
Mobil sampai di rumah sakit, Erik langsung meminta beberapa Dokter dalam timnya bersiap ke dalam ruangan operasi.
Ravi langsung terduduk di lantai, Tama juga duduk jauh dari Ravi. Wildan dan Tian hanya bisa menundukkan kepalanya, saat seperti ini tidak ada yang bisa bicara dengan Ravi.
Erik cukup panik di dalam ruangan operasi, Kasih langsung masuk tahap kritis. Peluru yang berada tempat di dadanya hampir menembus jantungnya, keadaan di dalam ruangan operasi kacau, pendarahan terjadi, Erik terdiam setelah hampir dua jam karena dia tidak punya peluang untuk Kasih.
Kasih mengalami keretakan tulang, yang paling Erik khawatir jika Kasih selamat dia akan kehilangan kemampuan untuk menggerakkan anggota tubuh.
Di luar Viana berlari melihat Ravi yang duduk sambil memeluk dengkulnya, Ravi menangis menyembunyikan wajahnya di dengkul. Viana langsung memalingkan wajahnya menatap Bisma, melihat keadaan Ravi Bisma mengusap wajah.
"Kenapa harus terulang kembali?" Bisma menutup wajahnya.
"Ravi," Viana berjalan mendekati putranya yang masih diam.
Vi memeluk Ravi, tangisan Ravi terdengar menyayat hati bagi Viana. Ravi sangat takut jika kehilangan sesuatu, dia tidak siap berpisah seperti saat masih kecil.
"Mom, Ravi bodoh."
"Kasih pasti baik-baik saja sayang, kita berdoa untuk kebaikan Kasih. Ravi harus kuat, ada Mommy Daddy di samping kamu."
"Bagaimana jika Kasih meninggalkan Ravi?"
"Positif nak, Mommy yakin kamu kuat, Kasih lebih kuat, kita semua harus kuat."
Erik keluar ruangan, wajah Erik kusut dan langsung melangkah pergi tidak ingin menatap keluarganya.
Ravi mengigit bibirnya sudah mengerti cara kerja Erik, harapan Kasih sangat kecil sampai Erik tidak bisa bicara langsung.
Rama mendekati Dokter yang juga keluar dari ruangan Kasih, Rama menghela nafas melihat Ravi yang diam saja, ibu jatuh pingsan, Karin juga langsung pingsan.
"Kami mohon maaf karena tidak bisa berbuat lebih, keluarga harus bersiap untuk kemungkinan terburuknya. Saat kalian siap kami akan melepaskan alat bantu pasien."
__ADS_1
"Harapan dia bisa pulih Dok?" Viana mendekat dan menangis.
"Pasien mengalami mati otak, karena gangguan fungsi jantung. Dalam hal ini dia sudah dianggap meninggal."
Viana langsung terduduk, Rama coba menahan tubuh Vi sampai akhirnya pingsan. Ravi masih diam di tempat menyembunyikan kembali wajahnya.
Tangisan terdengar, Ravi berdiri dan melangkah pergi tanpa arah. Erik juga menangis tidak bisa membayangkan kondisi Ravi.
"Siapa yang ingin kita salahku? Ayah kamu Cinta yang memisahkannya Kasih, salah keluarga Kasih terlalu baik, salah juga kamu membenci dia, salah ibu yang seharusnya mengusir kamu, salah kami yang gagal, salah Kasih yang memilih terluka." Wildan menatap Cinta yang menagis melihat dari kejauhan.
"Kami kalah Cinta, sekalipun Angga di penjara, bisnis Galang hancur, kamu menderita rasa penyesalan. Kami masih tetap kalah, Kasih terluka tapi Ravi lebih dulu mati, Karin kehilangan nyawa yang satu kandung, ibu kalian, Tama semuanya menderita."
"Bukan hanya sampai di situ Cinta, Mommy Daddy, Keluarga besar Prasetya, Bramasta meneteskan air mata karena kehilangan. Selamat atas kemenangan yang tidak tahu siapa pemenangnya."
Wildan melangkah pergi, Cinta sudah menangis histeris. Kasih yang paling dia benci orang yang menyelamatkan Ayahnya.
