
Sudah hampir satu minggu sejak kejadian di bangunan bawah tanah, Wildan dan Yusuf juga jarang pulang karena sibuk mengurus perbaikan bangunan mewah yang mereka beri nama museum Flora.
Wildan dan Yusuf juga tahu, jika Fly masih hidup dan berhasil melarikan diri. Wanita jahat yang bahkan membunuh saudaranya sendiri.
Randu masih koma dalam perawatan yang intensif, Dewa terus menemani Randu tidak pernah meninggalkannya sedikitpun.
Dewa merasa sangat bersalah kepada Randu, Wildan juga yang lainnya.
Sejak kejadian di dalam museum Flora, tidak pernah ada komunikasi lagi. Dewa juga malu karena harus membuat masalah untuk orang lain.
Kepulangan Wildan ditunda, karena kesibukannya yang kemungkinan akan selesai cukup lama.
Di mansion Vira, Bella dan Winda jarang berbicara. Mereka sibuk dalam pemikiran masing-masing, masih merasa bersalah karena tidak bisa membedakan Fly baik dan jahat, bahkan kehilangan banyak tim.
Vira menatap dirinya di balik kaca, menatap sedih karena terlalu bangga dengan kemampuannya, padahal dirinya tidak bisa menolong siapapun.
Winda juga terdiam melihat rintikan air hujan, mengingat ucapan Fly soal perjodohan dirinya. Sungguh hal yang tidak mungkin terjadi, Winda tidak mungkin menikah dengan lelaki yang dia sangat benci.
Suara dua orang berbicara terdengar, Vira dan Winda langsung melangkah keluar dari kamar melihat Wildan dan Yusuf baru pulang.
"Wildan, kenapa kamu tidak pernah mengatakan jika Cinta sudah meninggal?" Bella melangkah mendekati Wildan.
"Coba kak Bel ingat kembali, bagaimana respon kak Bella saat pertama melihat wajah kak Tian." Wildan duduk di tangga menatap Bella.
Bella sangat mengigat jelas saat Bundanya menghubunginya, Bella mengobrol bahagia bersama Bunda, Billa. Menyapa Embun dan Elang yang semakin mengemaskan, bahkan kehadiran Ning dan Asih.
Obrolan panjang melepaskan rasa rindu, tapi saat mendengar suara Tian Bella langsung merasakan kesedihan, melihat kakaknya memeluk Bundanya, menyapa keponakannya.
Senyuman Tian terlihat sangat bahagia, Bella tidak kuat jika harus melihat Tian dan Cinta bersama, saat Tian mendekati handphone Bella langsung mematikannya.
"Aku tidak siap melihat kak Tian memeluk Cinta, melihatnya memeluk Bunda. Aku takut Wil otomatis langsung mematikan panggilan karena merasa sakit hati." Bella menyentuh dadanya.
"Tidak ada hal yang harus Wildan katakan, soal Cinta dia meninggal sebelum acara ijab kabul. Pernikahan yang seharusnya menjadi hari bahagia berubah menjadi hari duka." Wildan memberikan sesuatu kepada Bella.
Tatapan mata Bella tajam melihat alamat yang Wildan berikan, senyuman Wildan terlihat.
"Pergilah jika masih ingin berjuang, tapi jika tidak ingin buang saja alamatnya. Kak Bella kejadian masa lalu bukan salah kak Tian, dia hanya anak angkat yang dibesarkan sejak bayi, dia juga mendapatkan cinta yang adil, sungguh egois jika meminta lebih lagi. Melihat kebaikan kedua orang tua kak Bel yang menyelamatkan adiknya membuat Tian malu ingin memiliki kak Bel, cintanya terlalu tinggi." Wildan melangkah pergi.
"Apa aku yang salah mengatakan jika aku tidak mencintai dia? aku egois Wil karena merasakan marah mendengar kak Tian lebih memilih Binar." Bella meneteskan air matanya.
"Akhirnya kak Bel sadar diri, mental kak Tian sedang jatuh mengharap balasan cinta dan ketulusan, menginginkan dukungan agar dia memiliki alasan untuk berjuang. Kenyataan yang kak Tian terima ucapan kak Bel yang mengatakan tidak ada cinta, tidak ada rasa sehingga membuat kak Tian tidak memiliki harapan." Wildan langsung melangkah pergi.
