
Yusuf melihat seluruh bukti kejahatan yang Bella sudah dapatkan, melihat kejahatan Maria juga Noval tidak bisa termaafkan.
Sekarang mereka sudah dibawa ke kantor keamanan untuk mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Keadaan Maria juga memprihatinkan dia tidak berhenti muntah darah, bahkan sampai dirawat.
Tama pergi ke rumah sakit untuk melihat bayi kecil yang sedang dalam perawatan, Karin Karan juga di sana tersenyum melihat Bening menyedot ASI dengan cepat, gerakan tubuhnya langsung kuat, setelah merasakan namanya kenyang.
Karan menerima panggilan, Noval tewas bunuh diri, dia berlari dari mobil keamanan, sengaja menabrakkan tubuhnya pada mobil truk yang sedang melintas.
Seluruh tubuh Noval hancur, bahkan tidak berbentuk lagi. Tubuhnya sudah seperti di mutilasi, kepolisian hanya akan melanjutkan hukuman untuk Maria.
"Noval bunuh diri." Karan menatap Tama dan Karin.
"Satu penjahat berkurang di dunia ini, Karan kak Tama sebaiknya musuh meninggal atau masuk penjara?"
"Masuk penjara, mereka akan dihukum berat, lebih bagusnya lagi perlahan mati." Karan menatap wanita yang dicintainya tersenyum tidak memiliki arti.
"Mereka di penjara taubat, atau mengumpulkan dendam. Banyak sekali orang yang terlibat sejauh ini, bahkan Zava masih lumpuh, nanti menikah punya anak, lanjut anaknya balas dendam, aku juga mendengar kabar jika Ziva mengalami depresi berat, saat keluar penjara lanjut balas dendam. Memang tidak sekarang, tapi generasi selanjutnya."
"Tenang saja Karin, kejadian Zava Ziva akan menjadi pelajaran, juga beberapa orang yang terlibat di masa lalu tidak akan bisa menyerang lagi, kecuali mereka sepintar Wildan." Tama tersenyum melangkah masuk melihat Bening.
Tama akan mengambil Bening, membawanya pulang bertemu orang tuanya. Karin terkejut dengan keputusan Tama, Bening memiliki Ibu, Karan juga kaget melihat Karin, tapi tidak ingin membantah calon Kakak iparnya, Tama tahu yang harus dia lakukan.
Wildan sedang berada di markas, mendapatkan laporan soal Noval, membiarkan saja dia mati dengan cara menyedihkan.
Tangan Wildan masih sibuk membongkar seluruh isi bisnis yang Noval jalankan, Wildan melihat banyak sekali tempat pencucian uang. Wildan membocorkan seluruh lokasi, untuk melakukan pengerebekan, juga beberapa mobil ilegal yang dijual dipasaran, semuanya Wildan hancurkan.
Vira duduk menatap Wildan yang masih sibuk, sesekali Wildan berhenti melihat Vira yang duduk diam di sampingnya.
"Ada apa Vira?" Wildan mengehentikan pekerjaannya.
"Pacar Vira selingkuh." Vira menatap Wildan dengan mata berkaca-kaca.
Wildan menatap tajam, menggeleng kepalanya heran dengan wanita, kenapa harus menangisi lelaki yang berkhianat, mereka tidak pantas mendapatkannya.
"Kamu cantik, pintar, berbakat kenapa harus menangisi seseorang yang level rendah, banyak lelaki di luar sana yang mengagumi kamu, ingin memiliki kamu, mencintai dengan tulus." Wildan menghela nafasnya.
__ADS_1
"Wil lihat Vira."
Wildan langsung menatap Vira yang tersenyum, untuk kesekian kalinya Wildan merasakan jantungnya berdegup kencang.
Tangan Vira menyentuh dada Wildan, merasakan jantung yang berdegup. Wajah Vira mendekati Wildan sambil tersenyum.
"Sekarang perasaan sudah berbalik Wildan, ini yang dulu Vira rasakan setiap menatap kamu, bedanya kita kamu akan terluka karena menyimpan rasa, sedangkan Vira selalu mengungkapkan sehingga saat melepaskan tidak terlalu menyiksa." Vira tersenyum menyentuh wajah Wildan.
Tangan Wildan menyentuh tangan Vira yang ada di dadanya, menggenggam erat menatap mata Vira yang sangat cantik.
