SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 MENJENGUK VIRDAN


__ADS_3

Suara Wildan mengumandangkan adzan terdengar, tersenyum menyerahkan putri tercinta kembali kepada yang maha kuasa.


Perlahan tanah mulai menimbun, bunga bertaburan di atas makam kecil. Vira mengusap nisan putrinya yang bernama Vivilia Bramasta.


Beberapa makam keluarga juga ada di kanan dan kiri Vivi, Rama mengusap makam Oma yang sudah membesarkannya, melihat makam kedua orangtuanya.


"Ibu Ayah, Rama titip cucu Rama di sini. Sekarang kami sudah memiliki lima cucu, Rama sangat bahagia." Senyuman Rama terlihat, mengusap makam kedua orangtuanya.


"Oma, Rama sudah menjadi kakek. Di sini ada Asih dan Aka cucu pertama kami, tapi satu cucu kami berpulang surga untuknya." Tangan Rama mengusap kepala Asih, senyuman Rasih mirip sekali dengan Viana.


Selesai berdoa semuanya perlahan melangkah untuk pulang, Wildan merangkul Vira untuk kembali ke rumah sebentar lalu ke rumah sakit lagi, tubuh Vira masih lemas.


Sesekali Vira melihat ke belakang, tersenyum melambaikan tangannya kepada putrinya.


Wildan langsung cepat pulang ke rumahnya, membantu Vira mandi menyiapkan keperluan bayi mereka untuk melihat keadaan Virdan.


"Ayang, terima kasih untuk kelembutan juga Ketulusan hati Ayang. Vira gagal menjaga kandungan, seharusnya Ayang marah. Maafkan Vira, jika waktu diputar kembali mungkin memilih jalan yang sama." Tatapan Vira melihat ke bawah, menunggu jawaban suaminya.


"Marah, khawatir aku lebih besar. Tidak pernah terlintas dipikiran aku untuk marah, bahkan berkata kasar kepada kamu, perjuangan kamu sudah luar biasa untuk aku, Vivi dan Virdan, kami yang mengucapkan terima kasih." Genggaman tangan Wildan erat, mencium tangan istrinya yang terlihat khawatir.


"Ayang, aku mengkhawatirkan Winda dan Ar, mereka pasti merasa bersalah. Ranty berencana membunuh Ar, karena dendam kepada Winda. Bagaimana kita mengatakan jika semuanya baik-baik saja?" Vira langsung memeluk suaminya, berharap Wildan juga memikirkan perasaan Winda.


Tangan Wildan hanya bisa mengusap punggung istrinya, mencium kepalanya berkali-kali. Mengenal Ar sudah sejak dirinya muda, pria yang paling dewasa, memiliki kebesaran hati yang tulus.


Ar lelaki paling kuat yang pernah Wildan lihat selain Papinya, Wildan percaya Ar akan berpikir dewasa jika jodoh, rezeki dan maut sudah diatur oleh Allah, tidak ada yang bisa menghindarinya.


Winda sudah tumbuh bersamanya sejak mereka di dalam kandungan, berbagi banyak hal hingga mereka lahir, adiknya wanita tangguh yang bisa berbesar hati jika semuanya takdir.


"Ayo sayang kita menjenguk Virdan."


"Sayang, sekarang sudah terbiasa sekali memanggil sayang. Vira menyukainya, aduh semakin jatuh cinta, maaf ya Ayang belum bisa mendapatkan jatah." Tawa Vira terdengar mengejek suaminya yang hanya mengerutkan keningnya.


Vira dan Wildan terheran-heran melihat Wira yang duduk di rumah mereka sambil melamun, bocah bule tampan bermata biru sama dengan Syila memiliki banyak pikiran.

__ADS_1


"Kenapa Wira? kamu putus cinta." Vira tersenyum melihat kesadaran Wira yang belum kembali.


"Emhh ... Wir lanjut melamun di mobil saja, Uncle ingin pergi ke rumah sakit." Nada Wildan lembut, menatap Wira yang sudah melangkah ke luar, langsung masuk ke dalam mobil.


Vira tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah Wira yang hanya diam saja, dirinya diam juga terlihat lucu, apalagi jika dirinya membuat masalah.


"Are you okay Wir?" Wildan melihat ke belakang, menatap putra kakaknya yang terlihat aneh.


"Mommy Daddy kamu di mana Wir?"


"Rumah sakit, tapi Wira tidak diizinkan ikut." Senyuman Wira terlihat.


