
Suara rusuh terdengar di dalam perpustakaan, Wira tertawa menjahili adik-adiknya yang tidak bisa konsentrasi belajar.
Pintu terbuka, senyuman Wira terlihat menyambut kedatangan para wanita yang akhirnya tiba mengunjungi perpustakaan yang masih baru.
"Welcome adik-adikku, bagaimana kekacauan yang kalian perbuat?" senyuman Wira terlihat, memeluk satu-persatu adiknya.
Langkah kaki lompat-lompat Vani terdengar, langsung mencari tempat untuknya menggambar.
Raka langsung memukul meja, meminta Vani tidak mengotori perpustakaan, dengan coretan.
"Vani tidak ingin gambar, tapi mencari buku yang ada gambarnya." Lidah Vani menjulur mengejek kakaknya Raka yang menggelengkan kepalanya.
Semuanya duduk melingkar di meja besar, ada yang membaca buku, memainkan komputer, menggambar, bermain.
Tatapan Asih tertuju kepada kakaknya, langsung melangkah mendekat sambil menarik mendorong kursinya.
"Kak, Asih dengar kalian tidak sekolah lagi?"
Raka menaikan satu alisnya, menjelaskan kepada Rasih jika bukan tidak sekolah hanya saja keluarga memutuskan untuk sekolah home schooling.
Sekolah di rumah sepenuhnya diawasi orang tua, dan menyediakan guru privat saat waktunya ujian baru anak-anak home schooling bisa bergabung.
"Kenapa kakak dan yang lainnya menerima? kalian tidak bosan tatap muka dan bertemu berlima terus." Em yang mendengar langsung menimpali.
"Bukannya sekolah di rumah khusus untuk anak yang memiliki penyakit?" Bulan menatap bingung.
"Tidak seutuhnya Bulan, biasanya home schooling dilakukan khusus sebuah keluarga. Tidak harus ada penyakit, tapi yang memang tidak bisa bergabung secara umum." El menatap si kecil yang menganggukkan kepalanya.
Asih masih penasaran alasan orangtua mereka membuat para laki-laki sekolah di rumah, bahkan menetap di perpustakaan yang membuat kepalanya pusing.
"Kenapa kalian mau? ini membosankan." Asih mengaruk kepalanya.
"Kami tidak bisa mengimbangi anak seumuran, dan rasanya tidak nyaman belajar sesuatu yang sudah diketahui." Bintang mengerutkan keningnya jika mengingat kelasnya yang aneh.
Asih mengangguk kepalanya, sebenarnya Asih dan adik-adiknya yang lain juga merasakan hal yang sama, hanya saja mereka ingin tetap hidup dengan usia mereka, tidak ingin tumbuh dewasa terlalu cepat.
Kursi Rasih berputar mendekati Arum yang sedang membuat rumah tingkat, menatapnya tajam.
"Kak Asih ingin home schooling juga?"
__ADS_1
"Tidak, aku ingin hidup bebas juga menikmati dunia luar. Kamu juga harus melakukannya, kak Asih akan menunggu kalian untuk bertualang bersama." Senyuman Asih terlihat menatap adik perempuan yang sebenarnya sangat pintar.
Arum tersenyum, meminta pendapat Asih jika dirinya harus melangkah maju ke depan untuk mengimbangi Asih dan bergabung satu kelas.
Tatapan keduanya melihat ke arah dua bocil kecil yang sedang mengacak-acak buku, Vio dan Vani masih masa pertumbuhan.
Mereka menolak untuk dewasa dan terus bertingkah kekanakan, meskipun sebenarnya keduanya sudah paham banyak hal.
Arum harus menjaga kedua adik kembarnya, si kecil yang mengemaskan dan sangat nakal.
"Kamu lelah menjaga mereka?"
"Tidak, Arum bahagia memiliki mereka meskipun selalu mengambil milik Arum." Bibir Arum monyong dan kesal jika mengingat kekacauan twins.
"Apa yang kalian berdua bicarakan?" Wira tersenyum melihat adik-adiknya.
Senyuman Arum terlihat, berbisik kepada kakak tertuanya jika membelikan sesuatu jangan sampai diketahui oleh twins V.
Wira langsung tertawa, dia sangat mengerti kekecewaan Arum yang harus mengalah kepada kedua adik perempuannya.
Menjadi cucu sah Bramasta dan Prasetya Arum tidak ingin selalu mengalah kepada adiknya, tetapi jika keduanya menangis Arum juga tidak tega.
