
Pintu kamar Tian diketuk, Ravi langsung membuka pintu mempersilahkan Bunda Jum masuk.
Ravi dan Erik langsung melangkah keluar, mereka membiarkan ibu dan anak berbicara dari hati ke hati antara ibu menjadi ibu mertua.
Bastian sudah rapi, wajahnya yang tampan semakin tampan dengan senyum kebahagiaan. Tian tidak menyangka hari bahagia tiba.
"Tampannya anak Bunda, tidak menyangka sekarang menjadi menantu." Jum memeluk Tian, mengusap punggung putranya.
"Terima kasih Bunda, I love you." Tian tersenyum mengusap punggung Jum.
"Tian Bunda sekarang sudah tua, kamu harus menjaga Bella dengan baik. Dia adik kamu yang paling nakal sulit dinasehati, keras kepala, hanya Tian yang Bunda percaya untuk menjaga dia." Jum menahan air matanya.
Senyuman Bastian terlihat, tanpa diminta, Tian akan melakukan segalanya agar mereka bahagia. Kebahagiaan terbesar Tian, ketika dia bisa memiliki Bella, membahagiakan Bella.
Bisma mengetuk pintu yang terbuka, senyuman Bisma terlihat mendengar obrolan antara putra dan ibu yang selalu lupa waktu jika sedang mengobrol.
"Ayah, ayo masuk." Tian tersenyum.
Bisma menepuk pundak Tian, putra semata wayang mereka akhirnya menikah dengan putri gila yang selalu membuat masalah.
Tidak ada lagi yang bisa Bisma katakan, intinya dirinya sangat bahagia menyambut pernikahan putra putrinya.
"Ayah tidak ingin mengatakan sesuatu?" Jum memeluk Bisma.
Kepala Bisma menggeleng, dia tidak bisa mengungkapkan isi hatinya karena tidak ingin terlihat lemah dihadapan putra dan istrinya.
Jum sangat mengenal karakter Bisma, dia selalu ingin terlihat keren dihadapan putra putrinya. Ingin terus menjadi orang yang kuat agar anak-anaknya juga kuat.
"Ayo kita turun, semua orang sudah kumpul di tempat ijab kabul." Bisma merangkul istrinya untuk turun.
Bastian masih berdiri diam, Bisma tersenyum merangkul pundak putranya. Tian menatap Ayahnya yang tersenyum.
"Ayah, izinkan Tian menghubungi ayah kandung Tian."
"Tidak, aku tidak akan membiarkan bajingan itu mengetahui soal kamu, Tian kamu putra Ayah tidak ada sangkut pautnya dengan mereka." Bisma menatap tajam.
__ADS_1
"Izinkan saja Ayah, setidaknya Tian harus mendapatkan doa restu dari Brit dan ayahnya." Jum memohon.
"Britania sudah mati, terserah kalian saja." Bisma langsung melangkah pergi.
Tian mengurungkan niatnya langsung melangkah keluar bersama Bundanya, Tian tidak akan membahas lagi soal ayahnya.
"Bunda tahu kamu ingin sekali diakui sebagai putra, Bunda juga tahu kamu membutuhkan setidaknya ucapan selamat. Maafkan Bunda dan Ayah yang belum bisa melepaskan kamu untuk orang tua kandung yang sudah menyia-nyiakan kamu." Jum mengusap telapak tangan Tian.
Senyuman Tian terlihat, dia tidak mempermasalahkannya, bagi Tian cukup memiliki Jum dan Bisma yang sudah menjadi dunianya.
Suasana di tempat ijab kabul sudah ramai, seluruh keluarga berkumpul di sana untuk menjadi saksi.
Di kamar Bella hanya melihat dari layar monitor yang memperlihatkan Tian sudah duduk berhadapan dengan Bisma, jantung Bella berdegup sangat kencang.
Bella hanya ditemani oleh Vira, Winda dan Billa. Suara ketukan pintu terdengar, Wildan melangkah masuk ingin menemani Bella, karena mereka semua seumuran hanya Vira yang beda tahun.
"Wil, bagaimana keamanan?" Bella melipat kedua tangannya karena deg-degan.
"Wildan pastikan semuanya aman, kak Bel jangan khawatir." Wildan menggenggam tangan Bella, menenangkan karena semuanya akan berjalan lancar.
Karan, Yusuf, Ravi, Erik, Steven, keluarga besar sudah berpencar untuk mengecek seluruh keamanan. Baik keluarga dekat, maupun keluarga jauh juga sudah berdatangan.
Semuanya tegang melihat Tian menjabat tangan Bisma, senyuman keduanya juga terlihat. Penghulu meminta ijab kabul di mulai.
Bisma menggenggam erat tangan putranya, tatapan mata Bisma tajam menahan air mata bahagia.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Bastian Bramasta bin ... dengan anak saya yang bernama Bella Bramasta dengan maskawin ... dibayar tunai." Bisma mengucapkan tanpa keraguan.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Bella Bramasta binti Bisma Bramasta dengan maskawin tersebut dibayar, tunai." Tian juga mengucapkan dengan lantang tanpa keraguan.
Air mata Tian dan Bisma langsung menetes saat para saksi mengatakan sah, Bisma menutup matanya menikahkan putri terakhirnya dengan putra kesayangannya.
Jum juga tidak bisa menahan air matanya sudah menangis sejak awal, semakin menangis melihat suami dan putranya menangis.
Di dalam kamar ketegangan juga terlihat, mendengar Bisma dan Tian yang bicara sangat lantang.
__ADS_1
"Sah." Billa, Vira, Winda berpelukan.
Bella langsung mengucapkan Alhamdulillah, memeluk Wildan erat menahan air matanya.
"Sudah jangan menangis, selamat kak Bella sudah menjadi istri." Tangan Wildan mengusap kepala Bella menahan air matanya, Bel memeluk lengan Wildan yang melangkah keluar kamar.
Senyuman Vira, Winda dan Billa terlihat berjalan di belakang Wildan dan Bella. Mereka sampai di tempat ijab kabul melihat rasa haru.
Bella duduk di samping Tian, senyuman Tian terlihat menatap istrinya. Air mata Tian kembali menetes menyentuh wajah Bella.
"Jangan menangis, nanti Bella juga sedih." Bella menghapus air mata Tian.
"Kak Tian bahagia Bel, tidak tahu cara mengungkapkan betapa bahagianya aku saat ini." Tian tersenyum menakup wajah Bella.
Tian meletakan tangannya di atas kepala Bella, keduanya berdoa di depan seluruh keluarga untuk saling mencintai, mengasihi. Tian mendoakan Bella menjadi istri yang Soleha, ibu dan istri yang taat, Tian juga berharap dia menjadi imam yang baik, suami yang bertanggung jawab.
Bella tidak bisa lagi menahan air matanya yang akhirnya menetes, Tian memeluk Bella yang sudah sah menjadi istrinya.
Bukan hanya mempelai yang menangis, tapi seluruh orang yang tahu perjalanan keduanya yang harus terpisah berkali-kali.
Ravi, Erik dan Tama juga meneteskan air matanya, mereka sangat tahu betapa kehilangannya Tian saat dia kehilangan Bella.
Wildan juga berusaha menahan betapa ingin keluar air matanya, karena dia sangat tahu bagaimana Bella datang dengan banjir air mata.
Memukul dadanya yang sesak karena kehilangan lelaki yang sangat dia cintai, lelaki yang sejak kecil selalu menjaganya.
Tian memasangkan cincin pernikahan, Bella juga melakukannya. Keduanya langsung berlutut meminta restu kepada Bisma yang masih menutup wajahnya.
"Ayah, Tian minta doanya agar menjadi suami yang bisa membawa Bella ke surganya Allah. Tegur Tian jika mulai lalai dengan kewajiban, Tian dan Bella mohon doa restu." Tian menghapus air matanya.
Bisma tidak bisa berkata lagi, dia hanya memeluk Tian dan Bella. Air mata memang menjadi saksi di pernikahan keduanya.
Jum jangan ditanya lagi, hanya menangis sambil memeluk kedua anaknya yang sudah sah menjadi suami istri.
"Bunda, Bella ...." Air mata Bella terus menetes tidak bisa berhenti.
__ADS_1
Suara tangisan Bella saling sahut menyahut karena bisa merasakan kebahagiaan, juga rasa haru melihat yang dulunya kakak adik sekarang suami istri.
***