
Matahari pagi bersinar dengan cerah, langkah kaki berlarian terdengar di pinggir pantai. Asih, Ning dan Raka main sepeda di pinggir pantai.
Vira dan Bella sedang joging pagi mengikuti Tian, Wildan, Ravi dan Erik. Winda dan Kasih memilih duduk santai menggunakan kacamata hitam menikmati matahari.
Para mommy juga jalan santai saling menggenggam, kebahagiaan terbesar bisa kumpul keluarga.
"Mami, Papi." Suara Windy terdengar nyaring.
Reva tersenyum melihat putrinya datang langsung berlari bertekuk lutut di kaki Reva, tangisan Windy terdengar memeluk kaki Maminya.
Bima tersenyum, langsung jongkok mengusap kepala putrinya yang selalu gelisah ingin bertemu.
"Windy kita semua baik-baik saja, kita setiap hari melakukan video call, tapi masih tidak percaya." Reva memeluk putrinya yang menangis sesenggukan.
"Jangan pernah tinggalkan Windy Mam, bagaimana Windy bisa hidup?" Windy menangis sesenggukan mengigat saat dirinya mendapatkan kabar pesawat ada masalah.
Bima menghapus air mata Windy, meminta untuk tenang karena mereka semua sudah baik. Windy langsung melangkah melihat Winda yang berdiri sambil tersenyum.
Windy memeluk adik kesayangannya, sungguh Windy tidak sanggup jika sampai terjadi sesuatu kepada Winda.
Steven memeluk Windy dan Winda, dua wanita yang sangat disayanginya. Winda memiliki banyak cerita di dalam perjalanan cinta Steven Windy, sejak Winda kecil Stev sangat menyayanginya.
"Winda sudah sehat, jangan menangis." Winda menghapus air mata kakaknya.
"Kami sangat menghawatirkan kamu Win, tapi kita tidak bisa langsung pergi." Steven mengusap kepala Winda.
"Jangan selalu mengkhawatirkan Winda, sekarang Winda sudah besar, tidak akan menangis meminta uang jajan. Winda sudah dewasa kak, Winda sangat menyayangi keluarga kita." Winda memeluk Windy dan Steven.
Wira tersenyum menatap Winda, dia hanya diam saja memeluk Kakek neneknya menyapa keluarga yang lainnya.
"Hei bule kecil, ayo peluk Aunty." Winda menatap Wira yang langsung memeluknya.
"Aunty wanita kuat, harus selalu kuat." Wira tersenyum.
Seluruh keluarga sudah berkumpul, duduk diam dengan pasangan masing-masing. Bella, Winda dan Vira juga sudah saling rangkul duduk bertiga.
Wildan duduk santai di atas mobil mewah yang dikendarai oleh Karan, menatap air pantai, melihat gelombang yang menggulung.
"Kapan rencana pernikahan Tian?" Bisma menatap putranya yang duduk bersama Wildan.
"Tian mengikuti saran keluarga tertua saja Ayah, apapun keputusan kalian yang terbaik untuk kami." Tian tersenyum.
__ADS_1
"Bella, bagaimana pendapat kamu?" Bisma mencari keberadaan putrinya yang ternyata ada jauh di depan.
"Kalau bisa besok Ayah." Vira dan Winda langsung menjawab bersamaan.
"Kamu sudah tidak sabar lagi tunangan Vira? Bella yang ditanya bukan kalian berdua." Viana menggelengkan kepalanya.
"Hanya mengungkapkan perasaan Bella yang terpendam mommy, kalian tidak pengertian sekali." Winda membela Vira.
"Baiklah, besok pertunangan Winda dan Yusuf." Reva tersenyum menatap putrinya yang langsung berdiri kaget.
Vira dan Bella tertawa, Billa yang sedang mengendong Embun juga tertawa diikuti senyuman Embun.
"Em jangan senyum nanti aunty gigit kamu." Winda menatap tajam Embun, tapi mendapatkan tatapan balik dari Elang.
"Hanya bercanda Elang, mata kamu memang mirip burung." Winda langsung duduk kembali.
Bisma langsung bicara jika pernikahan sudah siap delapan puluh persen, hotel yang mereka datangi menjadi tempat pesta, undangan juga sudah tersebar.
Semua persiapan sudah dilakukan tanpa sepengetahuan keluarga, Bisma meminta bawahnya untuk mengawasi persiapan.
Keterlambatan datangnya Windy dan Steven juga karena masih mengurus undangan, menyiapkan semuanya.
