SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PERGI DAN MELEPASKAN


__ADS_3

Melihat Wildan bersama wanita lain, Vira hanya tersenyum terlihat santai. Dia masih bisa tertawa seperti biasanya. Acara lamaran tenang sampai selesai.


Di dalam kamar Bella, Vira melihat foto kecil mereka yang tumbuh bersama. Vira menyentuh wajah Wildan yang selalu dia ganggu.


"Sudahlah Vir, lupakan Wildan dia munafik." Bella melepaskan foto di dinding, melemparkan begitu saja.


"Jangan salahkan Wildan, dia bosan diganggu terus. Sekarang kita sudah besar, tahu yang mana yang pantas untuk dipertahankan. Vira tidak marah sedikitpun, ayo kita siap-siap besok kita kembali.


Winda menepuk bahu Vira Bella, langsung keluar kamar Bella untuk pulang ke rumah.


Melihat Vira masih tertawa membuat Ravi khawatir, Wildan tidak biasanya berurusan dengan seorang wanita. Bukan hanya Ravi yang khawatir, tapi Kasih juga.


Kasih mengikuti Vira pulang, langsung masuk ke kamar Vira yang sedang menyusun bajunya. Kasih masih melihat foto Vira dan twins, tidak ada satupun yang Vira singkirkan.


"Vir, kamu yakin akan baik-baik saja?" Kasih duduk di samping Vira yang tersenyum.


"Kak Kasih yang mengajari Vira untuk melepaskan, Vira tidak akan balik ke rasa yang sama. Mungkin sebagian orang berpikir perasaan Vira hanya candaan anak kecil, tapi semua nyata. Vira coba berpikir lagi, semua ucapan kak Kasih benar."


"Ravi mengkhawatirkan kamu Vir."


"Katakan pada kak Ravi, Vira baik-baik saja. Tunggu Vira membuktikannya jika semua baik."


"Jaga diri kamu, jangan salah jalan."


"Iya kak, jaga si kecil juga. Tunggu Aunty cantik pulang ya, jangan nakal di perut Mommy sampai lahir." Vira mengelus perut Kasih pelan.


"Siap Aunty,"


"Kak, Vira yakin anak kak Kasih kembar. Keturunan Mommy kembar, kak Kasih juga kembar."


"Semoga saja Vir. Kak Kasih keluar ya, selamat istirahat." Kasih langsung keluar, menutup pintu kamar Vira, Ravi berdiri di depan pintu sambil tersenyum.


Pertanyaan Ravi sudah diwakilkan oleh Kasih, Ravi yakin Vira bisa memilih jalan yang terbaik.


***


Pagi sekali Kasih sudah bangun sholat, langsung turun ke lantai bawah untuk melihat Mommy menyiapkan sarapan untuk Vira yang akan kembali untuk kuliah, Kasih membantu Viana untuk berbenah.


"Bagaimana keadaan Ravi sayang?"


"Selesai sholat, bilangnya ingin tidur lagi Mom."


Vira menuruni tangga cepat, langsung menemui Mommy, Vira kaget melihat Ravi muntah parah. Kasih yang panik langsung berlari, tapi ditahan Rama agar Kasih berhati-hati ada cucunya yang masih lemah.

__ADS_1


"Aak, kenapa muntah, ayo ke rumah sakit Ak." Air mata Kasih langsung menetes, melihat Ravi tidak berhenti muntah.


Setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya, Ravi tersenyum melihat Kasih yang menangis sesenggukan. Mommy sudah menyiapkan minuman untuk Ravi.


"Maafkan Kasih, Aak sakit sedangkan Kasih meninggalkan Aak."


"Jangan menangis sayang, rasa ini nikmat. Aak bersyukur bisa merasakannya, menyadarkan Aak untuk bersiap menjadi seorang Daddy."


"Kamu mirip Daddy kamu dulu Ravi, Daddy tidak sedikitpun mengeluh, menikmati setiap hari rasa mual, pusing, bahkan mengidam."


Ravi memutuskan untuk beristirahat, Kasih juga menemani, memijit kepala Ravi yang pusing. Tangan Ravi mengelus perut Kasih, menatap bibir istrinya yang tersenyum.


"Aak tidur, nanti Kasih bangunkan untuk sarapan."


"Peluk Aak sayang." Ravi menepuk dadanya, Kasih langsung berbaring, meletakkan kepalanya di dada Ravi, memeluk erat lelaki yang sangat dicintainya.


Ravi terbangun, melihat Kasih yang masih dalam pelukannya. Mata Kasih terbuka, menyentuh hidung Ravi yang membuat Ravi tersenyum.


