
Viana dan Rama keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah.
Suara petasan dan banyaknya balon berwarna pink membuat Rama dan Vi kaget, Vira juga langsung teriak menangis kencang. Semuanya terdiam melihat Vira yang menangis dalam pelukan Viana.
"ahha uncle aunty, adek Vira nangis. Hayo tanggungjawab." Ravi langsung berlari ke dalam rumah sambil nyegir.
Bima langsung melemparkan petasan dan balon yang langsung berterbangan, yang lainnya juga melakukan hal yang sama.
"inilah akibatnya percaya ucapan Ravi, kita yang sudah tua dia kerjain. Vira masih kecil mana mengerti suprise seperti ini." Bima kesal langsung melangkah masuk.
"Ravi pintar membalik fakta, padahal dia yang memaksa kita membuat kejutan." Bisma juga melangkah kesal mencari Ravi yang sudah melarikan diri.
Jum mengambil Vira dalam pelukan Viana yang masih menangis, Jum menenangkan sampai Vira tidur.
Di dalam rumah para mami sibuk memasak menyiapkan acara makan bersama, para maid semuanya sibuk membantu.
Para pengawal ketakutan mencari Rama, Ammar mendekati mereka dan menanyakan yang terjadi. Rama melangkah menuruni tangga baru selesai mengganti bajunya.
"Ada apa?" Rama ikut mendengarkan laporan pengawal.
Rama memanggil Ravi yang sedang sibuk bermain dengan Bisma. Mendengarkan panggilan daddy, cepat Ravi mendekat. Rama menggandeng tangan Ravi ke belakang rumah.
Mata Ravi menatap hewan yang sangat dia sayangi sedang tidur di tanah, cepat Ravi berlari menggambil nya, menggendong dalam pelukannya. Rama ingin bicara tapi Ravi sudah berjalan ke dalam membawa ular dengan wajah cemberut.
"Mommy! lihat ular Ravi pingsan, masa iya dia tiduran di tanah." Ravi menunjukan ularnya yang sudah mengeras.
Viana langsung menutup mulutnya, Vi langsung melangkah mundur menyerahkan semuanya ke Rama yang mengaruk kepala di belakang Ravi.
"Ravi! dengarkan daddy, ular bukan pingsan. Lihat dia sudah keras dan dingin." Rama mengambil ular tapi langsung di ambil Ravi langsung meraba tubuh ular yang memang sudah dingin.
"astaghfirullah Al azim, ular Ravi sakit." Ravi langsung berlari mencari kain menutupi tubuh kucing kesayangannya.
"Ravi! Daddy tidak suka kamu memotong ucapan Daddy, serahkan kucing kamu ke pengawal sekarang."
Ravi menurut menyerahkan kucing nya yang dibalut selimut, para pengawal berdiri menunggu Rama bicara.
"ular meninggal, dia harus segera di makamkan sebelum membusuk." Rama bicara pelan sambil menangkup wajah Ravi.
Ravi langsung mundur, mengejar pengawal yang sudah melangkah ke halaman belakang ingin mengubur kucing. Ravi memukuli mereka semua dengan amarah, diambil kembali kucingnya dengan air matanya yang sesekali keluar.
__ADS_1
"maafkan kami tuan muda," mereka menundukkan kepalanya ikut sedih melihat Ravi yang duduk memeluk kucing nya sambil menangis.
Rama mencoba menggendong Ravi tapi langsung berlari menghindar Rama, Viana melihat kesedihan di mata Ravi yang dulu pernah Vi lihat.
Cepat Viana menahan Rama, meminta Bisma yang mengejar Ravi.
Mereka semua melihat Bisma dan Ravi yang lebih mirip teman, Ravi menangis memeluk kucing kesayangannya.
"cowok cengeng!" Bisma menekan hidung Ravi.
Ravi memandangi ular dengan raut sedih, melangkah mendekati Rama yang berdiri menunggunya. Ravi langsung berjongkok memeluk kaki Rama.
"Daddy!" Ravi memeluk Rama sama saat pertama dia datang.
Rama menggakat tubuh Ravi, mencium keningnya. kucing Ravi diserahkan ke pengawal. Mereka mengikuti pengawal untuk mengubur ular, dengan mata berkaca-kaca Ravi memeluk leher Rama.
