SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PERASAAN CINTA


__ADS_3

Akhirnya Ravi dan Kasih bernafas lega, dua keluarga bisa bertemu dan sepakat untuk mempercepat pernikahan, tidak terbayangkan betapa bahagianya Ravi, setelah proses menaklukkan hati Kasih, melewati restu Cinta, Tama juga ibu Kasih.


Sudah cukup Ravi merasakan panasnya kobaran api, pengapnya di dalam tanah, menahan lapar dan haus, merasakan sakitnya khawatir, merasakan cemas. Ravi tidak ingin menunda lagi, selama ini dia mudah mendapatkan apapun dan mudah juga melepaskannya, kali ini Ravi akan mempertahankan wanitanya seperti Ravi menjaga keutuhan keluarganya.


Tangan Ravi menyambut tangan Kasih, memasangkan cincin sebagai pengikat, dan menunggu hari di mana Ravi mengucapkan ijab qobul di depan keluarga, penghulu, sahabat, dan dunia, jika dirinya akan segera melepaskan masa lajang.


Kasih juga merasakan kebahagiaan yang Ravi rasakan, lelaki yang pernah dia temui saat kecil, lelaki pertama yang menyatakan cinta dan ingin menikahinya, akhirnya mereka di pertemukan dan siap meniti kehidupan berumahtangga.


Lamaran sederhana sukses, karena terlalu bahagia Ravi tidak banyak bicara dia seakan sedang mempersiapkan diri, atau lebih menahan diri agar tidak kesenangan karena masih ada satu langkah lagi, barulah dirinya dan Kasih bisa berjalan bersama.


Selesai lamaran Ravi berjalan untuk pulang ke rumahnya, langsung melihat isi ponselnya dan langsung berlari kencang membuat yang lainnya kebinggungan.


"Kenapa Ravi!" Erik teriak dan langsung ikut berlari.


"Ada hantu?" Winda langsung berlari, diikuti yang lainnya.


Para orang tua saling pandang dan langsung berlari kencang juga, karena ada jalan sepi di sana rumah sedang kosong.


Ravi langsung masuk ke rumah Uncle Bima, semuanya langsung ikut masuk, pintu kamar Wildan di gedor, tapi tidak ada respon Ravi mendobrak, dibantu oleh Erik dan Tian.


Saat dorongan terakhir, tiga pria terlempar ke dalam kamar. Wildan langsung keluar dengan rambutnya yang masih basah, Vira terdiam menatap betapa tampannya Wildan setelah mandi.


"Mbak, tolong ambilkan piring." Wildan duduk di ruang makan, Vira langsung berlari ke dapur mengambil piring.


"Wildan, kamu baik-baik saja?" Ravi langsung duduk di depan Wildan yang terlihat santai.


Para orang tua cepat masuk, Reva langsung memeluk Wildan, menciumi seluruh wajahnya, perlahan air mata Reva menetes.


"Kenapa baru pulang, marah ya sama Mami?"


"Mi jangan menangis, Wildan tidak suka."


"Iya ini sudah berhenti, maafkan Mami jangan marah ya Sayang?"


"Mami, Wildan tidak mungkin bisa marah, Wildan hanya ada perkejaan, dan di sana tidak ada jaringan."


"Tapi Ravi bisa?"


"Karena menggunakan jaringan khusus Mami, Wildan mau makan dulu ya."


Bima mengelus kepala putranya, mencium rambutnya meminta Reva membiarkan Wildan makan. Semuanya meninggalkan Wildan hanya ada Vira yang menemaninya tapi Wildan tidak menyadarinya.


"Mbak, tolong Wildan ambilkan minum?"


Cepat Vira ke kulkas mengambilkan minum, Wildan menatap tajam saat melihat Vira. Dia langsung duduk di depannya sambil tersenyum.


Tanpa memperdulikan Vira, Wildan menyelesaikan makannya dan menghabiskan minumnya. Vira langsung membereskan bekas makan Wildan.


"Wildan, kapan kita bisa seperti ini, hidup serumah dan menjadi suami istri?"

__ADS_1


"Bukannya kamu menyesal mencintai aku, aku harap kamu menyerah Vira."


"Vira salah, maaf." Vira menahan lengan Wildan yang ingin pergi.


"Vir jangan pernah berpikir untuk menikah muda, apalagi dengan lelaki lebih muda dari kamu, pikiran aku masih jauh, biarpun ada bukan kamu orangnya."


"Mommy dan daddy, saat Daddy menikah juga masih 18tahun, nyatanya Daddy bisa memimpin Mommy, membina rumah tangga bahagia, mengapa kita tidak bisa Wil?"


"Karena aku tidak mencintai kamu?"


"Mengapa, kurangnya Vira apa?"


"Kamu tidak ada kurangnya, kamu sangat sempurna tapi aku yang banyak kekurangan, aku tidak yakin pada diriku sendiri." Wildan langsung melangkah pergi, Bima mendengarkan percakapan keduanya.


Wildan sama seperti dirinya dulu, akan menyesal di akhir tapi setidaknya Bima mendapatkan kesempatan untuk memiliki Reva.


"Vira," Bima menghapus air mata Vira.


"Papi, Wildan jahat sekali."


