SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KEMBALI DINGIN


__ADS_3

Di perjalanan Wildan menyetir mobil, melihat Vira yang asik bernyanyi. Kemarin dia galau putus cinta, tapi sekarang terlihat sangat bahagia.


"Vir, bagaimana kuliah kamu?" Wildan menatap Vira yang melihat wajahnya.


"Emhh, mungkin tahun depan lulus. Kenapa?" Vira tersenyum melihat wajah Wildan yang fokus menyetir.


"Apa yang kamu lakukan setelah lulus?"


"Tidak ada, hanya meneruskan bisnis saja. Wil kamu orang yang bisa dipegang tidak ucapannya?" Vira mengambil coklat langsung memakannya.


"Dalam hal apa?"


Vira mejelaskan jika dia akan mewakili kampusnya dalam pertemuan siswa berbakat, lawan Vira dari beberapa Negara yang terkenal, juga mahasiswa mereka tidak diragukan lagi. Masalahnya Vira ragu jika dia menang Wildan harus menepati janji yang pernah dia ucapkan tidak.


"Tujuan kamu sebenarnya apa Vir?" Wildan melirik sekilas.


"Tidak ada tujuan, hidup Vira membosankan, tidak ada orang yang berani pacaran dengan Vira. Banyak hal yang sudah Vira lewati, dari bekerja, bertualang, membuat masalah, berprestasi, pacaran. Jadi Vira tidak tahu tujuan Vira?" Tawa Vira terdengar.


"Kamu ambil kesempatan untuk mengambil gelar siswa jenius."


"Berarti jika Vira berhasil, kita akan menikah. Masalahnya Vira tidak mencintai Wildan lagi."


Wildan mengerem mobilnya, tangannya langsung menahan tubuh Vira takutnya terbentur. Vira kaget menatap Wildan tajam, menyingkirkan tangan Wildan.


"Gila kamu Wil? keluar biar Vira yang membawa mobil"


"Iya maaf." Wildan menjalankan mobilnya kembali.


Keheningan terjadi, Vira menatap Wildan yang mendadak diam, dingin kembali seperti es batu.


Sampai tiba di panti jompo, Karan dan Karin sudah sampai lebih dulu. Beberapa orang tim membantu mengeluarkan sembako, Vira keluar dari mobil bersama Wildan.


Keduanya berjalan masuk menemui pengurus panti, mengobrol santai. Wildan langsung permisi untuk melihat sekitar panti. Karan mengikuti langkah kaki Wildan, Karan sudah mengenal sikap Wildan, jika dia diam sedang ada yang mengusik pikirannya.


Wildan menuruni tangga, melihat seorang nenek tua sedang membuat baju rajut. Matanya melihat langit, tapi tangannya bisa bergerak.


"Kamu dari kota, suasana hati kamu juga sedang tidak baik." Nenek tersenyum.


"Iya Nek, saya dari kota. Bagaimana keadaan Nenek?"


"Baik, tapi lebih baik jika bisa bersama keluarga. Suami nenek baru saja meninggal, meninggalkan Nenek seorang diri."

__ADS_1


"Setiap orang pasti akan meninggal Nek, tapi tidak ada yang tahu siapa yang lebih dulu."


Vira Karin bercerita banyak hal dengan pengurus panti, mendengarkan cerita setiap Nenek dan Kakek yang tinggal, juga beberapa lansia yang mengalami sakit cukup parah.


Cukup lama Vira mengobrol, mengeluarkan amplop putih untuk pengurus panti, Vira Karin bersalaman langsung pamit pulang, masih harus mengunjungi beberapa tempat.


Wildan Karan sudah menunggu di luar, langsung membukakan pintu memutuskan untuk menggunakan satu mobil.


Sepanjang perjalanan Vira diam, Karin juga diam, Wildan lebih diam lagi. Karan merasakan tidak nyaman, terusik dengan keheningan.


"Kalian bertiga seperti orang bisu?" Karan membuka kaca mobil menghirup udara segar.


Karin menatap Vira, Wildan juga melihat tatapan Karin yang merasakan tidak nyaman.


"Panti tadi mengalami penipuan."


"Kamu tahu Wil?" Karin, Vira menatap tajam, mendekati Wildan yang menyetir mobil.


"Iya, aku sudah meminta orang kepercayaan untuk menyelidiki lebih lanjut. Masalahnya kita datang di saat yang tidak tepat."


