
Rama memperhatikan perubahan Ravi yang lebih sering melamun, bahkan saat ularnya menghilang dia hanya diam saja. Di taman Ravi duduk seseorang diri melihat langit biru sambil melukis kata-kata dengan tangannya.
"Ha Ravi! aunty boleh duduk." Jum mendekati Ravi yang juga memperhatikan perubahan Ravi yang lebih pendiam.
Viana mendekati Rama yang berdiri diatas balkon memperhatikan Ravi dan Jum, Vi memeluk Rama dari belakang membuat Rama tersenyum.
"Aunty! uncle Bisma di mana? tidak pernah berkunjung yang datang hanya uncle Bima. Ravi rindu." Ravi masih menulis kata rindu kearah langit.
"Aunty tidak tahu, coba Ravi tanya mommy dan daddy atau uncle Bima." Jum ikut meneteskan air matanya, melihat kesedihan Ravi.
"Mommy tidak mungkin tahu, mau tanya daddy tapi Ravi takut kehilangan daddy. Ada pepatah jika kamu mendapatkan sesuatu maka kamu juga akan kehilangan sesuatu juga. Dulu Ravi tidak punya daddy, setiap hari uncle beri semangat, saat Ravi bertemu daddy uncle yang pergi. Ravi bukannya serakah menginginkan segalanya, Ravi hanya rindu." Tangisan Ravi pecah sambil memeluk lututnya menangis, Jum memeluk Ravi dan ikut menangis.
"Ada pepatah mengatakan setiap perpisahan pasti ada pertemuan,"
"Tidak terbalik ya aunty," Ravi menggakat kepalanya menggaruk binggung.
"Emhhh anggap saja seperti itu, coba tanya uncle Bima,"
"Jangan! uncle kemarin pusing mengurus aunty Reva, mungkin juga sekarang sedang mencari uncle, Ravi mendengar pembicaraan daddy."
"Berarti sekarang kita sabar saja, semoga uncle Bisma cepat pulang, dan bisa berkumpul lagi dengan kita semua."
Viana langsung masuk kamar yang diikuti Rama, Vi mencari ponselnya coba menghubungi Bisma.
"Nomor tidak aktif lagi, Bima sudah berusaha mencari Bisma tapi dia selalu berpindah negara."
"Bisma! beraninya Lo membuat anak gue sedih, air matanya luka untuk gue," tangisan Viana tumpah, Rama cepat memeluk Vi menenangkan.
"Hubby yang akan mencari Bisma,"
"Tidak perlu hubby, Vi tahu di mana Bisma, ayo kita liburan saja hubby."
"Liburan!" Rama binggung, liburan dadakan pekerjaan banyak belum lagi soal Ririn.
"Pokoknya liburan, kalau hubby tidak mau Vi pergi bersama Ravi."
"Oke mom, kita pergi tapi beri waktu seminggu untuk bersiap."
"Tidak bisa, kebahagiaan Ravi segalanya untuk mommy, 2 hari lagi kita pergi." Viana langsung keluar kamar takut Rama menyadari ucapannya.
"Demi bertemu Bisma Vi, dulu Ravi memohon bertemu aku kamu menolak," teriak Rama.
Viana cepat menuruni tangga mendengar teriakkan Rama, Vi pergi ke taman menemui Ravi dan Jum.
__ADS_1
"Jum! siap-siap kita pergi ke negara N," Viana langsung mencium pipi Ravi dan menekan hidungnya yang memerah.
"Acara apa kak Vi?" Jum melihat jadwal kerjanya dalam dua hari ke depan.
"Bulan madu!" Viana melangkah masuk menggendong Ravi.
***
Bima yang mendengar Rama akan liburan ke negara N mengerutkan keningnya, keadaan lagi banyak pekerjaan belum lagi urusan Bisma dan pernikahan nya.
"Minta Ammar kembali kak,"
"Apa?!" Bima lebih kaget lagi, dan tidak mengerti dengan pikiran Rama.
"Kamu saja yang pergi bersama Ivan, kakak mengurus pekerjaan, dan Ammar tetap di sana."
"Kakak harus ikut, Reva pasti mengamuk. Kita punya waktu 1hari menyelesaikan pekerjaan."
