SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MULAI BERGERAK


__ADS_3

Tatapan mata Wildan tajam melihat Winda, Vira sudah duduk di lantai tertawa, seluruh ikan hias Wildan mati, diaduk-aduk sampai teler.


Wildan sibuk menjelaskan soal Maria, tapi Winda sibuk memainkan ikan hias. Kebanyakan di aduk ikan teler sampai mati.


"Otak kamu di mana Win?" Wildan menyingkirkan tangan Winda yang masih di dalam akuarium.


"Di sini." Winda menunjukkan kepalanya.


Bella langsung tertawa, Vira masih belum berhenti tertawa melihat si kembar meratapi kematian ikan hias.


Wildan mengaruk kepalanya, melihat belasan ikan milik kakak iparnya mati. Steven menitipkan ikannya, tidak ingin dilihat oleh Winda, pasti bakal mati, susah payah Wildan menyembunyikan jauh dari rumah, saat Winda datang langsung mati semua.


"Win, ini ikannya kak Steven. Bakal dia bawa pulang, apa yang harus aku katakan?" Wildan menatap Winda, geram ingin meremas adiknya.


"Mati kak, katakan saja kesetrum. Winda tidak sengaja, nanti Winda ganti, ikannya bisa digoreng atau dimakamkan." Winda menundukkan kepalanya.


"Win, dari dulu selalu menggunakan alasan lama, seluruh keluarga juga tahu, jika ikan mati pasti ulah kamu." Vira menahan tawanya.


Suara langkah kaki terdengar, semuanya diam. Wildan meminta semuanya diam dan bersembunyi. Winda menyingkir bersama Bella Billa. Wildan juga menyingkir bersama Vira.


Mata Vira bertemu dengan mata Wildan, jarak keduanya sangat dekat. Vira melihat sesuatu yang merayap langsung ingin teriak, Wildan langsung menutup mulut Vira dengan tangannya.


Kedua tangan Vira langsung berada di leher Wildan, kakinya menginjak kedua kaki Wildan. Jantung Wildan langsung berdegup kencang, tarik nafas pelan, takut Vira mendengar jika jantungnya berdegup.


Bella menatap tajam Wildan Vira, menggelengkan kepalanya merasa lucu. Vira sudah berniat menjauhi Wildan, tapi takdir memaksa keduanya dekat dengan alasan Billa.


Walaupun Wildan sedingin kulkas, dia selalu mengikuti keinginan Vira, ada di belakang Vira. Hanya saja soal cinta, masih terlalu jauh karena keduanya masih sangat muda.


"Astaghfirullah Al azim, ikan ini kenapa?" Yusuf baru saja datang, membawakan tambahan ikan yang baru dia beli dari negara yang cukup jauh.


Winda langsung keluar, duduk di kursi menatap ikan yang ada di dalam akuarium mini. Warnanya yang sangat indah membuat Winda langsung membukanya, ikan mengambil ikan berwarna kuning.


Suara teriak Vira dan Bella membuat Winda kaget, akuarium langsung jatuh dan pecah, lima ikan kecil terkapar.


Yusuf kaget, Wildan Vira juga kaget. Vira langsung berlari menarik Winda, Bil langsung mengambil ikan kecil memasukkannya ke dalam akuarium besar.


"Winda!" Wildan teriak marah, wajah Winda langsung cemberut menahan air matanya.

__ADS_1


"Ampun Win, belasan ikan sudah mati, baru saja melihat yang baru sudah dipegang lagi." Bella menggelengkan kepalanya, tidak mengerti dengan Winda yang terobsesi dengan ikan.


Yusuf masih terdiam, mencoba memahami yang terjadi. Langsung mendekati Wildan yang terlihat marah.


"Sudahlah, ikan ini punya aku bukan kak Stev, dia menukar ikan dengan yang baru. Katanya ambil di Wildan."


"Ikan sudah mati semua kak, dia pembunuhnya." Wildan menghela nafasnya.


"Sudahlah, tidak masalah, Winda tidak sengaja, dia menyukai ikan, tidak bermaksud membunuhnya." Yusuf menenangkan semuanya.


Winda mengusap matanya, memukul tangannya yang tidak bisa berhenti menyakiti seluruh ikan di dunia.


"Winda, ayo sini lihat ikannya." Yusuf memanggil Winda untuk mendekati akuarium.


Yusuf mengeluarkan ikan yang sudah mati, Winda menyentuhnya pelan. Senyum Yusuf menenangkan, mengatakan jika ikan jangan ditangkap dengan tangan, selain kecil juga licin.


"Tidak ada lelaki yang sanggup menikah dengan Winda, tingkahnya aneh. Bisa saja suaminya punya kolam ikan mati semua, punya ternak mati semua, punya kebun binatang mati semua." Bella mengomel duduk bersama yang lainnya.


