SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 SAD ENDING


__ADS_3

Di tempat lain, Winda diam asik memainkan ponselnya, Yusuf juga fokus melihat jalan. Suara ponsel Winda berbunyi, lama Winda membiarkan baru menjawabnya.


Yusuf melihat ke arah Winda yang memiliki banyak pacar, dengan mudahnya Winda juga memutuskan sepihak, tanpa mempedulikan perasaan orang lain.


"Laki-laki semuanya sama, mulut dan tindakan beda jauh, kalian menyakiti banyak hati hanya karena memiliki wajah yang tampan, memiliki sedikit harta, maka kalian bisa berurusan dengan Winda, merasakan yang namanya dicampakkan." Winda tersenyum sinis.


"Kamu dan mereka sama Win, balas dendam kamu mencerminkan diri kalian yang sama." Yusuf menatap Winda sekilas.


"Salah Winda di mana?" Winda mendekati wajah Yusuf.


Senyum Yusuf terlihat, mengatakan jangan hanya menyalahkan lelaki yang menyakiti, di dalam agama tidak ada yang namanya pacaran, pria baik memilih menghalalkan, bukan berpacaran. Jika tersakiti, atau salah satu merasa dirugikan, bukannya sudah menjadi resiko pacaran, mereka memilih saling mengenal, menghabiskan waktu bersama, tapi tidak memiliki komitmen untuk melanjutkan.


"Win, kamu lebih memilih mengenal dalam ikatan pacaran, atau penikahan, hubungan yang halal."


"Lebih baik pacaran, saat putus tidak menyangkut pautkan keluarga, bisa memutuskan sesuka hati, tapi jika menikah status juga berubah menjadi janda."


"Begitulah pemikiran lelaki yang memutuskan sepihak, coba kamu berpikir indahnya pernikahan karena Allah. Mami Papi kamu, Tante Vi dan Paman Rama, Paman Bisma juga mereka hanya mengenal sebentar, tapi langsung memutuskan menikah."


"Sok tahu kamu Yusuf, Mami Papi lima tahun baru menikah."


"Mereka mengenal lima tahun, tapi tidak menjalin hubungan."


Winda terdiam, tapi tidak perduli dengan ucapan Yusuf tetap memutuskan untuk melakukan apapun yang dia inginkan, wajah cantik juga sebagai wanita karir membuat nama Winda terkenal, bukan karena dirinya Putri Bramasta, tapi karena kesuksesannya sendiri.


Mobil Yusuf berjalan pelan, Winda mengerutkan keningnya melihat ke depan jalan. Segerombolan burung sedang berjalan beriringan di tengah jalan.


"Mereka keluarga?"


"Mungkin."


"Tolong tangkap, Winda minta satu."


"Kamu pikir makanan, biarkan mereka hidup bebas di alam."


Winda langsung keluar dari mobil, mengejar burung yang berada di depan mobil, Winda tertawa melihat burung berterbangan. Yusuf juga tertawa lucu melihat Winda yang tertawa berputar di depannya sambil tersenyum.


"Ya Allah indahnya makhluk yang engkau ciptakan." Yusuf langsung memalingkan pandangannya dari Winda.

__ADS_1


Winda masuk mobil sambil tertawa, meminta Yusuf jalan agar segera sampai. Yusuf menjalankan mobil mengikuti mobil Tian yang berada di depan mereka.


***


Tian sibuk menerima panggilan dari kantor, Bella hanya mendengarkan saja sambil memainkan tabletnya.


"Kak Tian nanti langsung pulang?" Bella menatap Tian yang sudah mematikan ponselnya.


"Iya Bel, ada sedikit masalah di kantor."


Tian menatap Bella yang sudah jauh lebih dewasa, tangan Tian memegang menggenggam tangan Bella, menatap sekilas wajah Billa.


"Maafkan kak Tian sudah meninggalkan kamu, tidak memperdulikan luka kamu Bel." Tian mengeratkan genggamannya.


"Bella mengerti kak, maafkan Bella juga." Bella melepaskan genggaman tangan Tian.


Bella menarik nafas, menatap lelaki yang pernah dia cintai. Bella yakin ini waktu yang tepat untuk mereka berdua mengakhiri hubungan, Bel menepuk pundak Tian menatapnya sambil tersenyum.


Nada bicara Bella sangat pelan, meminta Tian kembali menjadi kakaknya, Tian tidak terkejut dengan keinginan Bella, sangat mengerti jika perasaan Bella sudah berubah.


