SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 CITA CITA LAMA


__ADS_3

Para orang tua sudah pulang ke rumah masing-masing, anak-anak juga sudah tidur. Hanya tersisa yang masih muda saja.


Ravi duduk santai sambil merangkul istrinya yang terlihat mengantuk, tetapi masih menahan diri.


"Kak Tian ingin makan ini tidak?" Bella memberikan sisa makanannya, karena perutnya sudah kenyang.


"Rik, bagaimana soal rumah sakit? kamu sudah ditunjuk untuk memimpin." Tian menatap Erik dan Billa yang masih ragu.


Erik masih ingin bersantai, menghabiskan waktu bersama anak istrinya. Bekerja memang penting, tetapi kebersamaan dengan keluarga jauh lebih penting.


"Kak bagaimana dengan Billa? haruskah Billa kembali ke rumah sakit?" tatapan Billa melihat seluruh orang yang sedang berkumpul.


"Sebaiknya kamu menjadi pengangguran seperti Bella, Vira, Kasih dan Winda." Suara tawa Erik terdengar menatap Kasih, Bella dan Vira menatapnya tajam.


"Jaga mulut ya, Bella walaupun di rumah menghasilkan uang, lalu untuk apa Bella menyulitkan diri sendiri. Ingat ya kak Erik, pemimpin itu dua sampai lima kali lipat bekerja lebih dari karyawan, meskipun kita di rumah otak kita ada di kantor. Bukannya kita wanita tangguh, mengurus perusahaan, suami dan anak." Tatapan Bella sangat tajam, mengancam Erik yang tidak mengetahui besarnya perusahaannya.


Kasih tersenyum manis, dia tidak bekerja tetapi uang bulanan mengalir lancar. Kepalanya sudah lelah untuk berpikir, cukup mengurus suami dan anaknya saja membuat tulang belulang Kasih berpindah-pindah.


"Vira lebih sibuk lagi, harus memantau perusahaan juga anak-anak jadinya harus membuat pilihan yang harus diutamakan. Kebahagiaan anak-anak juga kebahagiaan ibunya, jadi nanti saja mengurus pekerjaan." Vira tidak ingin mengambil pusing, cukup perusahaan stabil sudah lebih dari cukup.


Anak-anaknya harus menjadi prioritas, apalagi memiliki dua bayi kecil dan satu bayi yang masih belum besar.


Winda hanya diam saja, memeluk lengan suaminya masih mengunyah makanan. Tatapan Vira tajam melihat Winda yang tidak mengutarakan pikirannya soal pekerjaan.


"Winda, kenapa kamu tidak bekerja?" Vira berteriak kuat membuat Winda ingin melempar dengan handphone.


"Bekerja? dari dulu Winda tidak tahu ingin kerja apa? aku bosan membicarakan soal kekayaan. Sudah cukup bisnis yang mengalir seperti air, suami Winda juga kaya mengalahkan suami kalian, lalu kenapa Winda harus capek bekerja, jika lebih enak bersantai." Suara tawa Winda terdengar.


Dirinya hanya bercanda, tidak ingin menyingung siapapun, tetapi apa yang Winda katakan tidak ada salahnya. Dia memang sudah kaya sejak lahir.

__ADS_1


"Win, ingin sekali aku memecahkan kepalamu." Bella menendang kursi Winda yang masih asik tertawa.


"Just kidding, Winda ingin menjadi pengacara, ingin sekali menghancurkan hidup Ar, tapi berakhir jatuh cinta. Menjadi seorang pengacara harus membela tidak perduli dia salah atau benar." Winda tidak ingin menyusahkan dirinya membela orang jahat.


"Menjadi jaksa saja kak, keluarga Bramasta memiliki pengaruh di dunia hukum." Erwin menatap sekilas, lalu fokus lagi memainkan ponselnya.


"Jaksa, dia orang yang suka menutut tersangka. Winda tidak ingin memusingkan kepala mengurus hidup orang."


"Menjadi hakim saja, kamu hanya perlu duduk santai. Dia sepuluh tahun, hukuman mati, eksekusi. Bebas suka-suka hakim." Erik menatap tajam, kesal melihat Winda yang sebenarnya tidak punya niat berkerja, tapi banyak alasan.


"Emh, bukan Winda tidak ingin menjadi hakim, tetapi terlalu ...."


"Menjadi dokter saja Win." Bella sudah mulai kesal.


