agar tidak meremehkan musuh seperti biasanya.
Tiga orang maju, hanya Billa yang diam saja. Dia coba menghubungi Ravi dan Wildan. Pertarungan sama kuatnya Bella terlempar, Tian langsung menyingkir melihat keadaan Bella yang terjatuh.
Winda dan Vira masih tanguh untuk melawan, Tama cukup salut dengan dua gadis nakal Bramasta dan Prasetya, yang selalu berulah tapi soal berkelahi bisa di ancungkan jempol.
__ADS_1
Pukulan dan tendangan Vira bisa menjatuhkan, bahkan tubuh kurus Winda bisa berada dipunggung memutar kepala sampai pingsan. Tama langsung menarik Vira yang hampir terkena tusukan, Tian juga menggunakan pukulan untuk menyingkirkan Winda yang hampir mendapatkan tendangan di kepalannya.
Hampir seluruh orang terjatuh, hanya menggunakan penerangan lampu jalanan. Tian melihat senjata mengarah kepada Billa yang sedang menelpon dengan wajah cemberut, bahkan menendang batu.
"Awas dek," Tian berlari ingin melindungi Billa tapi Bella sudah memeluk adiknya, sedangkan Tama mengeluarkan senjatanya melepaskan tembakan.
"Billa, kamu harus konsentrasi yang di sini, fokus Bila." Teriak kesal Bella, hampir saja adiknya terluka.
Satu orang tertahan, sisanya melarikan diri. Tama berlari menahan tubuh Tian yang ambruk, Winda dan Vira terduduk lemas melihat Tian tertembak.
"Kak Tian!" Billa menunjuk kakaknya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Kakak!" Bella berlari, mendekati tubuh Tian mengoyangkan tubuhnya meminta untuk bangun.
Kasih terbangun dan keluar perlahan, melihat ponselnya yang mendapatkan pesan dari Billa, cepat Kasih mencari kamar yang bertulisan nama Ravi.
"Ravi, buka pintu." Kasih langsung mendobrak, melihat Erik yang sedang membaca laporan dan mempelajari lebih soal operasi yang akan berlangsung siang.
"Ada apa?" Erik langsung berdiri, saat melihat video yang dikirim Billa, langsung mengecek ponselnya.
Erik meminta Kasih membangunkan Ravi, dan dia langsung pergi menuju lokasi.
Kasih menaiki tangga, melihat Ravi yang sedang tidur tersenyum. Kasih menarik rambut Ravi, langsung menahan hidungnya agar tidak bisa bernafas, tapi mulut ravi terbuka, bernafas dari mulut, Kasih langsung menutup mulut Ravi.
"Tolong, aku tengelam!" Ravi langsung kaget dan duduk, mengambil nafas, mengaturnya sampai normal.
"Astaghfirullah Al azim, aku mimpi tengelam."
"Tengelam di laut merah, cepat turun."
"Sayang,"
"Ayo tidur berdua."
"Ravi, kamu masih bisa bercanda, adik-adik kamu dalam bahaya." Kasih menjambak rambut Ravi, yang langsung lompat dari tempat tidurnya, Kasih melotot karena Ravi menggunakan bokser beruang.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1