SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 HAPPY ANNIVERSARY


__ADS_3

Kasih terbangun melihat kejutan untuk Mami Papi, Ravi masih terlelap tidur. Dalam hati Kasih berdoa, semoga dirinya akan menua bersama Ravi, melewati puluhan tahun bersama melihat anak cucu tumbuh besar.


"Aak bangun, di pinggir pantai lagi ada acara Anniversary."


"Ada acara lagi? 5 menit lagi sayang."


"Ya sudah Kasih tinggal." Kasih berjalan keluar, melihat Mami Papi, Mommy Daddy, Bunda Ayah juga ingin keluar.


"Mami, happy anniversary. Kasih doakan selalu bahagia."


"Terima kasih sayang, ayo kita turun ke bawah."


Ravi melangkah keluar dengan matanya yang masih tertutup, Tian juga baru saja bangun langsung melangkah keluar, bertemu dengan Erik yang masih sempoyongan.


"Aku 2 hari 2 malam tidak tidur." Erik merasakan kepalanya pusing.


Di bawah sudah ramai, Bima Reva tersenyum melihat bunga mawar yang sangat banyak. Wildan mendekat bersama Windy dan Winda, ketiganya memeluk kedua orang tuanya sambil berdoa.


"Mami, Wildan selalu mendoakan Mami Papi panjang umur di setiap doa Wildan. Permintaan Wildan hanya satu, Mami Papi harus sehat."


"Terima kasih sayang." Reva memeluk erat putranya.


"Mami, Papi Winda sayang kalian. Maafkan Winda jika selalu membuat Mami Papi tidak tenang." Winda menangis, Bima mengelus kepala Winda.


"Mami, terima kasih sudah menjadi sahabat terbaik Windy, pelindung Windy, menjaga Windy selalu mensupport. Windy tidak pernah bisa membalas besarannya cinta Mami sama Papi."


"Kamu sekarang seorang ibu Win, kamu tahu rasanya mencintai anak. Siap memberikan nyawa asal anak bahagia." Reva menghapus air mata Windy.


Bima senang melihat ketiga anaknya kompak, sudah ada si kecil Wira yang tingkahnya lebih mirip Winda, juga menantunya yang dulunya dia besarkan sebagai adik.


Winda membawa kue, Bima Reva berdoa langsung meniup kue dari Winda, mencium pipi putri mereka. Windy memberikan rangkaian bunga mawar putih. Wildan memeluk Reva, mencium pipinya, wanita pertama yang sangat Wildan cintai.


"Mami, Wildan tidak pintar merangkai kata, hanya terima kasih sudah membesarkan kami. Papi terima kasih sudah menjaga kami." Bima mencium kening Wildan, tangan Reva berada dalam genggaman Wildan, mengambil gelang dari dalam kantong celananya.


"Mami ini harganya tidak mahal, saat Wildan berada di sini pertama kali. Wil pergi jalan-jalan, seorang anak kecil meminta tolong membeli gelang milik Ibunya, dia butuh uang untuk pengobatan. Wildan membelinya dengan harga yang dia minta, tapi istimewanya gelang yang dia jual berusia ratusan tahun yang sudah dimodifikasi, memiliki harga fantastis. Wildan mencari untuk mengembalikan, saat bertemu ibu itu bilang kamu memiliki seseorang yang kamu cintai, berikan padanya sebagai cinta. Harga termahal bukan sebuah nilai tapi rasa." Wildan memasangkan gelang, mencium tangan Reva.


Billa mendekat, melihat gelang Wildan yang memang barang unik dan hanya ada satu.


"Terima kasih sayang, Mami akan menjaganya sebagai cinta dari kamu. Saat kamu menikah gelang ini akan menjadi milik istri kamu." Reva tersenyum, Wildan hanya menganggukkan kepalanya.


Ravi masih duduk di pinggir pantai melihat keromantisan Uncle dan Mami. Selesai mengucapkan selamat Ravi, Tian, Erik pergi bersantai menikmati pagi.


Wildan melihat Ravi, Tian dan Erik yang sedang asik bercanda, tertawa. Senyum Wildan muncul karena sebentar lagi, mereka akan menangis merengek.


Tatapan mata Wira tajam melihat kelopak mawar, memungutinya memasukkan ke dalam plastik besar. Windy hanya bisa mengelus dada, belum selesai berfoto seluruh bunga sudah Wira ambil.

__ADS_1


'Sayang, lihat anak kamu. Astaghfirullah Al azim." Windy menghela nafas.


Tawa tidak terhentikan melihat aksi Wira yang sibuk sendiri, berkali-kali diminta berhenti masih saja tidak diam. Bima membiarkan cucunya yang lucu berulah.


"Baru satu yang lahir, di tambah anak Tian, Ravi, Erik baru kita kejar-kejaran lagi seperti dulu." Viana tersenyum melihat Wira yang sangat lucu.


Selesai pekerjaannya, Wira menarik bunga yang sudah memenuhinya dua plastik besar, menariknya kuat ke pantai. Ravi mengerutkan kening melihat Wira yang sibuk sendiri.