"Dokter? kak Wildan saja tidak mampu apalagi Winda." Suara tawa Winda terdengar, diikuti oleh Vira dan Billa yang merasakan lucu.


Wildan tersenyum sinis, bukan dirinya tidak bisa menjadi dokter. Jika dirinya bukan putra satu-satunya yang harus mengurus perusahaan juga menjadi penerus mungkin dirinya bisa memiliki cita-cita dokter.


"Wildan benar, dulu juga Ravi mempunyai cita-cita menjadi seorang pembalap, tapi menjadi penerus satu-satunya terpaksa meneruskan bisnis keluarga." Ravi menghela nafasnya, merasa bersalah untuk cita-citanya.


Kasih menatap sinis, suaminya kebanyakan gaya. Dulu saja Kasih bawa kebut-kebutan sampai mabuk dan teler, pengen menjadi pembalap melihat darah saja takut.


"Ar rasa semuanya bisa digapai selama ada niatnya. Aku sangat menyukai membawa pesawat, menjadi suatu kebanggaan saat bisa terbang tinggi, tapi namanya rezeki sudah diatur." Meksipun cita-cita Ar menjadi seorang pilot dia bersyukur berpidah profesi menjadi seorang pengusaha.


Apapun yang menjadi pekerjaan harus dalam kebaikan, menjadi seorang pemimpin bukan hanya untuk memperkaya, membahagiakan diri sendiri, tapi banyak tanggung salah satunya karyawan, rekan kerja, juga banyak bagian lainnya.


"Semakin kita mengejar apa yang ada di depan mata, maka langkah akan semakin jauh. Hanya ada dua jalan baik dan buruk, juga sukses dan gagal. Segala hal ada untung dan ruginya." Ar tersenyum menatap kakak juga adiknya.


Senyuman Ravi terlihat, menepuk pundak Ar yang sangat dewasa. Sebenarnya Ravi memang tidak punya cita-cita, dia hanya ingin hidup hari ini dan menikmati hari esok.

__ADS_1


"Ar, kamu satu-satunya pebisnis yang tidak ada campur tangan keluarga. Apa kamu pernah mengalami kegagalan?"


"Pastinya kak, Ar juga manusia biasa. Saat ada di atas Ar tidak berfokus hanya untuk memajukan apa yang sudah ada di depan, tapi membuka hal baru dan mengangkat bisnis di bawah untuk naik bersama ke atas." Senyuman Ar terlihat, jika dirinya berpuluh-puluh kali mengalami kegagalan.


"Erwin tahu kenapa kak Ar bertahan? karena kak Ar hanya memperjuangkan diri sendiri, saat dia gagal tidak ada yang tersakiti selain dirinya."


"Kamu benar Win, aku suskes tidak ada teman berbagi, tidak ada tempat aku mengatakan rasa bahagia, juga tidak ada yang mengucapkan selamat. Aku sendiri, menikmati sendiri." Ar menundukkan kepalanya.


"Mulai sekarang kamu punya kak Ravi, jika sudah merasa terlalu kaya serahkan setengah untuk kak Ravi, dengan senang hati akan kak Ravi habiskan." Suara Ravi tertawa terdengar, mengusap kepala adiknya yang sangat luar biasa hebatnya.


Kasih menggelengkan kepalanya melihat suaminya tidak tahu malu, bisa-bisanya dia ingin membeli mobil baru memeras Ar.


Malam sudah larut, Tian meminta semuanya kembali ke rumah masing-masing dan beristirahat. Mereka semua harus bangun dan bekerja kembali.


"Ayo sayang kita ke kamar." Ravi naik ke atas punggung Kasih, suara teriakan Kasih mengema melihat tingkah suaminya.


"Tidak kuat ya, tapi biasanya kamu suka berada di atas." Suara tawa Ravi terdengar, menggendong Kasih yang menjambak rambutnya.


Semuanya menggelengkan kepala melihat tingkah Ravi yang selalu bertengkar dengan Kasih, keduanya masih belum berubah seperti awal bertemu selalu bertengkar.


Erwin masih duduk, melihat semuanya sudah berpasangan melangkah merangkul istri masing-masing.


"Nasib jomblo, aku tidak punya gandengan. Ayo sayang kita lanjut main game di rumah." Erwin berdiri merangkul bayangannya.


***


dua bab


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


***-


__ADS_2