"jangan takut untuk memiliki kucing lagi, ular sangat beruntung memiliki tuan seperti kamu."
"Ravi ikhlas daddy, tapi Ravi tidak mau berpisah lagi dari daddy, mommy, juga adek."
"Ravi sayang, tidak ada yang tahu usia kita di dunia ini, semua makhluk hidup pasti akan kembali kepada yang maha menciptakan."
"jika nanti mommy sudah tidak ada...."
"Mommy!" teriak Ravi dan Rama bersamaan membuat Vi tersenyum dan melangkah pergi.
***
Ravi memajang foto-foto dirinya dan ular sebagai kenangan, Bisma mengelus kepala Ravi.
"mau beli kucing baru," Bisma menawarkan ke Ravi.
"Tidak paman, Ravi sibuk."
Bisma hanya tertawa, dia bangga dengan Ravi yang cepat melupakan kesedihannya, hal yang paling menyakitkan kehilangan suatu yang tidak akan pernah kembali.
Seluruh keluarga berkumpul bersama, Viana, Jum dan Reva sibuk menjaga Vira sambil bercerita. Tya, Sisi dan Septi juga datang menjenguk dengan membawakan baju lucu dan perlengkapan Vira.
"Tya, kamu kapan mau proses, jangan sampai keduluan Jum apalagi Reva." Viana tertawa.
__ADS_1
"Sudah isi kak Vi, masuk 8minggu." Reva langsung teriak kaget.
"Sep Lo tahu!"
Septi hanya menggagukan kepalanya, karena tengah malam Ivan meenggagu tidurnya. Dia lembur dan minta Septi menemani Tya karena sedang hamil.
"jahat banget gue gak dikabari."
"Lo sibuk nikah, dan lagi enak-enak malam pertama."
"Malam pertama gue di rumah sakit! dan sampai sekarang belum." Semuanya tertawa melihat Reva yang masih sama seperti dulu.
Setelah makanan siap semuanya berkumpul makan malam bersama, selesai makan malam mereka berbincang-bincang sambil bercandaan.
"terimakasih kak Bisma pernah menjaga Viana dan Ravi, kak Ammar juga pernah menyelamatkan Vi dan juga setia ke Rama dan Viana. Rama juga berterimakasih ke kak Bima dari Rama usia sepuluh tahun kakak dampingi, tolong jaga Reva sahabat perempuan Rama yang menjadi teman ngibah nya istri Rama." Semuanya terdiam mendengar ucapan Rama yang bersyukur memiliki semuanya.
"Viana juga berterimakasih ke kalian semua, Reva yang berjuang menjaga VCLO, Jum yang bertahan di sini mempertahankan milik Vi, Viana sayang kalian. Terimakasih hanya kata terimakasih yang dapat kami katakan."
Pandangan mata mereka tertuju ke Ravi yang sibuk marah-marah, cemberut tidak jelas. Tangisan Vira yang terdengar dengan cepat mami Vi mengambilnya. Verrel yang sibuk bekerja menyempatkan diri datang melihat keponakan kecilnya.
"Verrel, kapan kamu menikah. Sisi sudah kelamaan bentar lagi lapuk, gue udah punya anak dua!"
"bantuin bicara ke mami," Verrel melipatkan tangannya, yang langsung di anggukkan Viana.
Viana juga bahagia akhirnya dia mengetahui kebenaran tentang mami nya, tentang sosok kakak kebanggaan Vi yang ternyata papi nya. Vi sekarang sangat dekat dengan mami dan juga Mommy.
Lengkap sudah kebahagiaan Rama, Viana melihat semuanya tertawa bahagia, melihat dua buah hati mereka.
"Hubby! kita akan melewati masa tua bersama, melihat buah hati kita tumbuh besar." Viana masuk dalam pelukan Rama.
"iya sayang, daddy akan memberikan yang terbaik untuk kalian, kita akan selalu bahagia mengawasi anak kita tubuh besar."
Semuanya belum berakhir, masih panjang perjalanan yang akan Rama dan Viana jalani, tapi sekarang mereka akan menghadapi segalanya bersama-sama dalam suka maupun duka. Hanya maut yang akan menjadi pemisahnya.
"I love you Viana."
"I love you Rama."
TAMAT...
__ADS_1
***