
Viana sedang bersantai di kamarnya, dia sudah bersiap menyambut kepulangan Rama yang sudah 3hari meninggalkannya. Rasa rindu yang teramat dalam Vi rasakan sudah tidak bisa terbendung lagi, 3hari rasanya seperti 3 tahun, senyum terus terukir dari wajah cantik seorang Viana.
Vi berbaring ditempat tidur sambil memejamkan matanya, suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Vi, yang langsung berubah menjadi senyuman termanis. Viana langsung bangkit dari tempat tidur, merapikan bajunya, melihat make up tipis ala Korea yang dipakainya, menggunakan parfum kesukaan Rama. Vi bergegas membuka pintu sambil tersenyum tapi saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu membuat senyum Viana berubah menjadi gelap.
Chintya langsung mendorong Viana masuk kedalam kamarnya, Tya melihat seisi kamar tanpa sopan santun santun, Vi membiarkan dengan tetap tersenyum sinis.
"Kamar ini akan menjadi milik aku dan Rama, Tante ganjen seperti Lo gak pantes berada disini, lagian gue heran Lo punya banyak harta, bisnis Lo ada dimana-mana tapi mengapa harus mengincar ABG, urat malu Lo dimana? apa Lo lagi sembunyi dari kejahatan Lo?"
"Tya kamar ini sudah menjadi saksi bisu percintaan kami, disini kami menyatukan cinta, disini aku dan Rama bisa saling melihat tanpa busana, kamu lupa Tante ganjen ini sudah membuat seorang ABG terus meminta jatahnya."
"Diam ...." teriak Chintya menghentikan ucapan Viana.
"Luar dan dalam Rama sudah menjadi milikku Tya, dia mencintai aku, dan cinta Rama hanya milikku."
"Bagaimana jika Rama tahu kamu seorang pembunuh berdarah dingin?" tanya Tya tersenyum licik membuat kening Viana berkerut.
"Aku tahu Vi, kamu tidak normal di dunia bisnis, kamu sangat terkenal di pasar gelap, kamu pemimpin yang memiliki kekuasaan besar dan banyak menjatuhkan bisnis lalu mengambil alihnya."
"Kamu membunuh banyak orang tanpa belas kasihan, tidak peduli tua muda, pria dan wanita, bahkan anak-anak."
"Siapa yang mengatakannya? Mita! kau bekerja sama dengannya."
"Kau tidak mengenali aku Tya, apa pernah kamu melihat aku membunuh secara langsung? apa kamu juga pernah melihat aku di pasar gelap secara langsung?, berita apapun yang kalian dapatkan bukanlah kenyataan, dan aku tahu Rama cerdas dalam berpikir, dia tidak akan pernah mengambil keputusan sepihak secara langsung tanpa bukti, Carilah bukti jika yang kalian tuduhkan semuanya benar."
"Silahkan keluar Tya, sebelum aku benar-benar menyakitimu."
__ADS_1
Tya melangkah mendekati Viana dan menampar wajah Viana, mata Vi langsung merah menatap tajam kearah Tya, Kemarahan mereka berdua sama berada dipuncak nya, Viana menampar balik Tya sampai terlempar, kegilaan Viana muncul saat tubuhnya tersakiti. Vi menduduki tubuh Tya dan memukulinya berkali-kali, sampai darah segar mengalir keluar dari tubuh Tya, wajah Vi kembali ditampar, rambutnya dijambak.
Sebuah senjata diarahkan dikepala Viana membuat Vi tertawa menggema dan menyeringai, suara tembakan terdengar tapi peluru menghantam kaca sehingga pecah berhamburan, Viana yang coba merebut senjata dan memukuli Tya tidak menyangka jika Tya akan benar menembak.
Semua yang ada dikediaman Rama teriak kaget mendengar suara tembakan dari arah kamar Vi, semua orang panik naik keatas begitu juga dengan Oma Irma yang dari tadi membaca berkas yang dikirimkan kepadanya, isinya tentang Viana yang pernah gila dan foto-foto Vi menembak orang disebuah hutan secara membabi buta sudah cukup membuat Oma shock dan sekarang semakin kaget saat mendengar suara tembakan.
