
Mobil sampai di hotel, Wildan dan Vira turun, mereka menyempatkan membeli baju sebelum ke hotel.
Vira duduk santai di ruang tunggu, Wildan langsung memesan kamar untuk mereka berdua.
Seseorang pria juga duduk di depan Vira, tersenyum melihat wanita cantik sedang asik memakan es krim sambil tersenyum memainkan ponselnya.
Wildan menatap tajam, kesal melihat lelaki menatap istrinya. Vira kaget melihat Wildan menarik untuk berjalan ke kamar.
Tatapan Wildan tajam melihat pria yang memperhatikan istrinya, langsung melangkah pergi memeluk pinggang ramping Vira.
"Mau es krim." Vira meminta Wildan mencicipi es krim kesukaannya.
Kepala Wildan menggeleng, membersihkan bibir Vira yang terkena coklat. Senyuman Vira terlihat melangkah di belakang Wildan.
"Aku mandi dulu Vir, nanti kamu lama banyak dramanya." Belum selesai Wildan bicara, Vira sudah masuk kamar mandi langsung berendam air hangat.
Tangan Wildan mengusap dadanya, sabar menghadapi Vira yang pecicilan selalu menguji kesabarannya.
Sambil menunggu Wildan melanjutkan pekerjaannya, sampai pekerjaan selesai Vira belum juga keluar kamar mandi.
"Vira, berapa lama lagi kamu berada di dalam kamar mandi. Aku juga sudah gerah." Wildan menggedor pintu kuat, langsung melangkah masuk.
"Astaghfirullah Al azim Vira, kenapa kamu menyebalkan sekali?" Wildan menatap kesal, melihat Vira asik memainkan handphonenya.
"Nanggung Wil, sebentar lagi Vira akan menang." Tangan Vira berselancar di layar ponselnya bermain games.
Wildan memijit pelipisnya, langsung membuka bajunya mandi di bawah air shower sedangkan Vira masih sibuk di dalam bathtub.
"Kalah." Teriak Vira besar, sampai ponselnya jatuh ke dalam air.
Mata Vira tidak berkedip melihat tubuh keren Wildan, senyuman terlihat menatap punggung lelaki halalnya.
Rasanya Vira ingin sekali memeluk erat dari belakang, tapi menjaga harga dirinya. Cukup menikmati punggung indah.
"Vir lempar shampo." Wildan menatap Vira yang tersenyum manis langsung melangkah keluar dari dalam bathtub.
Jantung Wildan berdegup kencang, melihat tubuh Vira yang terlihat menggunakan baju seksi.
Vira meletakkan shampo di kepala Wildan, tatapan Wildan tidak bisa tenang. Dia sangat canggung melihat pertama kalinya tubuh wanita.
Berkali-kali Wildan menelan ludah, Vira sengaja ingin menggoda Wildan sampai mana dia mampu menahan diri dari indahnya tubuh wanita.
Mata Wildan terpejam, Vira menghidupkan air shower membasahi rambut Wildan.
Tangan Wildan menyentuh pinggang Vira, membuka perlahan matanya. Melihat Vira yang sedang membasahi tubuhnya dengan air.
"Vir."
"Apa?" Vira menahan tawa, tapi tidak boleh tertawa jika tidak Wildan akan cemberut.
__ADS_1
Suara Wildan meringis terdengar, Vira langsung menatap kedua tangan Wildan yang menyentuh kepalanya yang terasa pusing.
"Kenapa Wil?"
"Kepala aku sakit, tubuh aku juga panas." Cepat Wildan langsung ingin mencium Vira, tapi langsung melangkah keluar.
Vira tersenyum, Wildan tidak menyadari jika dirinya sedang menahan *****. Kepalanya sampai pusing, karena terus menghindar.
Selesai mandi Vira melihat Wildan yang duduk memegang kepalanya, tidak tega juga melihat kesakitan.
"Wildan, kamu kenapa?" Vira menggunakan baju seksi langsung duduk di samping Wildan.
"Baju apa yang kau pakai?"
"Baju tidur, biasanya disebut lingerie." Vira langsung tidur di atas ranjang.
"Vir, kamu tidak kasihan melihat aku. Dari tadi aku berusaha menahan diri. Aku ini lelaki normal." Wildan menghabiskan air minumnya.
"Jika normal ayo kita lakukan." Vira menantang Wildan yang juga menatap penuh *****, tapi belum memiliki keberanian.
Suara Vira tertawa terdengar, langsung membersikan handphone yang masih tetap hidup meskipun terkena air.
Wajah Vira menunjukkan keterkejutan, Wildan memeluknya erat. Mencium lembut bibirnya mengulang yang mereka lakukan saat pertama kali bersentuhan setelah menikah.