"Apa yang kamu lakukan Wira?" Ravi melihat yang lainnya juga duduk berjemur, hanya menatap Wira, tidak ada yang membantu atau menghentikannya.


"Paman buta ya? lihat Wira sudah mandi keringat." Wira masih terguling-guling menarik bunga mawar.


Tian tertawa melihat keponakannya yang mengejek Ravi, langsung berdiri mengangkat Wira ke atas melihat penampilannya yang kotor.


"Wira, di larang mengotori pantai."


"Kenapa Uncle? di hotel kemarin ada bunga mawar di air."


"Berbeda sayang, laut memiliki banyak ikan, karang yang hidup di dalamnya. Jangan merusak ekosistem alam."


Wira sedang berpikir, melihat bunganya langsung menyesal sudah lelah membawa bunga. Tian membawa Wira duduk di dekatnya.


"Uncle, Wira tidak punya teman."


"Paman punya ular, Wira juga mau pelihara harimau, dia lucu sekali."


Erik tertawa melihat Wira yang cerdas, mirip seperti Windy yang sok tahu. Kecerdasan Wira dari Daddy-nya, berbeda dengan Mommy yang selalu berada di peringkat akhir.


"Kak Windy sama Tian bisa berbeda ya, satunya cerdas sekali, satunya berada di belakang." Erik meringis, dijambak Windy.


"Wira, minta adik dengan Paman Ravi, biar Wira punya teman." Windy mengedipkan matanya.


"Paman, minta adik, Uncle minta adik." Wira menatap Ravi, Erik Tian.


"Doakan ya Wira, semoga Wira bisa segera melihat adik kecil." Ravi mengelus kepala Wira, langkah kaki Wira berlari di pinggir pantai seorang diri membuat Ravi membayangkan anaknya, Tian, Erik juga berlari bersama.


"Mimpi yang indah." Ravi tersenyum.


"Mimpi terburuk Ravi." Erik langsung kaget melihat ponselnya.


"Kenapa Rik?" Ravi melihat wajah Erik yang mendadak pucat, Ravi juga kaget melihat ponsel Erik. Tian juga ikut melihat, cepat mengecek ponselnya.


"Ravi cek handphone kamu." Tian juga panik melihat ponselnya.


"Aku tidak membawa ponsel, masih tertinggal di kamar." Ravi melihat ponsel Tian.

__ADS_1


Erik sudah berlari kencang, Tian juga langsung berdiri masuk ke kapal. Ravi yang kebinggungan menatap Wildan yang tersenyum berdiri bersama Karan, Gemal dan Yusuf.


Wajah Karan menatap Ravi kasian, menggelengkan kepalanya. Ravi langsung berlari mengejar Tian dan Erik yang berlari kencang.


Vira menatap Wildan yang masih tersenyum, Bella Billa juga melihat ke arah Wildan. Kasih binggung melihat suaminya berlari.


"Kenapa ketiga bocah tua, lari-larian mengalahkan Wira?" Viana merasakan aneh.


"Sebaiknya kita balik ke kapal, melakukan persiapan untuk berlayar." Rama berdiri, menggandeng Viana.


"Wil, kak Yusuf balik ya. Kalian hati-hati di jalan." Yusuf pamit bersalaman dengan Karan, Gemal juga Wildan.


"Paman Tante semuanya, Yusuf permisi pamit." Yusuf mencium tangan Bima, Rama Bisma juga yang lainnya. Melipatkan tangannya menyapa Viana, Reva, Jum Septi, Kasih, Karin.


"Kak Yusuf terima kasih untuk bantuannya. Semoga kita bertemu lagi." Vira melambaikan tangan.


"Yusuf, kenapa tidak bergabung saja? semakin ramai akan semakin seru." Reva tersenyum menatap Yusuf.


"Terima kasih Tante, Yusuf hari ini harus kembali ke kampus."


"Kenapa balik, bukannya jadwalnya di undur lama. Bahkan mahasiswa yang lainnya pulang ke negara masing-masing." Winda menatap tajam.


Yusuf hanya tersenyum, memberi hormat langsung pergi. Winda menatap sinis.


"Kak Yusuf, tapi sepertinya memang harus pergi bersama kita. Bella tadi menggunakan mobil kakak, tapi Billa tinggalkan di supermarket."


"Kenapa ditinggal?" Yusuf terheran-heran.


"Mobil kak Windy lebih keren, baru lagi. Bella penasaran jadinya lupa mobil kak Yusuf."


Yusuf tersenyum, tetap menolak dia bisa menggunakan angkutan umum.


"Sudahlah jangan dipaksa. Mungkin kekasihnya sudah menunggu di hotel." Winda langsung melangkah pergi ke kapal.


"Saya tidak pacaran Winda." Yusuf menghela nafas.


Semua orang kembali ke kapal, Wildan meminta Yusuf bergabung. Akhirnya memutuskan untuk ikut.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA


***

__ADS_1


__ADS_2