SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 INGIN MENJADI IBU


__ADS_3

Di dalam ruangan operasi Ravi tidak berhenti berdoa, menggenggam tangan Kasih. Berusaha menahan air matanya yang ingin keluar.


Billa masuk bersama para Dokter lainnya, melihat keadaan Kasih yang sangat lemas, sebelum mulai Billa berbicara dengan Dokter yang harus fokus kepada tugas masing-masing.


Ravi menatap Billa langsung mendekati Bil yang sedang membaca laporan keadaan Kasih, tatapan mata Ravi memohon penjelasan jika bayi nya bisa selamat.


"Bil, selamat anak kak Ravi."


"Dokter sudah menjelaskan keadaan ibu dan bayi, jika tidak sanggup melihat silahkan keluar. Jangan mengganggu kerja para Dokter."


Ravi menolak untuk keluar, tetap berada di sisi Kasih. Perlahan mata Kasih terbuka. Menyentuh perutnya tidak merasakan lagi tendangan kedua anaknya.


Billa mendekati Kasih, mengusap kepala Kasih untuk kuat, Billa juga menyemangati Kasih.


"Operasi akan di mulai, sudah siap belum?" Billa tersenyum, Dokter lain sudah bersiap di posisi masing-masing.


"Bil, anak kak Kasih?"


"Kami bukan tuhan Kasih yang bisa memberikan kepastian hidup dan mati, tapi kami berjuang memberikan yang terbaik untuk keselamatan kalian, kamu harus kuat, semangat, berdoa dalam hati." Billa langsung mundur, menatap Dokter yang terlihat semuanya berpengalaman.


Kasih meneteskan air matanya, Ravi menggenggam tangan Kasih berusaha untuk tersenyum, berusaha untuk menyemangati Kasih. Ravi siap dengan semua resikonya.


Kasih memejamkan matanya, menggenggam erat tangan Ravi. Dalam hati memanggil kedua anaknya.


"Sayang, dengarkan Mommy jangan tinggalkan Mommy sayang. Rasih nanti nama kamu Asih, jangan tinggalkan Mommy dan Daddy nak, maafkan Mommy yang lalai menjaga kalian." Kasih terus memanggil anaknya dalam hati, mengelus perut besarnya.


Ravi tersenyum menghapus air mata Kasih, baginya sekarang yang terpenting keselamatan Kasih. Mereka bisa memiliki anak lagi.


"Aak maafkan Kasih, gagal menjaga twins." Kasih mengusap wajah Ravi.


"Tidak sayang, tidak ada yang salah, Allah sedang menegur kita. Aak yakin akan ada hari bahagia untuk kita, Allah bisa memberi dan mengambil, tugas kita menjaga, tapi jika Allah mengambilnya kembali, kita ikhlaskan. Suatu yang hilang, akan diganti dengan sesuatu yang lebih luar biasa." Ravi mencium kening Kasih.


"Kasih beruntung memiliki suami yang luar biasa seperti Aak, maafkan Kasih jika selalu menyusahkan Aak."


"Sayang, kamu istri yang selalu Aak ucapkan di setiap doa. Wanita impianku, satu-satunya wanita yang paling aku cintai."

__ADS_1


Billa menahan air matanya, melihat Kasih dan Ravi berusaha saling menguatkan. Operasi sudah berjalan, Kasih tidak merasakan apapun, sibuk bercerita dengan Ravi.


Billa melihat satu bayi di keluarkan, tubuhnya berwarna biru, bibirnya sudah berwarna hitam. Billa langsung mengambil dan mengendong, meminta Dokter yang sudah bersiap untuk berusaha menyelamatkan satu bayi laki-laki.


"Aak, siapa nama anak laki-laki kita?"


"Bukannya kamu sudah menyiapkannya nama."


"Kemarin Kasih sedang marah Aak."


"Namanya Raka Prasetya, kemarin nama yang kamu siapkan siapa?"


"Kasih lupa, intinya namanya Raka. Artinya Ravi Kasih." Kasih mengelus wajah Ravi, air matanya mengalir, Ravi juga meneteskan air matanya.


Satu bayi lagi berhasil dikeluarkan, bayi perempuan yang sangat memprihatikan, keadaan lebih buruk dari yang bayi laki-laki.


Tangisan Ravi Kasih terdengar menyayat hati, tapi masih berusaha untuk kuat. Berusaha untuk ikhlas.


"Aak, Rasih pasti secantik Kasih." Bibir Kasih bergetar, bahkan tubuhnya ikut bergetar.


