SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
BONUS PART 18


__ADS_3

Tangan Erwin sudah panas dingin, menatap Steven yang kebingungan melihat tatapan Erwin yang membuatnya sangat penasaran.


"Selamat malam semuanya, ini akan menjadi sejarah Erwin untuk serius." Senyuman terlihat dari pemuda pecicilan yang selalu membuat Erik dalam masalah.


Senyuman Septi terlihat, menatap putranya ingin tahu apa yang membuat putranya sangat serius.


Bukan hanya Septi yang penasaran, Viana, Jum dan Reva sudah bersiap-siap mendengarkan Erwin bicara.


Vira yang sedang mengunyah makanan, langsung berhenti menatap serius Erwin. Winda, Bella, Billa dan yang lainnya juga langsung serius.


Steven menatap istrinya yang tersenyum manis, perasaan menjadi tidak enak. Melihat Erwin yang berdiri, Stev langsung menahannya.


"Ada apa ini Win? kamu meminta pembelaan sama kak Stev untuk apa?"


Suara tawa pelan Erwin terdengar, dia hanya mengucapkan terima kasih kepada Steven dan meminta semua orang mendengarkannya.


Erwin menceritakan pertemuan awalnya dengan seorang wanita, seorang gadis cantik dan sederhana selalu membawa makanan dan dibagikan kepada anak-anak.


Pada saat itu beberapa anak-anak mengalami kecelakaan, dan gadis cantik yang baik hati membantu mereka.


Karena tidak memiliki biaya, anak-anak diobati seadanya, Erwin juga binggung apa yang bisa dia lakukan.


Permintaan dia hanya satu, orang kaya seperti Erwin seharusnya menjadi dokter anak dan menolong banyak anak yang tidak mampu.


"Wanita ini cinta pertama Erwin, dia juga alasan Erwin menjadi Dokter. Sekarang aku bahagia menjadi dokter, karena bisa melihat senyuman anak-anak yang akhirnya keluar dari rumah sakit. Terkadang aku juga kehilangan, jika ada anak-anak yang pulang sudah tiada."


"Win, cinta pertama tidak akan berhasil." Ravi meminta Erwin mundur saja.


"Lalu, kamu akan membawa cinta pertama kamu ke sini?" tatapan Erik sangat penasaran.


"Mungkin Erwin ingin menikah dengan Cinta pertamanya." Tian menyemangati Erwin, mendukung semua hal baik yang dia lakukan.


"Kak Tian, pastinya dia ingin menikahi cinta pertamanya, tidak mungkin sama mamanya." Kasih menatap sinis.


"Lucu kamu sayang, tapi seandainya kamu tahu jika wanita dewasa lebih seksi dan berpengalaman." Ravi mengusap perutnya yang sudah mendapatkan cubitan kuat dari Kasih.


"Bisa saja sama Mamanya, pasti seru sekali." Winda bertepuk tangan, menatap Erwin tertawa.


Kepala Erwin mengangguk, dia memang ingin menikahinya. Tujuan Erwin meminta seluruh keluarga berkumpul untuk mendapatkan restu.

__ADS_1


Keterkejutan terlihat dari wajah seluruh keluarga, Erwin berjalan mendekati Lin dan mengulurkan tangannya.


Senyuman Lin terlihat, langsung memberikan tangannya untuk berjalan ke depan. Windy hanya senyum saja melihatnya.


Sebelumnya Lin sudah mengatakan jika dia ingin jujur kepada Daddy-nya, Windy mendukung keputusan Lim. Menikah ataupun tidak, Lin akan tetap menjadi putrinya, dan memastikan akan hidup bahagia.


"Papi, Erwin ingin meminta izin untuk menikahi Lin."


Bima tersenyum menatap Steven yang sudah gelang-gelang kepala, dia harus membela Erwin saat keluarga lain menantangnya. Buruknya Steven satu-satunya orang yang menantang.


"Ayah, Win juga meminta doa restu. Kak Stev menjamin sebagai pembela Win." Senyuman Erwin terlihat menatap Steven yang sudah emosi.


Bima hanya tersenyum, Steven tidak bisa mengatakan apapun. Erwin lebih licik darinya, dan seorang pengacara harus membela baik benar dan salah.


"Win, kakek sangat menyukai kamu, tetapi kalian berdua masih muda dan menikah tidak sesimpel yang kalian bayangkan." Bima bicara' sangat pelan.


Kepala Erwin mengangguk, dia paham dan sangat mengerti banyaknya perubahan dalam hidupnya.