Suara Virdan terdengar, meminta kedua adiknya untuk duduk diam dan berhati-hati mengambil buku yang tinggi.
Belum selesai Wildan bicara, Vani yang memanjat rak tinggi menjatuhkan banyak buku.
Cepat Virdan berlari menangkap adiknya jangan sampai jatuh, satu tangan menangkap Vani dan satu tangan melindungi Vio yang duduk di bawah sambil mengacak-acak buku.
Suara buku berjatuhan terdengar, Wira sudah menahan lemari dari ujung, sedangkan diujung sebelahnya ada Raka.
Asih langsung berdiri, Em dan Bulan juga berdiri. Arum hanya bisa geleng-geleng melihat semuanya berhamburan.
Ning berlari keluar untuk mengabari orang tua jika twins V jatuh dari atas rak buku besar, meminta bantuan sebelum terlambat.
"Semuanya aman?" Wira menatap Arwin, Elang dan Bintang yang membantu twins V untuk melindunginya.
Elang menyingkirkan buku yang menimpa kepalanya, langsung menggendong Vio yang tertawa cekikikan melihat rambut Vani berantakan.
Raka langsung mendekat menggendong Vani, mendudukkan di atas meja. Membantu yang lainnya untuk berdiri.
__ADS_1
"Maafkan Vani." Senyuman si kecil terlihat, menggoyangkan kakinya yang terjuntai di bawah meja.
"Ada luka tidak?" Wira mengecek kaki keduanya yang hanya menggelengkan kepalanya.
"Kak, kepalanya Virdan berdarah." Bintang meminta Elang melihatnya.
"Aku baik-baik saja." Tangan Virdan mengusap kepalanya, melihat ada darah.
Arum langsung berlari melihat kakaknya terluka, air mata Arum langsung menetes melihat Virdan terluka.
"Kak Dan baik-baik saja Rum, hanya luka kecil."
Tatapan mata Arum tajam ke arah dua bocah, langsung meneriakinya. Arum sudah banyak mengalah, bahkan di hari ulang tahun mereka Arum sudah mengalah menghadapi twins V.
Wira memeluk Arum memintanya mengerti twins V yang masih kecil, mereka juga tidak sengaja dan tidak mungkin berniat membuat buku jatuh.
"Kak Wira selalu membela mereka, masih kecil terus. Arum dan mereka hanya selisih satu tahun, tapi kenapa selalu Arum yang mengalah." Air mata Arum deras membasahi pipinya.
"Rum, kak Dan baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, hal paling penting Vio dan Vani aman." Virdan mengusap air mata adiknya mengecek keadaan si kembar takutnya ada luka.
"Jangan salahkan Vani, lemarinya saja yang ingin jatuh."
"Vani, kamu harus minta maaf jika melakukan salah, kak Vio juga hampir terluka." Nada bicara Virdan sangat pelan meminta adik bungsunya mengerti.
"Nyatanya baik-baik saja, kak Arum saja yang hobi membesarkan masalah." Tatapan Vani tajam.
"Oh, jadi kamu ingin melihat sampai ada yang terluka, saat ulang tahun kita kamu menjatuhkan kue Arum, tidak mengatakan maaf. Mengambil kado Arum tanpa mengucapkan terima kasih. Kak Arum sudah mengalah sama kamu, dan tidak pernah marah saat umi sama Abi selalu mengatakan kamu masih kecil dan selalu membela." Teriakan Arum sangat besar, dia tidak masalah disakiti, tapi jika kedua kakaknya yang terluka Arum tidak terima.
Vani menatap Arum yang menangis dan melangkah pergi, Vira dan Winda yang baru datang juga binggung.
Vio langsung mengejar Arum, diikuti oleh Vani yang merasa menyesal membuat kakaknya marah, dia hanya bercanda dan tidak menyangka Arum benar-benar marah.
"Kak Dan Vani minta maaf, kak Awin, El dan Bintang terima kasih, kak Wira sama kak Raka juga terima kasih. Vani tidak sengaja tau." Air mata Vani juga menetes, langsung berlari keluar mengejar Arum yang langsung pulang.
Bulan langsung mengaruk kepalanya, jika tiga anak sudah bertengkar pasti bakalan ada perang dunia.
***
...MAMPIR JUGA KE KARYANYA MAMI AL MELUPAKAN SANG MANTAN...
__ADS_1