
Ekspresi Wildan melihat Vira sangat aneh, tidak biasanya Vira tidur terus. Bahkan Wil membereskan rumah sendirian tidak ingin menganggu tidur Vira.
"Sayang ayo bangun, kita hari ini ke rumah bunda Jum acara tujuh bulanan Bella." Wildan membantu Vira berdiri, sebelum bangun minta dipeluk dulu.
Selesai bersiap, Wildan dan Vira naik sepeda ke tempat Mami terlebih dahulu. Keduanya tertawa lucu, karena pertama kalinya Wildan membawa sepeda, tapi cukup melihatnya langsung bisa.
Vira memeluk pinggang suaminya, melambaikan tangan kepada Daddy-nya yang menggelengkan kepalanya, bunyi kring kring sepeda membuat Wildan tertawa.
Viana dan Rama juga bahagia melihat keduanya, langsung melangkah ke rumah Jum untuk membantu persiapan.
Wildan mengucapkan salam, melihat adiknya Winda berlari minta dipeluk. Senyuman Wildan terlihat langsung memeluk Winda, Vira juga langsung memeluknya.
Wildan kesulitan bernafas ulah Vira dan Winda, Reva menatap tajam keduanya.
"Mbak, sini. Kalian boleh memeluk Ar, soalnya Winda tidak mau lagi." Reva langsung tertawa melihat Winda melepaskan Wildan langsung mencari suaminya.
Vira tertawa langsung mencium Mami, menarik Winda untuk ikut dengannya ke rumah Bella, karena ada sesuatu yang ingin dia lakukan.
Wildan berjalan bersama Ar sambil membicarakan pekerjaan, Wildan juga membicarakan soal hotel yang akan mereka resmikan dalam minggu-minggu ini.
"Kamu urus saja Wil, aku ingin mengurangi sedikit pekerjaan agar bisa memiliki banyak waktu bersama Winda." Ar tersenyum menepuk pundak Wildan, padahal Wildan juga berencana menyerahkan kepada Ar.
"Wildan tidak bisa kak, berarti jika kita berdua tidak bisa harus mencari pengganti yang profesional dalam bidangnya."
"Atur saja Wil, aku setuju apapun yang kamu lakukan. Bicarakan juga bersama yang lainnya, agar sama-sama enak." Tatapan Ar melihat Winda dan Vira yang lari-larian.
"Apa mereka berdua selalu seperti itu?"
Wildan tertawa, mengangguk kepalanya jika Winda dan Vira memang selalu seperti itu, mereka bisa berlari, melompat, terbang sekalipun jika sudah bertemu.
Suasana hening melihat prosesi adat agar diberikan kelancaran saat persalinan, mata Winda panas melihatnya. Vira lebih lagi sudah menutup matanya, memilih tidur dari pada melihat ramainya orang. Vira merasakan aneh matanya selalu mengantuk, apalagi saat pagi.
Vira memilih untuk beristirahat ke kamar, berjalan bersama Winda sambil sempoyongan. Mereka memilih kamar Bella yang kosong, karena Bella tidur di kamar suaminya.
Tidur Vira lupa waktu, apalagi memeluk Winda yang juga tidur nyenyak. Apapun yang terjadi dalam acara tujuh bulanan Bella, mereka tidak mengetahuinya.
Mata Vira terbuka, rasakan kepala pusing sekali, perut mual, badan sakit semau. Vira melihat Winda yang sudah membuka mata, tapi masih terdiam.
__ADS_1
"Lapar, Vira lapar." Vira meminta Winda mengambil makanan, tubuhnya masih lemas tidak bertenaga.
"Sama, Winda juga lapar, waktunya makan." Winda langsung keluar, mencari makanan.
Pintu kamar terbuka, Bella masuk meletakan makanan, memperingati Vira agar tidak mengotori tempat tidurnya.
"Bagaimana Vir soal pelakor?" Winda mengunyah makanan, menatap Vira yang sedang berpikir.
"Pelakor? siapa pelakor? berani dia, belum tahu saja jika berurusan dengan kita." Bella terus mengunyah, tidak perduli dengan berat badannya yang semakin naik.
Vira menceritakan soal kedatangan Fly, Winda dan Bella langsung berhenti makan duduk diam mendengarkan cerita Vira yang membuat emosi.
