
LAGI PUASA JANGAN DIBACA, TUNGGU SAAT BERBUKA YA.
Di meja makan Ravi menatap makanan yang Kasih hidangkan, ikan goreng hitam, sayur kangkung berenang, udang sambal, nasi keras. Suka tidak suka Ravi tetap memakannya.
Kasih juga memakan masakannya, belum masuk makanan sudah keluar lagi.
"Masakan Kasih mirip sampah, ada perempuan tidak bisa masak?" Kasih heran melihat dirinya sendiri.
"Sadar diri, setiap hari aku harus makan model gini. Kasih Kasih kamu memang wanita unik." Ravi tersenyum menyelesaikan makannya.
Selesai makan malam Ravi duduk santai menonton televisi sambil tertawa, Kasih juga ikut menonton tapi baginya tidak ada yang lucu.
"Kasih tidur duluan ya Akk?"
"Akk, lucu sekali bukannya seharusnya Aak?" Ravi menahan tangan Kasih.
"Ya seperti itulah." Kasih tersenyum langsung melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Kasih masuk kamar mandi, mengganti baju tidur, mencuci wajahnya barulah berbaring di ranjang.
Baru saja mata Kasih terpejam, tangan Ravi sudah melingkari perutnya. Nafas Ravi terasa di leher Kasih. Kasih juga merasakan perih gigitan di lehernya.
Melihat Kasih yang tidak meresponnya, tangannya membuka kancing baju Kasih. Tangan Kasih menahan langsung membalik badannya menatap Rabu.
"Mau apa?" Kasih mundur menjauhi Ravi, tapi mata keduanya bertemu.
"Aku ingin membuka baju kamu, boleh ya sayang?"
"Kasih dingin Ak."
"Nanti Aak hangatkan." Tangan Ravi lanjut membuka kancing.
Kasih memukuli tangan Ravi, bibirnya monyong sambil mengomeli Ravi.
"Kamu mesum, Kasih malu."
"Kenapa harus malu? aku ingin bertanya serius Kasih."
"Iya, Kasih akan menjawabnya." Kasih juga menatap serius.
"Kamu mencintai aku tidak?" Ravi menatap langit kamar.
"Kasih pernah mengatakannya Ak."
"Kamu tidak ingin menjawab berarti jawabannya tidak."
"Kasih mencintai Aak, jika tidak sudah lama Kasih pergi."
"Tapi mengapa kamu menolak aku sentuh?"
"Iya maaf, Kasih takut."
Ravi tersenyum mencium kening Kasih meminta untuk tidur, Ravi menarik selimut tidur memejamkan matanya.
"Aak jangan marah, Kasih tidak mengerti apapun." Kasih duduk menyentuh dada Ravi.
__ADS_1
"Tidurlah Kasih, besok Aak sudah mulai bekerja." Ravi menarik Kasih untuk berbaring, memeluknya dengan erat.
"Aak Kasih tidak bisa bernafas." Kasih memukuli lengan Ravi.
Ravi yang kesal langsung menjauh, mengambil guling memeluknya, memunggungi Kasih.
Melihat Ravi yang menjauh Kasih sedih, hujan turun lebat, Kasih mendekati Ravi, takut melihat hujan angin.
"Aak, Kasih suka hujan tapi takut angin."
"Iya tidurlah, hujan bisa redah." Ravi memejamkan matanya.
Ravi tidur dengan tenang, Kasih belum juga bisa tidur, terus menyentuh tubuh Ravi, sambil sesekali memeluknya.
Sudah larut malam, hujan bukan reda tapi semakin lebat. Kasih ingin buang air kecil tapi takut mendengar suara menggelegar dari langit, kilat juga terlihat.
"Aak bangun, temani Kasih ke toilet." Kasih memukuli Ravi, sambil mata sayu, Ravi menguap sambil duduk heran melihat wajah Kasih.
"Aak tunggu dari sini."
"Temani masuk, nanti ada kilat."
"Nanti aku bernafsu, awas kamu tidak melayani." Ravi mengusap wajahnya, langsung berdiri meminta Kasih ke toilet.
Kasih membiarkan Ravi menunggu di depan pintu, suara petir berserta angin kencang. Kasih langsung berlari memeluk Ravi yang memejamkan mata menahan ngantuk.
"Aak ambilkan baju Kasih, lihat basah semua."
"Kamu buang air kecil atau mandi?" Ravi membuka lemari baju Kasih. Ravi mengambil acak baju langsung memberikannya.
Cepat Kasih mengganti bajunya, keluar kamar mandi. Mata Ravi yang mengantuk langsung hilang. Melihat Kasih terbalut baju seksi.