"Persiapan tidak kami batalkan, hanya saja pindah hotel karena itu kita tinggal di villa." Jum tersenyum.
"Kenapa tidak memberitahu kita Jum?" Viana mengerutkan keningnya.
"Maaf Vi, bukan kami tidak ingin melibatkan kamu dan Reva, tapi aku ingin kalian fokus untuk kesehatan putri kalian. Aku dan Jum juga ingin memberitahu dari awal kepada Wildan, tapi keadaan Yusuf juga butuh perhatian." Bisma merangkul Jum.
"Ravi ada Uncle, kenapa tidak melibatkan Ravi? kak Tian sahabat juga saudara Ravi, Bella adik Ravi. Uncel dan bunda juga seperti orang tua Ravi, kenapa tidak bicara?" Ravi menundukkan kepalanya.
"Benar ayah, Bella dan Tian pernikahan terakhir generasi kami. Erik juga ingin terlibat untuk kebahagian mereka, Erik sebagai adik ipar juga tidak dilibatkan." Erik menatap sedih.
"Maafkan Bunda, jika kalian kecewa Bunda akan meminta persiapan di hancurkan kembali untuk membuat yang baru." Jum menatap Bisma untuk membuat ulang bersama yang lainnya.
Semuanya langsung teriak kaget, Reva dan Viana langsung tertawa. Jum jika bicara langsung mencabut jantung.
"Jangan Jum, sudah kita lanjutkan saja yang tersisa." Viana menggelengkan kepala.
"Jum harus bagaimana? kalian kecewa sama tindakan aku dan Bisma." Jum menatap sedih.
"Bukan seperti itu Jum, bagi kami bahagianya Tian Bella juga sangat penting. Kita saudara tidak ada yang salah dan benar." Reva tersenyum.
__ADS_1
"Ya sudah maaf, Bunda sayang kalian semua." Jum tersenyum.
Septi mengirimkan pesan ke ponsel masing-masing susunan acara pernikahan yang diadakan pagi ijab kabul, langsung lanjut pesta karena malamnya ada pertunangan Wildan dan Vira.
"Ada yang harus ditambah Septi? makanya jika Jum meminta bantuan kamu harus kasih aku bocoran, sebenarnya kamu sahabat Jum atau aku." Reva menatap tajam Septi.
"Reva sudah tua masih saja ambekkan." Septi melihat layar ponselnya.
Vira dan Bella saling tatap, langsung melihat Winda yang sudah berdiri. Bukan hanya Winda, Yusuf juga berdiri kaget.
Wildan dan Karan menatap Yusuf yang terlihat tidak mengetahui apapun, jika pertunangannya digabung dengan Vira Wildan.
"Winda juga Vira kalian siap bertunangan tidak? jika tidak siap silakan ditolak." Bima menatap Winda dan Vira yang hanya diam.
"Pertanyaan yang sama berlaku juga untuk Wildan dan Yusuf, kalian berdua siap tidak? jika belum siap silahkan menolak." Bima menatap ke arah Wildan Yusuf.
"Berikan Yusuf waktu bicara dengan Winda." Yusuf menundukkan kepalanya langsung melangkah pergi.
Vira memukul paha Winda, meminta mengikuti Yusuf.
Winda menelan ludah pahit, langsung mengaruk kepalanya melangkah pergi berlari mengejar Yusuf yang berjalan ke arah pantai.
Semuanya menatap Wildan dan Vira, keduanya masih diam saling tatap. Karan menyenggol pundak Wildan membisikkan jika lelaki harus tegas juga yakin dengan keputusan, bukan banyak pikir.
Vira menundukkan kepalanya, menunggu jawaban Wildan berharap Wildan seperti Yusuf untuk berbicara dulu, karena mereka belum sempat membahasnya.
"Wildan siap Papi, Wildan siap melamar Vira." Wildan bicara santai, tapi tangannya panas dingin.
Bima dan Rama langsung tersenyum, Viana dan Reva langsung berpelukan seakan-akan tidak membutuhkan jawaban Vira.
"Alhamdulillah akhirnya kita bisa menjadi besan." Viana berjabatan dengan Reva.
Senyuman semua orang terlihat bahagia, berbeda dengan Vira yang pucat.
"Tunggu, Vira belum mengutarakan pendapat." Vira menatap tajam, langsung berdiri.
Semuanya hening menunggu Vira yang mulutnya terbuka menutup lagi.
"Katakan saja Vira sayang jangan ragu, kami menerima keputusan kamu." Rama tersenyum.
***
__ADS_1