
Langkah Wira memimpin adik-adiknya, suara Karan terdengar membuat Wira tertawa. Langsung menekan lift meminta adiknya masuk semua.
"Kak liftnya ada kapasitas." Ning menunjuk larangan.
"Sebesar apa tubuh kamu Ning, cepat masuk." Asih melotot, menarik tangan.
Pintu ruangan terbuka, Tama mengatakan anak-anak menyusul. Tian sudah berlari ke lantai atas karena twins V ditinggal sendirian.
Wildan mengaruk kepalanya, mengatakan para anak-anak akan segera muncul membuat semuanya berdiri.
Delton masih binggung masih ada anak-anak lagi, berapa besar keluarga mereka sehingga ada sebutan anak-anak.
Pintu terbuka, Ning langsung lompat ke atas gendongan Pipinya. Tama menatap putranya tidak ada bersama anak-anak.
"Tiar di mana?"
"Dede Tiar masih bobok." Ning tersenyum.
Wira mendorong pintu melangkah diikuti oleh adik-adiknya, senyuman Delton terlihat menatap anak-anak tampan dan cantik.
Arum dan Bulan berteriak kuat, langsung berlari. Asih dan Em kebingungan mereka tidak tahu ingin bersembunyi di mana.
Ning masuk bersama Tama, suara teriakan Ning terdengar langsung menangis histeris memeluk pipinya mengatakan ada hantu.
Delton tersenyum langsung mendekati Asih, tatapan Rasih langsung tajam melihat Delton mengulurkan tangannya.
Tendangan Em langsung melayang, tapi Em yang terpental. Asih juga memukul, tapi langsung meringis merasakan tangannya sakit.
Bulan dan Arum membantu Em berdiri, tatapan Bulan tajam melihat wajah Delton yang menyeramkan.
"Kalian cantik sekali." Delton berjongkok di depan anak-anak.
Bulan mengambil tongkat Delton, ingin memukul kepala. Suara Tian terdengar menghentikan Bulan.
"Ayah selalu mengatakan hormati orang yang lebih tua."
"Entu yah."
"Dia bukan hantu sayang, tapi kakek Delton." Tama tersenyum meminta anak-anak berhenti.
"Kakek Asih ganteng, kakek Em juga, kakek Lan juga, kakek Rum juga ganteng, kenapa kakeknya kak Lin jelek?" Asih langsung melangkah menarik kursinya diikuti oleh adik-adiknya.
Senyuman Delton terlihat, Wira meminta empat pria berbadan besar menyingkir. Menarik meja agar lebih panjang lagi.
Menyusun kursi adik-adiknya, meninggikan agar sejajar dengan meja.
"Wow, ternyata kalian cucu Prasetya dan Bramasta." Delton duduk menatap anak-anak yang sudah duduk Ravi.
__ADS_1
Tian menggendong dua bayi, menyerahkan kepada Vira dan Wildan. Tiar juga duduk di kursi dengan wajah bantal masih mengantuk.
"Kakek Delton mirip hantu." Em menatap tajam.
"Em pernah lihat hantu?" Ning menatap Em yang duduk di depannya.
Embun menunjuk ke arah Delton, lalu melihat Denta yang bajunya sangat seksi.
"Bayi lucu, boleh aku menggendongnya?" Delton tersenyum, dia sudah lama tidak melihat bayi.
Vira berjalan mendekati Delton, menyerahkan putrinya yang terbangun. Mata Vio melotot,. terdiam melihat wajah Delton.
"Bisa trauma Vio melihat wajah Delton." Reva menahan tawa melihat Viana yang setuju.
"Kamu takut sama kakek, maafkan wajah buruk rupa ini." Senyuman Delton terlihat, mengusap air matanya.
Kursi Arum mendekati Delton, menutupi wajahnya menggunakan topeng lucu yang baru Virdan gambar untuk dirinya.
Wajah Vio kembali tenang, perlahan memejamkan matanya ingin tidur kembali.
"Dagan tatut, wajah delek Aty baik." Rum tersenyum melihat Delton yang melepaskan topengnya.
Tangan Delton mengusap kepala Arum, tersenyum melihat anak kecil yang mengerti perasaannya.
"Siapa ayah ibu kamu?"
Delton menganggukkan kepalanya, dia mengerti Arum sangat pintar karena dia putrinya Armand, juga cucunya Bima.
"Mereka adik kamu?" Delton menatap Vio yang sudah tidur.
"Iya, Rum duga punya kakak, Dede Rum dua, kakak Rum duga dua. Rum di tegah."
