
Jadwal Vira periksa kandungan untuk kesekian kalian, Wildan merangkul Vira yang terlihat ragu untuk masuk ke dalam ruangan dokter kandungan yang menanganinya.
"Kenapa Vir? apa ada yang kamu pikirkan?" Wildan meminta Vira untuk duduk, menggenggam tangannya erat.
"Vira mulai khawatir Ayang, tidak tahu kenapa perasaan Vira tidak enak dan cemas."
"Ada aku di sini, kamu bisa mengatakan apapun, kita jalanin bersama-sama." Perasaan Wildan juga sama khawatirnya, menyadari perubahan Vira sejak Lin mulai koma.
Vira menarik nafas, langsung melangkah ke dalam ruangan bersama suaminya, dugaan Vira dan Wildan tepat, perasaan tidak enak mereka ada sangkut pautnya dengan kandungan Vira.
"Wildan, Vira saya sudah memprediksi ini jika akan terjadi dan sudah membicarakan dengan kalian sejak awal. Salah satu baby lemah, dan kemungkinan akan melahirkan prematur, kalian sudah siap dengan resikonya." Dokter menatap Vira yang meneteskan air matanya, memeluk lengan Wildan yang berusaha untuk tetap tenang.
Vira tidak ingin memberitahukan kepada keluarga besar, Vira takut jika akan ada kesedihan lebih dalam lagi untuk keluarganya.
"Tolong lakukan yang terbaik dok, kami akan membicarakan ini dengan keluarga." Wildan memeluk Vira memintanya untuk tenang.
Di dalam mobil Vira terdiam, Wildan menggenggam tangannya, tapi langsung ditepis dengan kuat.
"Vira, jangan seperti ini sayang. Insyaallah semuanya akan baik-baik saja." Wildan memperlambat laju mobilnya.
"Kamu tidak tahu ada diposisi aku, kehilangan Vivi sudah lebih dari cukup menyakitkannya. Percuma Wil aku bertahan berbulan-bulan, ujung-ujungnya mereka prematur dan akan merasakan hal yang sama seperti Vivi." Vira berteriak kuat, menyalahkan dirinya yang menyebabkan kedua bayinya akan merasakan penderitaan yang sama.
Tangisan Vira sangat kuat, memukul dasbor mobil memegang perutnya yang besar. Wildan tidak mengeluarkan kata-kata apapun, saat ini tidak ada kata yang bisa menguatkan hati mereka.
"Maafkan aku Vira, apa yang bisa aku lakukan agar kamu tidak tersakiti?" Wildan menghapus air mata istrinya.
Sikap kasar Vira terlihat, menepis tangan Wildan melarangnya untuk menyentuh. Sampai tiba di rumah Vira terlihat sangat membenci keadaannya.
"Vira, kita bicara setelah kamu tenang." Wildan menghela nafasnya melihat kekesalan Vira.
Viana tersenyum melihat Vira pulang, mengatakan jika kandungannya baik-baik saja seperti biasanya, dokter hanya meminta Vira banyak istirahat.
Rama dan Viana bersyukur, tersenyum melihat Wildan yang mencium tangan kedua mertuanya. Vira langsung masuk ke kamarnya melanjutkan tangisannya.
Sampai malam Vira tidak bisa tidur, Wildan masih bersama Virdan yang tidak biasanya rewel. Air mata Vira tidak bisa berhenti menetes, sakit sekali hatinya menerima kebenaran.
__ADS_1
"Aku hanya ingin anak-anakku lahir dalam keadaan sehat, tumbuh sebagai penambah kebahagiaan kami. Apa aku egois memintanya?" Vira memeluk perutnya, meraksasa sesak dadanya.
Panggilan dari ponsel Vira berbunyi, Winda mengirimkan pesan memintanya menemui Winda di taman belakang rumah mereka, tempat biasanya Vira, Winda, Bella dan Billa bersembunyi untuk kabur dari rumah.
Vira menolak Winda, emosian sedang tidak stabil tidak ingin meluapnya kepada siapapun.
[Aku akan menunggu kamu di sini sampai kamu datang.] Winda mematikan ponselnya, menatap langit malam tanpa bintang.
Senyuman Winda terlihat, melukis sesuatu dengan menggunakan penerangan yang minim.
"Ini sudah jam dua dini hari, kenapa kamu tidak pulang?" Vira muncul dengan tatapan marah.
"Ini hidupku, bukan urusan kamu. Jika kamu tidak ingin datang, pergilah." Winda tersenyum menyelesaikan gambarnya.
Hampir satu jam Vira dan Winda hanya berdiam diri, berkali-kali Vira menepis air matanya yang terus menetes.
"Kamu sudah tahu apa yang terjadi? Wildan pasti sudah mengatakannya." Vira menatap Winda yang masih sibuk sendiri.
"Aku dan kak Wil tidak pernah berbagi apa yang kami rasakan, apalagi bercerita secara langsung. Hanya saja batin kami yang merasakan, jika kakakku sedang bersedih, hatinya sedang sakit." Winda tersenyum menatap Vira yang masih menangis.
"Anakku akan lahir prematur Win, mereka tidak mungkin lahir normal karena resikonya besar bahkan bisa membuat aku kehilangan nyawa." Vira menangis histeris di tengah malam.
"Kenapa baru menyesal sekarang saat kalian sudah ada di tengah jalan? seharusnya mendengar usulan mommy." Winda meniup gambarnya sambil tersenyum.
Vira menghentikan tangisannya, duduk mendekati Winda yang menatapnya tanpa rasa kasian.
"Katakan sesuatu bodoh, aku butuh semangat Winda."
"Aku tidak tahu, sekalipun mulut aku berbusa, tidak ada gunanya. Semuanya ada di tangan kamu Vira." Winda mencubit telinga Vira sampai kesakitan.
Keputusan untuk bertahan sudah Vira lewati hampir enam bulan, melakukan segala cara yang dokter katakan. Dengan penuh percaya diri, semangat, dan harapan yang bisa Vira dan Wildan saling menguatkan.
Dokter boleh mengatakan apapun kemungkinan buruknya, tapi tidak harus mengurangi sedikit saja semangat awal.
Saat ada di tengah jalan hanya ada dua pilihan, melangkah mundur dengan kegagalan, atau melangkah maju untuk melihat hasil sebenarnya.
__ADS_1
"Majulah Vir, perjuangan hanya sisa tiga bulan jika memang harus prematur sudah saatnya mereka yang berjuang. Katakan kepada twins V jika ingin bertemu Mami, Papi dan kakak juga keluarga besar mereka harus bertahan." Winda menghapus air mata Vira, jika Virdan bisa melalui hari gelapnya, maka twins juga akan melaluinya.
Vira mengusap perutnya, meminta maaf kepada anaknya karena sudah putus asa, menyerah bahkan sebelum akhir. Vira meminta twins untuk berjuang bersamanya.
"Kamu marah dengan takdir, menyalahkan kak Wildan yang tidak bisa melakukan apapun, karena kamu yang menanggung rasa sakitnya. Vira hal yang paling menyakitkan itu mencintai. Aku tahu rasanya baru merasakan cinta dan bahagianya cinta, sehingga sedikit saja ada yang berubah itu menyakitkan." Winda menetes air matanya, karena suaminya diambil wanita lain.
Vira teriak kaget, Winda keluar tengah malam bukan untuk menghiburnya, tapi karena merasakan patah hati.
"Kak Ar selingkuh? ya Allah masalah pelakor yang menggoda Wildan juga belum kelar, sekarang kak Ar juga. Kamu urus sendiri Win, aku tidak bisa membantu demi kehamilanku." Vira tidak memperdulikan tangisan Winda.
"Sabar Win, siapa perempuannya? patahkan saja kepalanya."
"Tubuhnya kecil, senyumannya manis, banyak makan, selalu menggoda pria tampan, setiap malam dia mengambil Abi." Winda mengusap air matanya.
"Sialan itu Arum." Vira berteriak sambil tertawa memukul Winda yang bodoh cemburu dengan putrinya.
"Kamu tidak tahu rasanya memeluk guling, sedangkan lelaki yang dicintai memeluk wanita lain, aku hanya dicium kening, tapi selingkuhan seluruh wajah." Winda berteriak kesal.
Vira tidak berhenti tertawa sampai guling-guling di rumput melihat gambar Winda, mengatai anaknya sendiri pelakor, menggambar wajah putrinya sangat jelek.
"Ya Allah kenapa teman ku gila." Vira tertawa lucu melihat wajah Arum yang hitam, disamakan dengan monyet.
Suara langkah kaki terdengar, Ar datang dengan tatapan khawatir melihat Winda menangis.
"Sayang apa yang kamu lakukan? aku mencari kamu." Ar memeluk Winda.
"Pergi, Winda ingin putus saja." Winda memukuli Ar.
Wildan juga datang melihat adiknya mirip wanita gila marah-marah, sabarnya Ar hanya mengatakan maaf dirinya yang salah.
"Vira kenapa kamu di sini?"
Vira langsung memeluk Wildan, mencium kening suaminya minta digendong ingin tidur.
***
__ADS_1