SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 DOKTER ANAK


__ADS_3

Suara ribut bakar-bakaran masih terdengar, tatapan Lin tajam melihat Asih yang memakan marshmellow. Dirinya lelah membakar di depan bara, sedangkan Asih enak mengunyah.


"Rasih, kak Lin yang bakar ...."


"Asih yang makan, ini enak kak Lin. Jika mau coba saja." Senyuman Rasih terlihat.


Lin menghela nafasnya, melanjutkan acara bakar marshmellow. Raka dan Elang juga membantu baru membawa ke meja untuk makan bersama.


"Wira, kamu mau tidak." Lin mengusap kepala adiknya.


"Nanti saja, Wira mengantuk." Tangan Wira masih sibuk bermain game.


Lin menyuapi mulut adiknya yang berteriak main bersama Erwin, keduanya sama cocoknya soal game.


Bukan hanya Erwin dan Wira, ada Erik dan Ravi yang teriakannya lebih besar. Empat orang beradu mulut sampai saling mengutuk.


"Kak Win, mau tidak?"


"Panggil aku Uncle, soalnya aku bukan kakak kamu." Erwin masih sibuk menekan handphonenya.


Wildan muncul membawa putrinya yang belum ingin tidur, menyerahkan kepada Papinya yang sedang berbicara dengan Virdan dan Erwin.


"Kenapa Vio belum ingin tidur?" Bima mencium pipi Vio.


"Vani juga matanya masih besar, telinganya bisa mendengar teriakan empat orang yang sibuk bermain.


Suara tawa terdengar, Bulan memukul bundanya. Dia tidak ingin tidur, tapi terus dipaksa tidur.


"Makanya Bella jangan emosian, turun ke anak kamu." Jum menggelengkan kepalanya melihat tatapan mata Bulan tajam.


"Kasih ambilkan minun, haus." Suara Ravi teriak tidak dihiraukan oleh Kasih.


"Win, kamu kenapa bisa ada di rumah sakit?" Ravi bicara pelan, menghentikan mainnya menatap Erwin yang meliriknya sekilas.


Kepala Erwin menggeleng, dia hanya bermain-main saja. Erik juga langsung menghentikan mainnya, menatap adiknya yang tidak mengakui apa yang dia lakukan di rumah sakit.


"Billa, siapa dokter yang membantu lahiran Vira?" Erik berteriak kuat melihat istrinya yang masih cekikikan tertawa.


"Erwin, dia yang menyelamatkan twins V." Billa langsung menutup mulutnya, memukulnya pelan menganggap dirinya bodoh.


Semuanya langsung melihat ke arah Erwin, mata Erwin tertutup menghentikan permainannya.

__ADS_1


Kakak iparnya terlalu jujur sampai tidak bisa menjaga rahasia, suasana hening sesaat menunggu respon Erwin.


"Kenapa Billa diam saja? Papa mencari Erwin ke mana-mana. Kamu menutupi keberadaan Erwin." Ammar menatap menantunya yang menghela nafasnya.


Billa langsung meminta maaf, dia awalnya tidak tahu jika Erwin ada di sana. Dirinya juga terkejut, tapi tidak penting siapa status dokternya yang paling penting twins selamat.


Keinginan Erwin tetap diam mungkin ada tujuan tersendiri, selama apa yang Erwin lakukan baik, Billa mendukungnya.


"Maafkan Billa yang tidak jujur, karena Erwin masih ingin bersantai. Billa sudah mengingatkan Erwin untuk segera kembali, sebelum kak Erik tahu, Mama dan Papa marah." Bibir Billa cemberut, menatap tajam Erwin yang tersenyum.


"Erwin juga terlibat di ruangan persalinan Vira?" senyuman Vira terlihat, tidak heran Erwin bisa membedakan antara Vio dan Vani, juga tahu banyak hal soal twins.


"Terima kasih Erwin, kak Wil bersyukur kamu juga membantu lahiran." Wildan tersenyum, mengusap kepala Erwin.


"Kak Wil, Erwin melakukan itu sudah menjadi tugas, lagian aku menyayangi mereka. Seadanya dulu aku bisa melarikan diri melihat Vivi, mungkin tidak ada penyesalan. Erwin ingin menjadi dokter, agar bisa menjaga anak-anak sesuai janji Erwin dulu ...." Handphone Erwin langsung jatuh, melihat ke arah Lin.


"Janji?" Vira, Bella dan Winda berteriak bersamaan.


Mereka tahu Erwin pintar, tapi cita-cita dia bukan menjadi dokter melainkan pencuri.


