SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 AKU JATUH CINTA


__ADS_3

Aktivitas Ravi akhirnya kembali, Kasih juga sudah bisa bergerak seperti biasanya. Ravi untuk sementara tidak mengizinkan Kasih untuk pergi ke luar rumah, hanya boleh menemui orangtuanya, Mami dan Bunda.


"Sayang tolong ambilkan handuk." Ravi teriak, kebiasaan pagi yang membuat bibir Kasih monyong.


"Kamu letakkan di mana?" Kasih sudah mencari ke tempat jemuran handuk, tapi tidak melihat handuk Ravi.


"Ravi, Ravi kamu mendengar tidak? Ravi ...." Kasih langsung berjalan mendekati pintu kamar mandi, mengetuk pelan, Ravi tidak menjawab panggilan Kasih.


"Ravi, kamu jatuh langsung pingsan." Kasih mondar-mandir merasakan khawatir.


Kasih memberanikan diri memegang handle pintu, langsung melangkah masuk. Kasih tidak melihat Ravi, panggilan pelan terdengar membuat Ravi yang sembunyi menahan tawa.


Pelukan Ravi melingkar, Kasih ingin meronta, Ravi menahannya sebentar meminta Kasih hanya diam.


"Kamu bohong, handuknya sudah kamu pakai."


"Harus aku buka, nanti kamu pasang lagi."


Ravi membalik tubuh Kasih menghadapnya, mata Kasih tertutup tidak ingin melihat penampilan Ravi yang masih basah baru selesai mandi.


"Buka mata kamu Kasih, lihat aku."


Kasih membuka matanya, tapi melihat ke arah lain. Ravi langsung tertawa melihat istrinya yang tidak berani menatapnya.


"Aku tahu kamu tidak mencintai aku, sudahlah." Ravi mengelus kepala Kasih langsung ingin melangkah keluar.


"Aku mencintai kamu, tapi Kasih malu belum pernah melihat tubuh laki-laki." Kasih langsung menatap mata Ravi, melihat air yang masih mengalir di wajahnya.


"Kasih ingin punya anak?" Ravi menangkup wajah Kasih, mendekati bibirnya.


"Iya, tapi takut." Kasih memejamkan matanya, membiarkan Ravi menciuminya.


"Ravi kamu harus ke kantor."


"Aiishh iya, hari ini ada meeting. Kita tunda dulu sayang." Ravi langsung keluar kamar mandi, Kasih tersenyum melihat wajahnya di kaca, menyentuh bibirnya yang memerah, bukan hanya bibir pipi putih Kasih merona.


"Apa ini jatuh cinta, jantung berdetak, malu-malu, terpesona melihatnya." Kasih tersenyum melihat dirinya sendiri.


"Sayang, siapkan baju kerja aku."


Kasih mengipas wajah, menenangkan jantungnya langsung berlari keluar. Baju sudah Kasih siapkan, tapi Ravi masih teriak.


"Hari ini kita sarapan apa sayang?" Ravi menatap Kasih yang sedang memasang dasinya.


"Kasih lupa masak." Kasih langsung mundur, meninggalkan Ravi bergegas ke dapur.

__ADS_1


Ravi terdiam langsung tertawa, menyelesaikan dasinya baru menyusul Kasih yang sedang terdiam menatap kulkas.


"masak apa ya?" Kasih mengeluarkan tempe langsung memanaskan minyak, ingin goreng telor tempe.


Ravi sudah duduk di ruang makan, membaca laporan untuk rapat. Ravi akan rapat bersama keluarga besar Pras dan Bram, juga pemegang saham lainnya.


"Lauk telur tempe tidak masalah ya?"


Ravi hanya menggagukan kepalanya, Kasih memberikan susu hangat, menyiapkan nasi telur tempe.


"Silahkan di makan, susunya juga di minum." Kasih duduk di depan Ravi yang meminum susunya.


Ravi melihat ke arah piring, langsung melotot melihat telur berwarna hitam, tempe hitam.


"Gosong lagi." Ravi mengangkat telurnya.


"Telurnya ditambah kecap, ternyata berubah hitam. tempe gosong sedikit." Kasih nyegir meminta Ravi makan.


Ravi tersenyum langsung memakannya, rasa telur hanya manis, tempe rasa pahit. Ravi tidak berkomentar, langsung menghabiskan makanannya, meminum susunya untuk segera pergi bekerja.


Kasih masuk ke dalam pelukan Ravi, ciuman Ravi mendarat ke seluruh wajah Kasih. Ravi juga meminta Kasih menciuminya, tanpa ada penolakan Kasih menurut.


