
Kasih berdiri di depan kaca, melihat baju pengantin yang berada di belakang. Wajah kasihan sudah di poles, dia hanya perlu menggunakan baju, tangan Kasih menyentuh kaca dan tersenyum lucu melihat dirinya.
"Ravi Prasetya, seadanya kalian tahu siapa aku, pasti kamu akan membenci aku Ravi."
Cinta masuk ke dalam membantu Kasih menggunakan baju kebaya, tatapan mata Kasih tajam melihat Cinta. Keduanya berpelukan, saling tangis. Ibu Kasih juga masuk melihat putrinya yang sangat cantik.
"Kasih jadilah istri yang baik, Ravi akan menjadi pengganti bapak kamu."
"Iya Bu."
Kasih di temani untuk turun ke tempat acara ijab kabul, seluruh keluarga besar berkumpul menyambut hari bahagia. Kasih berjalan melihat seluruh senyuman keluarga besar, Kasih menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Melihat Ravi yang menatapnya dengan tersenyum, wajah tampan Ravi sangat sempurna. Kasih memberikan senyuman paling sempurna dalam hidupnya.
"Maafkan aku Ravi, mungkin setelah pernikahan ini kamu akan membenci aku."
Kedua mempelai sudah duduk, Tama sudah menyambut tangan Ravi. Dengan jantung berdegup kencang, Ravi menarik nafasnya dan langsung mengucapkan ijab qobul.
Tiba-tiba Ravi berhenti karena lupa nama Kasih, perasaan Ravi tiba-tiba tidak enak. Sampai dua kali Ravi mengulang dia berhenti tepat saat menyebut nama.
Ravi menutup matanya, menyakinkan dirinya dan mengucap bismillah.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kasih...." Ravi mengucap dengan lantang sampai semua orang mengucapkan sah.
Kasih tersenyum dengan tatapannya melihat ke arah Cinta, tatapan kebencian terlihat. Ravi tersenyum melihat Kasih mengambil tangannya memasangkan cincin pernikahan, Ravi mencium kening Kasih dan meletakan tangan di atas kepala Kasih untuk mendoakan.
"Kasih, kamu sudah menjadi istri seorang Ravi Prasetya. Aku ingin memperkenalkan kamu dengan keluarga besar aku." Ravi tersenyum menyentuh telapak tangan Kasih untuk mencium tangan kedua orangtuanya.
"Dia Mommy dan Daddy, kedua orangtuaku yang paling aku hormati, nyawa juga harta yang paling berharga." Ravi dan Kasih mencium tangan Rama dan Viana, Rama mendoakan keduanya.
"Dia Mami Reva, wanita yang sangat aku sayangi dia sahabat Mommy dan Daddy, wanita hebat yang melindungi VCLO, Uncle Bima, seseorang yang paling punya pengaruh dalam keluarga kami, dia menjaga Daddy, perusahaan bahkan keutuhan keluarga ini, dia orang yang paling setia." Ravi meminta doa restu, Kasih juga mencium tangan Reva dan Bima.
"Ini salah satu keluarga Bramasta, uncle Bisma Ayah, sahabat, pelindung dan penjaga Ravi, dia orang yang pasang badan untuk melindungi Ravi. Aunty Jum wanita cerewet juga paling lembut yang Ravi miliki."
Kasih meneteskan air matanya, sungguh Kasih sangat terpukul mendengar penjelasan Ravi yang terasa peringatan.
"Akan aku kenalkan dengan keluarga dan sepupu serta sahabatku."
"Ravi tidak usah melucu, Kasih sudah mengenal seluruh keluarga kita." Viana mencium kening Kasih
Kedua mempelai menyambut beberapa tamu yang masih keluarga, pesta akan di adakan di malam harinya.
__ADS_1
"Kak Ravi terlihat tidak bahagia?" Winda menatap Ravi yang hanya tersenyum biasa saja, sangat berbeda dengan Ravi yang biasanya heboh.
"Sudahlah mungkin lagi bertengkar." Billa menatap Kasih yang sangat terlihat dingin.
"Mungkin mereka bertengkar kak Ravi tidak bisa malam pertama karena kak Kasih lagi bulanan." Winda tersenyum.
"Tepat sekali, Winda memang paling pintar." Vira cekikikan.
Seluruh keluarga tertawa bahagia, melihat Ravi dan Kasih yang tersenyum. Banyak anak panti yang datang untuk berdoa bersama menyambut keluarga baru Keluarga Prasetya.
