
Raut menahan amarah terlihat dari wajah Reva melihat gadis yang duduk di kursi penumpang. Reva melepaskan seat ball dan membuka pintu mobil, Bima menahan tangan Reva tapi ditepis dengan kuat.
"Reva! dengarkan aku."
Dengan cepat Reva membuka pintu penumpang, membuat Windy ketakutan.
"Papi!" Windy menempel tubuhnya di pintu dan memeluk kursi kemudi Bima, dia takut ditarik keluar oleh Reva.
Reva langsung masuk dan duduk disamping Windy sambil melotot, Bima coba bicara dengan Reva tapi langsung dibentak dan meminta menjalankan mobil.
"Mau apa kamu, terlalu miskin ya sampai nebeng mobil gue,"
"Papi mobilnya jauh lebih mewah dari mobil Tante."
"Terserah lah, kamu pasti seneng kan, sekarang aku sudah menyerah, semoga kalian kembali menjadi keluarga yang bahagia, gue bakal pergi jauh." Tatapan mata Reva keluar jendela.
"Tapi Windy disini dukung Tante, Tante jangan pergi."
"Windy! mencintai sangat mudah yang sulit menjalani, mungkin papi kamu berpikir saya hanya akan mencintai dia, tidak akan pernah bisa menerima kamu, aku sangat mengerti."
"Maafkan Windy,"
"Aku sudah menyerah,"
Tangisannya Windy langsung pecah, dia memeluk Bima dari belakang.
"Papi maafkan Windy, Windy menjadi penghalang Papi dan wanita yang papi cintai, Windy tidak mau tinggal sama Bunda, tapi Windy juga tidak mau papi tidak bahagia."
"Windy kamu harta papi yang paling berharga, papi tidak akan membiarkan Windy kembali ke bunda. Selamanya Windy akan tetap bersama papi, Windy sumber kebahagiaan papi."
"Wooyy, drama banget kayak film Korea, pakai nangis-nangis segala, om jika Windy harta om, Reva apa om? gantungan kunci ya."
Mendengar ucapan Reva Windy yang tadinya menangis langsung tertawa cekikikan, Reva langsung menatap sinis Windy tapi kini Windy tidak takut lagi, karena wajah Reva tidak galak tapi mengemaskan.
"Muka gue lucu ya, perasaan gak ada orang yang takut sama gue," Reva melihat wajahnya di kaca dekat Bima, membuat Bima tersenyum.
"Om, wajah aku mengemaskan ya,"
"Ya, kamu cantik, lucu, mengemaskan, pekerja keras, baik, tulus, dan sangat menyayangi keluarga, saya merasa terlalu beruntung jika dicintai wanita seistimewa kamu."
"Iya ya, aku yang tidak beruntung, jatuh cinta sama laki-laki tua." Suaranya sengaja dikeraskan dan ditekan.
"Mami, papi usianya saja yang tua, tapi masih tampan, gagah, pekerja keras, baik, banyak duit, papi juga banyak bisnis."
"Kamu sedang jadi Mak comblang atau mau jual papi kamu."
"Tapi Windy benarkah."
__ADS_1
"Emhhh..., iya aduiii enak ya berada di pelukan papi." Reva tersenyum sambil memukul pelan Windy yang juga dibalas oleh Windy dan mereka tertawa bersama.
Bima tidak menyangka Reva hanya bereaksi sesantai ini, dia berpikir Reva tidak akan menerima Windy, tapi nyatanya Reva bisa membuat Windy tertawa lepas dan terlihat memiliki teman.
***
Rama sekeluarga sedang sarapan bersama, Viana sibuk menyiapkan makan untuk suami dan putranya, Ravi yang bawel banyak maunya membuat Vi kewalahan.
"Ravi kamu bisa diam tidak, banyak maunya pusing palak mommy, mau kamu mommy masukin lagi dalam perut."
"Aduh pusing palak mommy, palak mommy, AW AW AW,"
"Hubby! cepat habiskan sarapannya, bisa tidak nanti saja main handphone nya, nanti hp nya mommy masukan dalam sayur asem."
Rama dan Ravi saling pandang melihat Viana yang ribet sendiri dan ngomel tidak jelas. Semuanya serba salah padahal asisten banyak dia tinggal kasih perintah tapi bikin ribet diri sendiri.