Oma melangkah cepat diikuti beberapa maid, suara tembakan kembali terdengar saat pintu terbuka betapa kagetnya mereka semua saat melihat darah sudah mengalir, Viana sudah terduduk memegang sebuah senjata, dan seorang gadis sudah bermandian darah tidak sadarkan diri, Oma yang melihat langsung teriak histeris. Viana sama kagetnya saat melihat Oma datang dan langsung membuang senjata yang ada ditangannya.
Oma memegang jantungnya dan langsung jatuh pingsan, Viana menenangkan diri sendiri, meminta mereka membawa Oma dan Tya ke rumah sakit.
Dengan cepat perintah Vi dilaksanakan, Jum meneteskan air matanya melihat tatapan kosong Viana dan langsung memeluk Vi
"Bukan kak Vi yang melakukannya, semua ini salah paham kak, tenanglah. Tuan muda akan segera datang dan menyelamatkan kak Vi."
"Jum akan membersihkannya, dan ini akan tetap menjadi tempat favorit kak Vi."
"Aku tahu hari ini pasti akan datang, hanya saja tidak menyangka secepat ini,"
"Ayo bersihkan tubuh kak Vi, Jum akan membersihkan semua darah, disini kak Vi tersangka utama tapi Jum yakin bukan kak Vi yang melakukannya."
"Memang bukan aku, dia menembak kepalanya sendiri, dia tidak akan mati tapi akan cacat selamanya, dia akan hidup seakan mati, pelajaran untuk kamu Jum jangan serakah, jika kamu kehilangan sesuatu jangan paksa untuk mendapatkan nya kembali, Tya hanya lah korban yang digunakan untuk keuntungan orang lain tapi dia juga yang akan rugi seumur hidupnya."
Viana masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya untuk segera bergegas menuju rumah sakit, Rama juga sudah dihubungi tentang keadaan Oma yang penyakit jantungnya kambuh.
***
__ADS_1
"Kita langsung ke rumah sakit kak Bim."
Rama yang mendapatkan informasi dari rumah jika Oma dilarikan ke rumah sakit, langsung putar arah menuju tempat Oma dirawat, tiba disana Rama melihat Bisma dan bibi didepan pintu rawat.
"Mana Viana?"
"Masih dirumah, akan segera datang tuan muda, " jawab bibi.
Tidak ada yang berani menceritakan apa yang terjadi dirumah, biarlah Viana sendiri yang mengatakannya, sekarang lebih baik fokus dengan keadaan Oma. Keluarga Viana juga mendapatkan kabar Oma Irma masuk rumah sakit langsung bergegas pergi kerumah sakit yang tidak terlalu jauh dari kediaman keluarga Arsen.
Dokter keluar mengatakan Oma sudah stabil, akan dipindahkan ke ruang rawat. Rama mengikuti suster yang membawa Oma ke ruangan yang sudah Rama siapkan dengan fasilitas terbaik.
Rama duduk di kursi melihat keadaan Omanya yang sangat lemah, Rama binggung mengapa jantung Oma bisa kumat padahal Oma selalu kontrol ke dokter, apa yang terjadi sehingga membuat Oma sangat terkejut.
Sudah dua jam Rama menunggu kedatangan Viana, berkali-kali dia coba menghubungi tapi tidak aktif, Rama memberikan perintah ke Bisma untuk menjemput Vi, di kepala Rama sudah penuh pertanyaan tentang apa yang terjadi.
Rama melihat Oma yang belum sadar, air mata Oma mengalir keluar membuat Rama yakin pasti hal yang sangat mengejutkan sudah terjadi. Rama menghapus air mata Oma dan mengelus tangan Oma.
"Oma tenanglah, Rama ada disini, Rama akan dampingi Oma, cepat sadar Oma." Ucap Rama pelan.
***
terimakasih yang sudah baca yaaa reader...
jangan lupa like coment dan vote...
__ADS_1