
Mobil tiba di bandara, Jet pribadi sudah menunggu, tidak ada yang mengeluarkan suara, Vira yang biasanya cerewet juga diam, bahkan si kecil Wira juga diam dalam gendongan Daddy-nya.
Satu-persatu mulai masuk ke dalam Jet, Viana menatap kagum dengan Jet pribadi Tian, Jum juga tersenyum merasakan kenyamanan.
"Mommy, Mami, Bunda nikmati perjalanan kalian." Tian tersenyum.
Pramugari juga mulai memberikan instruksi, saat sudah selesai, perlahan naik ke atas. Tian meminta menyiapkan makan, karena keluarganya belum ada yang makan. Waktu yang ditempuh cukup lama, bisa mencapai belasan jam.
Tian sudah mengatur secepatnya mungkin, karena menggunakan Jet pribadi Tian meminta waktu paling lama 8 jam.
***
Di kediaman, keluarga Reva, Jum bahkan Viana juga sudah berkumpul. Tama turun tangan langsung mengurus kepulangan almarhum, Cinta yang menjaga grandpa. Adik Reva juga meminta keamanan untuk berjaga, rumah mewah Prasetya sudah penuh pelayat, rangkaian bunga juga memenuhi jalanan perumahan.
Rekan bisnis Keluarga Arsen juga sudah berdatangan, tidak ada yang bisa menghubungi Viana, Rama dan yang lainnya. Wildan mematikan jaringan di ponsel orang tua.
Mobil ambulans sudah terdengar, mulai masuk dan beberapa orang membawa keranda ke dalam rumah. Kedua orang tua Reva, Jum sudah membacakan Yasin.
Persiapan untuk mandi dan lainnya juga sudah dipersiapkan, almarhum akan di makamkan sore hari. Tama berharap keluarga besar sudah tiba, masih sempat melihat almarhum terakhir kalinya.
Seluruh proses sudah disiapkan, grandpa juga sudah pulang duduk di kursi roda, menatap istrinya sambil meneteskan air mata.
"Sayang, tunggu aku nanti kita bertemu lagi." Tangisan kakek Ravi tidak tertahankan.
Cinta membantu grandpa untuk melihat lebih dekat, menatap wanita yang sangat dicintainya. Menutup mata selamanya sambil tersenyum.
***
Suasana di pesawat hening, Vira mengunakan kacamata hitam, begitu juga yang lainnya. Perasaan Viana mulai gelisah, bayangan Mommy mulai muncul, Vi meneteskan air matanya. Matanya terpejam berharap Mommy baik-baik saja.
"Wil, bagaimana kita masih punya waktu." Ravi mendekati Wildan yang memejamkan matanya.
"Tenang saja kak, di sana akan berusaha mengundur waktu, kita berusaha mempercepat waktu. Bismillah saja."
Ravi diam tidak bisa memejamkan matanya, berdoa dalam hati untuk Mommy mendapatkan kesempatan untuk bertemu Halmeoni.
"Ravi dalam 30 menit kita akan mendarat. Sekitar jam tiga kita sampai, Halmeoni akan dimakamkan setelah ashar." Tian tersenyum, juga bersyukur mereka punya peluang.
__ADS_1
Di bandara sudah siap semua, mobil untuk menjemput juga siap, bahkan dikawal oleh kepolisian untuk mendapatkan jalan.
"Semuanya langsung turun masuk mobil, semua barang tinggalkan saja." Tian langsung membuka pintu.
Air mata Viana menetes, Ravi melihat Mommy nya menangis, Rama sudah menenangkan.
"Jangan bicara apapun Ravi, teruslah kalian tutup mulut sampai kita tiba di rumah." Viana melangkah keluar, langsung melangkah cepat menuju mobil
Air mata Vira juga tidak bisa ditahan lagi, membasahi pipinya. Masuk ke dalam mobil membuka kacamata menangis sesenggukan.
"Sabar Vir, kamu harus kuat untuk Mommy." Winda mengusap lengan Vira yang tidak berhenti menangis.
Mobil berjalan beriringan, polisi berada di depan sekali. Ravi sesekali menepis air matanya, seluruh mobil dengan kecepatan tinggi.
Satu persatu mobil masuk ke perumahan, karangan bunga sudah Viana lihat, air matanya sudah tidak terbendung lagi.
"Innalilahi wa inalillahi rohjiun, sayang sabar." Rama mengusap matanya, memeluk Viana yang sedang kehilangan.