"Wildan kamu tahu cara berciuman tidak?" Vira menatap tajam."
Vira menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Wildan manusia paling polos yang dia temukan.
"Wil, kamu tahu film dewasa, tahu berciuman, tahu cara membuat anak." Vira tersenyum melihat Wildan menganggukkan kepalanya.
"Aku tahu, hanya tahu. Aku tidak punya waktu untuk melihatnya." Wildan mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya kamu pernah mimpi basah tidak Wil?" Vira tertawa melihat wajah Wildan terlihat kesal.
Vira meminta Wildan tidur, saling tatap sesekali Vira menyatukan hidungnya dengan pemuda dingin dihadapannya.
"Apa aku terlihat seperti anak kecil di mata kamu?"
Vira menggelengkan kepalanya, Wildan sudah dewasa sangat dewasa. Vira mengerti mereka saling menyayangi, tetapi tidak bisa melakukan apapun tanpa ada cinta.
Wildan hanya terdiam, dia ingin mengatakan cinta, sangat cinta tetapi sulit sekali kata Cinta keluar.
"Vir, aku minta maaf jika pernah menyakiti hati kamu. Jujur ini yang aku rasakan sebenarnya ...." Wildan mengerutkan keningnya melihat Vira langsung menjawab panggilan.
Suara Winda terdengar mengumpat Vira dengan kasar, ekspresi Wildan langsung berubah.
Vira langsung mengganti bajunya, meminta Wildan menemaninya untuk pergi. Suasana hati Wildan yang awalnya bahagia langsung berubah.
"Wildan ayo bangun, temani Vira."
__ADS_1
"Kepala aku pusing Vira, tidak mungkin hilang jika tidak disalurkan." Wildan memejamkan matanya memilih untuk tidur.
"Tidak ada waktu untuk menyalurkan." Vira menarik pintu yang terkunci.
Vira memukuli Wildan yang berpura-pura tidur, kiss kilat Vira berikan meminta Wildan bangun sebelum Winda mengamuk.
"Kenapa takut dengan Winda? minta dia mengurus suaminya jangan menggangu orang." Wildan menarik selimut mengabaikan Vira.
Vira teriak kuat, Wildan langsung duduk menatap kesal. Vira menyatukan bibirnya dengan bibir Wildan, melakukan lebih dari yang sebelumnya mereka lakukan.
Mata keduanya terpejam, Vira merasakan Wildan mulai membalas. Pemuda jenius, ternyata cepat juga menangkap hal dewasa.
Tangan Vira mendorong kuat, tapi tidak bisa melawan tenaga Wildan yang tidak ingin berhenti.
Bibir Vira pedih, berusaha meminta Wildan berhenti agar bisa benafas juga bisa bergegas pergi.
"Wildan kita lanjut nanti, aku bantu menghilang sakit kepala, sekarang kita harus pulang, karena sistem keamanan perusahaan di hack." Vira teriak, menatap Wildan yang masih melamun.
"Minta Karan saja yang mengurusnya, aku ingin tidur."
Winda menghubungi Vira kembali meminta Vira menghidupkan speaker agar kakaknya Wildan mendengarkan.
[Kak Wil saham terus jatuh, yang menyerang perusahaan Vira juga orang dalam. Selidiki sebelum lebih dari satu jam.]
[Mulai bodoh kamu Win, ada tidaknya kami tidak berguna. Aku yang menyebarkan virus, daripada orang luar lebih dulu menguasai.]
Vira terdiam, ternyata Wildan juga sudah bergerak. Winda mendapatkan ceramah, karena selalu membuat masalah.
[Sebaiknya kamu fokus mengurus suami, pulang ke sini bawa cucu untuk mami dan papi.] Wildan mematikan panggilan sepihak.
"Kenapa kamu melakukannya? di perusahaan sedang panik."
"Biarkan saja, sesekali bermain licik agar orang-orang yang terlibat menunjukkan kepalanya. Kita bahas lagi besok, kamu tenang saja sebelum mereka menyerang kamu, maka harus mengalahkan aku terlebih dahulu." Wildan memejamkan matanya, Vira langsung kembali tidur memeluk tubuh Wildan erat.
***
MAAFKAN KEBANYAKAN TYPO, DEMI APAPUN NGANTUK BERAT 🤣
DEMI MENEPATI NIAT, HARUS UPDATE DUA EPS PERHARI.
ALUR CERITA AH SUDAH LAH, BESOK AKU REVISI.
***
Jangan lupa like coment Dan tambah favorit
follow Ig Vhiaazara
***
__ADS_1