Vira langsung tertawa bersama Wildan, sekarang Wira bukan hanya jahil tetapi licik, dia tidak mendapatkan izin pergi, tapi melamun di rumah Wildan hanya untuk mendapatkan tumpangan.


"Dasar licik, kamu sebenarnya mengikuti jejak siapa Wir? kak Windy wanita baik, tidak pernah membuat masalah, tapi kenapa kamu?" tangan Vira ingin sekali menarik telinga Wira yang terlihat tidak berdosa.


Senyuman Wira terlihat, dia hanya bertugas memastikan Vira dan Wildan baik-baik saja. Perintah Winda sudah dia jalankan, jika keduanya memang dalam keadaan baik, juga sudah ikhlas.


Wira akan menggunakan pekerjaannya menjadi kesepakatan bersama Winda, agar dia bisa mendapatkan apa yang diinginkan.


Mobil tiba di rumah sakit, Vira langsung keluar dibantu oleh Wira. Senyuman Vira terlihat menatap si tampan yang menggenggam tangannya.


"Apa yang sedang kamu lakukan Wira?"


"Emh ... kita seperti magnet Aunty saling tarik menarik, sekarang Wira sedang menyalurkan keceriaan Wira kepada Aunty." Senyuman manis terlihat, mengusap tangan Vira yang juga tersenyum.


Satu tangan Vira menggenggam tangan Wira, satunya memeluk lengan suaminya yang juga berjalan bersama menuju ke kamar Winda.


Wildan mendapatkan kabar jika putranya sudah keluar dari tabung inkubator, dia sudah normal, bisa tertidur berada dalam pelukan Winda.


Pintu terbuka, Ar tersenyum menjawab salam dari Wildan dan Vira. Winda baru saja bisa tidur setelah menidurkan Arwin, Syila dan Virdan.


Vira tersenyum melihat putranya, mengusap wajah Virdan yang tangannya keluar dari bedong, tidur dalam pelukan Winda.

__ADS_1


"Hai Syila, kenapa kamu tidak tidur sayang?" Vira langsung menggendong Syila, wajahnya menunjukkan kesedihan langsung menangis.


"Sayang, anak Mami sayang. Kenapa menangis nak?" Vira menggendong menenangkan, menepuk pelan agar Syila berhenti menangis.


"Bagaimana keadaan kak Ar?"


"Aku harus baik Wir, demi Winda. Bagaimana pemakaman lancar?"


"Alhamdulillah kak, semuanya berjalan lancar, keluarga kita juga berbesar hati mengikhlaskan kepergian Vivi." Senyuman Wildan terlihat menatap Arwin yang tidur dengan tenang.


Suara Virdan terbangun terdengar, Winda langsung bangun mencium Virdan yang minta susu.


"Putraku menyusu kepada kamu Win?"


"Apa harus Ar yang menyusuinya?" Winda melotot, Vira langsung tertawa merasa konyol dengan jawaban Winda.


"Kamu ambil Virdan, dia minta ASI lagi." Winda menyerahkan putra tampan kakaknya.


"Anak Mami, lapar ya sayang." Tangan Vira menyambut Virdan, langsung memeluknya menyusuinya di sofa.


Wira tersenyum menatap si cantik yang memiliki bola mata yang sama, kecantikan Arsyila sudah terlihat sejak bayi.


Wildan tersenyum melihat Winda yang menatap Vira, menutup mata adiknya langsung memeluknya untuk mengikhlaskan apa yang terjadi.


"Kak Wil maafkan Winda."


"Iya, kak Wil maafkan. Mulai sekarang lebih dewasa lagi, ingat sudah ada anak yang harus kamu didik. Kak Wil bangga sama Winda, terima kasih sudah menjaga Virdan." Senyuman Wildan terlihat, mengusap kepala adiknya meminta untuk segera pulih dan cepat pulang.


Semuanya langsung terdiam, melihat ke arah Wira yang membuat kaget. Ar dan Winda saling pandang, Vira mengerutkan keningnya.


Senyuman Wira terlihat, mengusap wajah Syila yang sedang terlelap merasakan nyaman di usap wajahnya oleh kakak sepupunya.


"Kamu bicara apa Wira?" Winda menatap kesal satu keponakannya yang sangat plin-plan.

__ADS_1


"Arum, namanya Arum." Wira tersenyum, di tengah-tengah keterkejutan Winda dan Ar.


***


__ADS_2