"Ketulusan seseorang dilihat dari kesabarannya, Winda tidak bermaksud menyakiti, dia hanya terbiasa. Kebiasaan kamu bisa dirubah Winda, dengan mencintai mereka, kamu akan bersedih jika mereka mati." Yusuf menatap Winda.


"Suatu hari kamu akan merasakan menginginkan sesuatu, menyayangi sesuatu, ingin menjaganya." Yusuf hanya tersenyum mendekati Wildan.


"Ada apa kak Yusuf ke sini?" Wildan duduk menatap Yusuf.


"Karan mengatakan Maria ada di sini? katanya juga Tian bertemu adik kandungnya." Yusuf menunjukkan beberapa foto.


"Iya, dia Laura." Billa menatap Yusuf.


"Laura, dia gadis pintar, baik, penyayang, dulunya aku tinggal satu perumahan saat kecil, dia dipanggil Lala. Keluarga kami pindah ke sini mendiami pesantren, setelahnya aku tidak tahu lagi kabar Lala, terakhir aku bertemu dia di sebuah kampus kedokteran, tapi kita belum sempat saling menyapa, dia sudah ditarik seorang pria dengan kasar." Yusuf menunjukkan fotonya bersama Lala saat kecil, memenangkan lomba hafalan Al Qur'an.


"Di sini intinya Laura bukan orang yang berbahaya, kita anggap saja kasus Laura selesai." Vira menatap semuanya mengagukan kepalanya.


"Sekarang urusan Maria dan Erik, boleh aku tahu keadaan Erik sekarang?"


"Dia baik-baik saja, dia lelaki kuat harus kuat." Billa menatap Yusuf tajam.


"Jika Erik baik-baik saja, Maria akan masuk menggantikan kamu, tapi jika Erik terluka dan merasakan sakit, Maria sulit masuk karena Erik sulit move on." Yusuf menatap Billa yang menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku yakin kak Erik tidak mudah tersentuh, kita langsung saja ke inti masalah, bagaimana caranya kita mengungkap kejahatan Maria." Winda melihat Wildan dan Yusuf.


Layar hidup Yusuf Wildan langsung mendekati, beberapa kejadian saat di Roma terlihat. Yusuf menutup matanya, Wildan menatap tajam seseorang yang tidak mereka perhatikan.


"Wil, dia wanita yang terakhir bersama Maria, dia ...." Yusuf menatap Wildan.


"Ibunya Laura! dia orang yang membunuh Ayahnya kak Tian, dia juga menjual Laura untuk menjadi budak Maria, sedangkan dia hidup dalam kemewahan." Wildan mengaruk kepalanya.


"Ya Allah, kasihan Lala. Dia menderita karena keegoisan orangtuanya." Yusuf mendudukkan kepalanya.


Wildan mulai memainkan komputernya, beberapa Tim mulai bergerak, kali ini Wildan akan turun langsung ke lapangan, bersama keempat wanita Bramasta dan Prasetya.


Kedatangan Yusuf atas perintah Bima, saat Wildan di Roma, Yusuf salah satu orang yang berhasil menemukan Wildan, juga bisa membuat Bima berkomunikasi dengan Wildan.


Saat ini juga Bima meminta Yusuf kembali dari Paris untuk membantu Wildan mengawasi keempat wanita. Bukan tidak mempercayai Wildan, ada tiga wanita yang memiliki emosi sulit dikendalikan, Vira yang mewakili Viana kejamnya, Bella yang mengikuti Bima, sedangkan Winda, diam tapi bisa melukai seperti Maminya.


Keadaan Billa juga tidak stabil, batalnya pernikahan pastinya membuat Billa terluka, hubungan dengan Erik juga tidak mungkin bisa sebaik sebelumnya, Bima mengkhawatirkan Billa tidak bisa mengendalikan diri, bisa saja Billa mengotori tangannya dengan membunuh.


"Kita pergi sekarang kak Yusuf?"


"Tunggu Wil, siapa laki-laki ini." Yusuf melihat seorang lelaki yang selalu terlihat di belakang Maria.


"Dia sebenarnya dalang dari semua ini, Maria hanya bonekanya, sikap terobsesi terhadap Erik karena dia dipengaruhi oleh pria ini." Wildan memperbesar layar.


"Wil, dia terlihat tidak berbahaya?" Vira menatap ke layar.


"Dia memang tidak berbahaya, tapi hati yang menyimpan dendam yang berbahaya, tidak suka melihat orang lain bahagia." Yusuf melihat lebih jelas.


"Iya pak ustadz." Vira dan Winda langsung tertawa.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


JANGAN LUPA JUGA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA.


***

__ADS_1


__ADS_2