SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 TWINS V


__ADS_3

Tatapan mata Asih tajam, terus melangkah menjauhi kamar. Rama hanya tersenyum mengikuti langkah cucu kesayangannya.


Melihat Rasih, mengingatkan Rama kepada Vira kecil. Dia putri satu-satunya keluarga Prasetya, tidak memiliki saingan.


Vira kecil mendapatkan banyak cinta, karena dia satu-satunya. Sebelum hadirnya putri-putri Bramasta, dia ratu yang paling disayangi dan dicintai.


Memiliki tiga kakak laki-laki dan satu kakak perempuan, membuatnya paling aman dan dijaga ketat. Kehadiran Winda, dan twins B membuat Vira bahagia dia memiliki teman.


Berbeda dengan Rasih, dia cucu pertama perempuan yang memiliki segalanya. Sejak kecil bayi dia sudah memiliki teman Ning, lalu hadirnya Embun tidak mengusiknya sama sekali.


Bagi Rasih dia paling kuat, hadirnya Bulan membuatnya bahagia, karena Embun ada saingan karena keduanya memiliki nama Bramasta.


Kecemburuan Rasih mulai muncul saat kehadiran Arum, tetapi melihat kondisi keluarga yang bersedih membuatnya lupa jika memiliki saingan.


"Asih, kakek lelah berjalan."


"Kakek jangan ikuti Asih, duduk saja. Rasih ingin sendiri kakek." Teriakan Rasih kuat, melihat kakeknya yang memegang pinggang.


Rasa iba mulai terlihat, Rasih duduk menunggu kakeknya. Rama hanya berpura-pura sakit pinggang, ingin melihat kepedulian cucunya.


Air mata Rasih menetes, bibirnya cemberut merasa kesal dengan hari yang tidak baik baginya, tapi menjadi hari bahagia keluarganya.


"Rasih, kamu selamanya akan menjadi cucu kesayangan kami. Hadirnya Asih sebuah doa dan cinta keluarga, kamu sangat berarti." Rama menatap cucu perempuannya yang terus menangis.


"Semuanya jahat, lebih sayang twins. Tidak sayang Asih lagi, semuanya tidak sayang lagi." Teriakan Rasih terdengar bersamaan dengan tangisannya.


Rama langsung menggendong dan memeluk lembut Rasih, menenangkannya agar tidak menangis histeris.


"Asih, cucu kakek yang baik. Tidak ada kata tidak sayang lagi, rasa sayang semakin besar dan terus membesar. Asih memiliki keistimewaan sendiri, begitupun yang lainnya." Rama menyukai cucunya yang penyayang terhadap binatang, selalu berbagi dan menyayangi keluarga.


Rama menggendong Asih ke tempat baby twins V, Asih tidak ingin melihat sama sekali.


"Kecantikan hanya sementara, karena akan menghilangkan di makan waktu. Jangan bangga dengan wajah cantik, tapi banggalah jika Asih memiliki akhlak yang baik."


Suara lembut Rama menceritakan perjuangan twins V sampai akhirnya lahir. Selama dalam kandungan, dokter mengkhawatirkan mereka, memprediksi buruk, kesulitan bergerak dalam kandungan. Hebatnya keduanya masih kuat untuk bertahan.


Saat pendarahan, bayi tidak bergerak lagi dengan izin Allah keduanya tetap bertahan, tiba-tiba tanpa persiapan keduanya harus dioperasi dengan keadaan Maminya yang tidak stabil.


Dokter mengambil risiko untuk melepaskan twins, tapi dengan perjuangan dan izin Allah keduanya lahir dan melihat dunia.


Asih langsung menoleh ke arah twins V, keduanya sedang tidur setelah menyusu.

__ADS_1


"Mereka sama seperti Vivi ya kakek?" Asih langsung menangis merasa sedih.


"Iya sayang, adik Vivi meninggalkan kita semua dan kembali lebih dulu, Alhamdulillah twins V kuat dan akan tumbuh bersama keluarga kita." Rama tersenyum melihat cucunya yang mulai menurunkan egonya.


"Kasihan dede twins, Asih bantu doa saya ya kakek."


"Subhanallah baiknya cucu kesayangan Kakek, inilah istimewanya Asih memiliki hati yang tulus dan penyayang." Ciuman Rama mendarat di kening si kecil yang manja.