Bisma hanya mengerutkan keningnya, dia bukan tidak setuju hanya saja Lin masih sangat muda, meskipun para wanita di rumah mereka menikah muda.


Lin putri satu-satunya, dan pastinya sangat berharga bagi seorang ayah. Sebelum seorang Ayah melepaskan, pasti banyak sekali kesepakatan. Erwin harus membicarakan hal itu bersama Lin, Steven dan Windy.


"Kak Wira, tidak ada yang ingin mendengarkan pendapat kak Wir." Asih langsung melotot.


"Daddy, Lin mau." Tatapan memohon terlihat dari mata indah Lin yang berdiri di depan Erwin.


Steven mengusap wajahnya, dia tahu ini ada campur tangan Windy dan Reva. Stev langsung melangkah ingin pergi.


Lin langsung mengejar menahan lengan Daddy-nya, pelukan Lin lembut di lengan Daddy-nya.


"Sayang, kamu tahu jika Daddy sangat menyayangi kamu. Daddy belum siap Lin untuk melepaskan kamu kepada lelaki manapun." Steven menakup wajah Lin untuk menatapnya.


Senyuman Lin terlihat, menatap Erwin dan menggelengkan kepalanya. Jujur Lin juga mencintai Erwin, setulus hatinya mencintai lelaki yang pernah menolongnya.


Cinta yang Lin miliki tidak pernah berkurang sedikitpun, bahkan terus bertambah besar seiringan waktu.


Permintaan Lin hanya satu, Erwin bersedia menunggunya sampai akhirnya Daddy-nya siap melihat dirinya menikah.


Steven memejamkan matanya, bukan maksudnya untuk membuat Lin patah hati. Erwin juga masih muda, jalan keduanya masih panjang.

__ADS_1


Anak-anak terlihat sedih, Erwin menyetujui keinginan Lin untuk terus menunggunya. Jika keluarga tidak mengizinkan mereka menikah, maka mereka bisa berpacaran.


Seseorang datang dengan senyuman manis, Erwin langsung terkejut menatap wanita yang sesama dokter di undang makan malam oleh keluarga.


"Selamat malam dokter Sanas, Asih yang mengudang dokter ke sini sekalian berkenalan dengan keluarga besar kak Erwin sebelum kami datang melamar." Senyuman Asih terlihat, diikuti oleh adik-adiknya menyapa Sanas.


"Apa-apaan ini?" Erwin menjauhi Sanas yang ingin mendekatinya.


"Terima kasih semuanya, aku tidak menyangka jika Erwin menolak cinta ku, dan memberikan kejutan untuk lamaran."


"Gila kamu!" Erwin menggelengkan kepalanya melihat Lin yang langsung kesal.


Tatapan mata Lin dan Sanas bertemu, langsung berkenalan. Lin secara lantang mengatakan kepada Sanas jika dia dan Erwin sepasang kekasih, meminta Sanas menjauhi calon suaminya.


Terlihat sekali Sanas binggung, langsung menatap Erwin mempertanyakan hubungannya dengan Lin.


"Hari ini aku ingin melamar Lin, bukan kamu." kepala Erwin berdenyut melihat ulah anak-anak.


"Benarkah, diterima tidak?"


"Diterima." Semua orang langsung membenarkan jika lamaran diterima, tidak ada ruang lagi untuk wanita baru.


Lin menggenggam tangannya melihat wanita yang menangis mendekati Erwin, meminta untuk memikirkan kembali.


"Tuan, benarkan mereka akan menikah?" Sanas menatap Steven.


Kepala Steven mengangguk, Sanas sangat terkejut menatap seluruh orang dan membenarkannya jika Erwin dan Lin akan menikah.


Asih bertepuk tangan, langsung berjabatan tangan dengan Sanas karena sudah membantu mereka untuk mendapatkan restu semua orang.


"Ye, kita akan segera pesta." Vio dan Vani lompat, Embun dan Bulan juga sudah joget-joget.


Arum Asih berpelukan, anak-anak langsung memeluk Sanan dan mengucapkan terima kasih sudah membantu mereka.


Acara tidak akan sukses tanpa kehadiran Sanas dalam rencana mereka.


Erwin menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu apapun, bahkan lututnya juga gemetaran takut dengan kemarahan Lin. Bisa-bisa dirinya juga dipermainkan oleh anak-anak.


Lin juga langsung tersenyum memeluk anak-anak yang sangat licik.

__ADS_1


***


__ADS_2