Bima duduk di sofa menghembuskan nafas kasar. "Reva bukan mengamuk lagi tapi sudah kabur dan melempar cincin pertunangan."
Ammar masuk ke ruangan Rama dengan wajah cemberut, dia langsung duduk dengan tatapan kesal.
"Maaf ya kak Ammar, jika Vi tidak mengancam membawa Ravi mungkin aku juga tidak pergi, karena Vi tidak akan pergi tanpa Ravi."
"Sudah ini kak Ammar boleh liburan, Rama tidak punya orang kepercayaan."
"Janji terus Ram, dari usia 25tahun ikut Viana sekarang usia 38tahun masih jomblo, kamu tidak kasihan."
"Lo yang menolak jodoh Mar,"
"Gak usah ikutan Bim, bentar lagi juga Lo bakal ngerasain yang namanya neraka dunia."
Rama dan Bima hanya tertawa melihat kekesalan Ammar, di depan orang lain mereka sosok pria yang dingin dan keras tapi saat bertemu penuh canda dan tawa.
Pintu di dobrak, Ammar langsung menodongkan senjata, Ivan langsung angkat tangan dan tertawa terbahak-bahak tanpa sebab.
Ammar melihat Ivan yang datang langsung menundukkan kepalanya semakin lesu, Ivan yang melihat Ammar masih tertawa tidak jelas membuat Rama dan Bima binggung.
"Hai kak Ammar," mata Ammar hanya memincing mata membalas sapaan Ivan.
"Lo bahagia banget Ivan, ada apa?"
"Kak Ammar tidak menjalankan misi, tapi pacaran! kalian tahu siapa pacarnya,"
__ADS_1
Ammar langsung berdiri dan memukuli Ivan sampai diam, membuat Rama geleng-geleng dan Bima hanya tersenyum.
"Pantas saja misi lama selesai, kemarin saat jalankan tugas dengan Viana juga tidak konsentrasi membuat Vi hampir dalam bahaya, perempuan memang bisa membuat gunung es mencair."
"Istri Lo lebih hebat dari gue, makanya kemarin lengah, gue sudah mendampingi Vi lanjut Lo bentar lagi anak Lo."
Alarm Rama berbunyi membuatnya langsung menghidupkan monitor, Ammar juga mendapatkan pesan membuat mereka saling pandang.
"Hebat! sejauh mana kalian bermain tidak akan pernah bisa lepas, sekarang saat konsentrasi Ammar."
Ammar langsung pergi meninggalkan LOVER, Bima dan Ivan juga langsung pergi ke server utama. Rama menatap layar penuh Kemarahan.
Saudara bisa menjadi musuh, sedangkan orang lain bisa menjadi saudara, orang terdekat dan terlihat baik lebih berbahaya daripada orang yang memang sudah terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan.
Hal yang paling menyakitkan saat orang terdekat mengkhianati, hal yang paling menggores luka orang kepercayaan yang menjadi musuh dalam selimut.
Musuh sudah ada di depan mata, tapi sibuk mencari yang tidak terlihat.
"Demi keluarga kecilku, aku akan menuntaskan kalian semua."
***
Viana melangkah memasuki VCLO, sudah terdengar keributan di ruang meeting yang di pimpin Reva, Clara keluar buru-buru atas perintah Reva.
"Ada apa Cla? Lo diusir."
"Tidak! Reva bakal mengamuk dan meminta aku keluar takut anak gue denger dia marah, mendengar teriakan Reva anak gue langsung nendang."
"Upz kasihan kesayangan aunty, kita kabur saja gue juga takut nanti di telan Reva, dia lebih galak dari gue." Viana mengelus perut Clara yang sudah besar,
Viana dan Clara pergi menjauh, suara keras terdengar dari dalam ruangan, Vi dan Cla menoleh dan langsung pergi.
"Kasihan Sisi bisa cepat tua bekerja dengan Reva, mana masih jomblo. Sepertinya gue harus cariin dia jodoh."
"Tidak perlu, Sisi punya ABG tampan, tidak kalah sama hubby Lo, tapi dia tidak sedingin Rama."
"Mana mungkin! Rama limited edition, spesial satunya di dunia ini,"
Tawa Viana dan Clara bersama mengigat Sisi yang selalu gagal dalam percintaan.
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE