SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MUDA SAMPAI TUA


__ADS_3

Kegaduhan terjadi Vira sudah memeluk Rama meminta perlindungan. Ravi sudah menggigil memeluk Kasih, Tian juga gemetaran Jum cepat mencari handuk mengeringkan putranya.


Wildan menatap tajam, dia yang paling banyak terkena sial, double penyiksaan. Winda hanya senyum dalam pelukan Bima.


"Papi maafkan Winda, tapi Winda belum ingin menikah." Winda memeluk erat Bima.


"Iya sayang, fokus saja dengan kuliah kamu." Bima mengelus kepala Winda, putrinya yang paling manja.


Wildan terus kesal masuk ke dalam kamar, berendam air hangat, baru berganti baju. Suara ketukan pintu terdengar, Wildan mempersilahkan masuk. Winda melangkah mendekati Wildan sambil tersenyum.


Vira, Bella Billa juga masuk. Wildan masih mengeringkan rambutnya, diam saja mengabaikan keempat wanita di sofa.


"Kak,"


"Emhhh."


"Hari ini Papi Mami Anniversary pernikahan ke-19 tahun, kita jarang memberikan kejutan bersama. Kak Wildan punya rencana." Winda menatap Wildan yang sedang berpikir.


"Kak Windy kapan datang?"


"Pagi, sebelum kapal berlayar."


Wildan melakukan panggilan video dengan Windy di hotel, Windy sudah bangun untuk sholat, juga bersiap-siap untuk ke kapal. Wildan menjelaskan segala keperluan, Vira Winda terus memberikan usulan, hal yang romantis Vira paling jago, Billa juga mendapatkan tugas membuat kue dalam waktu singkat.


"Kita hanya mempunyai waktu hanya 3 jam, kalian kerjakan tugas masing-masing. Aku akan menghukum tim yang menyerang kita."


"Bella setuju, hukum mereka Wil, salah satunya Tim kak Ravi yang beraninya mengerjai kita."


Wildan langsung pergi, mencari ruangan sholat, selesai sholat Wildan berlari mencari Karan, Gemal juga tim kepercayaannya yang berani berkhianat.


Karan sudah melarikan diri ke luar kapal bersama Yusuf, Wildan masuk ke dalam ruangan Tim. Semuanya berdiri memberikan hormat.


"Kalian semua mengkhianati aku?"


"Maaf Wil, Ravi mengatakan hanya untuk perayaan ulang tahun."


Wildan langsung mengambil alih komputer, masuk ke dalam sistem milik Karan. Memblokir keuangan, perusahaan, saham milik Karan. Wildan tidak akan. mengejar, tapi akan membuat Karan datang kepadanya.

__ADS_1


Semua yang melihat cara kerja Wildan menelan ludah, bocah yang pendiam sedang marah. Menghancurkan siapa yang dia inginkan, Wildan juga melihat transaksi Karan bersama orang dari Roma. Kemarahan Wildan berpindah ke Gemal yang mewakili Wildan untuk mengurus kasus Vira bersama tim dari Roma.


Kehadiran tim dari Roma, bukan untuk menyakiti Vira Bella, tapi ingin bekerjasama dalam bisnis. Perusahaan yang dulunya ilegal, berubah menjadi perusahaan yang mengikuti peraturan.


Ravi menolak mengirim adik-adiknya, jadinya Gemal yang turun tangan. Karan yang mengontrol, Wildan menutup seluruh saham Gemal, memblokir akun bank, bahkan perusahaannya juga dalam masalah.


Karan yang sedang berada di pinggir pantai, bersama Yusuf dan Gemal langsung kaget melihat ponsel masing-masing.


"Sial Wildan mengamuk." Karan langsung berlari, untuk menemui Wildan.


Gemal juga berlari, sebelum para pemegang saham tahu. Yusuf tersenyum melihat Wildan akhirnya mengeluarkan seluruh rahasia dirinya yang luar biasa.


Pintu terbuka kuat, Karan dan Gemal melihat Wildan yang sudah duduk santai. Keduanya mengerutkan kening duduk di dekat Wildan.


"Wil, kita hanya ingin memberikan kejutan birthday. Kenapa kamu harus marah?" Karan bicara pelan.


"Kalian melanggar peraturan, aku tidak suka kalian membuat aku seperti orang tidak berguna."


"Oke kita minta maaf Wil, tapi jangan bercanda dengan perusahaan." Gemal mengacak rambutnya.


