SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 TAKDIR


__ADS_3

Keheningan terasa, tidak ada yang bertanya hanya diam seribu bahasa. Rama langsung melangkah masuk dan duduk di ruang tamu, sungguh Rama tidak mengerti yang terjadi, otak polosnya tidak bekerja. Bima juga sama binggung melihat dua istri Ravi.


Ravi menghapus air mata Kasih, mengandeng tangannya untuk duduk menghadap Daddy yang kebinggungan.


"Maafkan Ravi Daddy."


"Kenapa hanya Daddy Uncle Bima dan Aunty Jum yang binggung, tapi yang lain terlihat santai dan biasa saja." Rama juga menatap Viana yang tersenyum.


Ravi bersama Kasih melihat seluruh orang yang duduk santai, ucapan Daddy Rama benar hanya tiga orang yang terlihat binggung.


"Karena kalian bertiga polos, aku cukup satu kali pandang saat hari pernikahan, wajah Kasih memperlihatkan kesedihan, keraguan, juga ketakutan." Bisma tersenyum ikut duduk.


"Mommy, Mami juga tahu?" Winda langsung menatap ikut duduk, lupa dengan matanya yang bengkak.


Viana langsung tertawa mendekati Karin, mengelus rambutnya membawanya mendekati Kasih untuk berdiri sejajar. Semuanya menatap tidak ada perbedaan, Ravi juga melihat kemiripan yang 99% bahkan mata, rambut, bibir semuanya sama.


"Reva apa beda keduanya yang pertama kali kamu temukan?" Viana menatap Reva yang memeluk lengan Bima.


"Tatapan matanya istri Ravi tajam, tatapan kekasih Ravi tenang. Dari awal pertukaran sudah terlihat cara mereka menatap yang paling mencolok senyuman mereka."


"Mami jangan di sebut seperti itu." Ravi mengerutkan keningnya, Kasih hanya diam menatap sedangkan Karin menudukan kepalanya.


"Di depan kita juga sudah terlihat perbedaan, Kasih siap menerima kemarahan, tapi Karin menyesali yang terjadi." Viana tersenyum melihat dua wanita kembar.


Kasih menatap Karin, air mata Karin menetes sambil menunduk. Ucapan Viana benar Karin sangat merasa bersalah juga tidak siap menerima kemarahan semua orang.


"Jangan menangis, kakak ada di sini kamu cukup diam kak Kasih akan melindungi kamu, tidak ada yang perlu Karin takuti."


Karin langsung memeluk Kasih yang terlihat sangat kuat, Kasih juga sedang menahan sakit dari luka pundaknya.


"Billa sini kamu, kita lihat perbedaan kita." Bella langsung berdiri bersama Billa yang sedang sibuk berpose, dua gadis identik tapi keduanya berlawanan.


"Bella pemarah, Billa lemah lembut." Tian menatap kedua adiknya.


"Kak Tian bilang apa tadi? siapa yang galak?" Bella menatap tajam.


"Kamu memang anaknya Bisma." Jum menarik telinga Bella yang sudah marah.

__ADS_1


Rama masih diam menatap Ravi yang tanpa ekspresi, juga melihat dua wanita yang membingungkan.


"Jadi istri Ravi yang mana? mereka sah apa tidak menikahnya?"


"Sah Daddy, aku menikahi Kasih yang asli tapi melamar Karin."


"Di balik masalah ini insyaallah ada hikmahnya, jadi kita ambil saja sisi baiknya." Bima menepuk pundak Ravi.


"Awalnya Ravi marah, tapi juga bersyukur karena hati Ravi tidak membenci, pernah terpikir ingin memukul Kasih memperlakukannya dengan buruk tapi hati aku yang sakit. Ravi ingin mempertahankan pernikahan ini sampai akhir, mungkin wanita yang bersama Ravi Karin tapi wanita yang Ravi cintai Kasih."


"Aku mencintai kamu Ravi, tapi cinta aku penuh keraguan. Karin kecewa tapi juga bersyukur karena kamu bisa menerima kak Kasih, Karin merasa bersalah kepada kak Kasih. Karin berharap kakak juga membuka hati untuk Ravi, jangan pandang Karin, takdir kita sudah di tetapkan. Dari awal jodoh Ravi kak Kasih, Karin hanya jembatan yang harus kalian lalui agar bisa bersama."