Kasih memanggil Ravi untuk naik ranjang, Ravi tersenyum langsung menahan tubuh Kasih berada di bawahnya.
"Kamu membangunkan singa yang kelaparan."
Belum sempat Kasih menjawab, mulutnya sudah ditutup, tangan Kasih memukuli punggung Ravi.
Ravi tidak mempedulikan pukulan Kasih, masih asik dengan permainannya sendiri. Kasih akhirnya mengalah memutuskan untuk diam.
Ravi menyentuh bagian sensitif, Kasih ingin menahan tapi tangannya sudah ditahan. cengkraman tangan Ravi kuat, Kasih teriak tanpa mengeluarkan suara.
"Aak jangan kuat-kuat sakit Ak." Kasih melupakan hujan, tubuhnya langsung berkeringat.
Baju Kasih langsung dibuka dan di lempar Ravi entah menghilang ke mana. Tubuh Kasih menggeliat sambil menjambak rambut Ravi.
"Sayang, aku minta izin ya?" Ravi mencium kening Kasih, menyatukan hidung keduanya.
"Izin apa? membuka baju Kasih tidak main izin." Kasih melotot marah, memukul lengan Ravi.
"Ini melebihi yang aku lakukan tadi, aku minta persetujuan kamu."
Kasih berbaring miring, menutup tubuhnya yang tidak menggunakan penutup atas.
"Boleh tidak sayang, hukum untuk istri yang menolak suami." Ravi menahan tawa melihat Kasih yang langsung menatapnya.
__ADS_1
"Kasih takut."
"Takut tidak akan membuat masalah selesai, kamu harus rasakan dulu." Ravi membuka bajunya, menarik selimut Kasih.
"Aak."
"Tenanglah sayang, hilangkan takut kamu, Ikuti permainan Aak."
Ravi tidak menerima Kasih menolak, membaca doa ditelinga Kasih. Jantung Kasih langsung berdegup kencang. Ravi membuka seluruh penutup tubuh keduanya. Kasih kembali merasakan panas dingin.
"Aak, panas." Ravi mencium Kasih, menenangkannya.
Kasih berteriak di dalam mulut Ravi yang menutupinya, Ravi terus memaksa untuk masuk. Kasih memukuli punggung Ravi, air matanya menetes merasakan sakit perbuatan Ravi.
"Aak sakit." Kasih langsung lemas, Ravi menghapus keringat mencium kening Kasih menghapus air matanya.
"Maaf ya sayang, cepat atau lambat aku menginginkan kamu seutuhnya." Ravi mulai bergerak lagi.
Tangan Kasih ditahan, suaranya semakin kuat, diikuti air mata. Hujan reda tapi Ravi belum juga berhenti, masih terus memeluk erat tubuh Kasih.
"Menyelesaikan malam ini dalam keadaan babak belur, badan aku sakit semua kamu pukuli."
"Salah sendiri." Kasih cemberut.
"kamu milik aku Kasih, aku akan membahagiakan kamu, mencintai kamu sampai akhir nafasku." Ravi mencium tangan Kasih yang masih mengatur nafas.
"Ak tubuh Kasih lemas sekali."
"Iya sayang, sekarang tidur kamu istirahat. Kita lanjut besok lagi, semoga Allah menitipkan buah cinta secepatnya." Ravi mengelus perut rata Kasih.
Kasih memejamkan matanya, Ravi meletakaan kepada Kasih di dadanya. Ravi juga merasa lelah, menghabiskan dua ronde di malam pertama, kenikmatan yang sangat luar biasa bagi Ravi.
"Aak, Kasih sudah menyerahkan diri Kasih, berjanjilah untuk meninggalkan semua wanita Aak."
Ravi tersenyum, hanya mengatakan emhhh. Tanpa Kasih minta, saat pertama bertemu di taksi Ravi hanya punya tujuan satu wanita, sekarang sudah menjadi miliknya.
"Good night istriku tercinta."
"Good night Aak." Kasih memeluk tubuh Ravi.
Keduanya tidur dalam pelukan sambil tersenyum, Kasih melupakan baju yang membuatnya menjadi korban singa kelaparan.
Tubuh Kasih penuh warna merah karya lukisan Ravi, sedangkan Ravi hanya memiliki satu, hasil memaksa.
Kasih terbangun, merasakan ada yang kembali masuk. Ravi terbangun tapi tergoda kembali. Kasih hanya diam saja tidak ingin membantah, Kasih mengerti Ravi sudah lama menunggu dirinya, Kasih membiarkan Ravi memuaskan dirinya.
***
RAVI PRASETYA
VISUAL@ NEWWIEE
__ADS_1
KASIH AMORA RAHMAT
VISUAL DURDONA