"Aku bukan tidak mengakui sebuah rasa, hanya saja aku belum memastikan. Jika sebuah hubungan hanya akan mengikat dan memperumit pergerakan, lebih baik menunda, walaupun resikonya kehilangan."
"Bagaimana jika Vira menikah? Wildan akan baik-baik saja?" Vira tersenyum melihat Wildan tersenyum.
"Jika memang harus terjadi, dia lelaki yang harus bisa mengalahkan aku, lebih di atas aku, jika tidak kamu tidak akan pernah bisa menikah."
Vira langsung memukuli Wildan, Vira baru saja jadian satu bulan, tapi Wildan sudah membuat kacau. Vira ingin Wildan mengakui jika dia penyebab banyak lelaki yang menjauhinya.
"Sakit Vira, salahkan dia yang mentalnya tidak sekuat baja, baru diuji hal kecil sudah memilih meninggalkan kamu." Wildan menahan tangan Vira untuk berhenti mencubitnya.
"Lihat saja, Vira akan menikah dalam 2 tahun, lelaki yang jauh di atas Wildan, lebih tampan, kaya, pintar. Awas saja kamu Wildan, saat hari itu tiba, kamu tidak akan pernah bisa menghentikan Vira." Vira kesal melihat Wildan, kedua tangannya ditahan kuat, Vira mengigit pundak Wildan karena masih marah.
Mata Vira terpejam, Wildan juga terpejam, merasakan bibir mereka bersatu. Vira langsung membuka matanya, langsung ingin berdiri dari tubuh Wildan, tapi kepala Vira masih ditahan.
"Vira Wildan!" Bella teriak kuat, Wildan melepaskan tangannya, Vira langsung berdiri menatap Bella yang sudah tersenyum, Wildan sudah duduk diam.
"Wil bagaimana rasanya bibir Vira, kenyal seperti jelly?" Billa melihat wajah Wildan yang menahan malu.
"Kalian berdua memang pasangan unik, Wildan juga banyak berubah, sudah tahu rasanya mengagumi seseorang akan mengubah karakter kamu Wil, tapi untuk sekarang bisa kalian berdua mundur dulu." Bella mendekati Vira yang senyum tidak jelas.
Bella menyentuh bibir Vira, tersenyum langsung menarik tangan Vira untuk duduk, membiarkan Wildan masih di lantai.
Winda melihat Yusuf datang, Yusuf mengucapkan salam menyapa Winda yang cuek saja. Winda meminta Yusuf berhenti, melihat lengan Yusuf yang berdarah, terbalut ikatan kain biasa.
"Kenapa tangan kamu?"
__ADS_1
"Hanya lecet, aku masuk dulu untuk menemui Wildan." Yusuf melangkah masuk, tapi langsung teriak menahan sakit, Winda menarik tangannya.
Winda langsung menarik Yusuf duduk, membuka kain, menyobek baju melihat luka tembak. Winda mengambil peralatan medis, membersihkan sisa darah.
"Pelurunya di mana?" Winda menatap Yusuf.
"Sudah aku keluarkan, ini luka kecil Winda."
"Luka kecil, ini cukup dalam jadi jangan dianggap remeh." Winda memberikan pengobatan yang sudah dia pelajari.
Yusuf membiarkan Winda menyelesaikan pekerjaannya, pandangan Yusuf jauh ke depan, memiliki banyak beban pikiran.
"Hubungan kita memang tidak baik, aku juga tidak tahu yang kamu pikirkan, tapi apapun yang sedang menjadi beban pikiran kamu, jangan mencoba untuk menyakiti keluarga kami."
"Iya, baiklah, insyaallah aku tidak berpikir untuk menyakiti siapapun."
"Kejadian di masa lalu, tidak membuat Winda menyesal, kamu boleh tidak menyukai cara Winda, karena aku juga tidak menyukai keberadaan kamu." Winda langsung melangkah pergi.
"Win, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kenapa kamu sangat membenci aku? jika karena Ibu, kenapa aku juga dibenci."
"Karena kamu terlahir dari rahimnya." Winda langsung melangkah pergi.
"Benci kamu tidak beralasan Winda." Yusuf tersenyum ikut melangkah ke dalam.
Billa duduk diam, melihat fotonya bersama Erik, perlahan air matanya menetes jika mengingat seharusnya sekarang mereka sudah berada di mansion, bersiap untuk ijab kabul.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT
__ADS_1
***
Belum revisi maafkan tulisan yang berantakan.🙏🙏🙏