Ravi melihat sebentar ke arah Dokter, seorang Dokter yang dekat dengan Ravi meneteskan air matanya. Ravi sangat mengerti melihat batas waktu operasi hampir selesai, tidak terdengar sedikitpun suara bayinya.


Ravi mengingat saat pertama dia melihat foto bayinya, bahkan Ravi memimpikan berada di sisi Kasih saat melahirkan, bisa mengelap keringat di kening Kasih, rambutnya berantakan karena dijamak, tangannya terluka karena cengkraman kuku Kasih.


Saat terbangun, Ravi tersenyum mimpi yang sangat indah, dia bisa mendengarkan suara tangisan bayinya, menggendongnya, mengumandangkan adzan.


Sekarang Ravi berada di ruangan operasi, tidak mendengar suara bayinya menangis, tidak ada genggaman teriakan Kasih saat melahirkan. Semuanya menjadi mimpi yang tidak nyata.


"Ya Allah kuatkan hamba, berikan kesabaran, keihklasan lebih untuk menerima kenyataan ini." Ravi meneteskan air matanya, berbicara dalam hati, menatap Kasih yang memejamkan matanya, sambil meneteskan air matanya.


"Ya Allah Kasih ingin menjadi Ibu, kenapa anakku tidak menangis?" Kasih menggenggam erat tangan Ravi, teriak kuat dalam diam."


***


Rama masih melaksanakan sholat, Bima juga duduk melihat Rama sedang sujud sangat lama, suara tangisnya pelan, tapi bisa membuat tubuhnya gemetar.

__ADS_1


Bima mendekat, mengusap punggung Rama mengusap kepalanya. Bima menggigat kembali saat pertama melihat Rama meninggalkan pemakaman kedua orang tuanya, Rama berlari kembali ke pemakaman memeluk kedua orangtuanya, meminta membawanya.


Rama kecil menangis sambil bersujud, berjanji menjadi anak baik, tidak nakal, tidak jahil lagi, akan memperbanyak sedekah, dia hanya minta bisa bersama Ayah Ibunya.


Melihat Ravi yang nakal, bukan mirip Viana tapi Rama kecil yang tidak bisa diam, rasa penasarannya sangat besar, sikap nakalnya sampai membuat babysister kewalahan.


Sejak kehilangan orangtuanya, Rama tidak tertawa, tidak menangis, tidak manja lagi, hilang sudah si kecil yang nakal dan jahil.


"Ram, semuanya akan baik-baik saja. Kamu harus kuat." Bima menggakat kepala Rama untuk duduk.


"Kak Bim, Rama pernah merasakan kehilangan yang paling memukul mental Rama. Rama tidak bisa membayangkan keadaan Ravi kak, dia pasti sangat kehilangan."


"Ravi punya kita, tugas kamu sebagai orangtuanya menguatkan. Jika kamu lemah, Viana, Ravi, Vira, Kasih akan ikut terpukul. Jika hari ini kita kehilangan, Allah akan ganti dengan yang baru, kita diminta menunggu lagi, sabar lagi." Bima memeluk Rama.


Rama menghapus air matanya, berusaha terlihat kuat. Di depan ruangan operasi seluruh keluarga kumpul, Ibu Kasih, Tama dan Cinta juga sudah duduk menunggu.


Senyum Rama terlihat menyapa, duduk di samping Viana yang masih menggenggam kedua tangannya sambil terus berdoa, Rama mengambil jari Viana, menyatukan jari mereka untuk saling menggenggam.


Semua mata melihat ke arah tulisan operasi selesai, jantung berdegup kencang menunggu kabar dari dalam. Air mata Viana kembali menetes, rasa takutnya sangat besar.


Reva menatap Bima, memeluk lengan, berdiri menunggu, Jum juga berdiri bersama Bisma memohon yang keluar kabar baik, Viana tidak sanggup berdiri lagi, tidak siap mendengar apapun.


Rama berusaha merangkul pundak Vi untuk berdiri, mata keduanya bertemu ingin sekali melihat cucu mereka.


"Sabar sayang, jangan menangis." Rama bicara pelan, menghapus air mata di pipi Vi.


Erik langsung berdiri di depan pintu, tidak sabar menunggu ada yang keluar, jika tidak mengikuti peraturan, sudah lama dia masuk. Langkah kaki seseorang terdengar membuka pintu.


Ravi keluar dengan wajah pucat, penampilan berantakan. Melihat kedua orangtuanya air mata Ravi menetes ingin melangkah menemui Mommy nya, tapi Ravi langsung terjatuh, jika Erik tidak menangkapnya, air mata Erik juga jatuh, memeluk erat Ravi.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP.

__ADS_1


***


__ADS_2