Langkah Viana sudah tidak bertenaga lagi, masuk ke dalam melihat Daddy yang duduk di kursi roda dengan senyuman, Vi langsung duduk lemas, berjalan duduk untuk mendekati Mommy.
"Viana, kamu memiliki kesempatan melihat Mommy dan Daddy nak."
"Mommy tersenyum, meninggalkan kami semua." Viana gemetaran.
"Vi ikhlaskan Mommy sayang." Rama mengelus kepala Viana.
Rama meminta Vira Ravi Kasih mendekat, melihat terakhir kali Halmeoni. Tama, Erik, Wildan, Winda, Bella dan Billa juga diminta mendekat.
Semuanya duduk membacakan surat Yasin, wajah Halmeoni juga sudah ditutup. Reva sudah keluar tidak sanggup, Jum juga berada di luar berada dalam pelukan Ibunya.
"Viana kemarilah sayang." Daddy memanggil Vi, Viana menangis sesenggukan memeluk kaki Daddy-nya.
"Di mana Jum dan Reva?" Daddy tersenyum melihat Reva dan Jum yang berjalan mendekat.
"Kemarilah nak."
Reva menangis mencium tangan Daddy, Jum juga duduk menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Kalian bertiga wanita hebat, terima kasih sudah menemani Viana selama ini."
"Rama jaga Viana, Bisma jaga istri cantik kamu, Bima jaga keluarga kita. Ammar kamu juga jangan sering pergi lagi, habiskan waktu bersama anak istri kamu."
Semuanya menggagukan kepala, kesedihan sangat terasa, hujan gerimis juga turun.
"Cucu-cucu grandpa, kalian jaga orang tua kalian, jadi wanita baik, jadilah lelaki panutan. Maafkan grandpa dan Halmeoni tidak bisa melihat kalian menikah, Ravi maafkan grandpa dan Halmeoni tidak menepati janji untuk melihat anak kamu."
"Grandpa bisa melihat kami, pasti bisa." Ravi mengusap matanya.
"Jaga istri kamu Halmeoni sudah menunggu grandpa."
Semuanya menangis melihat grandpa bicara sembarangan, dia juga meminta Viana membuka berkas warisan keluarga untuk keturunan. Bahkan grandpa juga memberikan bagian untuk Tian, Erik juga cucunya dari Verrel.
"Tian kamu sedekahkan sedikit warisan kamu untuk orang yang membutuhkan, Erik kamu juga harus menggunakan warisan kamu untuk membantu pasien kamu. Ravi kamu juga harus membagikan setengah harta kalian untuk pembangunan masjid. Cucu grandpa, harta sangat nikmat, tapi lebih nikmat, jika kalian bisa berbagi."
Tangan grandpa mengelus kepala Viana, menatap istrinya yang sudah ingin diangkat. Rama secara langsung membantu, Viana menangis melihat tubuh Mommy.
Semuanya berusaha untuk ikhlas melepaskan, mendoakan yang terbaik semoga Halmeoni ditempatkan di tempat surganya Allah.
"Daddy, Daddy bangun. Daddy, dengarkan Jum." Jum mengoyangkan tubuh Daddy yang tidak bergerak lagi.
"Daddy, dengarkan Viana Dad." Viana menangis histeris, banyak yang kaget, Rama langsung berlari masuk.
Erik berlari masuk, langsung mengecek keadaan Daddy yang juga menutup matanya untuk selamanya.
"Innalilahi wa inalillahi rohjiun. grandpa sudah meninggal." Erik menatap yang lainnya langsung menangis histeris, belum selesai pemakaman Mommy, Daddy juga menyusul.
"Daddy. Arrrrrgggghhhhh." Viana teriak kuat menangis, Rama memeluk Viana yang sangat kehilangan.
"Istighfar sayang, ini sudah takdir Allah, Daddy ingin menemani Mommy dalam hidup dan mati. Vi takdir kita seperti Mommy Daddy, aku juga ingin hidup dan mati bersama kamu."
"Hubby, Mommy Daddy pergi, Viana yatim piatu hubby."
"Hidup dan mati kita sudah ditentukan, tidak ada yang bisa menolaknya. Kita doakan Mommy Daddy agar diampuni segala dosanya." Rama juga menangis, memeluk Viana penuh rasa cinta.
"Ravi kamu harus kuat, kita antar grandpa dan Halmeoni bersamaan. Vira berhenti menangis sayang, kirimkan doa untuk grandpa dan Halmeoni, ya sayang."
__ADS_1
***