
Acara tujuh bulanan Billa di lakukan secara sederhana, mengundang anak panti, warga sekitar untuk doa selamat.
Erik melihat Billa yang sudah sulit berjalan, perutnya yang besar membuat sulit semua aktifitas Billa, Erik harus membantu segala hal yang Billa lakukan.
Tangan Erik mengelus perut Billa, menciumnya mendengarkan suara tendangan kedua anaknya.
"Sayang, kita sudah boleh menyebut nama, membelikan mereka baju." Erik mencium kening Billa.
"Sebaiknya jangan kak, Bunda sama Mama lagi rebutan untuk meminta kita tinggal di rumah mereka. Di rumah masing-masing sudah dipersiapkan semua keperluan baby, Billa tidak enak hati."
"Kita tinggal di rumah Bunda, tapi jika Mama memaksa, Bunda juga, kita tinggal di rumah sendiri. Kak Erik ingin kamu berada di tempat yang aman dan nyaman, bukan berarti tempat tinggal orang tua kak Erik tidak nyaman."
Bunda Jum mengetuk pintu dan memanggil Billa Erik untuk turun ke bawah, seluruh orang sudah berkumpul, sudah waktunya acara dimulai.
Erik menggandeng Billa, Bunda tersenyum menggenggam tangan Billa menuruni tangga perlahan.
Acara demi acara terlewati, senyuman kebahagiaan terlihat, seluruh keluarga meneteskan air mata bahagia, menyambut kelahiran twins E yang diberi nama Elang dan Embun.
Twins R juga sudah mulai pintar berbicara, sudah mengerti siapa saja orang terdekatnya. Keaktifan mereka semakin terlihat, Rasih Raka sudah bisa berjalan, begitupun dengan Bening, Rasih Bening selalu mengobrol berdua dengan bahasa mereka sendiri.
Acara selesai, Billa meminta izin untuk beristirahat. Erik meninggalkan semuanya untuk menemani Billa yang kesulitan untuk tidur.
Setiap malam sudah sulit tidur, punggung, pinggang, kaki sakit semua, Erik selalu memijit semua tubuh Billa, tidak tega melihat istrinya yang mengandung dua bayi.
Billa tidak pernah mengeluh, tapi minta maaf harus menggangu istirahat Erik, padahal besoknya harus bekerja.
"Maafkan Billa kak Erik?"
"Sayang, ini anak kita berdua, kamu sudah berjuang sejauh ini, sulit berjalan, tidur, makan, merasakan sakit, mual, capek, sedangkan kak Erik hanya bisa melihat. Perjuangan kamu tidak bisa kak Erik bantu, jika bisa pindahan sakitnya kepada kak Erik."
Menanti hari kelahiran, Billa terlihat lebih tenang berbeda dengan Erik yang lebih gelisah, tidak tenang, takut.
Sekuat-kuatnya Erik menyembunyikan ketakutannya, sulit Erik pahami seorang dokter takut dengan kelahiran.
***
Bisma menatap Tama yang baru saja pulang bertugas, bermain dengan Bening yang jika ayahnya pulang tidak ingin berpisah lagi.
"Bening, mam dulu sayang." Binar tersenyum melihat Tama, membawakan putrinya makan.
__ADS_1
"Ayah." Bening lancar menyebut Ayah.
"Iya, sini makan bersama Ayah." Tama mengangkat tinggi tubuh Bening, mendudukinya di kursi menyuapinya.
Lama Bisma memperhatikan keduanya, Jum juga melihat arah pandangan suaminya. Mengerti juga dengan pemikiran Bisma.
"Ayah, kita fokus saja dulu ke Billa, dia membutuhkan kita." Jum memeluk lengan Bisma, mengusap dadanya.
"Sayang, Ayah khawatir dengan Bening. Semakin dia besar terus bergantung kepada Tama, suatu hari dia akan bertanya kenapa orang tuanya tidak sama seperti temannya setiap hari bertemu." Bisma merangkul Jum, menatap mata istrinya yang menenangkan.
"Biarkan, mereka berdua akan menyadari saat Bening mulai bertanya-tanya." Jum melangkah masuk ke dalam, Bisma mengikuti ucapan Jum yang memang ada benarnya.
Erik sudah mengambil cuti, melihat kamar anaknya yang memang sudah penuh. Jum Bisma juga melihat bersama Erik, binggung cara menyusun kamar.
