
Viana hari ini memiliki jadwal jalan-jalan ke mall bersama Jum, dikarenakan Rama sedang ada pekerjaan di luar kota, di hari libur Viana sibuk memanjakan diri di salon dan cuci mata di mall.
"Cepat Jum," teriak Viana yang sudah cemberut didepan rumah, karena Jum sibuk tidak jelas.
"Jum mabuk Non pakai mobil, takut muntah." Jum sudah keluar masuk WC karena mual memikirkan akan naik mobil.
"Ya udah, sana naik kuda!"
"Ada kuda disini Non," mata Jumi berkeliling mencari kandang kuda.
"Bodoh banget Lo Jum, otaknya bukan lagi dikepala, tapi di telapak kaki." Ucap Bisma kesal.
"Apa sih mas, mana ada otak di kaki, tai ayam iya," Jum melangkah melewati Bisma dan masuk ke bangku penumpang menyusul Vi, tapi langsung ditarik Bisma.
"Apa lagi! mas Bisma naksir Jum ya, maaf ya mas! bukan level Jum, biar Jum dari kampung selera Jum tinggi."
"Ciihhhhh..., jijik gue, Lo pikir gue supir Lo, duduk disamping, perempuan kampung."
Viana hanya cengengesan mendengar perdebatan Jum dan Bisma, seperti jerapah sama kancil. Bisma tinggi banget, Jum kecil.
"Kalian berdua, entar jodoh Lo." Ejek Viana.
"Amit-amit bos Vi, kasian keturunan nantik otaknya sengklek." Jawab Bisma.
"Mas Bisma jaga mulut ya, biar gini dikampung banyak yang naksir Jum."
"Palingan aki-aki lintah darat,"
"iiiiisss ngomong nya jorok banget, bawa-bawa lintah darat, Jum takut sama lintah,"
"Sabar Bisma, nanti Lo bisa ikutan gila."
"hahahaha, nanti kalau Jum sudah disulap gue jamin Lo gak bakal berkedip Bisma." Ucap Viana sambil tertawa.
"Bener ya Non," jawab Jum sambil tersenyum mengejek Bisma yang fokus mengemudi.
Viana dan Jum sampai di mall, mereka langsung masuk ke salon yang terkenal melakukan perawatan wajah, kuku, rambut, dan banyak lagi, syukurnya mereka tidak operasi.
Sebenarnya yang melakukan perawatan hanya Jum, Viana sibuk Vc call Rama selama berjam-jam.
Setelah Jum selesai Viana tersenyum manis dan memutari penampilan Jum, dari rambut yang sudah lurus, kukunya yang bersih, kulitnya yang berwarna kuning menampakkan kecantikan alami dari sosok Jumi. Jumi diajari cara memoles wajah agar terlihat lebih segar, Vi juga membelikan keperluan perawatan wajah dan kulit dirumah.
"Sempurna!" ucap Vi.
"Ini beneran Jum non, cantik banget Jum non."
"Kamu suka memuji diri sendiri Jum,"
__ADS_1
Jum langsung berlari memeluk Viana, sambil meneteskan air matanya.
"Jangan nangis! ya Allah bisa rusak perawatan tadi." Teriak Viana.
Jum langsung diam, melihat ke kaca takut wajahnya jelek lagi. Membuat Viana tertawa melihat reaksi panik Jum.
"Makasih ya Non,"
"Sama-sama Jum, ingat rawat diri, hanya ini yang bisa aku kasih buat kamu."
"Jum beruntung mengenal Non Vi."
"Panggil kak Vi."
"Oke Non, maksudnya kak Vi." Jawab Jum cengengesan mengikuti Viana keluar dari salon.
Mereka melanjutkan berkeliling mall membeli baju, tas dan sepatu serta high heels. Jum sampai banyak begong melihat harga yang dibayar Viana
"Kak Vi, mendingan kita ke pasar, disana bajunya murah."
"Nanti saja Jum, mumpung kita disini sekalian saja."
"Tapi mehol harganya kak Vi."
"Sesuai kualitas Jum, sekaligus menghargai karya para desainer, kamu lupa siapa Viana?"
"Aiishh sialan kamu Jum, Viana seorang pembisnis di bidang kecantikan dan fashion, mempekerjakan desainer dari berbagai negara. Karena itu harga bajunya fantastis."
