
Genggaman tangan Ravi erat, berdiri bersama Kasih menunggu Bus di terminal. Kasih merasa lucu melihat Ravi yang ingin naik Bus, saat Bus datang Kasih langsung menarik Ravi untuk mencari tempat duduk.
Kasih menahan tawa melihat Ravi yang menutup hidungnya. Sesak, berdesakan membuat kepala Ravi pusing. Kasih berdiri, mempersilakan seorang Ibu hamil duduk, Ravi juga langsung berdiri mempersilakan bapak tua duduk.
Ravi memeluk pinggang Kasih, agar tidak ada yang menyentuhnya. Saat tiba Ravi cepat keluar, mual-mual karena sesak.
"Sayang, bantuin Aak berjalan, rasanya banyak bintang." Ravi merangkul Kasih, berjalan ke arah rumah mewah milik keluarga. Beberapa mobil sudah tersusun rapi di parkiran. Viana dan Rama baru saja tiba, melihat Ravi yang seperti orang mabuk.
"Ravi!" Viana langsung keluar mobil, berjalan mendekat, langsung memukuli Ravi. Kasih kebinggungan melihat Mommy menyerang Ravi.
"Beraninya kamu mabuk-mabukan, sudah Daddy bilang. Jangan pernah menyentuh minuman haram, kamu beraninya melanggar."
"Mommy sakit."
"Mommy, Ravi mabuk mobil, bukan minuman keras." Viana langsung berhenti, menatap Kasih yang meringis, melihat Ravi yang tergeletak.
Viana langsung berlari ke dalam, Kasih mencium tangan Rama, membantu Ravi berdiri.
"Kamu baik-baik saja Ravi, maafkan Mommy kamu ya." Rama menepuk bahu Ravi.
Kasih tersenyum membantu Ravi berdiri, membawanya masuk ke dalam. Mami Reva langsung teriak, berlari melihat Ravi, sudah melepaskan high heels nya.
"Ravi kamu mabuk!?"
"Mami cukup, Ravi mabuk mobil." Kasih mengembalikan sepatu high heels Reva.
Ravi mengelus dada, membayang benda lancip di kaki Mami, menghantam kepalanya. Biarkan Wildan saja yang menikmati rasa high heels Mami.
Kasih langsung membawa Ravi ke dalam kamar, membaringkannya untuk beristirahat. Kasih langsung ke dapur mencari Bunda Jum yang sedang sibuk masak.
"Bunda, Ravi mabuk mobil, cara mengatasinya bagaimana Bunda?" Kasih mencari sesuatu, tapi dia tidak mengerti sama sekali.
"Berikan saja air hangat sayang."
Kasih langsung mengambil air hangat, meletakkan di dalam baskom, Jum heran melihat Kasih berlari membawa baskom dan kain.
Di dalam kamar Ravi masih memejamkan matanya, Kasih meletakkan kain ke baskom meletakkan di kening Ravi.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Ravi membuang kain di keningnya.
"Kata Bunda pakai air hangat saja."
Ravi coba mencerna ucapan Kasih, langsung tertawa lepas, Kasih keheranan melihat Ravi yang mendadak tertawa. Kasih berlari ke luar, binggung harus menemui siapa, melihat Ravi tertawa setelah merasakan pusing sesuatu yang aneh.
"Bunda Jum."
__ADS_1
"Kenapa sayang?" Jum menatap Kasih yang kebinggungan.
"Obat kerasukan apa Bun?"
"Maksudnya kesurupan, tertawa sendiri."
"Iya Bunda benar."
"Dia kerasukan atau gila." Jum melihat bumbu dapur, kebiasaan orang kampung Jum sering meletakkan bawang di bawah bantal.
Jum memberikan bawang, harus dikunyah dulu. Kasih binggung harus meletakkannya di mana. Jum mengatakan untuk meletakkan di kening. Cepat Kasih berlari masuk ke dalam kamar, melihat Ravi yang memainkan air sambil tertawa.
Kasih duduk memegang bawang, Ravi menatap wajah Kasih dan bawang.
"Buat apa sayang?" Ravi menahan tawanya.
"Masa iya Kasih harus mengunyah bawang, rasanya pasti pedas. Aak saja yang mengunyah, langsung makan sekalian biar tidak kesurupan." Kasih mengupas bawang, memasukkan ke dalam mulut Ravi, tapi langsung ditelan.
"Aak jangan ditelan, ini kunyah lagi." Kasih mengupas lagi, wajah Ravi sudah tidak bisa dikontrol lagi, antara ingin tertawa, sekalian menahan bau bawang juga pedas.
Sebelum Ravi selesai Kasih meminta di keluarkan di telapak tangannya, langsung menempelkan di kening Ravi. Kasih menekan sampai rata. Ravi terdiam ingin muntah, merasakan bawang di dalam mulutnya.
"Alhamdulillah saran Bunda mujarab, Ravi tidak tertawa lagi." Kasih mengelus dada.
Ravi berjalan keluar, Kasih mengikuti Ravi yang mencari minum. Viana aneh melihat wajah Ravi, melihat keningnya yang bau bawang.
"Mommy baru saja ingin bertanya?" Mommy Viana dan Erik mengikuti Ravi yang menahan muntah.
"Ravi sakit apa Kasih?"
"Tidak tahu, awalnya dia mabuk mobil, Kasih bertanya kepada Bunda obatnya, kata Bunda Kasih air hangat. Kasih mengompres kepala Ravi, dia terus saja tertawa, minta saran Bunda lagi, kemungkinan Ravi kesurupan, kata Bunda coba memberikan bawang." Kasih menjelaskan sedetail-detailnya.
Viana mengelus dada, Jumintean membuat sesat menantunya. Erik coba mencerna ucapan Kasih menatap wajah Ravi yang lesu. Secara mendadak Erik tertawa terpingkal-pingkal, Viana menepuk jidat.
"Kasih sayang, air hangat yang Bunda maksud air minum bukan air kompres, Ravi tidak demam." Viana mengelus punggung Kasih.
"Ohhh iya Mom, Kasih lupa." Kasih menahan tawa, melihat wajah Ravi yang cemberut.
"Ravi tertawa karena mengejek kamu, bukan kesurupan." Viana tersenyum, menepuk bahu Kasih, Erik tidak berhenti tertawa.
Kasih menatap Ravi yang menyedihkan harus mengunyah bawang, Jum berlari melihat Erik, langsung menempelkan bawang di keningnya.
"kenapa semuanya kesurupan? sepertinya rumah ini mulai ada hantunya." Jum langsung merinding.
Ravi menyembunyikan tawanya, menudukan kepalanya ke arah meja, Jum tidak sadar bawang yang dia bawa sudah ditumbuk dengan cabe.
__ADS_1
Viana mengelus dada melihat Jum yang selalu membuat kacau, Erik menyentuh keningnya yang panas, mengusapnya sampai berteriak terkena matanya.
"Arrrrrgggghhhhh Bunda Erik buta." Erik teriak memejamkan matanya mencari air.
Viana langsung menyiram kepala Erik dengan air, Reva, Rama, Bima, Bisma berlari mendengar Erik teriak.
"Ada apa Mommy?" Rama mendekat melihat Ravi yang sudah terpingkal-pingkal, Kasih meringis melihat Erik.
"Biasalah Daddy Jum berulah, kali ini menantu Daddy yang polos menjadi korbannya."
Bisma langsung tertawa melihat Erik, belum lagi melihat Ravi yang keningnya penuh bawang, Reva juga membantu Erik sambil terus tertawa, Bima hanya bisa geleng-geleng melihat kekacauan.
Jum hanya tersenyum, mengikuti Erik yang di kamar mandi masih teriak-teriak. Kasih membantu Ravi menghilangkan bawang di keningnya.
"Kasih sayang, Bunda Jum memang mengemaskan, tapi kamu juga hari ini terlihat mengemaskan." Ravi tertawa melihat istrinya.
"Enak bawang yang Aak telan?" Kasih tertawa melihat wajah Ravi.
Viana dan Reva membantu Erik membungkus matanya, Jum hanya menatap saja tidak berani menyentuh.
"Kak Vi, coba kita obati dengan obat mata." Reva tersenyum langsung berlari mencari obat mata.
"Kak Vi, coba pakai minyak kayu putih."
"Jum!" teriak Reva dan Viana kesal.
"Sekalian Bun pakai obat merah." Ravi memberikan usulan.
"Ravi! teriak Erik bersama Viana dan Reva.
"Mami Mommy, Erik tidak sakit mata, tapi terkena cabai." Kasih merasa kasihan melihat Erik.
"Ayah, tolongin Erik. Bisa buta mata Erik, ya Allah aku Dokternya, tapi dicabein." Erik menangis, merasakan perih matanya.
Prang ... bunyi suara kuat piring pecah, seluruh orang berlari menjauh.
"Woy, gue jangan ditinggal. Astaghfirullah Al azim, Papa Mama tolong Erik."
Septi datang menjatuhkan piring melihat putranya, dari mata sampai rambutnya hilang terbungkus kain putih.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***