SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 FOTO BABY


__ADS_3

Kasih sudah bersiap-siap untuk ke rumah sakit, memeriksa kandungannya. Ravi tidak menjawab panggilannya, jadinya Kasih memutuskan untuk pergi sendirian.


Langkah kaki Kasih menuruni tangga, mencari Vira, tapi tidak terlihat langsung melangkah keluar, saat Maid bertanya Kasih hanya berpesan, jika Ravi pulang, harus mengatakan jika dia sedang periksa anak.


Kasih mengunakan taksi, dia merasa malas membawa mobil, karena ingin menikmati jalanan. Kasih membuka kaca jendela mobil, melambaikan tangannya setiap melihat mobil lain, supir sampai heran melihat tingkah Kasih.


Sesampainya di rumah sakit, Kasih langsung menuju tempat Dokter kandungan, duduk bersama Ibu hamil lainnya menunggu antrian.


Kasih santai saja melihat sambil senyum-senyum, para Ibu hamil lainnya bersama suami masing-masing, berbeda dengan Kasih duduk seorang diri.


"Berapa bulan usia kandungan kamu cantik?"


"Nama aku Kasih, bukan cantik. Ini baru saja periksa untuk tahu usianya." Kasih tersenyum lucu.


"Bapaknya di mana?"


"Bapak Kasih sudah meninggal." Wajah Kasih langsung sedih, rindu dengan bapaknya.


"Innalilahi wa inalillahi rohjiun, pantas kamu datang sendirian, kamu wanita hebat."


"Iya Kasih memang hebat." Kasih terus pindah tempat duduk, sampai giliran dirinya.


Di dalam ruangan Dokter, binggung melihat Kasih datang seorang diri, apalagi untuk mengecek usia kandungan pertama kalinya.


"Suaminya di mana Bu?"


"Nama saya Kasih Dok, bukan Bu. Suami saya lagi bersedih, Kasih coba hubungi tapi tidak diangkat." Kasih tersenyum santai.


"Lain kali usahakan datang bersama suami, anak bukan hanya urusan istri, tapi harus ada campur tangan suami."


"Kenapa suami harus datang? Kasih yang hamil Dok, bukan Ravi." Kasih binggung.


Dokter langsung tertawa, kini menyadari jika Kasih sedang berada di fase berbeda dari dirinya, Ibu hamil yang lebih manja, bersikap kekanak-kanakan.


Kasih di minta untuk tidur di ranjang, mengecek kandungannya, Dokter bertanya banyak hal soal terakhir Kasih bulanan, dengan polosnya, Kasih mengatakan semuanya.


Dokter juga memberikan foto hasil USG, Kasih sangat bersemangat menerimanya.


"Dokter, tidak bisa lebih jelas fotonya?" Kasih meminta foto hasil USG yang berwarna.


Dokter langsung tertawa melihat sikap Kasih, dalam waktu 3 sampai 4 bulan Ayah bayi akan kerepotan mengurus Ibunya yang lebih kekanakan.


Usia kandungan Kasih masuk usia 2 bulan, Dokter juga berjanji akan memberikan gambar jelas saat janin berusia 7 bulan, Kasih sangat bahagia, langsung menghubungi seseorang.


Panggilan Kasih langsung dijawab, lidah Kasih terjulur, mengejek seseorang yang dipanggil dalam panggilan video.

__ADS_1


[Lihat anak Kasih, baru 8 minggu, nanti bisa jelas saat 7 bulan, jadi berapa minggu ya, Kasih hitung dulu.]


[Tunjukkan wajah Dokter yang menangani kamu.]


Kasih langsung menunjukkan, Dokter Sinta langsung tersenyum saat melihat Dokter tampan yang sangat luar biasa.


[Selamat siang Dokter Erik, sudah lama tidak datang ke rumah sakit.] Sinta tersenyum melihat Erik.


[Hai Sin, tolong cek dengan baik keponakan saya, sekalian cek juga kepala Ibunya, dia menjadi orang yang berbeda.]


[Tenang saja Dok, tidak akan lama dia akan kembali normal, terkadang ada yang mual, lemas, lemah tapi Kasih istimewa, dia hanya manja, kekanakan.]


[Kasih, Ravi di mana?] Erik melihat wajah Kasih yang sedang berpikir.


[Aak lagi sedih, semuanya lagi sedih, hanya Kasih yang bahagia, tapi Kasih tidak tahu kenapa mereka bersedih?" Kasih tersenyum.


[Kenapa kamu periksa ke Dokter tidak bersama Ravi?]


"Sudah Kasih katakan, Aak lagi sedih, ditelpon juga tidak diangkat.] Kasih langsung cemberut, mematikan panggilan.


"Dasar Erik menyebalkan, sudah jelek banyak bicara lagi."