Vira menatap sedih, keluarganya ditipu ratusan juta oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, menyalahkan gunakan kepercayaan keluarganya, melakukan korupsi. Vira sudah sangat memahami dunia bisnis, orang kepercayaan keluarga yang ditugaskan membantu, tapi bukan meringankan, mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.


"Kak Ravi sengaja mengirim kita secara langsung untuk melihat dengan mata kita sendiri." Vira menendang kursi Karan yang memilih untuk tidur.


"Wil, satu hal yang belum Vira lakukan. Menipu." Vira tertawa kuat, bersama Karin yang konyol melihat tingkah Vira.


Wildan hanya diam saja tidak merespon ucapan Vira, tangan Vira langsung memeluk kursi pengemudi, menatap Wildan yang kembali mendiamkannya.


Tatapan dingin Wildan kembali seperti dulu, mengabaikan kehadirannya. Karin berdehem agar Vira tidak canggung.


"Wil, jangan terlalu dingin dan mengabaikan. Saat kamu kehilangan baru merasakan sakitnya." Karin melihat Wildan tajam.


"Cinta yang Wildan tahu bertahan lama, bahkan sulit dilupakan, tapi bagaimana jika cinta cepat berubah?"


"Bukan cinta yang berubah Wildan, tapi ucapan. Cinta tersimpan di dalam hati paling dalam, tidak bisa diukur, dinilai, bahkan tidak disadari." Karan menatap Wildan dan Vira.


Vira terdiam, melihat ke arah luar. Wildan juga diam fokus melihat ke depan.


***


Di Mansion Ravi duduk diam melihat layar bersama Erik, melihat banyaknya daftar keuangan yang bocor. Uang yang seharusnya disumbangkan ke panti jompo lenyap, dan karena semuanya sibuk tidak ada yang menyadarinya.

__ADS_1


"Masih ada orang yang mengambil keuntungan, uang yang dia ambil rezeki para penghuni panti, dasar manusia berhati iblis." Erik menggelengkan kepalanya.


"Hanya kak Tian satu-satunya orang yang tidak mudah tertipu, dia turun langsung jika membantu. Terkadang penyesalan datang terakhir. Semoga Wildan bisa mengungkapnya, bukan soal uangnya, tapi tanggung jawabnya." Ravi mematikan layar, tersenyum menatap Erik.


"Bagaimana perjalanan Tian Billa?" Erik menatap Ravi


"Sedingin hubungan Vira dan Wildan."


"Semoga kak Tian menemukan pelabuhan hatinya, menemukan cinta sejatinya." Erik mengaminkan bersama Ravi.


Tawa Ravi kuat terdengar, mengejek Erik yang gagal malam pertama. Bukannya dapat darah perawan, tapi darah kotor.


Erik melangkah pergi meninggalkan Ravi yang tidak berhenti tertawa, mengambil jas putihnya menemui pasiennya.


"Selamat bekerja pak Dokter." Ravi melambaikan tangannya.


"Aak, kenapa mentertawakan Erik?" Kasih memeluk Ravi, mencium pipinya.


"Billa bulanan, malam pertama mereka gagal, rencana Aak sengaja menganggu, tapi ternyata bulan juga tidak mendukung." Ravi tertawa memeluk Kasih, mengigit pipi Kasih yang tembem.


"Aak jahil, kenapa menganggu kita dulu juga lama baru bisa." Kasih berjalan meninggalkan Ravi.


"Karena kita lama sayang, Aak ingin Erik lebih lama lagi."


Ravi mengejar istrinya yang sudah melangkah keluar rumah, melihat keramaian. Pengantin baru juga tersenyum mengecek kesehatan, Billa mengecek keadaan bayi dan anak-anak.


"Bahagia sekali Aak melihat semuanya membaik, kita hanya perlu melewati hari membesarkan anak kita."


"Iya sayang, Aak juga bahagia bisa memiliki kamu, kisah kita berakhir happy ending."


"Aak masih ingat awal pertemuan kita?"


"Perempuan sinting, suka kebut-kebutan." Ravi tertawa merangkul Kasih.


"Terima kasih Ravi sudah menjadi suami yang baik, juga setia."


"Terima kasih juga sayang, kamu istri dan Ibu yang hebat."


Ravi Kasih tersenyum, Viana Rama yang melihat putra mereka bahagia juga tersenyum, selesai tugas mereka memberikan kebahagiaan untuk Ravi, sekarang Ravi bertugas memberikan kebahagiaan untuk keluarganya.


***

__ADS_1


SEASON 2 AKAN SEGERA TAMAT, KEMUNGKINAN DIAKHIR BULAN.


***


__ADS_2