( Jujur aku geli menulis bahasa anak-anak, tapi nanti diprotes pembaca Arum satu tahun bicaranya lancar padahal author malas bahasa anak-anak, jangan ada yang ketawa.hahaha. Lanjut lagi.)
Senyuman Delton terlihat, meskipun bahasa Arum belum begitu jelas, tapi dia sangat mengerti maksudnya Arum yang menjelaskan saudaranya.
"Ar, kamu memiliki banyak anak ya?" Delton tersenyum.
"Dia anaknya Wildan dan Vira, twins V namanya Viona dan Vania juga kakak mereka Virdan." Ar menunjuk ke arah Virdan yang sudah menarik kursi Arum untuk kembali ke posisi awal.
Sekarang Delton baru tahu, kakak yang Arum maksud sepupunya. Arum hanya bersaudara dengan Arwin.
"Kalian anak cantik tidak ingin memperkenalkan diri?"
"Aku Rasih, anaknya Daddy Ravi dan Mommy Kasih ...."
"Aku Em ...." Suara Em teriak terdengar memukul Asih yang mendorong kursinya menjauh.
__ADS_1
"Asih belum selesai bicara, kamu bisa diam tidak. Biarkan Asih yang menjelaskannya." Rasih memukul meja marah.
Delton mengusap dada, anak kecil yang sudah emosinya pasti membuat stress orang tuannya.
"Em juga punya mulut, bisa menjelaskan sendiri." Em menatap tajam.
"Stop ... stop ... stop. Biar Ning yang jelaskan." Senyuman Bening terlihat.
Asih dan Em turun dari kursi, mendorong kursi Em keluar pintu dan menutupnya.
"Siapa lagi yang berani bicara?" Asih menatap tajam.
"Kak Asih duluan, nanti sisanya Em."
"Cerewet." Rasih tersenyum manis, melihat Ning cemberut menarik kursi hello Kitty.
Delton menatap Rasih yang terdiam, dia lupa sudah batas mana bercerita. Menatap Em yang harus melanjutkan.
Wira meminta semuanya duduk diam, terutama Asih dan Em yang selalu bertengkar.
"Kakek sudah mengenal Asih, dia adik dari Raka Prasetya. Dia Embun adik Elang putra dan putri Uncle Erik dan Aunty Billa. Dia Bulan Bintang putrinya Aunty Bella dan Uncle Tian. Dia Bening dan Tiar putra putri Aunty Binar dan Tama. Kami semua cucu keluarga ini." Wira menjawab singkat tidak sesuai harapan Asih.
"Lalu kamu putranya Steven dan Windy, wajah kamu tampan sekali. Bagaimana rasanya memiliki banyak adik? mereka akan terus tumbuh dan membuat kamu pusing."
Wira tersenyum, Delton benar adik-adiknya akan segera tumbuh. Harapan terbesar Wira bisa terus tumbuh bersama adik-adiknya meskipun membuat pusing.
Setiap anak memiliki karakter masing-masing, tapi satu yang pasti mereka saling melindungi.
"Kakek mengajari kami semua untuk saling menjaga, jika satu salah jangan marah tapi rangkul ke jalan yang benar. Sesama saudara kandung saja banyak perbedaan apalagi satu keluarga besar, kita tidak bisa mendengarkan satu kepala tapi puluhan kepala dengan sikap buruk dan baik." Wira tersenyum menatap adik-adiknya.
"Kamu pintar seperti Steven."
"Adik-adikku juga pintar kakek, kami semua terlahir pintar. Tidak ada anak yang bodoh di dunia ini yang ada hanya kurang." Tatapan Wira sangat dewasa, membuat adik-adiknya tersenyum.
Vira mengambil Vio, Delton dan anak-anak akan segera pergi karena sudah hampir subuh, tidak menyangka jika mereka mengobrol sangat lama.
"Kakek, aku menyayangi kak Lin sebagai kakak kandung. Anggap aku juga cucu kakek."
Delton memeluk Wira sangat erat, semua orang meminta Delton untuk melupakan Lin hanya Wira yang memintanya mengingat mereka.
"Kami tidak takut cu?"
"Kenapa harus takut? kita keluarga. Wira memiliki banyak keluarga." Senyuman Wira terlihat meminta adik-adiknya mengucapkan selamat tinggal dan berharap mereka bertemu lagi.
Semuanya melambaikan tangan, Delton langsung berlutut dan bersujud mengucapkan terima kasih.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara