
Rama, Viana dan Ravi masih di hotel, mereka menginap karena pesta pernikahan Bima belum selesai. Viana melihat keadaan saham VCLO, Reva yang masih menggunakan baju tidur masuk kamar Rama duduk bersama Vi memantau keadaan.
Mereka berdua bernafas lega, saham terus naik dan respon masyarakat sangat mendukung Reva yang memperjuangkan cinta sejatinya.
"Daddy! Ravi tidur sama Uncle Bisma ya." Ravi menggendong tas ranselnya.
"Daddy ikut Ravi," Rama langsung bicara dengan Viana yang memberikan izin mereka berdua keluar.
Reva dan Viana bicara banyak hal, Reva juga sesekali bicara dengan perut Vi yang bisa bergerak.
Suara ketukan pintu yang membuat Vi dan Reva tersenyum, Jum langsung masuk dan ikut berbaring di ranjang.
"pindah Jum?" Reva menatap Jum yang setelah menikah semakin cantik.
Ketiganya tertawa berbicara dengan perut Viana, kandungan Vi yang sudah delapan bulan lebih terlihat membuncit dengan gerakan aktif bayi di dalamnya.
"semoga Jum cepat isi ya kak Vi, pengen juga." Jum mengelus perutnya yang rata.
"Amin!" ucap mereka bertiga bersamaan.
"Kak Jum, maaf ya saat malam pertama kak Jum, Reva lancang langsung masuk." Reva tersenyum mengingat dirinya yang melihat darah perawan.
"balas Jum! jangan kasih ampun buat siaran langsung." Viana memberikan semangat ke Jum.
"Jum tidak mau melihat malam pertama Reva, soalnya suaminya orang baik beda dengan Reva." Tawa Jum dan Viana terdengar mengejek Reva.
"berhentilah tertawa kak, nanti melahirkan!"
Mereka bertiga perlahan terlelap, Rama masuk dan melihat ketiganya tidur berpelukan. Bisma yang rencananya ingin menjemput istrinya menjadi menunda dan membiarkan. Bisma, Ravi, dan Rama menumpang tidur di kamar Bima.
***
Keesokan harinya Reva sudah di dandan di kamarnya, Bima juga sudah siap. Mata mereka berdua bertemu, untuk pertama kalinya dia merasakan malu beradu tatap. Perjuangkan selama bertahun-tahun sekarang sah menjadi miliknya.
Bima keluar untuk bertemu para panitia yang sudah menyebar, acara di pantau langsung oleh Ammar. Viana dan Jum tersenyum melihat Reva yang sangat cantik.
Mereka bertiga siap melihat Reva yang akan menggunakan gaun yang selama 8bulan dia rancang. Kepanikan terjadi saat gaun Reva rusak, banyak sobekan.
__ADS_1
Mendapatkan kabar gaun nya rusak Reva langsung berlari melihat langsung, Viana dan Jum terkejut melihat gaun yang sangat indah hancur. Reva menyentuh gaun yang dia impikan akan indah di hari pernikahan tapi hancur.
Viana bisa melihat kesedihan di mata Reva, dia langsung keluar memanggil Rama. Semuanya berkumpul dan melihat gaun yang rusak, Bima langsung memeluk Reva dan menenangkan nya.
"Semuanya tenang! Reva Bima mau menggunakan baju rancangan gue." Viana menatap Reva dan Bima yang mendapatkan anggukan dari Bima.
Rama dan Bisma pergi, mengambil baju yang pernah Viana buat saat pertama kali dirinya mulai menjahit.
Viana menenangkan Reva yang tatapan matanya penuh amarah, Viana mengerti Reva akan membalas lebih kejam untuk pengacau pernikahannya.
"Jika Lo ingin balas dendam, jadilah wanita paling bahagia dan paling cantik hari ini, balas dendam yang paling menyenangkan saat kita berhasil membalikkan keberhasilan menjadi kegagalan." Viana berbisik ke Reva sambil tersenyum.
Reva langsung tertawa dan menggagukan kepalanya.
***
Acara akan dimulai dalam satu jam, Rama datang membawa gaun yang sangat Reva kenal.
"Gaun jadul! ini gaun yang di apartemen?" Viana menatap Reva sinis.
"Siapa Vira?"