Tatapan Vira langsung normal kembali, memijit kepalanya agar mengingat pembicaraan saat kedatangan Fly ke kediaman mereka, tapi kenyataannya Vira tertidur.
"Vira tidur, jadinya tidak ingat." Senyuman Vira terlihat.
Bella memukul kening Vira, dia hanya mengingat sampai Fly duduk, setelahnya dia tidur.
Winda mencubit lengan Vira, memintanya mengingatkan kembali.
"Ingat tidak?"
"Jangan pamer, Winda bangun tidur dua ronde. Rasanya nikmat." Ekspresi Winda, terlihat menjijikan di mata Vira.
Bella tertawa melihat Winda dan Vira, keduanya bermain terus, tapi tidak ada hasilnya. Banyak bicara saja, kata pepatah tong kosong nyaring bunyinya.
"Sabar Bella, kita masih baru."
"Bella walaupun ada twins masih bisa enak-enak."
"Waduh." Winda mengukur posisi jarak bercinta ala Bella.
"Ibu hamil tingkat nafsunya tinggi, kali ini Bella tidak becanda Lo."
"Kita tidak hamil saja tingkat nafsunya tinggi, bahkan sangat tinggi. Melihat air mengalir di dada gila Winda langsung terhipnotis." Winda tertawa sambil makan.
Vira diam saja memikirkan kedatangan Fly, dia masih ingat Fly meminta maaf dan memutuskan untuk pergi.
__ADS_1
"Fly sudah tidak ada lagi di negara ini." Vira sangat yakin, dia masih mengingatnya.
"Kita sudah ganti topik Vira, pagi tadi juga ada pelakor jelek mendekati Ar, langsung ditampar oleh Mami." Winda meringis memegang wajahnya, Vira dan Bella juga meringis merasakan sakitnya.
Suara tawa langsung terdengar mereka sudah tidak heran lagi dengan sikap mami, jangan diusik jika tidak ingin celaka.
Vira mengeluarkan banyak sekali tes pack, dia ingin mencoba melakukan tes. Bella mengajari dan menunjukan garis dua.
Semangat Vira menggebu-gebu berharap miliknya juga garis dua Wildan pasti sangat bahagia.
Tatapan Vira tajam melihat puluhan hampir ratusan hasil tes pack, sungguh hati Vira terluka melihatnya karena miliknya tidak sama dengan Bella.
Langka kaki Vira meninggalkan kamar, air matanya ingin menetes karena sangat kecewa.
Seharusnya dirinya tidak harus terlalu bersemangat sehingga tidak terlalu kecewa, dan merasakan sakit.
Wildan melihat Vira, menepuk pundak Ar untuk mengejar Winda sedangkan dirinya mengejar Vira.
Vira berdiri dipinggir kolam, langsung ingin lompat, tapi Wildan langsung menahannya, memeluk erat.
"Ayang, Vira ingin hamil. Kenapa hasil tes tidak sama dengan Bella? Vira juga ingin cepat punya baby."
"Astaghfirullah Al azim Vira, istifar sayang anak itu rezeki dari Allah, datang juga atas izin Allah. Kita sudah berdoa, sudah berusaha sekarang kita berserah diri. Allah tahu yang terbaik untuk kita, jika belum diberikan tidak masalah." Wildan mengusap punggung Vira, memintanya berhenti menangis.
"Maafkan Vira."
"Vir, insyaallah jika sudah waktunya kita bisa memiliki anak. Kita harus yakin, ini yang terbaik untuk kita juga keluarga kita. Ayo sayang tersenyum."
Vira langsung tertawa, memeluk erat suaminya. Melupakan yang baru saja dia lakukan, berharap boleh memaksa jangan.
"Ayo kita pulang istirahat di rumah."
"Naik sepeda keliling-keliling." Vira tertawa langsung naik punggung Wildan untuk menemui sepeda mereka.
Vira tertawa memeluk pinggang suaminya berkeliling perumahan mereka, melihat Winda yang bermain mobil-mobilan bersama Ar di lapangan basket.
"Winda sedih, sama Vira juga. Mungkin kita memiliki harapan yang sama, kita hanya perlu bersabar lagi." Vira melambaikan tangannya melihat Winda yang tertawa melihat Ar terjatuh.
__ADS_1
Winda melambaikan tangan, Ar langsung memeluknya. Ari mata Vira menetes, tapi langsung menghapusnya.
***