SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
HAPPY ENDING (TAMAT)


__ADS_3

Pagi-pagi Vira sudah rapi menggunakan hijab dan baju yang menutup auratnya, satu-persatu Vira memasang jilbab untuk kedua putrinya yang juga sudah menggunakan baju tertutup.


Vani dan Vio hanya saling tatap melihat ke arah foto mereka, Virdan, Viona dan Vania gonta-ganti foto karena mereka tumbuh besar berbeda dengan Vivilia yang tetap bayi kecil.


Wildan membuka pintu kamar, menatap tiga wanita yang tersenyum dan sudah siap untuk berangkat ke tempat peristirahatan terakhir Vivi.


Virdan sudah menunggu di mobil sambil melihat foto dirinya dan kedua adiknya Arum dan Arwin yang lahir bersamanya, tapi twins A bisa tumbuh bersama.


"Dek, kak Virdan akan berkunjung. Kamu pasti sudah bahagia di surga." Senyuman Virdan terlihat menatap langit yang cerah.


Suara pintu terbuka terdengar, Vio langsung masuk bersama Vani menatap kakaknya yang diam saja.


"Kak, cantik Vivi atau kita?"


"Namanya perempuan pastinya cantik, tapi hal paling utama cantik hatinya."


Bibir atas Vio sudah terangkat, bicara dengan kakaknya tidak pernah jauh dari kata ceramah.


Mobil melaju menuju ke tempat pemakaman, di jalan Vira membeli bunga untuk putrinya dan meminta Virdan, Vani dan Vio memiliki satu bunga.


"Vani tidak suka bunga."


"Vio juga, lebih suka burung."


Virdan turun dan melihat ke dalam toko bunga, memilih beberapa bunga yang sangat cantik.


Seorang anak kecil seumuran Virdan memberikan sebuah bunga kecil, memaksa Virdan untuk membelinya.


"Ini stok terakhir, silahkan di beli."


"Aku mencari bunga untuk ke makam." Virdan menolak secara langsung dan mengambil bunga pilihannya.


Tatapan anak wanita tajam, Vira langsung membeli bunga yang ditawarkan dan membayar lebih baru melangkah pergi.


"Tante, beli juga bunga ini. Saat mengunjungi rumah Mama dan papa, aku selalu memberikan bunga ini, baunya wangi sekali."


"Baiklah, bungkus juga bunga ini." Vira tertawa melihat anak kecil yang sudah pintar berjualan.


Kening Wildan berkerut melihat banyaknya bunga yang Vira beli, bahkan ada bunga kaktus yang tidak mungkin akan diletakkan di pemakaman.


Tangan Vani dan Vio menutup hidungnya tidak menyukai bau bunga, meminta Papinya cepat jalan.

__ADS_1


Mobil tiba di pemakaman, Wildan meminta twins V jalan pelan agar tidak menganggu makam lain.


Keduanya hanya tersenyum, belum satu menit Wildan bicara dua bocah sudah berlari kencang mengelilingi bukit-bukit kecil.


"Bukan anak aku." Vira tersenyum melangkah melewati suaminya yang hanya tersenyum.


Twins V meletakan tangan mereka di dagu, membaca nama yang tertera di nisan. Melihat Mami Papi dan kakaknya yang sedang membaca doa.


"Kak, itu bukit ada yang bolong." Tangan Vani menujuk sebuah makam tua.


Vio menganggukkan kepalanya, melangkah pelan bersama Vani membaca nisan yang sudah tidak terbaca.


Kepala Vani mendekati lobang, mengintip di dalamnya yang sangat gelap, Vio juga penasaran memasukan satu jarinya, dan cepat menarik kembali.


"Lubang apa ini ya?" Vani memaksa kepala untuk melihat ke dalam.


"Coba kak Vio mengintip." Kepala Vio mendekati melihat ke dalamnya, tapi tidak menemukan apapun.


Vira melihat sekeliling, tidak melihat keberadaan Vio dan Vani, menepuk pundak suaminya dan memintanya melihat ke arah kedua putrinya.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun Viona Vania!" Vira berteriak melihat kedua anaknya.


"Ada bolong di sini Mami, Vani hanya ingin melihat isi dalamnya."