"Ayo bangun sayang, hari ini kita mengantar Vira ke bandara."


Ravi Kasih menuruni tangga, suara tawa Vira sudah terdengar mengganggu Mommy Daddy. Ravi langsung menegur Vira yang tersenyum menutup mulutnya.


Sarapan pagi penuh canda dan tawa, Viana dan Rama hanya mengantar Vira sampai di depan rumah. Pelukan manja Vira terlihat lebay, membuat Ravi kesal.


Teriak Winda yang rumahnya di depan rumah Vira sangat kuat, sambil memanjat pagar. Bella Billa juga muncul melambaikan tangannya untuk Mommy, Mami.


"Kalian hati-hati di sana, jangan nakal, saling menasehati. Peringati Billa, jangan dekat dengan bule, kasihan Dokter Erik." Mommy tersenyum melihat bocah kecil sekarang sudah besar.


Tian dan Ravi sudah mengeluarkan mobil, pelukan hangat terlihat. Viana melepaskan Vira, Reva melepaskan putri nakalnya Winda, Jum juga memeluk kedua putrinya untuk segera berangkat.


Bisma memeluk kedua putrinya, Bima juga mencium kening Winda, sedangkan Vira tidak ingin lepas dari pelukan Rama.


Selesai drama pelukan baru berangkat, lambaian tangan terlihat menghilang. Melepaskan putri untuk mengejar mimpi, Viana tersenyum melihat Reva Jum yang mengusap air mata.


"Ayo kedua adikku, peluk kak Vi." Viana merentangkan tangannya untuk memeluk, Jum Reva langsung menangis dalam pelukan Viana.


***


Erik sudah menunggu di bandara, melihat dua mobil berhenti, keluar lima wanita cantik langsung melangkah mendekati Erik.


"Jam berapa berangkat kak?"


"Sebentar lagi Vir."

__ADS_1


Keberangkatan sudah siap, Vira memeluk Ravi Kasih erat, Bella Billa juga memeluk Tian untuk berpisah, Tian juga memeluk Winda, Ravi juga memeluk Winda, memperingatinya untuk jangan nakal.


Billa mendekati Erik untuk berpamitan, Erik memeluk tunangannya untuk menyelesaikan tugas terakhirnya sebelum menikah.


"Harus bisa jaga diri Billa, jika ada masalah hubungi kak Erik."


"Pasti kak."


"Bisa kalian berdua berpelukan jangan lama-lama." Tian menatap Erik sinis.


"Iya, kita juga ingin mendapatkan giliran." Vira cemberut langsung memeluk Erik, Winda juga memeluk, hanya Bella yang diam saja.


"Kakak ipar, tidak ingin pamitan."


"Bisa tidak panggil Billa, tidak suka berubah status, Bella masih ingin menjadi seorang adik." Bella langsung ikut berpelukan.


"Tidak akan ada yang berubah Bel, kamu boleh berganti pangkat, tapi kak Erik akan tetap menjaga dan melindungi kamu."


"Kasih juga boleh ikut pelukan." Kasih mendekat, tapi Ravi sudah mengeratkan pelukannya.


"Kamu hanya boleh memeluk Ravi, tidak ada laki-laki lain. Awas ya." Ravi mencium kening Kasih.


Vira, Winda, Bella Billa melambaikan tangan untuk berpisah. Langsung menuju Jet pribadi Tian.


Kasih meneteskan air matanya melihat Vira, twins pergi. Ravi mengusap punggung Kasih yang mudah baperan.


Tian langsung pamitan untuk pergi ke kantor, Erik juga langsung menuju rumah sakit.


"Kita akan pergi ke mana Aak?"


"Dokter, hari ini kita menyapa dede karena beberapa kali kamu merasakan keram."


"Oke bos, ayo Daddy kita melihat Rasih."


"Bagaimana Kalau dia laki-laki sayang?"


Kasih terus berpikir, dia tidak masalah laki-laki atau perempuan, karena yang paling penting, bayinya sehat, lahir ke dunia membawa kebahagiaan.


Ravi menggenggam tangan Kasih, bersyukur untuk semua nikmat yang dia dapatkan. Meskipun memiliki banyak masalah, Ravi akan menjadi orang yang kuat untuk anak istrinya.


Vira memejamkan matanya di dalam Jet, meninggalkan tanah kelahirannya, juga melepaskan cinta pertamanya. Wildan hanya akan menjadi teman selamanya.


"Aku pergi dan melepaskan semuanya." Vira tersenyum.

__ADS_1


***


__ADS_2