***
"Kak Kasih pulang jangan tinggalkan Karin, ayo kak jangan ikut bapak, kami ingin bersama kakak." Karin yang sudah menggunakan infus terus mengigau, tangannya ingin menyentuh sesuatu.
Ibu Kasih mencoba untuk kuat, berusaha menerima kepergian putrinya, Ibu melihat Kasih di dalam ruangan bersama Ravi yang hanya diam.
Hampir satu bulan Ravi tidak ingin melepaskan alat bantu Kasih, Erik juga tidak memberikan perintah, bahkan Erik tidak pernah muncul dan berbicara dengan keluarga.
"Sayang bangun kamu tidak kasihan melihat aku." Ravi menyentuh tangan Kasih, tubuh Kasih kurus, tangannya hampir hanya menyisakan tulang.
"Tega kamu Kasih meninggalkan aku." Ravi mencium tangan Kasih.
Viana yang harus bolak-balik rumah sakit, kelelahan belum lagi melihat Ravi yang makan, tidur, mandi di ruangan Kasih. Ravi tidak pernah pulang hanya untuk menangkan diri.
"Vi kamu hari ini istirahat di rumah, Daddy yang akan menemani Ravi, kita tidak boleh ada yang sakit."
__ADS_1
"Kasihan Ravi hubby, kita terpisah oleh jarak dan waktu tapi Ravi dan Kasih terpisahkan oleh kehidupan. Kita ada kesempatan untuk bertemu, tapi putra kita tidak akan pernah bertemu lagi. Mommy sangat mengerti beratnya Ravi melepaskan Kasih."
"Daddy tahu Mom, tapi Ravi sedang menyiksa Kasih yang tidak mungkin bisa hidup kembali."
"Coba tanya Wildan Daddy, jika mati otak kita masih punya peluang hidup tidak."
"Sayang, tidak ada harapan lagi, Ravi harus merelakan Kasih. Tidak ada namanya mati otak bisa hidup kembali, Kasih bertahan karena bantuan ventilator."
Viana menangis dalam pelukan Rama, tidak bisa membayangkan keadaan Ravi jika sampai dia menerima alat bantu dilepaskan.
Vira geng juga bergilir menjaga Karin, keadaan Karin juga menyedihkan karena saat sadar dia pingsan kembali, Cinta mengalami depresi karena rasa bersalah sampai harus di rawat di rumah sakit jiwa, Angga sudah mendekam di penjara, Galang meregang nyawa di meja operasi.
"Kak Karin sadar kak, kasihan ibu dan kak Tama yang harus bolak-balik melihat tiga wanita yang terbaring." Vira menangis.
Bella melihat layar ponselnya, melihat rekaman ulang kejadian yang menimpa Kasih. Winda juga melihat layar menatap sedih, dari awal Winda sudah menduga jika Kasih akan terluka.
Ucapan terakhir Kasih dia jatuh cinta, dia ingin memiliki anak tapi jika dia hidup keributan tidak akan pernah ada akhirnya, jika dengan berkorban bisa menyelesaikan masalah Kasih menyerahkan diri.
"kak, prediksi kakak salah, kak Ravi yang ditinggalkan yang paling hancur, dia hidup tapi mati." Batin Winda menepis air matanya, melangkah keluar dari ruangan Karin ingin menemui Ravi.
Winda mengetuk pintu, langsung masuk Ravi sedang tidur menggenggam tangan Kasih.
"Kak Kasih jika tidak ingin bangun, jangan siksa kak Ravi. Kami semua kehilangan kak, kami berduka, pertemuan ini sangat singkat tapi hadirnya kak Kasih memiliki ingatan yang tidak pernah bisa terhapus.
Ravi bangun melihat Winda yang menatap Kasih, Winda duduk menggenggam tangan Ravi.
"Kak, kami semua sayang kak Ravi, melihat kakak seperti ini membuat tawa menghilang. Mommy jatuh sakit, Mami dan Bunda jarang berbicara. Vira geng juga tidak pernah tersenyum lagi, kak Tian, Erik, Wildan menghilang tidak ada yang bertemu. Kami semua kehilangan kak, bukan hanya kehilangan kak Kasih tapi kak Ravi juga."
"Ikhlaskan kak Kasih, kak Ravi harus hidup setidaknya demi Mommy." Winda langsung melangkah keluar, Ravi meneteskan air matanya.
***
__ADS_1