"Wowwww..., Viana pasti hebat sekali, dia wanita karir yang kaya raya ya kak Vi."
Viana langsung memberhentikan langkahnya dengan tatapan kesal ke Jum yang tidak mengenali siapa dirinya.
"Ayo kita makan dulu Jum."
Viana melangkah ke arah restoran diikuti oleh Jum, disana sudah menunggu Reva dan Bisma yang sudah lama menunggu.
Reva langsung memberi salam ke Viana, dan terpesona dengan kecantikan Natural dari Jum, Bisma juga terdiam melihat kearah Jum sambil mengedipkan matanya.
"Hai mbak Reva, sudah lama disini?" tanya Jum sambil tersenyum manis.
"Lumayan Jum," Reva tersenyum melihat Jum nampak cantik, rasa kagum Reva terhadap sosok Viana naik level.
Mereka semua duduk dan makan siang, sesekali Jum dan Bisma berdebat, Reva dan Viana hanya tersenyum.
Reva menyerahkan sebuah berkas, Vi langsung membuka dan membaca isinya, Viana tersenyum menatap Reva.
"Ini baru awal Rev, jangan terlalu berbangga hati, semakin tinggi pohon semakin kencang angin, dan semakin sukses kamu semakin banyak cobaannya. Kegagalan bukan sesuatu yang menjatuhkan tapi sebagai peringatan agar kita lebih berhati-hati." Ucap Reva mengembalikan berkas Reva.
__ADS_1
"Reva paham kak, jalan Reva panjang dan ini sebagai bukti keseriusan Reva dan menjadi awal semangat Reva."
***
Sebuah pas Bunga terlempar berserakan di lantai, Chintya mengamuk atas kebangkrutan Keluarga Utomo.
"Aku akan membalas kamu Viana, kau akan merasa lebih sakit dari yang aku rasakan." Teriak Chintya.
Ayah Chintya mengalami jantungan karena kabar kebangkrutan perusahaan nya, keluarga besar Utomo menyalahkan ayah Tya yang bodoh berani berurusan dengan seorang Viana.
"Aku akan menggunakan senjata terakhir untuk menghancurkan Viana, jika aku tidak bisa memiliki Rama maka kamu juga tidak bisa. Wanita gila dan kejam seperti dirimu tidak pantas mendampingi Rama"
Chintya mengeluarkan sebuah file dan meminta seseorang mengirimkan semuanya kekediaman Rama.
Tya mendapatkan kabar bahwa ayahnya meninggal dunia, keadaan Tya semakin terpuruk kebenciannya terhadap Viana semakin besar.
Chintya menangis histeris menghancurkan seisi kamarnya, dia juga kehilangan kemewahan bahkan tempat tinggal, Tya langsung berlari keluar kamarnya mengambil mobilnya dan pergi menuju suatu tempat.
"Aku ingin Viana mati, dia membunuh ayahku."
"Bukan dia yang membunuh, semua terjadi karena kalian bodoh, mengalahkan Viana sama saja menyerahkan diri. Viana belum turun tangan, dia hanya mengirim gadis ingusan tapi Utomo sudah hancur."
"Bagaimana aku menghancurkannya?"
"Pisahkan dia dari Kebahagiaannya."
"Aku sudah mengirimkan file, bahwa Viana pernah gila. Rama pasti langsung mencampakkannya."
"Semua orang sudah tahu soal itu, sia-sia kamu mengirimkan nya."
"Mengapa kak Mita mengkhianati Viana, bukanya dia pernah menyelamatkan kakak."
"Karena aku ingin mengantikan Viana, menjadi pemimpin LOVER memiliki kekuasaan, aku tidak ingin terus berada dibawah perintah Viana."
"Karena kita satu jalur, kita hancurkan Viana bersama."
"Gadis bodoh! kamu hanya bidak catur, umpan untuk aku melangkah lebih jauh." batin Mita tersenyum licik.
"Aku akan menghancurkan Viana, kematian kekasihku yang tergila-gila sampai rela bunuh diri demi cinta Viana, aku sudah bersusah payah menyembuhkan nya tapi dia merusak rumah tangga yang aku impikan."
"Gadis ini akan jadi umpan agar keberadaanku disisi Viana tetap aman."
"Siapapun yang menang dalam pertempuran kali ini, tidak ada uang merugikan diriku." tawa Mita dalam hati.
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA READER..
__ADS_1