SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 HARGA DIRI RUSAK


__ADS_3

Di kediaman, Vira baru saja ingin pergi ke kampus, Billa sudah siap di depan meja makan untuk sarapan. Billa menjadi koki terbaik.


"Pagi, Billa sayang." Vira langsung mencium wajah Billa.


"Jorok Vira, ishhh jijik." Billa mengusap pipinya dengan tisu.


"Gaya kamu Bil, nanti kalau kak Erik yang mencium pasti malu-malu, tapi tidak menolak."


"Cukup Vir, dari pada kamu mengomel tidak jelas, lebih baik kamu makan."


Suara bunyi high heels melangkah mendekat, Winda dengan gayanya yang elegan langsung duduk di dekat Vira, mengunyah roti, sambil mengambil nasi untuk makan.


"Win, kenapa penampilan kamu mirip tante-tante culik aku dong." Vira menuangkan susu.


"Vir, kamu ingin tahu berapa harga tas ini, sepatu merah ini, baju wow ini, lihat mata aku yang bening ini, bibir yang seksi." Winda menunjukkan seluruh aksesoris, juga penampilan terbarunya.


Billa merinding ngeri melihat harga fantastis milik Winda, Vira sambil muntah susu saat Winda dengan gilanya ingin memperbesar dadanya.


Winda makan dengan semangat, Vira melotot kaget melihat pembimbing untuk Winda, pemuda yang sangat Winda kenal, lelaki yang pernah Winda permalukan, bahkan dia sampai diusir dari pesantren, karena ulah Ibunya.


"Win, sepertinya sebaiknya kamu tidak pergi." Vira langsung menunjukkan daftar pembimbing yang ikut berpartisipasi.


"Kenapa? kalian enak punya pasangan, Winda belum punya bisa jadi gadis tua." Winda menolak untuk melihat ponsel Vira.


"Lebih baik kamu perhatikan, pria tampan yang kamu maksud, lelaki yang kamu bilang inspirasi. Perhatikan dia Winda."


Winda akhirnya mengambil ponsel, Billa ikut mendekat melihat foto langsung melotot melihat salah satu musuh Winda.


"Ustad Yusuf Amin."


Winda menempelkan handphone di depan wajahnya, langsung terjatuh. Yusuf benar-benar melakukan ucapan untuk menghancurkan karir Winda, lelaki yang dulunya pria baik, penurut sekarang berubah menjadi lelaki pendendam.


"Emhhh menurut Billa, dia tidak dendam Win, hanya saja dia ingin membuktikan kepada kamu jika dia bukan pria bodoh, memakan uang haram, hasil Ibunya jual diri."


"Kenapa sekarang kamu membela dia Billa?!" Winda teriak marah, melepaskan soflen matanya membuang sembarang tempat.


"Win, ucapan Billa ada benarnya dia pria baik, Sholeh, kesalahan Ibunya bukan karena dirinya." Vira langsung berlari, Winda melemparkan high heels ratusan juta.


"Aiishh, kenapa harus ketemu dia lagi?" Winda melemparkan tas branded mahalnya.


Cepat Winda kembali ke kamarnya, mengubah penampilan menjadi seperti biasanya. Vira dan Billa sudah pergi lebih dulu, meninggalkan Winda yang sedang mengamuk, karena ustadz Yusuf Amin.

__ADS_1


***


Di bandara Yusuf datang bersama beberapa rental mobil milik temannya, langsung bersalaman dengan Wildan.


"Apa kabar kak? jadi benar kak Yusuf sekarang menetap di sini? Wildan tersenyum melihat Yusuf juga tersenyum.


"Yusuf, apa kabar kamu?" Karan langsung memeluk Yusuf.


"Alhamdulillah baik Karan, kamu apa kabar?"


"Baik juga, sudah menikah belum? aku mendengar kamu diusir dari pesantren beberapa tahun yang lalu."


"Iya, karena kejadian buruk di pesantren, Bunda meninggal aku langsung pindah ke sini."


"Maaf ya, waktu itu aku tidak menemani kamu." Karan memeluk sahabatnya, orang paling baik yang Karan temukan.


"Santai saja Karan, aku senang karena kamu bergaul dengan Wildan dia pria baik, anak yang jenius."


Yusuf menyapa Ravi, Tian juga Erik. Kasih terdiam melihat Yusuf yang menyedihkan. Tapi dia kuat dan cepat bangkit dari masa kelamnya.