Ravi menyambut banyak orang yang biasanya keluarganya santuni. Kasih hanya diam saja melihat keramaian, Kasih menyambut setiap tangan mungil yang mencium tangannya.
Kasih berjalan bergabung bersama Vira dan lainnya, tawa para gadis terdengar.
"Kak, malam ini kalian bakal ngapain?" Vira senyum-senyum.
"Malam ini ada pesta,"
"Setelah pesta kak."
"Beristirahat Vira."
"Aku Winda bukan Vira,"
"Kak Kasih sekarang pintar melucu,"
Kasih hanya bisa tersenyum mendengar ocehan Vira geng, Kasih hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat omongan Vira dan Winda yang bicara soal dewasa.
"Kasih sayang ke sini, Mommy kenalkan dengan teman Mommy." Kasih langsung melangkah mendekati Mommy, melipatkan tangannya memberi hormat.
"Hai Tante, perkenalkan aku Kasih."
"Kamu cantik sekali, jadi istri yang baik ya nak."
Kasih tersenyum merasakan heran dengan orang yang selalu mengatakan jadi istri yang baik, Kasih pusing mendengarnya.
Setelah sholat zhuhur seluruh keluarga beristirahat karena akan melangsungkan pesta, Kasih tersenyum melihat keluarga Ravi yang sangat taat beribadah, dari yang paling tua sampai yang paling muda.
"Vira, kakak boleh istirahat di kamar kamu?"
"Kamar kakak ada, kenapa harus di kamar Vira?"
__ADS_1
"masih canggung."
"Ya ampun kak, jadi perempuan harus agresif biar cepat punya anak."
"Usia kamu berapa Vira?"
"18 tahun kak."
"Kamu terlalu vulgar bicaranya, seperti wanita usia 30tahun sudah menjadi janda."
"Bukannya kak Kasih sudah biasa mendengar Vira bicara vulgar seperti ini."
Kasih sudah berlalu pergi, berniat mengetuk pintu yang bertulisan Ravi tapi di urungkan. Sebelum masuk kamar, Kasih melihat bingkai foto dari sana Kasih tahu jika mereka sedang berada di rumah utama, terlihat juga seluruh keluarga yang berurutan. Foto setiap keluarga.
"Keluarga yang harmonis," Kasih melangkah pergi, mengetuk pintu dan langsung masuk.
Sudah terpasang foto Kasih dan Ravi, foto Ravi menyatakan cinta, foto cincin pertunangan, bahkan foto saat lamaran sebelum pernikahan.
Kasih langsung berbaring di atas ranjang, tubuhnya sangat lelah dan sendi terasa sudah berpindah tempat.
Ravi langsung melangkah masuk ke dalam kamarnya, melihat Kasih yang sedang tertidur. Ravi duduk di meja rias sibuk memainkan tabletnya, melihat beberapa hal yang cukup membuat Ravi shock.
Perlahan Ravi melihat Kasih yang terlelap dengan tenang, Ravi tersenyum dan mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kasih, kamu mempermainkan aku. Di saat aku tulus mencintai kamu tapi teganya kamu membohongi aku." Ravi tertawa, merasakan lucu dengan nasib pernikahanya.
Ravi membuka bajunya langsung melangkah masuk kamar mandi, berendam dengan air hangat menghilang lelah yang sedang merontokkan tulang belulangnya.
Tanpa ada yang tahu Ravi menyimpan kesedihan akan pernikahannya, impian memiliki rumah tangga bahagia, berantakan bahkan sebelum ijab qobul. Demi menjaga nama baik keluarga Ravi tetap melangsungkan pernikahan, tidak ingin merusak hari bahagia keluarga besarnya.
Suara ponsel Ravi berbunyi, cepat Ravi menggakat panggilan dari Wildan.
[Kenapa tetap menikah kak, kita di permainan, jika keluarga sampai tahu, mereka akan terluka.]
[lebih terluka lagi jika tahu sekarang, biarkan aku mengurusnya Wildan, kamu jangan ikut campur lagi. Biarkan rahasia ini menjadi rahasia kita berdua.]
Panggilan terputus, Ravi hanya tersenyum memejamkan matanya menikmati bau wangi dari sabun.
"Istriku pembohong." Ravi tertawa lucu.
***
__ADS_1
S.M .A . MENGUCAPKAN SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA BAGI YANG MENJALANKAN.
***