SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 KERJASAMA


__ADS_3

Di parkiran Wira masih marah-marah menolak untuk pulang, meminta pengawalnya menjauh.


Mata Elang tajam melihat ke atas gedung, mengucek matanya berkali-kali seperti shock.


"Siapa itu? kenapa warna bajunya mirip kak Sherlin." El menunjuk ke atas, diikuti oleh yang lainnya.


"Mana? mata Asih sepertinya sudah rabun." Mata Rasih melotot melihat ke atas, tapi yang terlihat benda kecil.


"Siapa yang menjaga kamar kak Lin?" Wira langsung berlari bersama Raka, diikuti oleh Elang dan Asih.


Embun keluar lagi dari mobil, melangkah dengan tatapan binggung, Em meminta pengawal membawa Arwin, Arum, Bulan Bintang, dan Virdan pulang lebih dulu.


Em berjalan masuk ke dalam rumah sakit, melihat saudaranya masuk lift. Em menunggu pintu terbuka kembali, bukan menuju balkon atas, tetapi menemui Papanya.


Kaki Wira bergetar berharap dugaan mereka salah, Asih dan Raka mengecek kamar Lin, sedangkan Wira dan Elang menuju ke atas.


Pintu kamar rawat terbuka, Raka menatap tajam pengawal yang menjaga kamar Lin, meminta untuk melakukan persiapan di bawah untuk antisipasi jika terjadi sesuatu.


Asih langsung menghubungi Elang, jika Lin tidak ada di kamarnya.


Di lantai atas Lin menangis sesenggukan, memegang kuenya sambil bernyanyi lagu ulang tahun pertama kalinya.


Wira dan Elang tiba, sungguh terkejut melihat Erlin duduk di pinggir siap untuk jatuh.


Happy birthday Lin, happy birthday happy birthday, happy birthday to me." Lin meniup lilin dan menjatuhkan kuenya.


"Kak, kenapa duduk di situ?" Wira menatap punggung Lin yang menoleh ke arahnya.


"Wira, kamu ada di sini. Maafkan kak Lin yang jahat." Erlin melambaikan tangannya.


Wira meminta Lin turun, mommy Daddy-nya pasti sangat khawatir jika Lin meninggalkan kamar rawat.


"Maaf."


"Kak Lin tidak jahat, tapi orang yang menyakiti kak Lin yang jahat. Ayo turun kak." Elang mengulurkan tangannya.


Lin menggelengkan kepalanya, mengatakan jika Vira dan twins sedang berjuang untuk bertahan, mereka tersakiti karena kesalahan dirinya.


Keluarga Vira sangat baik, tapi Lin melukainya. Mengigat kebaikan Ravi yang membelikan dirinya baju, sepatu, jam tangan bahkan kalung.


Tangan Lin menyentuh lehernya, kalung yang Ravi berikan sudah tidak ada, karena dirinya tidak pantas memilikinya.


"Aku tidak ingin hidup dengan penuh rasa bersalah, Ayah tidak pernah menginginkan aku, hanya ibu yang menyayangi Lin." Bibir Lin bergetar, melihat ke bawah.


Asih dan Raka berteriak, melihat Wira yang berjalan di atas ingin mendekati Lin. Tindakan Wira sangat berbahaya.


"Wira apa yang kamu lakukan? ini bahaya." Lin ingin berdiri mendekati Wira.

__ADS_1


"Tetap diam di situ kak Lin, kita berdua bisa jatuh, karena pagar atasnya sedang diturunkan." Wira berjalan menjaga keseimbangan.


Raka melihat cuaca yang mulai gelap, mungkin akan turun hujan dan angin.


"Kak Raka, ada jadwal pendaratan mendadak di sini karena membawa pasien gawat darurat. Ini berbahaya." Elang melihat Wira dan Lin saling menggenggam.


"Kak Wira, Pagar diturunkan karena ada helikopter yang mendarat secara darurat." Raka berteriak kuat.


Wira menganggukkan kepalanya, dia mengetahui alasan kenapa Lin bisa naik. Wira sudah meminta Embun menghentikan pendaratan darurat.


Lin menggenggam tangan Wira, duduk berdua melihat ke arah bawah. Wira merasa kecewa melihat keputusan kakaknya yang tidak berpikir dua kali.


Mereka sudah menunggu lama sampai Lin bangun, Mommy Daddy sudah berjuang untuk memberikan yang terbaik, bukan hanya pengobatan, tapi juga air mata.


