SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
KETAHUAN


__ADS_3

Di kantor LOVER Rama sedang sibuk dengan banyaknya berkas yang harus dia selesaikan, Bima mengetuk pintu dan masuk membawakannya berkas hasil rapat yang harusnya Rama hadir tapi digantikan Bima.


"Terimakasih kak Bima!" Rama mengambil berkas dan membacanya dengan seksama.


"Kamu sekarang selalu pergi siang," Bima duduk di sofa sambil memandangi Rama yang masih fokus


"Rama setiap pagi sakit, tapi kalau siang langsung sehat." Rama pindah duduk depan Bima.


"Sakit malas ya?" Bima mengerutkan keningnya..


"Beneran sakit, mual, pusing juga, badan Rama lemes."


"Ram, kakak bakal Resign sudah saatnya kakak melepaskan kamu, bisnis kakak juga membutuhkan kakak, Bisma di minta memimpin tapi kabur. Belum lagi ngurusin Reva yang ngambeknya lama."


Rama menyetujui keputusan Bima untuk mengembangkan bisnisnya, dan masih merasa lucu dengan sahabatnya perempuannya yang ugal-ugalan.


Suara pintu di buka kuat membuat Rama dan Bima berdiri kaget, mereka pikir pasti Viana lagi tapi ternyata yang masuk Reva dengan wajah penuh amarah.


Reva berlari mendekati Bima dan memukulinya dengan kuat, Bima berusaha menahan tangan Reva yang terus meneriakinya, Rama langsung mundur Viana, Jum dan Bisma masuk melihat Reva yang menyerang Bima.


Viana merekam adegan pertengkaran pasangan beda usia, Bima membalik tubuh Reva berada di bawahnya yang teriak minta di lepaskan.


"Kamu kenapa? marah-marah tidak jelas, bisa tidak bicara baik-baik."


"Lepaskan sakit!"


"Hubby! Viana juga pengen bertengkar seperti mereka. Pacaran yuk hubby, terus ada ngambeknya, terus marahan, baikan lagi." Vi memeluk lengan Rama manja.


"Sudah terlambat Vi, setiap orang punya cerita cinta Masing-masing." Rama mengelus kepala Viana.


Bima melepaskan tangan Reva dan duduk baik, membahas masalah Reva yang marah.


"Kamu cetak undangan pernikahan, kita baru putus tapi om langsung mau menikah, apa mau balik lagi dengan Brit?"


Bima memandangi Reva yang konyol dalam berpikir, dia harus ekstra sabar menghadapi sifat Reva yang labil.


"Undangan apa?"


Reva langsung menoleh ke arah Viana yang sudah asik memeluk Rama. Reva teriak membuat yang lainnya tertawa.


"Kak Vi jahat banget, bikin malu."

__ADS_1


"Lagian kamu lama Reva, ngambek kamu tidak beralasan jika memang bosan, akhiri hubungan kalian baik-baik."


"Kak Jum, jahat banget mulutnya. Reva memperjuangkan cinta Reva mati-matian."


Rama menggelengkan kepalanya, Reva tidak pernah bisa mengontrol diri kalau soal Bima, mulutnya lancar menyatakan cinta.


"Cepatlah menikah, apa harus gue sama Jum duluan." Bisma merangkul Jum.


Viana melepaskan tangan Bisma menarik Jum menjauh, Bisma langsung manyun melihat mata Viana yang melotot.


"Sorry ya Bisma, gue mau menjodohkan Jum dengan adik gue Verrel, kemarin Verrel menangis patah hati karena batal nikah, keluarga perempuan menolak karena Verrel miskin. Jum Lo enggak rugi menikah dengan Verrel pewaris Keluarga Arsen."


"Jum bukan barang yang bisa berpindah," Jum mengaruk kepalanya membayangkan Verrel yang konyol walaupun sangat cerdas.


"Tega Lo Vi, kurang setia apa gue! kalau harta tahta gue siap lepas kalau Jum tidak akan pernah. Gue tahu Verrel cerdas, sekarang tajir. Tapi gue masih imbang melawan Verrel dari keluarga Arsen."


Viana dan Bisma beradu melotot saling melawan melalui pandangan, Reva merekam pertengkaran mereka dan hanya tertawa kecil.


"Kak Bima, mana perusahaan atas nama Bisma aku akan mengambil alih. Dengan menyatukan perusahaan keluarga dan perusahaan yang Bisma bangun bisa mengalahkan kekuatan perusahaan Arsen."


"Jum Lo beruntung banget, jadi rebutan keluarga tajir," sindir Reva.


"Alhamdulillah ya Allah," Bisma menadahkan tangannya bersyukur.