"Sayang, kenapa kamu masih mengagumi Yusuf?" Ravi menatap Kasih tajam.


"Aak hati Kasih milik Aak, biarkan dia menjadi masa lalu." Kasih memeluk lengan Ravi.


"Kak Yusuf, sebenarnya siapa yang menyebabkan kak Yusuf juga di usir dari pesantren."


"Seorang wanita nakal, tapi dia tidak sepenuhnya salah, dia marah merambat juga kepada aku. Sudahlah lupakan saja, aku sudah ikhlas."


"Sebut namanya, akan aku temui wanita yang berani menghancurkan mimpi kamu menjadi guru pesantren." Karan berdecak kesal.


"Dia bukan orang sembarangan, jika kalian tahu juga pasti tidak akan bisa berbuat apapun, aku hanya ingin membuktikan kepadanya, aku tidak seperti yang dia tuduhan, apapun masa lalu Ibu tidak akan mengurungkan niat aku membangun pesantren untuk anak-anak, juga orang dewasa."


"Niat kak Yusuf tetap baik, walaupun tersakiti." Wildan menepuk bahu kakak juga guru baginya.


Dua mobil sampai di perumahan sederhana, tapi sangat nyaman. Wildan langsung keluar meminta yang lainnya juga masuk.


"Maaf semuanya, aku harus pergi hari ini ada acara penting di kampus. Sampai bertemu lagi." Yusuf mengucapkan salam.


"Yusuf, malam nanti gabung bersama kita, semakin ramai akan semakin seru." Ravi menepuk bahu Yusuf yang setuju dengan usul Ravi.


Kasih melihat sekitar kediaman Vira yang sangat aman, Wildan langsung menghidupkan bel tapi tidak ada respon.

__ADS_1


Wildan masuk dengan kunci rahasia, langsung berjalan masuk, melihat tiga mobil tidak ada di rumah. Hanya milik Bella yang di rumah, berarti tiga wanita sedang berada di luar.


Bel kedua dibunyikan, Tian berkali-kali menekan, tapi Bella belum juga keluar.


"Bella, buka pintunya. Aku Ravi capek." Ravi teriak, Kasih menutup mulutnya, sambil tersenyum.


"Mungkin mereka tidak ada di rumah, coba di telpon saja." Karin duduk di kursi tamu, melihat beberapa orang lewat.


Bella menghamburkan selimutnya, langsung duduk dan berjalan sempoyongan. Membuka pintu kamar, berjalan menuruni tangga dengan mata masih terpejam.


"Vira, Winda, Billa ada tamu. Kalian punya hutang ya, ini masih pagi, kenapa berisik sekali?" Bella duduk sebentar di tangga, memeluk tangga sambil menguap.


"Bella buka pintu."


"Iya sabar, kalian tidak tahu adab bertamu yang baik, ini masih pagi tidak perlu teriak." Bella berjalan lagi, menyentuh kunci pintu, langsung membukanya.


Tian yang berhadapan dengan Bella langsung mundur, Bella terlihat sangat kacau. Rambutnya mirip singa, matanya terpejam, Iler juga masih di dekat bibirnya. Mata Bella perlahan terbuka, melihat Tian yang tersenyum.


"Kenapa tersenyum? Bella masih marah tidak ingin melihat wajah kamu." Bella membuang wajahnya, coba menyadarkan dirinya.


Ravi langsung mendorong Bella masuk mengandeng tangan Kasih, Karan juga masuk bersama Wildan.


"Bel, bersihkan dulu Iler kamu, perempuan jorok sekali." Erik langsung masuk.


"Bella bangun, sudah siang anak perempuan jam segini belum mandi." Karin merapikan rambut Bella.


Bella menatap Tian kembali, mengucek matanya, melihat penampilan yang berantakan.


"Kak Tian."


"Ayo masuk, ganti baju kamu, mandi sekarang." Tian membalikkan Bella, langsung menutup pintu.


Bella langsung berlari kencang, sendal hello Kitty langsung melayang, Bella langsung menaiki tangga, membanting kuat pintu kamarnya.


Di depan cermin Bella melihat wajahnya yang tidak terkontrol, bibir Bella langsung manyun, teriak karena harga dirinya rusak di depan lelaki yang dia cintai.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA

__ADS_1


***


__ADS_2