SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 SEMUANYA BOTAK


__ADS_3

Pintu ruangan Wildan terbuka, Vira meletakkan jari telunjuk dibibir agar tidak ada suara yang keluar.


Wildan baru saja tidur, membutuhkan waktu istirahat. Vira tidak ingin ada yang menganggu.


Karan meminta maaf, langsung melangkah keluar lagi menutup pintu perlahan, diikuti oleh Vira yang juga melangkah keluar.


"Ada apa kak Karan?"


"Dragon meninggal saat kami temukan, seluruh bawahannya sudah melarikan diri. Fly juga terluka parah, karena luka tembak. Randu memilih menyelamatkan Fly, Erik sedang melakukan operasi." Karan menatap Vira yang langsung melangkah pergi untuk melihat ke tempat operasi.


"Bagaimana keadaan Fly Billa?"


"Dia mengalami pendarahan, juga kekurangan darah. Pihak rumah sakit sudah melakukan upaya untuk menambah stok darah yang dibutuhkan." Billa duduk di depan ruangan operasi.


"Kenapa kak Erik menyelematkan dia?"


"Sebagai seorang dokter dia bertugas menyelamatkan, bukan membunuh." Billa menatap tajam Vira memintanya untuk segera duduk.


Randu masih berdiri dengan tubuhnya yang penuh darah, Erik hanya meminta waktu dua jam jika lebih dari dua jam berarti dia gagal.


Jam terus berjalan, jantung Randu berdegup kencang sampai duduk di lantai. Vira datang kembali setelah mengecek Wildan yang masih terlelap tidur.


"Kenapa kamu cemas sekali Randu? jika dia hidup pasti akan mengacau hubungan aku dan Wildan." Vira bernada tinggi membentak Randu yang hanya tersenyum tipis.


"Aku akan menjaga dia, kamu jaga saja suami kamu yang tidak mungkin tergoda dengan wanita luar, begitupun denganku yang akan menjaga Fly." Randu melihat lagi ke arah jam, hanya sisa beberapa menit saja operasi selesai.


"Dia tidak mencintai kamu."


"Karin juga tidak mencintai aku, dia mencintai Ravi. Vira tidak semua perjuangan itu gagal, meskipun aku membutuhkan waktu lama setidaknya Karin membalas cinta yang sudah lama menunggunya. Kesempatan itu juga berlaku untuk Randu, jangan pikirkan soal siapa yang akan memisahkan kamu, tapi pikirkan saja jika kalian akan selalu bersama, tidak perduli apapun masalahnya." Karan melihat ke arah Ravi dan Kasih yang datang ingin melihat keadaan Fly.


"Fly hanya salah jalan, dia tidak takut mati bahkan selalu mencari mati. Aku percaya dia akan bangun." Kasih tersenyum melihat Randu.


Vira juga tersenyum, begitulah respon keluarganya. Mereka selalu memberikan kesempatan kepada siapapun tidak perduli sejahat apapun orang kepada mereka.


Operasi selesai, Erik langsung keluar menatap Randu yang sangat khawatir.


"Kamu ingin kabar baiknya atau buruknya?" Erik menatap Randu yang langsung menjawab buruk.


"Dia masih hidup." Erik tersenyum menepuk pundak Randu yang mengucapkan syukur.


Fly keluar dari ruangan operasi, langsung dipindahkan ke kamar rawat yang sudah Erik bicarakan.


Billa tersenyum langsung memeluk suaminya, bahagia karena Erik memilih untuk menyelamatkan Fly.

__ADS_1


"Terimakasih kak Erik."


"Untuk apa istriku, wanita cantik harus di selamatkan." Erik tertawa memeluk Billa yang langsung cemberut.


Vira mendapatkan panggilan dari mommy, mengatakan jika Bella jatuh pingsan karena kebanyakan menangis. Mereka sedang menuju rumah sakit.


"Woy Bella pingsan." Vira langsung berlari ke kamar rawat Bella, Billa dan Kasih juga langsung berlari.


Erik dan Ravi melangkah ke tempat Bella, saat hamil muda sangat rentan keguguran. Erik dan Ravi panik, sangat takut jika calon baby Tian kenapa-kenapa.


Pintu kamar terbuka, Vira melihat Tian yang memijit pelipisnya. Billa langsung menemui dokter kandungan meminta penjelasan.


"Ada apa kak?"


"Entahlah Vir, kak Tian juga binggung dengan perubahan sikap Bella, keinginan dia aneh-aneh."