"Jika kak Lin ingin mati, katakan terima kasih kepada mommy, maaf kepada Aunty Vira. Hargai keluarga Wira yang menyayangi kak Lin, kenapa tega sekali melakukan ini?" Wira menatap tajam.


"Aku orang jahat."


"Siapa yang mengatakannya? tidak ada yang berhak menilai baik dan buruknya orang, kak Lin harus hidup untuk menunjukkan kepada orang yang menyakiti kak Lin, jika gadis kecil ini kuat." Wira memalingkan wajahnya.


Kaki Wira gemetaran, karena takut ketinggian. Menunggu Daddy-nya datang lama sekali.


Di depan ruangan Erik, Em mondar-mandir kebingungan menunggu Papanya.


"Embun, kenapa kamu belum pulang? Papa masih ada perkejaan, kamu tunggu di rumah."


"Sayang, rumah sakit ini sudah biasa menerima helikopter untuk membawa pasien darurat."


"Papa, kak Lin ingin bunuh diri."


"Embun, tolong mengerti. Papa sedang sibuk sayang." Erik langsung masuk ingin mengganti bajunya.


Embun memukul pintu ruangan Erik, langsung berlari kencang ke bagian kamera pengawas untuk menghentikan helikopter yang akan segera mendarat.


"Hentikan sekarang."


"Adik kecil."


Em tidak punya banyak waktu, langsung menunjukkan kamera bagian balkon atas. Em langsung melakukan penyiaran untuk menghentikan pendaratan.


Suara Em mengancam untuk membuat siapapun dipecat, membawa nama kedua kakeknya Bima dan Bisma sebagai pemilik rumah sakit.


Bahkan Em memarahi Papanya lewat penyiaran suara, merasa kecewa karena semua orang menganggap dirinya anak kecil yang hanya tahu bermain, padahal semua kakaknya ada di atas dalam bahaya.


"Papa jahat." Em langsung menangis histeris, sampai penjaga harus menggendong Em.


Di depan ruangan operasi semuanya terdiam, mendengar suara Em yang marah-marah mengatakan jika kakaknya Lin ingin bunuh diri.

__ADS_1


Steven menghubungi pengawal yang ternyata sudah bersiap di bawah jika Wira dan Lin jatuh.


Windy, Kasih, Bella, Winda, Steven, Tian langsung berlari kencang memikirkan anak masing-masing.


Erik yang baru ganti baju berlari mencari putrinya yang menangis dipojokan, nanti Asih pasti marah, karena kerjaan Em tidak becus.


Pintu balkon atas terbuka, Steven melihat putranya duduk bersama Lin. Di atas mereka ada helikopter yang perlahan naik.


"Astaghfirullah Al azim, apa ini?" Stev berjalan mendekat.


"Daddy lama sekali, Wira takut."


Lin menatap Windy yang meneteskan air matanya, melangkah mendekati memintanya untuk turun. Semua orang menangis terkejut melihat Lin yang nekat.


"Maafkan Lin."


"Turun sekarang, Mommy marah jika kalian berdua sampai jatuh." Windy menangis menatap Tian dan Stev naik ke atas.


Steven langsung menggendong Wira, meminta yang lain menyambutnya. Tian meminta Lin memegang tangannya agar turun bersama.


Lin menyambut tangan Tian, melangkah perlahan. Steven tidak berani melihat ke bawah, mengingatkan kembali saat dirinya jatuh ke bawah jembatan.


Tangan Lin melepaskan Tian, langsung melangkah menangkap tangan Stev yang gemetaran.


"Jangan takut, genggam tangan Lin."


"Kamu membuat masalah saja, om takut ketinggian."


"Kenapa om naik?"


"Karena kedua anakku ada di atas, nyawa mereka jauh lebih penting."


Lin meneteskan air matanya, melangkah bersama Stev sampai akhirnya turun. Windy memeluk Lin mencubit telinganya secara tiba-tiba.


"Kamu gila."


"Belum." Lin bersembunyi di belakang Stev.


"Berhenti membuat masalah, kembali ke kamar kamu. Ay minta penjaga lebih ketat lagi." Windy menatap suaminya duduk ketakutan, sama seperti Wira yang gemetaran.


"Wira menyesal naik ke atas."


"Daddy juga."


"Lin tidak." Senyuman Lin terlihat menatap dua bule yang ketakutan.


***

__ADS_1


DONE DUA BAB


__ADS_2