
Seluruh orang sudah berkumpul untuk memulai Ijab kabul, Armand sudah duduk di depan Bima. Wildan yang menunggu giliran tangannya panas dingin, dia merasakan cemas juga khawatir.
Pertama kalinya dalam hidup Wildan ketakutan, Ar yang lebih dulu menikah, tapi Wildan yang demam melihatnya.
Senyuman Ar masih terlihat, dia sangat santai hampir tidak memiliki beban apapun. Sudah lama Ar menanti hari ini menunggu kesempatan bisa menikahi Winda secara agama dan hukum.
Penghulu tersenyum melihat Ar, dia sangat tenang meskipun tangannya juga terasa dingin. Sebelum acara ijab kabul di mulai semuanya berdoa yang dipimpin oleh Ar langsung.
Senyuman Bima terlihat sangat bangga melihat Armand yang hafal tiga puluh juz Al-Qur'an, bukan hanya baik akhlaknya, tapi kuat juga ibadahnya.
Selesai berdoa penghulu sudah memberikan izin untuk Ar dan Bima memulai Ijab kabul, sesuai arahan penghulu.
Bima mengulur tangannya, langsung disambut oleh Armand dengan keyakinan. Senyuman Bima terlihat menatap calon menantunya yang hanya tersenyum.
"Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti (Winda Bramasta) alal mahri ... hallan.” Bima mengucapkan dalam bahasa arab dengan tegas.
“Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, puteriku (Winda Bramasta) dengan mahar ... dibayar tunai.”
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq.”
Artinya: “Saya terima nikah dan kawinnya dengan mas kawin (mahar) yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah.”
Armand membaca dengan sekali tarikan nafas, meskipun terlihat tenang, Ar meneteskan keringat membuat Bima tersenyum.
Para saksi langsung mengatakan sah, penghulu juga langsung mengatakan sah. Ar langsung mencium tangan Bima, mendengarkan doa langsung mengucapkan Alhamdulillah.
Di dalam kamar Winda hanya melihat dari layar saja, Vira berkeringat tangannya panas dingin. Winda duduk santai masih sempat makan saat Papinya berjabatan tangan dengan Armand.
Bella dan Billa juga tegang, jantung mereka berdegup merasakan khawatir.
Vira memejamkan matanya, Bella dan Billa juga menundukkan sampai akhirnya para saksi mengatakan Sah.
Winda hanya menganggukkan kepalanya, mempercepat makannya langsung meminta tolong mengambilkan minum.
"Winda sudah sah." Vira langsung berpelukan dengan Bella dan Billa sedangkan Winda meminta ketiganya menunggunya menyelesaikan makan.
"Winda, kamu tidak merasakan khawatir sama sekali. Sekarang sudah menjadi istri." Vira berteriak kuat.
"Iya aku tidak tuli, biarkan saja jika sudah sah kenapa harus ambil pusing. Memangnya kalian berharap tidak sah." Winda tertawa, dia berharap akan ada drama lucu seperti di dalam film.
__ADS_1
Saat acara ijab kabul kedatangan istri dan anak dari Ar, tapi sialnya harapan Winda tidak sesuai kenyataannya.
Tidak ada drama sama sekali, bahkan Ar sangat lancar dalam mengucapkan ijab Kabul, dia sangat bersemangat untuk menikahi Winda.
Suara pintu diketuk, Reva langsung memeluk Winda mencium pipinya.
"Bau apa ini?"
"Maaf Mami Winda baru sudah makan." senyuman Winda terlihat mencium wajah Maminya.
"Astaghfirullah Al azim Winda, kamu tidak ada khawatirnya sama sekali." Viana mengusap dadanya.
"Memangnya jika menikah tidak boleh makan?" Winda mengerutkan keningnya, tatapannya kesal.
Jum hanya tersenyum, mengusap wajah Winda gemes. Ucapan selamat Jum berikan, mendoakan Winda bahagia.
"Ayo kita turun Mami, sudah sah. Winda ingin dicium" Winda langsung tertawa melangkah keluar kamar.
Reva mengerutkan keningnya, Vira hanya tertawa membayangkan Ar akan menderita mendapatkan serangan dari Winda.
Winda turun bersama Reva, dan Jum untuk menemui suaminya. Senyuman Winda terlihat berjalan dengan anggun. Kecantikan Winda membuat banyak orang terpesona tidak terkecuali Ar yang tersenyum malu-malu melihatnya.
"Cium kening Winda bodoh." Bisikan pelan di telinga Ar membuat Bima dan Reva saling pandang.