Viana langsung menunjuk perutnya, cepat Reva mengganti bajunya dengan gaun yang Viana buat. Tubuh Reva sangat terlihat indah, semua yang membantu Reva terpesona dengan kecantikan Reva yang menyatu dengan gaun yang baru. Reva terlihat lebih feminin, sangat anggun dan cantik.
Viana tersenyum melihat kecantikan Reva yang tidak ada duanya, dia tidak menyangka gaun yang dalam tiga hari dia modifikasi berada di tangan ratu desainer tercantik.
"Gue yakin Bima akan jatuh cinta beribu kali lipat ke Lo," Viana tersenyum bangga.
"Kenapa?"
"Gaun ini hasil rancangan kak Vi dan Bima 18tahun yang lalu, kami membuat baju pengantin yang akan aku gunakan saat menikah dengan lelaki yang aku cintai. Doa saat itu bisa bersanding dengan Bima, tapi ternyata pengantinnya bukan aku tapi kamu Reva. Bima pasti mengigat rancangan ini, kamu sangat cantik Reva." Viana memeluk Reva penuh rasa haru.
Viana dan Jum menemani Reva yang turun ke tempat acara, Bima sudah menyambut tamu dengan rasa khawatir. Semua tamu terdiam melihat Reva yang berjalan sangat anggun, dia terlihat seperti wanita pendiam dan lembut.
Bima terpesona sampai tidak mengedipkan matanya, Bima tidak menyadari jika dia ditegur mertuanya yang masih terpesona melihat kecantikan istrinya.
"Gaun!" Bima langsung melihat Viana yang sudah tersenyum dan memberikan jempol dua ke Bima yang membalasnya dengan senyuman.
__ADS_1
Bima menyambut tangan Reva berdiri di sampingnya, tawa terus terlihat dari pasangan pengantin yang sangat bahagia.
Rama tersenyum melihat Bima yang akhirnya tertawa, sejak dia kecil tidak pernah mendapatkan tawa Bima.
"Terimakasih kak Bim, sudah menjaga Rama, mengajari, bahkan setia ke Rama. Bahagia selalu kak Bim, Rama titip sahabat terbaikku." Viana memeluk Rama.
"Terimakasih juga mas Bram, dulu pernah mengisi hari Vi. Terimakasih juga Reva yang setia ke Vi. Kalian harus bahagia seperti kami." Rama mengelus punggung Vi sambil tersenyum.
Acara selesai tamu mulai meninggalkan pesta, keluarga besar kedua mempelai juga sudah kembali, Rama dan Viana masih menginap di hotel karena keinginan Ravi.
Mereka baik ke lantai atas untuk beristirahat, Viana juga mengejek Reva yang akan malam pertama membuat Reva malu dan tersenyum tipis.
Saat keluar dari lift Viana langsung terdiam dan tidak bergerak lagi, Rama dan lainnya heran melihat ekspresi wajah Vi.
"Hubby! Viana mau melahirkan." Teriak Viana kuat membuat semuanya kaget.
"Baru 8bulan mom, mungkin Vira hanya menendang." Rama panik mengelus perut Viana.
"Rama! gue tahu rasanya ingin melahirkan beda jauh saat ditendang." Vi mulai kesal.
"Kak Bim, lakukan sesuatu. Istri Rama mau melahirkan." Kepanikan Rama menjadi membuatnya tidak bisa berpikir.
Bima sama paniknya, saat melihat air keluar dari baju Viana membuat Rama teriak histeris.
"Kak Bima sudah berpengalaman, Rama binggung." Reva dan Ravi saling pada melihat dua pria seperti orang linglung.
"Pengalaman dari Hongkong, yang melahirkan Brit bukan gue." Teriak Bima kesal membuat Viana tertawa sambil menahan sakit.
"Daddy! uncle! Ravi pusing cepat gendong mommy daddy, uncle siapakah mobil, aunty Reva tolong telpon rumah sakit. Mana handphone Daddy? Ravi menghubungi Oma opa, nenek kakek uncle kalau perlu orang satu kampung Ravi telpon. Cepat bergerak selamat adik Ravi!" tangan Ravi sudah menekan tombol lift, semuanya bergerak sesuai perintah Ravi.
Viana hanya tersenyum melihat kepanikan Rama yang di luar pemikirannya, juga bangga dengan putranya yang tenang sangat berbeda jauh dengan Daddy nya.
***
TERIMAKASIH SUDAH BACA YA READER
JANGAN LUPA LIKE COMENT..
__ADS_1