SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 HUKUMAN


__ADS_3

Erik membuka ruangan khusus Tim, mengambil salah satu komputer. Meminta melihat detail laporan tim kepercayaannya, Erik merasakan mimpi buruk melihat sertifikasi berganti identitas.


Tian juga masuk melihat laporan yang dia terima, kepalanya berdeyut melihat Jet pribadinya secara resmi di jual seharga 100 M. Tian tertawa melihatnya, mengacak rambutnya langsung menghubungi tim yang bertugas di bagian jet, Erik yang masih lemas melihat Wildan untuk pertama kalinya marah-marah.


Ravi datang sambil membawa ponselnya, mengelus dada mendengar Tian yang mengumpat kasar. Tim Tian menjelaskan mendapatkan surat resmi dari Tian, password, tanda tangan seluruhnya milik Tian.


"Aiiisss sial, siapa Bryan beraninya?" Tian gemetaran memainkan ponselnya, dia tidak mengenal Bryan, orang yang sudah membeli jetnya.


"Rik, bagaimana dengan soal istana Lo yang hampir 90% selesai?" Ravi melihat Erik yang kehilangan nyawa.


"Gila, Mansion melayang dengan harga 50 M, surat resmi keluar atas nama Bryan."


"Jet harga 800 M dijual 100 M, Mansion seharga 500 sebagai bangunan termewah melayang dengan harga 50 M. Wildan tidak waras."


"Wildan?" Tian Erik menatap Ravi kaget.


"Aku kehilangan pulau yang aku beli 5 tahun yang lalu, baru lunas tahun kemarin, kalian ingin tahu dia menjualnya berapa?" Ravi tertawa duduk lemas di lantai.


"Berapa Vi?"


"Gratis, menjadi tempat liburan umum, hasil pemasukan dari pengunjung di sumbangan ke 100 panti." Ravi bertepuk tangan, Tian menggigit jari, Erik duduk lemas di pinggir Ravi.


"Wildan balas dendamnya jahat, kita memohon saja agar Wildan mengembalikan."


Ravi menggelengkan kepalanya, Wildan bukan seorang anak yang bisa diminta bekerja sama, sekalipun menangis darah.


"Jadi hilang?" Erik mengacak rambutnya.


"Kak Tian menyesal berurusan dengan Wildan, belum lagi bayar kapal ini, dari mana kita mendapatkan uang?"


"Ravi tidak bisa membantu, dompet kosong karena nikah, biaya rumah sakit. Astaghfirullah Al azim, akhirnya aku jatuh miskin."


"Pinjam uang ke orangtua boleh tidak?" Erik mengerutkan keningnya.


"Habis kita dimarah, pinjam bank saja." Tian duduk lemas.

__ADS_1


"Tenang saja, uang kapal, seluruh acara sudah Wildan lunasi." Wildan tersenyum melihat tiga kakaknya kehilangan semangat.


"Wildan!" teriakan kuat tiga orang mengejar Wildan, langsung berlutut di kaki Wildan, sambil merengek.


Windy tertawa melihat Ravi, Tian, Erik kembali seperti saat kecil dulu, memohon ke Wildan untuk menyelamatkan mereka dari amukan orang tua, sekarang terjadi lagi.


"Kalian lucu sekali." Windy memotret.


"Kak Windy bantuin nasihati Wildan, ini menyangkut aset satu-satunya yang berharga." Tian memohon.


Kasih mengerutkan keningnya melihat Ravi yang aneh, semuanya berkumpul melihat Wildan yang menolak permintaan Ravi, Tian dan Erik.


"Aku hanya mengambil harta kalian, silahkan berjuang lagi dari awal untuk membelinya. Kalian semua sultan, bukan masalah besar."


"Wil, mungkin bisa di beli lagi, tapi pasti berbeda kak Erik sangat memimpikan Mansion klasik, untuk tempat singgah orang, agar mereka mempunyai tempat tinggal."


"Aku tidak perduli." Wildan tersenyum.


"Kalian masih memiliki cinta, harta yang tidak ternilai harganya."


Tian Erik juga melangkah keluar, tidak ada yang menghentikan. Wildan tersenyum, perjalanan akan sesuai jadwal. Pintu kapal di tutup, Wildan melambaikan tangan.


Vira juga berdiri di samping Wildan tertawa, melambaikan tangannya, Bella dan Billa juga diikuti oleh Winda. Semuanya tertawa berhasil membuat Ravi, Tian, Erik keluar dari kapal, kehilangan aset pentingnya.