Viana mengerutkan keningnya mendengar adiknya berhubungan dengan Sisi sahabatnya yang koplak, cepat Vi mencari ponselnya coba menghubungi Sisi, Vi mengirim Sisi mendampingi Verrel untuk mengurus perusahaan bukan mencari jodoh.


Rama menyita ponsel Viana agar jangan ikut campur dengan asmara Verrel, dan lainnya. Fokus ke rumah tangga mereka. Viana diam dan menurut.


***


Hari ini jadwal menjemput Ammar keluar dari rumah sakit, Viana, Rama , Reva, Bima, Jum, juga Bisma bersemangat menjemput setelah berbulan-bulan dalam masa pemulihan.


Saat pintu di buka perlahan, semuanya terdiam melihat adegan ciuman Ammar dengan seorang wanita yang tidak terlihat karena tubuhnya di tutup oleh tingginya tubuh Ammar. Rama langsung melangkah keluar, Bima juga ikut mundur bersama dengan Jum. Masih tersisa Reva, Viana dan Bisma yang senyum menikmati keromantisan di depan mereka.


Reva mengigit bibir bawahnya memukul pelan Viana yang juga sudah senyum-senyum sendiri, hanya Bisma yang terdiam menunggu Ammar menyelesaikan adegannya.


"Wooyy, lama banget jangan bilang lanjut adegan meremas terus tiduran di ranjang, ingat ini rumah sakit."


Ucapan Bisma menghentikan Ammar yang langsung menoleh kearah suara, Viana dan Reva hanya menahan tawa penasaran dengan sosok wanita di balik tubuh Ammar.


Tanpa pikir panjang Viana mendekati Ammar dan menyingkirkan tubuh Ammar. Viana melotot melihat sosok yang sangat dia kenali. Reva lebih terkejut lagi sahabatnya main api dengan Om-om.

__ADS_1


"Septi!" Viana dan Reva teriak bersamaan.


"Jadi kalian berdua menjalin hubungan," Reva langsung menghubungi Ivan soal Septi yang ternyata Ivan sudah lebih dulu tahu hubungan dengan Ammar hanya Rama dan Reva yang belum tahu.


Reva menarik tangan Septi menjauhi Ammar, Rama dan yang di luar juga ikut masuk.


"Kualat Lo ya Sep, suka menghina gue suka Om-om, Lo pikir Ammar bocah." Reva kesal karena dia telat tahu hubungan Septi.


"Ya maaf Rev, gue belum punya waktu yang tepat."


Reva kesal melihat Ammar juga Septi yang berciuman, dia juga yang berjuang selama 5tahun belum bisa merasakan ciuman, baru nyentuh bibir sudah di bilang tidak punya harga diri.


"Om Bima, Septi sama Ammar juga ciuman biasa saja, enak-enak, kenapa Reva di bilang murahan." Reva memukul dada Bima kesal.


Rama langsung menutup mulut Reva agar diam tidak bicara sembarangan, jadi perempuan jangan terlalu bocor.


"Jaga mulut kamu Reva, setiap orang punya cara sendiri. Dan kamu Septi kenapa tidak pernah memberitahu kita."


"Belum ada waktu! keadaan om Ammar juga baru pulih, dan maaf soal tadi."


"Kalian para perempuan aneh, Viana pengen pacaran dan bertengkar, Reva gila pengen merasakan ciuman, Septi pacaran diam-diam hanya satu wanita yang normal. Jum memang yang terbaik."


"Siapa bilang Jum tidak aneh," Viana dan Reva saling tatap dan tersenyum, Jum menatap heran.


"Kenapa Jum!?"


Reva berpikir keras mencari keburukan Jum, Viana apalagi berusaha mencari kejelekan Jum karena selama ini Jum memang polos dan terlihat tenang tidak banyak tingkah.


"Kak Jum cemburu dalam diam, kemarin bertemu Septi lagi berantem sama salah satu teman barunya mami kak Vi, yang bilang om Bisma lebih cocok dengan mami Sisil, Jum tidak terima terjadilah jambak-menjambak. Kalau tidak percaya tanya ke mami.


Viana dan Reva terdiam tidak percaya seorang Jum bertengkar karena lelaki, padahal penggemarnya banyak dan terlihat cuek.


"Jum hanya mempertahankan yang sudah menjadi milik Jum." Jum pergi meninggalkan ruangan menahan malu melihat wajah Bisma yang sudah tersenyum.


"Maksudnya jadi milik!" Viana menatap Bisma, Reva juga binggung dan cepat mengejar Jum yang sudah lari ke luar.


***


terimakasih yang sudah baca yaaa


jangan lupa like dan coment...

__ADS_1


__ADS_2