Asih juga merasa kasihan, karena twins V tidak memiliki baju, tempat tidur, bahkan persiapan, lebih sedihnya twins belum memiliki nama.


Bima tersenyum membawa Embun yang masih mengamuk kepada Erik, melihat twins V dengan tatapan marah.


"Em, jangan lihat twins seperti itu nanti dia takut. Kasian dedeknya." Asih yang jarang menangis, menutup matanya karena malu.


"Em tidak suka dedek bayi." Teriak Em sangat kuat.


Bima tersenyum, meminta Em memperhatikan dedek twins. Tidak ada orang tua yang melupakan anak-anaknya, apalagi hanya melihat hal yang baru.


Melihat perjuangan twins menguras air mata, ada rasa khawatir dan cemas yang sangat besar, saat mereka lahir menjadi kebahagiaan terbesar.


"Sayang, saat kamu berada dalam kandungan Mama ada acara syukuran, selamatan dan berbagi bersama anak yatim, dan lahir di usia sembilan bulan." Bima tersenyum melihat Embun yang menempel wajahnya di kaca melihat twins.


"Dede tidak ada acara apapun, kenapa kakek?"


Hari ini Embun melihat kemarahan papanya, bukan karena rasa sayang berubah, tetapi papanya sedang membantu twins untuk bertahan.


"Maafkan Em ya Kakek, nanti kita buat acara untuk dedek juga." Tangisan Em terdengar, Rama sampai meneteskan air matanya merasa terharu melihat kepedulian Embun dan Asih.


Bisma menahan tawa membawa Bulan yang sudah main pukul dengan Bella, dia tidak tahu cara menasehati cucunya yang super nakal.


"Lan, lihat Dede lucu sekali."


"Lan duga lutu." Tatapan mata Bulan tajam melihat kakeknya yang memuji twins.


"Lutu lutu lutung kali." Bisma hanya bisa mengaruk kepalanya.


Bima tersenyum melihat Bulan yang mirip Bisma kecil, selalu memukul orang baik salah ataupun tidak.


"Bulan, kamu tidak boleh nakal."


"Lan Idak akal."

__ADS_1


"Tolong kak, nanti aku ditelan oleh Bulan matanya seram sekali." Bisma menyerahkan Bulan kepada kakaknya langsung menggendong Embun.


Suara tawa Bima terdengar, berbicara lembut dengan Bulan menceritakan jika sekarang Bulan sudah besar, memiliki teman lagi.


Saat twins sudah mengerti dia bisa bermain bersama Bulan dan Arum, menambah saudara itu baik.


Senyuman Bulan, Embun dan Asih terlihat. Mereka ingin bertemu twins secara langsung dan bermain bersama.


Asih bahagia memiliki adik lagi, menambah teman lagi dan berjanji akan menjaga adik-adiknya selama mereka ingin menjadi bawahan Asih.


"Namanya mereka siapa kakek?"


"Belum tahu sayang, nanti Asih tanya Aunty Vir saja." Rama berjalan untuk kembali ke kamar.


Ravi menunggu di depan kamar, karena merasakan khawatir setelah mendengar Asih menangis.


"Rasih, kamu baik-baik saja."


"Dia baik-baik saja, sudah jangan dikhawatirkan." Rama membiarkan Rasih masuk ke dalam ruangan.


Suara teriakan Rasih terdengar, membuat kaget tapi mengembalikan senyum karena melihat Rasih kembali bergembira.


"Uncle, dedek twins cantik, tapi Asih juga cantik, Em juga, kita semua cantik." Asih duduk di samping Vira sambil tersenyum.


Embun juga naik, menatap wajah Wildan, menyentuh hidung, bibir, mata, alis menyamakan dengan twins.


"Dede mirip uncel, pipi bolong." Em tersenyum menunjuk lesung pipi Wildan.


"Aunty siapa namanya?" Asih tidak sabar ingin mengetahui nama, Wildan dan Vira saling pandang.


Tatapan terarah kepada tiga nenek yang dari tadi mencari nama sambil bertengkar, Jum sampai harus memukul dua nenek yang sangat cerewet.


"Mommy, Mami, Bunda, siapa namanya?"


"Viona panggilnya Vio, Venia panggilnya Veni." Viana mendahului Reva yang sudah membanting buku.


***


DONE 2 BAB


MAAF TYPE BELUM REVISI.

__ADS_1


***


__ADS_2