Kasih melihat Ravi melambaikan tangannya, memberikan ciuman jarak jauh. Seluruh orang masuk, kapal akan berlayar selama tiga hari, tiga malam.


Ravi menatap tajam melihat istrinya hanya melambaikan tangan, tidak niat turun mengikutinya. Erik Tian Ravi saling pandang, melihat kapal bergerak. Teriakkan ketiganya terdengar meminta kapal berhenti, langsung menyentuh air laut ingin mengejar.


Kapal berhenti, Wildan tersenyum menggunakan pengeras suara meminta ketiga Kakaknya berenang untuk naik ke kapal, jika dalam lima menit belum sampai kapal akan kembali berlayar.


Ravi kaget, Erik menyentuh ponselnya takut basah membuka bajunya. Tian juga melepaskannya sepatunya, Ravi juga membuka baju, melepaskan sepatu bersiap untuk berenang.


Dari atas kapal seluruh keluarga menonton, bahkan merekam hal bodoh yang dilakukan putra keluarga Prasetya dan Bramasta.


Tawa Vira geng sangat besar melihat kakaknya berenang, satu tangan di atas mengamankan ponsel sepatu mereka. Kasih menggunakan pengeras suara menyemangati Ravi untuk cepat sampai.

__ADS_1


"Berenang dalam keadaan tangan sebelah, belum lagi ada gelombang cukup menyulitkan. Wildan melihat Tian hampir sampai, menghitung sampai lima, langsung meminta kapal jalan.


Ravi, Tian, Erik panik, langsung berenang cepat melupakan tangan yang di atas. Langsung menyentuh kapal naik ke atas.


"Wildan!" teriakan tiga orang di pinggir kapal terdengar.


"Cepatlah naik, sebelum ada ikan piranha kak." Suara Billa terdengar, Ravi langsung cepat masuk, Erik Tian juga masuk. Wildan menatap menahan tawa.


"Kak di mana ponsel kalian, padahal Wildan mempunyai satu kejutan lagi." Wildan memberikan handuk.


Tian, Ravi Erik menunjukkan ponsel mereka yang sudah meneteskan air, Erik menatap sedih ponsel keluar barunya mandi air laut.


Wildan menggelengkan kepalanya, puas menghukum ketiga kakaknya yang mempermainkan perasaanya.


"Jahat sekali kamu Wildan, padahal kita bersaudara." Ravi mengusap matanya, melihat ponselnya mati total.


Kesedihan terlihat dari tiga pria dewasa yang berjalan lemas, menuju kamar masing-masing. Kasih mengikuti Ravi yang menundukkan kepalanya.


"Bagaimana puas dengan tontonan kita?" Wildan menatap Vira geng yang menggagukan kepalanya.


"Wildan, niat Kaka kalian baik, ingin memberikan kejutan, kembalikan seluruh aset mereka." Bima merangkul Wildan.


Wildan tersenyum, Ravi yang tidak melihat surat resmi soal pulau yang sangat berbeda, Wildan tahu Ravi membeli sebuah pulau untuk kejutan ulang tahun pernikahan orangtuanya, di sana juga sedang ada pembangunan pesantren. Wildan juga melihat ketulusan yang luar biasa dari seorang Dokter, membuat rumah mewah untuk rumah singgah lansia.


Kekaguman Wildan semakin besar melihat kakaknya Tian, Jet pribadi tidak dipergunakan untuk menghasilkan uang, tapi mejadi Jet pribadi bagi orang yang Tian pilih untuk naik haji secara gratis setiap tahun.


"Terima kasih kak, kalian tiga lelaki hebat yang berhati besar. Wildan akan belajar banyak dari kalian cara berbagi." Batin Wildan sangat bangga dengan kakaknya.


"Mommy, kak Ravi putra kebanggaan Mommy, kak Erik putra kebanggaan Aunty, Kak Tian kebanggaan Bunda. Wildan juga ingin menjadi kebanggaan Mami, seperti ketiga kakak Wildan yang hatinya sangat baik." Wildan memeluk Reva, Viana tersenyum mengusap kepala Wildan.


"Kamu juga kebanggaan kita semua, Wildan selalu mengalah, Wildan yang selalu menerima disalahkan, kamu kesayangan kami. Kita semua bangga memiliki Wildan."


"Wildan selalu mementingkan diri sendiri, menutup mata telinga dari sekitar Wildan."


"Siapa bilang, kamu merangkul Gemal, merangkul Karan. Berarti kamu memiliki hati seperti Papi kamu." Viana menangkup wajah Wildan yang semakin dewasa.

__ADS_1


***


__ADS_2