Selesai sarapan Rama dan Ravi melangkah keluar, Ravi akan sekolah, Rama pergi ke kantor. Teriakan Viana membuat mereka terhenti dan langsung menoleh.
"Kalian berdua lupa dengan mommy,"
"Mommy ini kenapa? tadi disuruh cepat sarapan, terus keluar, tapi sekarang teriak. Kurang apalagi mommy, Ravi pusing." Ravi menepuk keningnya membuat Rama tersenyum.
"Kalian belum Kiss mommy,"
Rama dan Ravi berjalan mencium wajah Viana bergiliran, Vi balik mencium Rama juga Ravi.
"Oke sayang, mau kemana pun hubungi Daddy, dan Ammar yang akan jaga kalian."
***
Viana keluar dari mobilnya, penampilan Viana kembali seperti dulu, langkah kaki Viana terdengar banyak yang menudukan kepala, Viana masih sama menunjukkan sifat arogan nya.
Sampai di ruangannya, Viana sudah disambut dua sahabat yang masih menahan air mata karena rindu, Vi masuk kedalam di ikuti Sisi dan Clara.
Mereka berdua diam menundukkan kepalanya, masih tidak percaya jika Viana kembali, mereka bisa melihat Viana lagi.
"Kalian tidak ada niat meluk gue gitu, gak ada yang rindu ya."
Air mata sisi dan Clara tumpah, Viana merentangkan tangannya siap menyambut kedua sahabatnya yang langsung melangkah memeluk Viana dengan tetesan air mata yang mengalir.
Viana mengelus punggung keduanya, Viana bersyukur banyak sekali yang mencintainya, menunggu kepulangannya.
"Lama banget Vi untuk kembali, gue udah nikah Lo gak bisa lihat gue di pelaminan, sumpah sedih banget gue."
"Maaf ya Clo, gue ikut seneng untuk pernikahan Lo, hadiah pernikahan nyusul."
"Santai Nona, cukup naikin gaji, sama kasih cuti 2bulan."
__ADS_1
"Enak aja Lo, mendingan gak usah kerja sekalian."
"Lo Si masih jomblo,"
"Ya, kalian berdua tidak niat cariin gue jodoh."
Mereka tertawa dan langsung berpelukan kembali melepaskan rindu, sampai pintu terbuka kuat dan dibanting membuat semuanya kaget.
"Reva!"
"Sorry ganggu, gue gak jadi mengundurkan diri, gue masih ingin berjuang "
Clara dan Sisi menghela nafas melihat Reva yang bucin akut, dan akhirnya memutuskan keluar meninggalkan Viana dan Reva.
"Bagaimana? mas Bima kembali ke Brit."
"Enggak, anaknya Brit ternyata tinggal bersama Bima,"
"Reva perjalanan hubungan Lo dan Bima gak bakal mulus seperti paha amoy, Britania pasti akan hadir menggunakan anaknya untuk menyingkirkan Lo."
"Aku juga berpikir hal yang sama, tapi papi mau berjuang bersama Reva."
"Papi! najis Reva, belum jadi suami Lo udah lebay patah, sekarang fokuslah kita harus melawan Ririn di peluncuran produk berikutnya."
"Baik boss."
"Reva! perusahaan siapa diatas kita,"
"LOVER!"
"Jadi kita kalah dari LOVER,"
"Ya, perusahaan Rama bersaing kuat dengan perusahaan Abi nya Ririn."
"Baiklah kita ikut daftar dalam pertandingannya ini, semangat mengalahkan LOVER."
"Lo mau melawan perusahaan suami Lo sendiri."
Viana hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, memberikan kode."
Viana dan Reva bergabung menyatukan kemampuan mereka menyiapkan pertempuran melawan Ririn yang di dukung kuat oleh perusahaan yang berkembang pesat di Indonesia.
Viana bukannya tidak tahu siapa Abi Ririn, bisnisnya tidak murni hasil sebuah perjuangan, tapi ada bantuan dan dunia gelap, tapi keputusan Viana mengakhiri keterlibatan sudah bulat demi Rama dan Ravi.
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA READER..
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE..