SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 MAAFKAN BELLA


__ADS_3

Pintu terbuka, Viana dan Reva keluar kamar Jum menuju ke lantai bawah. Wajah keduanya terlihat sangat sedih membuat Bisma khawatir.


"Bella, kamu temui Bunda. Jangan lupa meminta maaf." Viana melangkah keluar rumah, langsung pulang.


"Reva, bagaimana keadaan Jum?" Bisma menatap ke arah kamar.


"Jum membereskan semua bajunya, dia ingin pergi dari rumah." Reva langsung melangkah pergi.


Semuanya langsung kaget, Bella langsung berlari ke kamar Bundanya. Tian juga langsung ingin naik, tapi ditahan oleh Billa.


"Kita tunggu dulu kak Bella, nanti kita masuk bersama-sama kak." Billa mengusap air matanya.


Bisma setuju dengan ucapan Billa, Binar hanya duduk diam menatap kesedihan Tian, dan Billa juga Ayahnya.


"Kenapa sedih?" Ning binggung melihat semua orang menangis.


Tama langsung menggendong Ning untuk istirahat ke kamarnya, Erik juga membawa kedua anaknya untuk tidur lebih awal.


Vira dan Winda hanya duduk diam, mereka semakin tidak berani menantang pernikahan.


Bella langsung masuk ke kamar Bundanya, melihat baju sudah disusun di dalam kardus. Jum masih saja mengeluarkan tas, juga beberapa high heels.


"Bunda, maafkan Bella Bun." Tangisan Bella langsung pecah.


Jum kaget melihat Bella yang sudah memeluk kakinya, bersujud sambil menangis sesenggukan menyalahkan dirinya.


"Bunda jangan pergi, maafkan Bella Bunda. Pukul saja Bella Bun, tapi jangan pernah tinggalkan Bella." Tangisan Bella terdengar sampai ke luar kamar.


Jum menatap Bella yang masih bersujud, meneteskan air matanya. Putrinya yang keras kepala sudah bisa menangis histeris dihadapannya.


"Ampun Bunda, Bella salah sudah durhaka sama Bunda. Ampuni Bel Bun. Mulai sekarang Bella akan belajar dewasa, mendengar nasehat Bunda, menjadi anak baik , tidak iri dan dengki sama saudara. Maafkan Bella Bunda."


"Kamu iri sama saudara, tapi cuek sekali dengan orang lain." Jum mengusap air matanya meminta Bella melepaskannya.


"Bella sayang Bunda, sayang kak Tian dan billa juga. Bel sayang Ayah, sayang Ning, sayang kak Binar juga. Bella sayang semua, sayang keluarga kita Bun, maafkan Bella pernah ingin menghacurkan kak Binar, membenci kak Tian, maafkan Bella Bunda." Tangan Bella erat memeluk kaki Jum terus menangis.


"Iya Bunda maafkan, Bunda juga sayang Bel. Nak saat kamu menjadi seorang ibu tidak mungkin tega melihat anak yang tidak bersalah tersakiti, kita bayangkan saja jika dia anak kandung betapa hancurnya hati. Bunda bukan membedakan antara kamu dan Binar, kalian memiliki keistimewaan masing-masing. Binar kurang beruntung dalam keluarganya, tapi Allah mengirimkan keluarga kita untuk menjadi pelindung Binar." Jum mengusap air matanya.

__ADS_1


"Maafkan Bella Bunda, berpisah dari keluarga membuat Bella sadar betapa bahagianya memiliki banyak keluarga."


Jum duduk menghapus air mata Bella, mencium kening putri kesayangannya.


"Bella, Bunda selalu mengajari kalian jika menolong orang tidak akan membuat kita jatuh miskin, tidak membuat kita kekurangan apa yang kita miliki sekarang, bahkan rezeki juga kebahagiaan terus dilipatgandakan. Menolong Binar membuat kehidupan Bening bahagia, si kecil sekarang sangat cerdas, lincah sekali."


"Iya Bun, Bella sayang sama Bening." Bella memeluk erat Bundanya.


"Bella sayang, Bunda merasa bersalah sekali kepada kamu nak. Bunda berhasil menyelamatkan anak lain, mencintai dia, mendidiknya dan terus menguatkannya, tetapi Bunda gagal menjaga anak kandung Bunda, gagal membahagiakan Bella, gagal ...." Jum menangis memeluk erat Bella.


"Bunda jangan bicara seperti itu, Bunda tidak gagal menjadi seorang ibu. Bella yang bodoh, sejak kecil Bella ratu di rumah ini, tapi saat besar semuanya mulai berubah membuat Bella merasa tersakiti padahal sakitnya Bella karena tidak mendewasakan diri, terlalu manja sampai pernah membentak Bunda, marah sama Bunda."


Jum tersenyum melihat Bella yang sudah mengakui salahnya, sangat berbeda jauh dengan Bella yang biasanya selalu ingin menang, tidak ingin meminta maaf.


Billa menangis sesenggukan mengintip Bunda dan kakaknya, Jum meminta Billa masuk sambil tersenyum.


"Bunda." Billa langsung berlari memeluk erat Bundanya.


"Putri kembar Bunda, maafkan Bunda ya sayang, jika kalian merasa Bunda tidak adil." Jum mencium kening Bella dan Billa.


"Bunda, Billa bersyukur lahir sebagai putri Bunda."


Suara Jum tertawa terdengar, memeluk kedua anaknya yang susah payah dilahirkan juga dibesarkan.


"Bastian Binar ke sini sayang." Jum tahu jika anak-anak ada dibalik pintu.


Tian meneteskan air matanya, membuka pintu menatap air mata Bundanya menetes. Tian menutup matanya dengan tangan langsung menangis.


Jum langsung berdiri memeluk Tian, anak yang Jum besarkan sejak kecil hingga menjadi pria dewasa. Putra yang tidak pernah mengeluarkan nada tinggi, selalu menuruti apapun yang Jum ucapkan.


Tangisan Tian terdengar menyayat hati, mengeluarkan semua kesedihannya sejak kecil. Luka yang selalu Tian tutupi agar selalu terlihat kuat.


"Bunda, maafkan Tian sudah membuat Bunda menangis." Tian langsung berlutut, mencium kaki Jum sambil menangis.


Jum langsung duduk memeluk Tian yang terus menangis, Jum kebingungan menatap Bisma yang mengusap air matanya.


"Tian kenapa menangis? kamu tidak pernah mengecewakan Bunda, tidak pernah menyakiti hati Bunda nak. Jangan menangis lagi." Jum menghapus air mata putranya.

__ADS_1


"Bunda, terkadang Tian iri dengan Ravi yang bisa bersama kedua orang tuanya. Tian selalu merasakan diasingkan dari banyak orang yang menganggap Tian hanya menumpang hidup di atas nama keluarga ini, Tian merasa menjadi anak yang tidak tahu diri karena meminta lebih dari keluarga ini. Bunda Tian memiliki satu mimpi yang paling menakutkan saat tiba waktunya Tian harus meninggalkan keluarga ini." Wajah Tian banjir air mata.


"Kamu tidak akan pernah meninggalkan keluarga kita, sekalipun Bunda sudah tiada." Jum menghapus air mata Tian.


"Tian takut berpisah dari Bunda, takut kehilangan keluarga ini."


Bisma langsung masuk, mengusap punggung Tian menepuk pundak kokoh putranya yang menanggung suka dan duka hidupnya dalam diam.


"Apa Ayah masih kurang mencintai kamu? sehingga kamu merasa masih menjadi orang lain." Bisma mengusap kepala Tian.


"Tian minta maaf Ayah, sungguh cinta kalian sudah lebih dari cukup. Sekalipun Tian memberikan nyawa tidak bisa membayar sedikitpun cinta kalian." Tian memeluk Bisma.


"Buat kesalahan satu kali saja nak, kamu manusia biasa yang tidak bisa menjadi orang sempurna. Asalkan kamu jangan nakal seperti Bella." Bisma tersenyum menghapus air mata istrinya.


"Bella tidak nakal Ayah." Bella langsung memeluk Ayahnya.


Billa juga masuk ke dalam pelukan Ayahnya, tersenyum menatap Tian yang juga berpelukan.


Jum tersenyum melangkah membuka pintu, menatap Binar yang menangis di luar, memeluk lututnya menyimpan wajahnya.


"Kenapa menangis di luar? semuanya di dalam kamar jangan mengasingkan diri sendiri Binar. Ayo sini sayang." Jum menyambut tangan Binar bergabung dengan yang lainnya.


"Maafkan Binar."


"Sudah, jangan ada yang bersedih lagi. Sini Binar." Bisma memeluk ketiga Putrinya, Jum memeluk Tian sambil tersenyum.


"Kita keluarga, Billa harus menjadi ibu yang baik, Binar juga menjadi ibu dan istri yang baik terutama kamu Bella jangan terlalu manja, keras kepala, egois, belajarlah dewasa. Ayah ingin melihat kalian bahagia, sebelum Ayah menutup mata setidaknya ada yang menjaga kalian bertiga."


"Ayah, kak Binar dan Billa bisa mengadu karena memiliki kakak, tapi Bella harus mengadu kepada siapa?"


Bisma dan Jum menatap Bella yang tersenyum menutup mulutnya, Bella belum juga berubah ingin menguasai Tian seorang diri.


"Menikahlah agar kamu bisa menguasai Tian seorang diri." Jum melotot memeluk Tian.


"Bunda merestui?" Bella memeluk Tian.


"Dasar perempuan genit."

__ADS_1


"Bella hanya memeluk kak Tian." Senyuman Bella terlihat.


***


__ADS_2