"Maafkan Bella kak, kita cukup menjadi adik kakak. Sudah saatnya kak Tian menemukan cinta sejati."


"Bel yakin kak, perasaan Bella selama ini hanya sebatas meminta kak Tian selalu untuk Bella, tanpa Bella sadari, sudah mengekang kak Tian."


"Mana baik bagi hubungan kita saja, selama kita masih berhubungan baik kak Tian ikut. Kita kembali seperti dulu hanya sebatas adik dan kakak." Tian tersenyum mengusap kepala Bella, senyuman Bella juga terlihat langsung memeluk lengan Tian.


Bella mengikhlaskan Tian bersama wanita yang dia cintai, Bisma dan Jum juga sudah mengetahuinya, menyetujui keputusan Bella membiarkan Tian menikah dengan wanita pilihannya.


Senyum Bella terlihat, mengikhlaskan memang sulit, tapi demi kakak tercintanya Bella bahagia. Selama ini Tian mengikuti apapun yang Jum ucapkan demi cintanya kepada Bunda, terkadang melupakan keinginannya demi membalas kebaikan keluarga Bramasta.


"Maafkan kak Tian Bel, bukan karena kak Tian tidak mencintai kamu tapi terlalu serakah kak Tian memiliki kamu, sedangkan keluarga kamu sudah memberikan segalanya untuk kak Tian. Biarkan cinta ini terkubur selamanya, tidak akan pernah aku ingat, kamu adikku selamanya adikku. Maafkan kak Tian yang lancang mencintai kamu." Batin Tian merasakan luka untuk mengubur cintanya terhadap Bella.


"Kak, Bella do'akan kak Tian segera menyusul seperti kak Ravi dan kak Erik." Bella tersenyum.


"Amin Bel." Senyum Tian juga terlihat menutupi luka hatinya, cintanya berakhir.


Mobil tiba di panti asuhan, Bella langsung keluar melihat anak-anak berlari menyambut kedatangan mereka.

__ADS_1


Tian tersenyum mengingat keberadaan dirinya dahulu, saat wanita baik memeluknya memberikan dirinya keluarga.


"Bunda, terima kasih sudah mencintai, menyayangi anak yang tidak pernah diinginkan lahir. Bunda sekeluarga bahkan menerima Binar dan anaknya, Tian tidak tahu diri sekali ingin menikah Bella, ini terbaik untuk kita semua Bunda, maafkan Tian." Bastian menghapus air matanya.


Walaupun hubungan cinta Bella Tian berakhir sad ending, tapi hubungan persaudaraan mereka tetap baik.


Tian akan memulai dengan cinta barunya, Bella akan melanjutkan petualangan mencari cinta sejati.


Mobil Yusuf juga tiba, Winda Yusuf keluar tersenyum melihat banyaknya anak-anak yang berlarian menyambut mereka.


Tim langsung membagikan mainan dengan adil, semuanya mendapatkan bagian sama. Winda melihat seorang anak kecil yang hanya berdiri menundukkan kepalanya, Winda berjongkok melihat seorang anak kecil yang tidak bisa melihat.


"Siapa nama kamu cantik?" Winda menggakat wajah, mengelus pipinya lembut.


"Si buta."


"Dunia ini indah tidak kak, aku tidak bisa melihat, bahkan tidak tahu mainan apa yang sedang dibagikan."


"Akan ada hari di mana kamu akan melihat dunia yang kejam ini, bersabarlah." Bella mengusap kepalanya.


Yusuf menggendong, membawanya masuk ke dalam untuk bertemu dengan ibu panti, melihat keadaan panti.


Tian masuk terakhir kali, masih menjawab panggilan seseorang. Cukup lama Tian mengobrol, baru melangkah masuk mengikuti yang lainnya.


Suara tawa anak-anak terdengar, Tian berkeliling bersama Yusuf, sedangkan Bella dan Winda mengobrol dengan seluruh pengurus panti.


Keluarga besar Bramasta akan menjadi donatur tetap, juga bertanggung jawab untuk semua kebutuhan, keperluan panti. Winda sudah meminta Timnya untuk mengurus semuanya, Bella juga akan membiayai penyembuhan mata si buta, Bella memberikan dia nama Bella sama seperti dirinya.


"Kenapa namanya Bella?" Winda menatap Bella yang melangkah mencari Yusuf dan Tian.


"Memang harus siapa? Bello, Bolo, atau bolong sekalian." Bella tertawa kuat bersama Winda.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA

__ADS_1


***


__ADS_2