"Jangan menangis sayang, Wildan tidak bisa ditaklukkan dengan kata-kata, kamu harus bahagia, menikmati masa muda kamu, dan saat dirimu sibuk dia baru merasakan kesepian."


"Bagaimana jika Wildan jatuh cinta dengan wanita lain?"


"Wildan mirip Papi, dia bahagia melihat kamu tapi menyalahkan dirinya yang takut tidak bisa mengimbangi kamu."


Vira langsung berlari pergi, Viana menepuk bahu Bima. Vi mendengar pembicaraan Bima dan Vira. Sejak lahir Bima dan Viana sepakat mengikat anak mereka walaupun keputusan tetap ada di tangan keduanya.


***


Suara Ravi kembali dia memeluk Wildan yang masih marah-marah.


"Balikin?!"


"Galak banget Wil," Ravi mengembalikan gelang Wildan.


"Dasar pencuri, kamu tidak takut masuk neraka dari kecil suka mencuri."


"Ya Allah Wildan jangan diungkit, mencuri milik keluarga selama tidak membuat kerugian tidak masalah." Ravi cengengesan.


"Itu gelang apa Wil?" Erik mengambil gelang tapi langsung di lempar, tangan Erik mengeluarkan darah.


Ravi langsung tertawa, Billa yang tidak jauh dari Erik terkena pisau. Cepat Erik mengambil tangan Billa yang sudah menangis, Tian langsung cepat mengambil kotak obat.


"Hati-hati Rik, kamu melukai adikku!" teriak kesal Tian, menghapus air mata Billa.


Wildan mengambil gelangnya langsung memasangkan di tangannya. Reva sudah mengomel melihat keributan, apalagi Billa sampai terluka.


"Serahkan gelangnya sekarang Wildan?"

__ADS_1


"Tapi mi, ini bukan salah Wildan."


"Kamu membahayakan adik kamu." Reva langsung menyita gelang Wildan.


Ravi terpingkal-pingkal tertawa melihat Wildan, dengan tatapan marah Wildan langsung lompat menyerang Ravi. Keduanya langsung berkelahi tanpa ada yang melerai, keduanya berhenti setelah acak-acakan.


"Terima kasih Wildan?" Ravi memeluk gemas Wildan yang masih marah.


"Aku tidak akan memberikan kepercayaan lagi, kamu sudah berjanji akan menjaga keluarga ini tapi kamu membuat Mami menangis?"


"Iya maaf aku juga tidak ingin di culik, tapi saat kamu merasakan cinta, barulah kamu tahu yang namanya bertindak tanpa berpikir."


"Tapi kamu tahu itu bahaya, kamu hampir mati bodoh!"


"Ada kamu, Tian, Erik, kak Tama yang akan mencari aku, jika aku tiada ada kamu yang akan menjaga keluarga kita."


"Aku bisa menjaga tapi tidak bisa mengantikan kamu dia hati yang lainnya, bisa tidak apapun yang terjadi, beritahu yang lainnya. Percumah kita membentuk tim untuk keamanan tapi di saat yang mendesak kita kehilangan jejak."


"Iya iya, maafkan kak Ravi ya Wildan, kamu pasti yang paling ketakutan, bisa mendengarkan tapi tidak mengetahui keberadaan aku, tidak tahu harus memulai pencarian dari mana?" Ravi memeluk Wildan, semua orang berpikir Wildan tahu keberadaan Ravi tapi dalam diam, Wildan mati-matian bahkan menangkap seluruh orang yang muncul di komplek pada hari hilangnya Ravi dan Kasih.


"Kamu semakin besar semakin pemarah."


"Awas ya, jika sampai mengulanginya lagi."


Ravi mengacak rambut Wildan, langsung memeluk Viana yang juga memeluk Wildan.


"Maaf ya sayang, Mommy tidak bisa membantu Wildan."


'Yang terpenting kak Ravi sudah kembali, Mommy jangan sedih lagi."


"Kalian semua jangan pernah menghilang, meninggalkan tanpa pesan. Kejadian Ravi kita buat pelajaran agar kita semakin kompak."


Viana menangis langsung memeluk Rama, meminta maaf karena pernah pergi.


"Maafkan Vi ya hubby, dulu pernah pergi, pasti Hubby sangat terpukul dan hancur, hanya hitungan hari Ravi menghilang tapi Mommy hampir gila."


"Iya Sayang, dulu dunia hubby runtuh, hancur, bahkan korbannya hubby sendiri, selama lima tahun Hubby hidup dalam kematian, dua hal yang hubby tunggu, kamu kembali dan hubby yang pergi untuk selamanya."


"Maafkan Mommy."


"Untuk kalian semua, terutama kamu Ravi yang akan segera berumah tangga, ingatlah apapun masalah kalian bicarakan, jangan menggunakan emosi juga keegoisan."


"Iya Daddy, Ravi akan selalu mengingat semua pesan Daddy."


"Wildan kemari sayang, maafkan kami yang tidak bisa memahami isi hati kamu." Rama memeluk Wildan, dan melihat luka bakar di punggung Wildan.


"Kamu sekuat kak Bisma, biarpun sakit tetap bertahan. Dia kasar, egois, pemarah tapi berurusan dengan cinta, dia berubah menjadi lelaki penurut. Suatu hari kamu akan merasakan indahnya cinta."


***

__ADS_1


__ADS_2