SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 MASUK RUMAH SAKIT


__ADS_3

Suara musik berdentum terdengar, tiga wanita masuk ke dalam tempat yang sangat ramai. Bau minuman tercium, banyak wanita seksi menggunakan baju yang kekurangan bahan.


Gerakan pinggul bergoyang mengikuti irama musik, pria wanita berjoget dan berpesta.


Hampir seluruh tempat sudah penuh, tatapan mata Vira tajam melihat ke arah beberapa anak yang mungkin baru lulus sekolah.


Vira duduk bersama Bella dan Winda, tatapan mata ketiganya melihat ke arah DJ musik yang tersenyum mengedipkan matanya.


Winda memesan minuman, menatap anak-anak yang baru tahu dunia malam. Usia yang sangat belia untuk salah pergaulan.


Usia muda sudah bisa minum dan menghisap benda yang membahayakan kesehatan, tubuh indah diizinkan untuk disentuh.


"Sudah berapa lama kita tidak pergi ke sini? rasanya sungguh tidak nyaman." Bella merasakan terganggu dengan bau asap yang dihirup oleh orang sekitarnya.


"Ternyata kita sudah besar, sehingga kehidupan malam sungguh menyebalkan." Vira tersenyum, mengambil minuman Winda.


Minum belum sampai tenggorokan, langsung keluar lagi dari mulut Vira. Winda tertawa langsung melangkah ke tengah orang yang sedang bergoyang.


"Apa yang Winda lakukan?" Bella menatap Vira.


"Entahlah, mungkin dia ingin berjoget." Vira tertawa.


Cukup lama Vira dan Bella hanya mengobrol berdua, setiap ada pria yang mendekati mereka langsung diabaikan. Sesekali melihat ke arah Winda yang sedang mengobrol dengan seseorang.


Semakin larut malam musik semakin kuat, orang yang datang juga semakin ramai. Winda merasakan kepalanya pusing melihat lampu kerlap kelip, Vira langsung mendekati Winda yang sempoyongan.


Bella juga langsung mendekat merangkul Winda yang ternyata mabuk, Vira dan Bella langsung panik, menatap wanita paruh baya yang mengobrol dengan Winda.


"Winda tidak kuat minum."


"Nenek sialan, kamu tidak tahu siapa dia? jaga sikap kamu." Vira menatap tajam.


"Saya sangat mengenal Winda, sebaiknya kalian segera keluar dari tempat ini."


Bella langsung ingin melayangkan pukulan, Vira menahannya untuk membawa Winda ke luar lebih dulu.


Mobil Wildan sudah tiba langsung melangkah ke dalam menunjukkan identitasnya, ada keributan terdengar rusuh.


Winda sudah duduk di lantai, Vira sudah mengamuk memukuli banyak orang, Bella juga ikut bertarung melihat Vira diserang.


Wildan langsung berlari melindungi Vira, melayangkan pukulannya menghantam beberapa pria yang mendekati Vira.

__ADS_1


Bella langsung berhenti melihat Tian muncul, beberapa orang juga memilih untuk pergi karena baru mengetahui jika ada keturunan Bramasta.


Winda langsung muntah, mengotori baju Yusuf yang menyusul Winda dari bandara langsung ke tempat diskotik.


"Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, meminum minuman haram." Yusuf membersihkan mulut Winda.


"Bella, Vira keluar sekarang!" Tian menarik Wildan untuk mundur.


Vira menatap Winda yang sudah bersama Yusuf, Wildan langsung mengendong adiknya melangkah keluar.


Tatapan mata Wildan tajam melihat Winda yang muntah-muntah, Bella juga cemas melihat keadaan Winda.


"Wil sebaiknya ke rumah sakit. Winda tidak pernah menyentuh minuman, mungkin ada yang sengaja melakukannya." Bella mengusap kepala Winda.


Dua mobil langsung menuju rumah sakit, Wildan tidak berani menghubungi orang tuanya hanya bisa memeluk adiknya yang terus muntah.


Air mata Vira menetes, menggenggam tangan Winda. Hatinya sangat sakit melihat sahabatnya disakiti.


Sesampainya di rumah sakit Winda langsung dilarikan ke ruangan rawat, Bella dan Winda terlihat paling panik karena mereka tidak curiga sama sekali dengan teman bicara Winda.