"Kalian aku beri waktu 2 jam, cari hal yang berharga, paling disayangi ketiga kakakku, kecuali Kasih, Bella, Billa. Mereka jangan dilibatkan."


"Barang ya Wil?"


"Terserah." Wildan meminta semuanya bekerja.


Karan menghela nafas, Wildan mulai mencari keuntungan. Sebentar lagi, Karan yakin dirinya dan Gemal yang paling menderita.


"Kalian berdua mempunyai tugas khusus ...." Wildan tersenyum, langsung melangkah pergi. Karan dan Gemal terduduk lesu, langsung cepat bergerak.


"Wildan sialan." Karan mengacak-acak rambutnya.


Tatapan mata Wildan sinis melihat Ravi, Tian, Erik sedang asik bercanda.


"Maaf ya kak, Wildan akan memberikan kalian kejutan." Wildan tersenyum.


***

__ADS_1


Kapal akan berangkat jam 9 pagi, karena sampai waktu subuh belum tidur, seluruh kamar masih tertutup rapat.


Wildan berjalan di pinggir pantai melihat matahari terbit, terlihat juga kesibukan Karan dan Gemal merangkai bunga mawar. Karin juga membantu, Windy juga sudah tiba tanpa anak dan suaminya. Bahkan Karan harus mengedor toko bunga demi bisa mendapatkan mawar merah dan putih.


Gemal memaksa toko terdekat untuk buka awal demi membeli balon, juga perlengkapan lainnya. Selama merangkak bunga Karan dan Gemal terus mengumpat Wildan, Karin hanya tertawa melihat dua orang yang selalu kesal.


Billa menyelesaikan kuenya, terlihat sangat cantik berwajah merah putih. Winda bertepuk tangan melihat karya Billa, bukan hanya pintar dalam dunia medis, tapi pintar juga dalam memasak.


Bella Vira sibuk mempersiapkan balon, Windy juga membantu agar cepat selesai sebelum kedua orang tuanya bangun.


Di dalam kamar Bima sudah bangun, melihat istrinya yang masih terlelap tidur. Bima mencium kening Reva yang sudah mendampinginya selama 19 tahun, tidak pernah terjadi pertengkaran besar, hanya perdebatan kecil.


"Sayang, terima kasih sudah menjadi istri terbaik. Kamu terlalu sempurna untukku Reva."


"Sudah tua masih bisa romantis juga?" Reva tersenyum.


"Kamu ingin hadiah apa di ulang tahun pernikahan kita?"


"Cukup menua bersama, kita melihat Winda, Wildan menikah. Jika masih ada waktu Reva ingin kita bisa melihat putra putri dari kedua bayi kembar kita Ayy." Reva memeluk Bima, meneteskan air matanya.


"Aku sangat bersyukur masih memiliki usia panjang, melihat anak kita tumbuh besar. Aku juga ingin lebih lama lagi melihat keluarga kita." Bima juga meneteskan air matanya.


Reva melihat balon berterbangan, langsung melangkah keluar bersama Bima melihat di pinggir pantai love sangat besar dari bunga mawar, terlihat juga tulisan happy anniversary Papi Mami.


Bima memeluk Reva melihat ketiga anaknya sedang menunggu di bawah, Viana dan Jum juga keluar meneteskan air matanya.


"Kak happy anniversary." Bisma menatap Bima.


"Reva Bima selamat ya, kalian harus selalu bahagia, kita semua harus bahagia." Viana memeluk Rama, tersenyum melihat ke bawah.


"Selamat ya kak." Rama juga sangat bahagia, melihat Bima sebagai Kaka juga orangtua baginya, Reva sahabat terbaiknya, bisa melewati bahtera rumah tangga selama 19 tahun.


"Tanggal dan bulan ini spesial sejak 19 tahun yang lalu, hari bahagia pernikahan, juga hari kelahiran Vira, satu setelahnya Wildan Winda memaksa lahir di ulang tahun Vira, tapi ternyata Bella Billa yang keluar duluan, baru Wildan Winda menyusul. Setiap tahun selalu Istimewa melihat tumbuh kembang mereka. Sampai haru ini mereka sudah besar, cantik dan tampan sedangkan kita sudah menua." Jum meneteskan air matanya, Bisma memeluk dari belakang istri polosnya.


"Reva bahagia melewati setiap tahun bersama, selalu ada kita. Dari muda sampai tua."


***

__ADS_1


__ADS_2