Viana menangis langsung memeluk Karin, tangannya menghapus kristal bening yang keluar dari mata Kasih.


"Kamu wanita hebat Karin, Allah sudah menyiapkan laki-laki baik untuk kamu."


"Terima kasih Mommy, maafkan Karin yang mengecewakan semuanya."


Viana memeluk Kasih, mencium keningnya. Mata Vi menatap tajam, menyentuh bahu Kasih.


"Kamu egois seperti Mommy Kasih, kamu tertembak tapi hanya diam saja. Erik cepat lihat luka Kasih!" Viana langsung teriak, Kasih sudah pingsan dalam pelukan Viana.


"Lancang, siapa yang memberikan izin membuka baju?"


"Kamu pikir luka tembakan di kepala."


"Stop." Billa menarik Erik menjauh, Ravi juga di dorong. Billa membalik setengah tubuh Kasih di bantu oleh Erik. Baju Kasih di gunting, Billa melihat luka yang cukup dalam tapi bukan menembus.


"Kak pelurunya sudah ke luar, atau hanya menggores saja?" Billa melihat binggung, infus sudah di pasang.


Erik memperhatikan luka, langsung membersihkan bekas darah tanpa menjawab Billa. Erik hanya menggeleng kepalanya, menjahit luka Kasih menutupinya dengan kain kasa.


"Rik lukanya dalam tidak?"


"Lumayan, double jahitan karena peluru masuk tapi Kasih mengeluarkan dengan paksa."


"Cinta kamu harus membayar mahal, aku tidak memandang kamu keluarga Kasih lagi." Ravi menggenggam tangan menahan marah.

__ADS_1


Di luar kamar semuanya menunggu, Erik menjelaskan keadaan Kasih. Wildan dengan santai tertawa membuat Reva melempar kepala Wildan dengan high heels.


"Issshhh Mami, Wildan bukan menertawakan Kasih."


"Yang memberikan izin tertawa siapa?"


"Ya Allah tertawa saja di larang." Wildan langsung melangkah pergi, Vira langsung mengejarnya.


Wildan sibuk melihat banyak rekaman, Vira menatap keahlian Wildan. Terlihat Cinta yang melarikan diri, Wildan coba meminta Tim menahannya tapi gagal, karena penjagaan Cinta sangat ketat.


"Siapa orang yang melacak Cinta Wil? Kak Kasih mengatakan jika Cinta sulit di lacak karena dia memiliki banyak pengawal."


"Di balik hebatnya seseorang, ada lagi yang lebih hebat, seterusnya akan terus seperti itu. Jika ingin saling mengukur siapa yang hebat, tidak akan ada habis dan puasnya."


"Kamu benar, makanya aku cinta kamu." Vira menyentuh bahu Wildan yang duduk di kursi sofa.


"Vira, Vira."


"Kenapa kamu tidak percaya?" Vira langsung melangkah, duduk di dekat Wildan.


"Aku tidak percaya apapun, karena seperti apapun aku percaya takdir kehidupan tetap unggul. Lihatlah kak Ravi, dia bersama Karin tapi jodohnya Kasih, hanya karena ikatan pernikahan menyatukan keduanya."


"Tapi Vira percaya kita berjodoh."


Wildan hanya tersenyum, Vira menatap wajah tampan Wildan yang membuatnya sejak kecil mengagumi sosok Wildan.


Layar Wildan langsung memperlihat seseorang yang membuat Vira terdiam, Karan muncul dengan tatapan marah.


"Wow ganteng." Vira nyegir melihat pria tampan sedang mengumpat Cinta.


"Baru berapa menit kamu mengagumi aku, tapi melihat pria tampan langsung berpaling."


"Hehehe, bercanda kakak." Vira tersenyum melihat Wildan yang kesal.


Vira hanya diam mendengar pembicaraan Wildan dan Karan, Cinta cukup hebat banyak orang yang dia manfaatkan, banyak orang yang dia lukai, banyak hati yang dia hancurkan.


Karan salah satu orang yang Cinta manfaatkan, seorang anak jalanan memiliki satu adik, Cinta menggunakan nama adiknya untuk mengendalikan Karan, tanpa di sadari jika Cinta orang yang menyingkirkan adik Karan.

__ADS_1


***


__ADS_2