"Bukan hal aneh kak, jika tidak aneh bukan keluarga Bramasta." Vira mengusap kepala Bella yang sedang beristirahat.


"Syukurlah, kak Bella baik-baik saja, kandungannya juga aman. Billa takut sekali."


"Iya, Kasih juga masih trauma saat melahirkan Asih Aka. Jangan sampai terulang kembali." Kasih mengusap dada.


Ravi dan Erik langsung masuk, panik melihat Bella yang tiba-tiba dirawat.


"Gara-gara Erik."


"Aku, kenapa aku?" Erik kebingungan, dia tidak merasa memotong rambut siapapun.


"Apa karena botak?" Vira langsung duduk di lantai tertawa lucu.


"Rik, tega banget kamu. Saat Billa hamil aku rela botak, tapi beraninya kamu menolak." Ravi langsung tertawa puas.


Bella terbangun, melihat Erik langsung membuang pandangannya langsung minta pulang.


"Bella ingin pulang kak, ayo pulang."


"Nanti, kita habiskan dulu infusnya."


Bella meminta Billa memegang infus, langsung mengambil gunting di samping meja sampai air infus tumpah semua.


Vira dan Billa kaget, Tian hanya terdiam. Ravi dan Erik saling pandang.


"Sudah habis, ayo pulang." Bella menatap suaminya yang menggaruk kepala.

__ADS_1


"Bar-bar calon baby, Vira suka yang seperti ini. Winda pasti senang sekali jika tahu anaknya kak Bel sangat nakal."


"Kak Tian, Bella ingin pulang."


"Iya sayang, sabar. Kita tunggu dokter dulu."


"Billa ini siapa? apa dia dukun beranak?" Bella teriak kuat, suara tawa Vira dan Ravi langsung pecah. Kasih memukul punggung suaminya memintanya untuk diam.


Erik langsung mendekat, meminta maaf. Dia akan botak sesuai keinginan Bella. Meminta Bella tenang dan beristirahat demi kebaikan bayinya.


"Besok aku botak. Oke."


"Kak Ravi juga, kalian juga berdua." Bella menatap Karan dan Randu yang baru muncul.


Tian hanya memijit pelipisnya, Karan dan Randu juga harus botak jika tidak Bella akan mengamuk.


Wajah Randu dan Karan yang baru muncul langsung terkejut, mereka tidak tahu apapun tiba-tiba harus botak.


"Kalian berdua harus botak, demi keponakan dalam perut dia. Setidaknya aku sudah baik menyelematkan fly." Erik menahan tawa, akhirnya semuanya menyetujui untuk botak, demi Bella.


Senyuman Bella terlihat, langsung diam sambil memikirkan sesuatu. Vira langsung deg-degan dia takut suaminya harus botak, sedangkan dia belum malam pertama. Sungguh menyeramkan jika Wildan botak, Vira langsung menepuk jidatnya membuang pikiran bodoh yang ada di kepalanya.


"Ada satu orang lagi yang harus botak." Bella langsung menatap Vira sambil tersenyum, Karan dan Randu langsung melarikan diri.


Mereka semua sangat menyesal menjenguk Bella yang tingkahnya mirip anak kecil.


"Bella ingin melihat Wira botak."


Semua orang terkejut, bule kecil bermata biru, berambut pirang di minta untuk botak. Kepala semua orang menggeleng jika ingin melihat perang dunia ketiga.


Jika Wira sudah mengamuk keluar semua jurus yang dia dapatkan dari banyak negara, sungguh tidak merekomendasikan jika Wira harus botak.


"Sayang jangan Wira, aku saja yang mengantikan." Tian meminta istrinya berhenti berulah.


"Tidak mau, Bella tidak ingin tidur dengan tuyul."


"Lalu, bagaimana nasib Kasih harus tidur dengan tuyul? dulu Billa, sekarang Bella, nanti Vira, lalu Winda. Kalian tidak memikirkan nasib Kasih yang harus memeluk tuyul." Tatapan Kasih tajam, mata yang sudah lama tidak terlihat akhirnya muncul.


"Apa tuyul kak Kasih menyusu?"


"Tian menyusu tidak?" Kasih menatap tajam Bella yang langsung memalingkan wajahnya.


Ravi langsung menahan tawa, jika jiwa singa istrinya keluar semuanya langsung menunduk.

__ADS_1


***


__ADS_2