Ar hanya tersenyum, meletakan tangannya di atas kepala Winda, mendoakan istrinya hal yang baik. Winda tersenyum manis sambil menutup matanya, menadahkan tangannya mendengar doa Ar yang mirip lagu BTS yang sedang konser. Panjang sekali, belum lagi suara amin yang terdengar seperti penonton bayaran.
Mata Winda langsung melotot, Ar meletakan tangannya di kening Winda langsung menciuminya.
Secara dadakan Winda mencium hidung mancung Ar membuatnya langsung melangkah mundur, suara kehebohan terdengar, juga suara tawa yang membuat suasana menjadi rusuh.
Bima juga terkejut melihat Winda menyerang Ar secara dadakan, tidak ada suasana haru sama sekali, semuanya heboh karena tawa dari setiap orang.
Suara Wira paling besar, belum lagi Ravi dan Erik yang lompat-lompat bersama Putri mereka yang tidak mengerti apapun, paling penting mereka ikut teriak.
Wildan yang melemas semakin lemas, jantungnya berdegup sangat kencang, tangannya dingin, wajahnya sudah pucat.
Winda hanya tersenyum saja, membiarkan Ar memasang cincin pernikahan, begitupun sebaliknya. Armand menjadi patung karena terkejut dengan serangan dadakan Winda.
Selesai pemasang cincin, lanjut penanda tanganan buku nikah. Tangan Ar sampai bergetar sampai canggung meskipun yang menciumnya istri sahnya.
__ADS_1
Selesai tanda tangan, Armand dan Winda mencium tangan Reva dan Bima. Tersenyum meminta doa yang baik.
Suasana yang awalnya ingin haru sudah menghilang, Bima memeluk putri bungsunya dengan erat.
"Winda, kamu tahu betapa besar cintanya Papi. Jangan pernah berpikir Papi melepaskan kamu, semakin hari Papi semakin tua, juga mulai melemah membutuhkan bantuan Ar untuk menjaga kamu. Kamu wanita yang paling Papi cintai." Bima mengusap punggung Winda, Senyuman Winda terlihat tidak ingin meneteskan air matanya.
Suasana heboh kembali hening, Ar tersenyum melihat Papi yang mengusap air matanya.
"Winda tahu Papi, jangan khawatirkan Winda. Papi sudah memilihkan lelaki terbaik untuk Winda, jika Papi percaya dia maka Winda juga mempercayainya. Jangan bersedih Winda masih ada di sini, ingat janji kita Papi untuk tidak pernah berpisah. I love you my Hero." Winda mencium kedua pipi papinya, kening juga. Bima melakukan hal yang sama.
Tatapan Bima melihat ke arah Ar, meminta Armand menjaga putrinya dengan baik. Selalu mencintainya dan setia kepadanya.
"Ar Papi sangat mempercayai kamu menjaga Cinta papi. Jika suatu hari kamu lelah dengan dia, tolong kembalikan dia kepada Papi secara baik-baik. Papi akan menjaganya kembali, karena dia putri juga malaikat tanpa sayap yang papi miliki. Melepaskan dia sama saja melepas separuh dari hidup Papi." Bima memeluk Ar, mengusap punggung menantunya.
Winda menatap papinya yang terlihat kehilangan, Winda berusaha menahan kesedihannya karena tidak ingin membuat Papinya lebih sedih lagi.
"Mami pasti bahagia Winda menikah, selamat ya akhirnya putri nakal Mami menikah dengan lelaki pilihan kalian." Tatapan Winda tajam melihat Reva tertawa, Winda tahu Maminya menyembunyikan kesedihan.
"Mami sangat bahagia, berharap kamu secepatnya menjadi ibu agar tahu rasanya mempunyai anak yang nakal."
"Mami doanya jelek sekali, jangan nangis kita sudah berjanji untuk tidak akan menangis jika Winda menikah." Senyuman Winda terlihat, mencium pipi Maminya.
Suara tangisan Reva langsung pecah, dia sangat kehilangan putrinya. Ada bahagia dan sedih melihat Winda menikah.
"Air mata buaya." Winda tertawa memeluk erat Maminya.
***
YANG MASIH PENASARAN WINDA PINDAH KE MANA.
...KISAH WINDA ARMAND LANJUT DI MENGEJAR CINTA OM DUREN S3 BESOK MULAI UPDATE...
Pertanyaan pindah lapak dll, jawabannya tidak.
Winda tetap di Noveltoon, kalian buka saja profil Autor pasti ada judul novel mengejar cinta Om duren jika tidak ingin membaca S1 dan S2 lanjut saja S3 karena cerita berbeda.
Cukup jelas, yang masih belum paham silahkan komen.
***
__ADS_1