Erwin ingin sekali menjadi pencuri dan menghabiskan uang orang-orang kaya, tapi takut ditangkap oleh Papanya sendiri.


"Kamu membuat janji dengan siapa Win?" Vira menatap penasaran.


"Kak Win ada janji dengan Erlin."


"Sekarang aku mengingat kamu, She she. Gadis penjual kue keliling yang hampir mati kecelakaan karena menolong orang lain." Erwin menatap Lin yang tersenyum manis.


"Iya itu Sherlin, itu aku Uncle Erwin." Lin tersenyum lebar.


"Kenapa nama kamu Lin? dan kenapa kamu menjadi anak kak Stev? apa ayah kamu menjual kepada keluarga ini?" tatapan Erwin tajam.


Lin langsung duduk, menundukkan kepalanya. Dia tidak dijual juga tidak tahu cara menjelaskan.


"Kak Stev, ayahnya She seorang pemabuk dan suka judi. Dia juga banyak menjual anak-anak jalanan, bahkan She juga hampir menjadi korban. Ayahnya sangat jahat."


"Dia bukan Ayah Lin, Uncle salah paham. Anak-anak yang Uncle selamatkan bukan korban yang diperdagangkan, tapi anak-anak jalanan yang menjadi korban kecelakaan. Kak Erwin sudah berjanji kepada Lin akan menyelamatkan mereka juga mengobati mereka." Suara Lin meninggi melakukan pembelaan.


Erwin menganggukkan kepalanya, dia paham sekarang kenapa dulu sering melihat Lin membawa kue dan membagikan kepada anak-anak jalanan.


"Aku sudah menepati janji, aku ingin menjadi dokter anak. Sebenarnya aku patah hati saat melihat Arum sakit, terasa melihat Vivi. Erwin sudah membuat keputusan." Senyuman Erwin terlihat, mendekati Lin mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Lin langsung menyambut tangan Erwin yang ingin menyalami, bertemu Lin membuat Erwin mengubah keputusan untuk menjadi dokter.


"Lin suka sama uncle sejak dulu." Senyuman Lin terlihat.


Tatapan Steven langsung tajam, melepaskan tangan Lin Dan Erwin. Windy menutup mulut putrinya yang tidak menyadari ucapannya.


"Kamu baru saja menyatakan cinta." Erwin tertawa sangat besar.


"Wow, Septi dan Windy bisa menjadi besan." Reva juga tertawa melihat wajah Steven.


"Jangan sembarangan Reva, Lin masih kecil. dia masih harus sekolah yang tinggi." Suara Steven terdengar dingin.


"Begitulah rasanya Steven saat aku tahu putriku yang masih kuliah, memutuskan untuk menikah. Ingin marah bagaimana? direstui juga bagaimana?" Bima tertawa melihat kegelisahan Steven.


"Lin, tidak boleh bicara seperti itu di depan laki-laki."


"Daddy, Lin dari dulu menyukai Uncle Erwin. Dia baik, tampan, penyayang, juga sangat ceria." Senyuman Lin terlihat, jujur dengan rasa kagumnya.


"Mampus kamu Steven, rasakan." Reva tertawa kesenangan melihat wajah Steven dan Windy.


"Satu-satunya lelaki yang boleh kamu kagumi hanya Daddy, Windy nasihati Putri kamu." Stev memijit pelipisnya.


"Windy tidak masalah, Erwin memang pintar, baik, tampan, juga sangat penyayang. Kita sepemikiran, Mommy juga menyukai Erwin." Windy tersenyum melihat suaminya yang melotot.


Semua orang hanya bisa tertawa melihat Steven dan Windy berdebat, Lin sampai binggung.


"Daddy, Lin boleh dekat dengan Uncle."


"Tidak boleh, Erwin juga seorang playboy. Pacarnya banyak hampir di setiap negara ada."


"Erwin mengikuti jejak kak Steven, siapapun yang menyukai Erwin langsung diterima, suka tidaknya urusan belakang." Tawa Erwin terdengar memeluk Wira yang masih asik main game.


"Terserah kamu, jangan sentuh putriku. Dia tidak masuk daftar kamu, sedikit saja dia terluka habis kamu Win." Steven mengancam Erwin yang cengengesan.


"Daddy, Lin tidak boleh pacaran ya?"


"Tidak! selesaikan kuliah kamu sampai S2, kejar cita-cita. Masalah pacaran urusan belakang."


"Kenapa Ay? Windy tidak masalah Lin pacaran, setidaknya kita membutuhkan penyemangat."


Steven mengacak rambutnya, sekali tidak jawabannya tidak.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2