"Siapa yang membeli semua ini Ayah Bunda?" Erik mengangkat boneka Barbie, mobil-mobil, boneka dari ukuran besar sampai kecil.
"Bunda, Mami, Mommy, Mama, Windy, Kasih, Karin, Cinta, masih banyak lagi." Jum tersenyum menyusun boneka.
"Sayang, ini sepertinya kita harus berdagang mainan, bagaimana mungkin bocah baru lahir sudah main, kamar ini kurang besar." Bisma menggelengkan kepalanya.
"Bunda, Erik hanya mengambil yang perlu saja. Membawa ke kamar atas tidur bersama Erik, setelah renovasi rumah Erik selesai, kita pindahkan ke sana." Erik tersenyum melihat Bunda yang monyong.
Bisma gemas sekali kepada cucu pertamanya, mengikutinya dari belakang berjalan ke arah gerbang rumah, mengintip sebentar, sambil kedua tangannya memegang boneka.
"Mencari apa Bening?" Bisma membantu Bening membuka pintu, senyuman Bening langsung terlihat.
"Asih Ayah, Asih."
"Kamu ingin bermain bersama Asih, memberikan Asih satu boneka." Bisma mengusap kepala Bening.
Langkah kaki Bisma mengikuti Bening yang berjalan masuk ke rumah keluarga Prasetya, kedua tangannya membawa boneka berukuran kecil.
Bisma teriak kaget, melihat Bening jatuh, maid di rumah Viana berlarian melihat si cantik Bening jatuh.
"Aduh, Ning tuh, akit Ayah." Bening mengusap dengkulnya, Bisma langsung menggendong dan memeluk erat.
"Ada apa Bisma?" Viana keluar kaget melihat Bening yang tersenyum mengatakan jika dia jatuh.
"Sayang kita pulang sekarang, periksa kaki kamu."
__ADS_1
"Asih?"
Viana mengusap wajah Bening, mengatakan jika Asih berada di rumahnya, tidak ada di rumah kakeknya.
Bening meminta turun, megambil kembali bonekanya. Mengambil tangan Viana menciumnya, baru satu tangannya lagi megambil boneka berjalan pergi.
Bisma mengikuti Bening yang berjalan ke arah rumah Ravi, Jum melihat Bisma yang mengikuti Bening langsung mengejarnya.
"Pergi ke mana sayang?" Jum melihat Bening.
"Ning, main sama Asih." Bening melihat Jum melepaskan satu bonekanya, mencium tangan Jum pamitan izin main.
"Ayah, sebaiknya Bening kita berikan penjaga, dia sudah bisa berjalan mencari teman. Mengikuti orang yang dia kenal." Jum mengkhawatirkan Bening jika tidak dalam pengawasan.
"Bening, Ayah izin pulang. Kamu ingin peluk Ayah tidak?" Binar teriak, Bening menghentikan langkahnya.
"Ayah." Bening langsung putar arah, meninggalkan kedua bonekanya langsung memanggil Ayah, berlarian kecil kembali ke rumah.
Ravi melipat kedua tangannya melihat satu manusia yang menempel di kulkas, dari pagi sudah membuat tawa satu rumah.
"Rasih, bangun tidur cuci muka, bukan menjadi cicak di kulkas." Ravi menatap putrinya yang tidak berhenti meminta Es krim.
"Daddy, es krim."
"No Asih, ini masih pagi, kamu bisa sakit perut. Ikut Daddy menggosok gigi." Ravi ingin mengandeng tangan putrinya, tapi ditolak.
"No no no Daddy, Asih ingin es krim." Asih memeluk erat kulkas.
Ravi menghela nafasnya, ingin rasanya Ravi membuang seluruh kulkas yang berada di rumahnya.
Kasih tersenyum, saat hamil dia memang sangat menyukai es krim, ternyata putri cantiknya yang sangat menyukai es krim.
Banyak sekali alasan putrinya agar bisa menikmati makanan kesukaannya, berbeda lagi dengan Raka, jarang berbicara hanya seperlunya saja.
Raka juga sudah berhenti meminum ASI, hanya Rasih yang masih belum ingin lepas. Wajah Raka jiplakan Ravi, hanya sikapnya yang seperti Kasih sangat cuek.
"Mommy susu." Raka meminta susu botolnya.
"Mommy nen." Asih langsung melepaskan kulkasnya meminta Kasih menggendongnya.
__ADS_1
***