Semuanya berdiri diam menunggu di depan pintu rawat, Wildan menghela nafasnya.


"Kak Yusuf kapan datang?"


"Membunuh?" Wildan kaget.


"Aku tidak tahu Wil, Winda terlalu terobsesi dengan masa lalu ummi, dia juga tidak percaya jika ummi sudah meninggal." Yusuf memejamkan matanya.


Wildan menatap binggung, melihat Vira dan Bella yang juga terlihat kaget. Mereka juga tidak tahu banyak soal Yusuf, mereka hanya tahu Winda membenci Yusuf sejak dia masuk pesantren.


***


Matahari sudah terbit, mata Winda terbuka menatap Vira dan Bella yang meneteskan air matanya karena dimarahi.


Winda juga melihat Maminya menangis, mata Winda tertutup kembali karena takut dengan Maminya.


"Maafkan Bella yang tidak bisa menjaga Winda." Bella mengusap air matanya.


"Kenapa Winda bisa minum? sia-sia kami mengajari ilmu agama jika ...." Reva menangis sesenggukan.


"Winda tidak minum Mami, ada yang sengaja melakukannya." Vira menatap Reva yang terus menangis.

__ADS_1


"Mommy juga dulu peminum Vira, tapi tahu batasan. Kalian sudah besar seharusnya tahu jika sekarang bukan waktunya untuk bersenang-senang. Kalian puas melihat Winda dirawat, ini yang kalian inginkan." Viana menatap tajam Bella dan Vira.


Kepala Vira tertunduk, tidak ada gunanya mereka membela diri karena memang salah. Mereka sudah berjanji akan saling melindungi, tapi nyatanya tidak benar.


Bima hanya diam saja duduk di sofa, kepalanya tertunduk menatap lantai. Wildan, Yusuf dan Tian juga hanya duduk diam.


Tangisan Reva masih saja terdengar langsung melangkah pergi, Bima langsung menahan tangan Reva.


"Reva."


"Aku capek Bima menghentikan Winda, sampai mulut kita berbusa dia tidak akan berubah. Jika kamu mau nasihati dia, aku ingin pulang tidak ingin lagi menegur dia."


"Winda sedang sakit, kita bicara setelah dia membaik."


"Sakitnya dicari, mereka memang mencari penyakit. Diberikan kehidupan enak, tapi lihat yang mereka lakukan." Reva berteriak kuat.


Wildan menghentikan Maminya, meminta maaf karena tidak bisa menjaga adiknya.


"Kamu juga sama Wildan, bagaimanapun kamu menjaga dia tidak akan mengubahnya? hari ini dia mabuk, besok apa lagi. Kamu ingin melihat ada lelaki yang menyentuh dia, baru kamu bisa bertindak!" Reva membentak Wildan.


"Jangan salahkan kak Wil, Winda yang salah." Winda langsung duduk mengusap air matanya.


Reva langsung mendekat, mencengkram rahang Winda membuatnya menangis histeris. Bella dan Vira langsung melepaskan tangan Reva memeluk Winda melindunginya.


"Mami jangan menyalahkan Winda saja, jika marah kita juga pantas dimarahi. Kami memang nakal, tapi kami selalu menjalankan ajaran keluarga kita, tidak menyentuh benda haram.


"Kamu sengaja minum Winda, jawab Mami."


"Iya Mi, Winda sengaja." Winda meneteskan air matanya, Vira dan Bella menatap tajam Winda.


Reva langsung jatuh pingsan, teriakkan terdengar. Vira menggeleng kepalanya, menatap wajah Winda tidak percaya jika Winda sengaja.


"Kamu gila Win." Vira menetes air matanya.


"Aku terpaksa, ada hal yang tidak bisa aku ceritakan." Winda menutup wajahnya.


Billa yang baru datang langsung mendekat, menatap Winda yang menangis.


"Winda, mereka mempermainkan kamu agar menjadi wanita rusak seperti ummi Yusuf, tapi kamu berbeda kita wanita terhormat. Berhentilah mencari tahu soal kematian ibunya Yusuf, kamu punya kehidupan." Billa berbisik di depan Bella, Vira dan Winda.


"Semuanya masih soal wanita sialan itu?" Vira menatap Winda yang menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


***


__ADS_2