Sinta tersenyum, memberikan beberapa vitamin untuk Kasih, juga mengingatkan Kasih untuk berhati-hati. Saat periksa juga usahakan untuk membawa suami.


Kasih mengucapkan terima kasih, langsung melangkah keluar. Saat ingin masuk ke dalam lift, Kasih bertemu dengan Rama, langsung cepat masuk, Rama binggung melihat Kasih di rumah sakit.


Rama sedih melihat Kasih yang memeriksa kandungannya seorang diri, Kasih lebih mirip Viana yang sedang mengandung Ravi, harus periksa seorang diri.


"Maafkan Ravi ya, Kasih. Seharusnya dia menemani kamu, tersenyum bahagia melihat untuk pertama kalinya, tapi Ravi juga kehilangan kesempatan untuk bertemu anaknya."


"Daddy tidak ada kata terlambat, kami bisa melihat baby setiap bulan, bulan ke 7 kami bisa melihat dengan jelas. Moments pertama memang tidak akan terulang, tapi Kebahagiaannya tidak bisa diubah, seperti Daddy, walaupun membutuhkan 5 tahun, tapi Daddy akhirnya bahagia." Kasih tersenyum bahagia.


Rama keluar bersama Kasih menuju ruangan jenazah, Ravi dan lainnya juga sudah berkumpul menangis histeris. Kasih binggung melihat orang menangis, bahkan Ravi juga menangis.


"Aak, kalian kenapa menangis?" Kasih langsung menangis, Viana memeluk Kasih.


"Kasih, Erik meninggal."


"Tidak mungkin Mom, tadi Kasih ...." Kasih mengaruk kepalanya.


Wildan langsung meminta semuanya diam, menunjukkan hasil rekaman kamera CCTV dari rumah.


"Kak Erik tidak pergi menggunakan mobil, tapi motor kak Ravi." Wildan menunjukkan Erik keluar dari gerbang menggunakan motor.


"Wildan!" Reva langsung melotot.

__ADS_1


"Jangan salahkan Wildan Mami, hanya mendapatkan perintah untuk menemukan pelaku, bukan mencari kak Erik." Wildan mengaruk Kepalanya.


Ammar mengucapkan syukur, Septi menangis sambil terduduk ternyata putranya masih hidup. Bella juga mengatakan Erik berada di Mansion yang selama ini dia bangun, Bella dan Billa langsung pergi ke sana untuk mengecek.


Sedangkan Vira masih kesal mencari Kasih bersama Winda. Kasih merasakan binggung melihat semuanya heboh ingin pergi ke Mansion.


"Aak jenazah Erik bagaimana?"


"Bukan Erik sayang, nanti bisa diurus oleh pihak berwajib, kita menemui Erik lebih dulu." Ravi memeluk Kasih, mencium pipinya.


"Kenapa harus ribet, tidak ada gunanya memiliki ponsel. Kalian bisa menghubungi Erik." Kasih mengerutkan keningnya.


Semuanya terdiam memikirkan ucapan Kasih, memang tidak ada satupun yang berpikir untuk menghubungi Erik terlebih dahulu, semuanya langsung panik, karena Erik baru saja keluar, juga mobilnya ditabrak truk.


Septi langsung menghubungi Erik, panggilan langsung diangkat. Septi menghidupkan speaker, mendengar suara Erik seperti biasanya langsung memanggil mama.


[Hallo Mama tercinta, rindu Erik ya.] Tawa Erik terdengar.


[Mama ingin bertemu, pulang sekarang.]


[Mama baik-baik saja, jangan membuat Erik khawatir.]


[Mama rindu.]


[Besok Erik pulang, Erik sayang Mama, Papa juga sehat Ma?]


[Papa sehat Erik, jangan khawatirkan Papa.] Ammar meneteskan air mata, Bisma merangkul bahu Ammar yang langsung menangis.


"Alhamdulillah, ini akibatnya kita terlalu panik, jadinya langsung kacau."


Semuanya tersenyum memutuskan untuk pulang, Ravi terdiam melihat foto di handphone Kasih. Ravi kaget melihat hasil USG pertama Kasih.


"Sayang kapan kamu melakukan USG?" Ravi mengambil ponsel Kasih.


"Barusan, Kasih menghubungi Aak, tapi tidak dijawab. Kasih juga tadi menghubungi Erik, Dokter Sinta sepertinya suka Erik." Kasih mencium pipi Ravi gemas.


"Iya sayang, tapi Aak ingin melihat bayi kita."


"Nanti saja." Kasih melangkah pergi, mengandeng lengan Ravi.


"Berapa bulan sayang?"


" Sudah 8 minggu, nanti saat 7 bulan, kita bisa melihat dia dengan jelas."


"Maafkan Aak ya, setelah ini kita selalu pergi bersama, melihat perkembangan baby setiap bulannya." Ravi mencium kening Kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2