"Cium." Ravi memonyongkan bibirnya, Kasih tersenyum mengalungkan tangannya di leher Ravi. Mencium sekilas, Ravi menarik pinggang dan menahan lama tekuk leher Kasih.


"Aku pergi kerja ya sayang, kamu jangan pergi tanpa izin. Kita lanjut malam bikin dedek." Ravi mencium bibir sekilas, Kasih juga mencium tangan Ravi, langsung melangkah mendekati mobilnya.


Kasih melambaikan tangannya, setelah mobil Ravi menjauh, Kasih menyentuh dadanya yang selalu berdetak jika bersentuhan dengan Ravi.


"Aku mencintai kamu Ravi, seharusnya aku tidak memanggil Ravi, tapi siapa ya. Sayang, Abang, mas, kakak, atau siapa?" Kasih tersenyum melangkah mausk ke dalam rumah.


***


Kasih melihat ponsel Ravi tertinggal langsung binggung, Ravi pasti sangat membutuhkannya. Kasih langsung mandi untuk bersiap pergi ke kantor. Lama Kasih memilih baju, suara bell terdengar, saat melihat di layar Kasih melihat Bundanya.


"Assalamualaikum Bunda?" Kasih tersenyum menyambut tangan Jum.


"Waalaikum salam, Bunda kesepian." Jum duduk di lantai merasakan sedih.


"Mami, Mommy di mana Bun?" Kasih ikut duduk di samping Jum.


"Mereka semua sedang pertemuan meeting besar-besaran."


"Mommy dan Mami?" Kasih kaget, sudah tidak muda lagi, tapi pesona dan kecerdasan Reva Viana belum berkurang.


"Mereka pemimpin VCLO Kasih, bahkan anak-anak ikut rapat dari jarak jauh."

__ADS_1


Kasih menggagukan kepalanya, pemimpin VCLO seorang wanita berbakat yang tidak jatuh di tangan keturunan, keuntungan VCLO juga masuk ke dalam beberapa panti, pemiliknya tidak mengambil sedikitpun.


"kamu ingin pergi ke mana? Ravi tidak mungkin mengizinkan kamu pergi."


"Handphone Ravi tertinggal Bun, dia sedang meeting penting, Kasih berencana mengantarkan langsung."


"Baiklah Bunda yang temani ya sayang?" Jum tersenyum, dia juga sudah lama tidak pergi ke kantor, melihat suaminya bekerja.


"Boleh banget Bun, Jum senang kalau Bunda menemani, jadi Kasih tidak harus mengabari Ravi lagi." Kasih langsung berlari ke kamarnya.


Melihat tas yang sudah Viana siapkan, high heels ukuran sedang, baju sopan yang sangat pantas Kasih kenakan.


"Alhamdulillah ya Allah, Kasih memiliki mertua yang sangat baik." Kasih langsung mengganti bajunya, menggunakan sepatu, mengambil tas memasukkan ponsel dan alat penting lainnya.


"Ayo Bunda."


Kasih mengeluarkan satu lagi mobil Ravi, Jum yang membawanya untuk menuju kantor.


Di perjalanan Kasih mendengarkan banyak cerita masa kecil Ravi yang nakal, Kasih terus tertawa bahagia.


Senyum Jum langsung hilang saat menemukan macet, seadanya Kasih yang membawa mobil sudah lama dia bisa melewatii macet.


Kasih melihat banyak anak yang berjualan, Jum dengan senangnya membeli setiap dagangan. Kasih sangat kagum dengan persahabatan Mommy Viana bersama Bunda dan Mami, persahabatan Vira geng, Ravi bersama Tian Erik, juga para Daddy yang sangat kompak.


"Bunda, keluarga Bram sangat kaya, tapi kenapa semuanya sangat sederhana?"


"Kami tidak kaya Kasih, harta hanya titipan, Allah bisa mengambilnya dengan mudah. Bunda tidak suka jika uang dihamburkan, kami sangat menghargai kerja keras sehingga tidak mudah menghamburkan uang.


"Bastian juga sangat kaya, bahkan dia memiliki jet pribadi."


"Tian putra utama, sebenarnya Windy tapi dia wanita tidak boleh melupakan kodratnya sebagai wanita. Tian sangat cerdas sejak jecil dia pintar mengelola, kecerdasan bergabung dengan Erik yang mengetahui banyak hal, Ravi juga sangat pintar, tapi karena dia jahil, lebih senang bersantai."


"Siapa yang paling cerdas diantara dua keluarga Bunda?"


"Wildan Bramasta."


"Tidak heran, dia masih mudah tapi sangat jenius."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2