Virdan meminta kedua adiknya duduk dan berdoa, mereka juga menaburkan bunga untuk lalu pamitan untuk pulang.


Vira berjalan lebih dulu, dirinya kesal melihat tingkah putrinya yang diluar nalarnya.


Wildan menggendong Vani dipunggung, Vio di depannya. Rasa penasaran Vani belum terobati meminta Papinya menjelaskan.


Senyuman Wildan terlihat, menatap kedua putrinya dan mengandeng tangan putranya.


"Papi, di dalam gelap sekali."


"Iya sayang, mungkin karena hujan tanahnya ambruk ke dalam karena makam tersebut sudah tua dan tidak dirawat."


"Kenapa tidak dirawat Pi?"


Virdan menatap makam tua yang adiknya kunjungi, menyapa penjaga makam untuk memperhatikan makam tua, meskipun keluarga tidak pernah berkunjung, setidaknya tetap dirawat, jangan sampai tanahnya menipis.


Senyuman Wildan terlihat, bangga melihat putranya yang sangat dewasa. Meminta ketiganya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Vira menatap suaminya yang memberikan sebuah amplop, juga meminta menjaga makam putrinya dan keluarga besarnya juga merawat seluruh makam lainnya.


"Ada apa Ayang? bukannya makam ini sudah ada penjagaan karena milik keluarga kita?"


"Iya, penjaga lama baru saja meninggal dan cukup sulit mencari pengganti."


Vira masih menatap kesal kedua putrinya, Wildan menggenggam tangan Vira memintanya mengingat kembali masa kecil mereka.


Vira dan Winda pernah menggali makan orang hanya karena ada lubang kecil, dan ingin melihat isi di dalamnya.


"Sayang, kamu tahu jika buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Apa yang kita hari ini mengingat kejadian puluhan tahun yang lalu, saat kita berkunjung ke makam keluarga." Wildan tertawa bersama Vira yang melupakan kenakalan.


Mommynya sampai ingin mengubur Vira, melihat tingkahnya yang menggali kuburan.


"Ayang sudah kebal sekali dengan kenalan anak-anak."


Wildan tertawa, melihat kedua putrinya mengingat kembali masa kecil mereka. Kenakalan Vira yang turun kepada kedua putrinya.


Sikap pemarah Winda, manja, egois tapi terkadang dewasa juga turun kepada Arum. Bella yang selalu bertengkar juga diwarisi oleh Bulan.


Satu-satunya yang paling beda, Embun dia nakal lebih mirip kakeknya gabungan dengan Papanya. Jika Asih tidak diragukan lagi, dia mewakili Ravi.


"Vir, aku bahagia memiliki kalian. Kehilangan Vivi menjadi hari yang paling menyakitkan, tapi berkah kesabaran diberikan seorang putra yang luar biasa, juga putrinya yang Alhamdulillah selalu menguji kesabaran." Wildan tersenyum melihat ke bangku belakang, melihat Virdan menggunakan earphone, sedangkan twins V sudah bermain sambil bertengkar.


"Allah maha baik, kita diberikan tiga buah hati sebagai kebahagiaan juga ujian. Vira juga sangat bahagia, bisa melewati segala ujian dan bisa hidup bersama Ayang." Vira tersenyum menggenggam tangan suaminya.


Cukup banyak hal yang mereka lewatin, sampai akhirnya menemukan titik bahagia. Perjalanan masih panjang, ada belokan, tanjakan, jalan lurus yang harus dilalui.


Hidup di dunia tidak semuanya indah, ada air mata yang mengajari kita arti ujian, ada senyuman yang mengajari kita arti kebahagiaan.


"Ayang, ayo kita menua bersama, membesar satu manusia es dan dua manusia stress." Vira tertawa.


Mobil Wildan langsung berhenti mendadak, Vio dan Vani sudah menangis karena saling pukul. Vira mengusap dadanya batu saja ingin sabar, emosinya langsung naik lagi.


Virdan duduk di tengah, melerai keduanya adiknya yang langsung rebutan memeluk kakaknya.


"Sabar Vira, masih puluhan tahun lagi membesar mereka."


"Sabar sayang, kisah happy ending di sini." Wildan tertawa mengusap kepala istrinya yang cemberut.


***

__ADS_1


TAMAT.


***


__ADS_2