__ADS_1
Vira hanya bisa menatap punggung Wildan, lelaki yang tidak tahu cinta bisa memahami cinta orang lain.
Winda menatap Vira langsung melangkah bersama mendekati Bella, memeluknya erat menangis bersama.
"Kenapa cinta begitu menyakitkan Vir?"
"Kak Tian memang mencintai kamu Bel, lalu bagaimana nasib Vira jika kembali ke kediaman keluarga langsung dinikahkan."
"Tolak saja."
"Tidak semudah itu Kak Bel, membatalkan pernikahan menolak perjodohan sama saja dengan menghancurkan hati Mommy dan Mami." Vira mengacak rambutnya.
Bella tersenyum meminta Vira menerima pernikahan, menjalani pernikahan dengan surat perjanjian. Wildan tidak mungkin menolak, karena dia juga belum tentu menerima hanya saja tidak bisa menolak keinginan Maminya.
"Benar juga, kami bisa membuat kesepakatan."
"Bagaimana dengan malam pertama?" Winda menatap serius.
"Ngampang sekalipun Vira tanpa busana, Wildan tidak akan tergoda."
"Berapa lama pernikahan ini?" Vira mengerutkan keningnya.
"Vira setuju, harus menemui Wildan sekarang."
"Tunggu, nasib Winda bagaimana?"
Vira duduk kembali menatap Winda yang dijodohkan dengan Yusuf, Winda juga tidak berani menolak apalagi lelaki pilihan Papinya.
"Winda tidak ingin setiap hari dia bacakan surat Yasin." Bibir Winda cemberut.
"Lebih baik baca Yasin, dari pada innalilahi." Vira tersenyum.
"Emh, kamu hanya perlu amin, amin, amin dan amin." Bella tertawa bersama Vira.
Tangisan Winda langsung pecah, Bella dan Vira langsung menutup telinganya.
Yusuf keluar dari kamar, langsung menuruni tangga menatap Winda. Vira dan Bella hanya diam saja.
"Ada apa Winda?" Yusuf duduk menatap Winda yang menghapus air matanya.
Winda langsung memukuli Yusuf, tidak ada perlawanan sama sekali. Vira langsung menghentikan Winda yang melukai wajah Yusuf dengan tangannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu menerima perjodohan? apa yang kamu inginkan dari keluarga kami?" Winda menatap tajam.
"Niatnya untuk ibadah Win, aku tidak memiliki tujuan apapun seperti yang kamu pikirkan."
"Amin, kamu munafik."
"Winda, apa pantas bicara dengan orang lebih tua dengan nada membentak. Kamu dari kecil diajarkan sopan santun, jadi jaga sikap kamu." Wildan meminta maaf kepada Yusuf.
"Winda tidak sudi menikah sama dia kak, pokoknya Winda menolak."
"Pulang sekarang, katakan kepada Mami dan Papi jika kamu menolak. Apa kamu butuh bantuan untuk menyampaikannya?" Wildan menatap tajam adiknya.
"Dia punya niat jahat kak sama Winda, bagaimana jika dia menodai Winda, peluk-peluk, cium-cium?"
"Yakin tidak kebalikan kamu yang melakukannya?" Wildan mengerutkan keningnya.
Vira dan Bella menundukkan, menahan tawa jika ucapan Wildan ada benarnya. Winda yang jahil tidak mungkin bisa membiarkan hidup Yusuf tenang.
"Kak Wildan berpikir dia manusia yang taat, ibunya saja berzina dengan seseorang yang beragama, mereka melakukan tanpa ikatan padahal dia berstatus seorang istri." Winda menantang Wildan.
Wildan hanya menggelengkan kepalanya, mengacak rambut Winda yang sudah mulai ingin menangis.
Yusuf hanya tertunduk melangkah pergi, ucapan Winda selalu menyakiti hatinya, tapi Yusuf menerima apapun cacian orang tentang dirinya.
Winda duduk kembali, Vira langsung mengusap punggung Winda, Bella juga memeluk lembut.
"Sudahlah, kita hadapi sama-sama jalan hidup kita." Vira tersenyum.
"Kamu urus saja masalah kamu sendiri Vir, kita tidak ingin ikut-ikutan." Bella menatap Vira yang cemberut.
"Bagaimana aku mengatakan kepada Wildan?"
Winda dan Bella mengangkat kedua bahunya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
***
__ADS_1