SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 TEMBAKAN


__ADS_3

Layar Wildan hidup melihat sekitar apartemen Vira, Erik dan Tian juga sudah bergerak sesuai perintah Ravi. Karan yang mengendalikan keadaan, Wildan mengontrol tim yang berjaga, Ravi fokus untuk menyetir, dalam hati Ravi mengkhawatirkan Kasih, tidak bisa membayangkan penderitaan Kasih selama ini, tidak heran Kasih tidak memiliki senyuman karena hidupnya terlalu menyedihkan.


Di apartemen, Kasih yakin ada dua tim yang mengawasi, tapi mereka harus keluar dan berpencar.


"Kenapa harus berpencar?"


"Karena kita ada di kota, bahaya untuk masyarakat yang tidak mengetahui apapun bisa menjadi korban."


"Kak Kasih terlalu memperdulikan orang lain." Winda menatap haru, juga sedih melihat Kasih yang berusaha terlihat tenang.


Kasih menyamar, memperbaiki penampilan Karin memintanya berjalan di belakang, Karin langsung memeluk Kasih, meminta maaf karena tidak mendengarkan saran Kasih untuk menunda pernikahan dan menghentikan Cinta terlebih dahulu.


Bella menatap Kasih yang juga menatapnya, Winda menggenggam tangan Kasih sambil tersenyum.


"Biarkan Billa dan Karin keluar kak, kakak jangan menyerang sendiri, kita sudah di kepung." Winda menatap Kasih yang masih melihat sekitarnya.


"Aku tidak ingin kalian terluka, aku tidak bisa memaafkan diri sendiri jika kalian tergores sedikitpun."


"Kak Kasih, kami mungkin masih muda tapi sejak kecil kami di ajar cara kerja sama, saling menolong, tidak meninggalkan salah satu." Vira juga ikut menggenggam tangan Kasih.


"Percayalah kita semua pasti baik-baik saja, jika satu jatuh semaunya harus terjatuh, jika satu terluka hindari yang lainnya terluka, jika kita semua terluka maka kita semua mati." Bella tertawa, memeluk Kasih.


"Karin, kakak harus membawa siapa untuk mengecoh?" Kasih menatap tiga wanita yang sudah berpose.


"Vira ahli beladiri dia tidak akan menyusahkan, Winda gadis cerdik dan licik, juga bisa melindungi dirinya sendiri."


"Kak kenapa harus ada liciknya?" Winda nyolot, tapi Bella langsung menjitak kening Winda yang tidak sadar diri.


"Sedangkan Bella, dia bisa mengendalikan keadaan tanpa butuh instruksi. Tapi aku tidak merekomendasikan Billa dia gadis lembut seperti Bundanya."


Kasih berpikir sebentar, menggunakan kacamata hitam. Meminta Karin dan Billa untuk pergi menjauh, sedangkan Kasih dan ketiga bocah mengiring untuk ke lapangan kosong, di belakang apartemen, biasannya hanya di gunakan untuk pendaratan pesawat darurat.


"Aku dan Winda akan mengantar Karin dan Billa untuk kembali, sedangkan kalian berdua bergerak lebih dulu, kakak akan kembali menemui kalian."


Bella dan Vira setuju dan tersenyum dengan gaya mereka yang sok cantik, semuanya langsung bergerak, Vira dan Bella berjalan ke arah yang berbeda, Kasih dan Winda berada di depan Billa dan Karin, bergabung dengan kerumunan orang, langsung masuk supermarket Billa dan Karin masuk mobil Ravi sedangkan Kasih dan Winda sudah berlari, beberapa orang sudah mengejar.

__ADS_1


"Berhati-hati kalian." Billa menjalankan mobil, menjauhi lokasi yang terdengar suara tembakan.


Puluhan orang mengejar Vira dan Bella, Vira merasakan kebinggungan karena ada yang melindungi mereka tapi ada juga yang menyerang.


"Kak Vira, tim ini ada dari bawahan Cinta, ada juga bawahan kak Ravi."


"Bagaimana membedakannya? Cinta ini bukan wanita biasa dia seorang penjahat."


"Perhatikan gerakan mereka, karena yang melatih Wildan, kita sangat memahami gerakan Wildan dalam bela diri."


Lapangan yang sangat luas, Kasih coba melihat takutnya ada masyarakat yang menjadi perkelahian ini tontonan.


"Awas kak Kasih, tolong fokus." Winda langsung berlari, diikuti oleh Kasih."


Vira dan Bella hanya berdiri santai melihat pertempuran, Erik dan Tian terlihat datang membuat semuanya tersenyum.


Kasih langsung berlari di tengah pertempuran, mengambil senjata salah satu lawan dan mengarahkan ke depan, dua peluru beradu. Tian langsung meminta semua orang berlindung, tembakan terus terjadi, Kasih berdiri di balik pohon, sangat khawatir adanya korban.


"Kak Cinta, mengapa berubah sejahat ini?" Kasih menghela nafasnya.


"Mereka menggunakan senjata Bel, Cinta tidak memandang siapapun, dia tidak peduli yang mati tim dia atau lawan."


Bella mengeluarkan tablet yang dia sembunyikan, Bella tidak tega melihat Kasih yang tidak ingin ada korban, Bella menerbangkan Drone yang berada di tangan Vira. Vira langsung memanggil Winda jika Bella menerbangkan Drona.


"Kak Tian Bella mengerakkan Drone." Winda langsung panik, karena Bella belum menguji coba, jika sampai meledak seperti bom yang hampir membuat mereka berempat hangus.


Tian langsung ingin keluar tapi Erik langsung menarik jika tidak pasti Tian sudah tertembak.


"Kak Kasih, penembak mereka ada enam orang, peluru kakak ada berapa?"


"Lima."


"Kita keluar bersamaan kak, Bella maju memberikan instruksi letak penembakan jitu, kakak tembak tempat melumpuhkan saraf mereka tanpa harus membunuh."


"kamu yakin Bella, jika gagal kita berdua gugur."

__ADS_1


"Bella tidak pernah percaya diri kak seperti sekarang. Bella yakin kita bisa, bersembunyi tidak akan memberikan jalan."


"Baiklah." Kasih dan Bella saling tatap.


Kasih keluar mengarahkan tepat di depan penembak jitu, Bella langsung memberikan instruksi, belum sempat orang menembak Kasih sudah lebih dulu melumpuhkan. Lima peluru lima detik dan semuanya lumpuh, Kasih berlari membawa Bella berguling karena Bella yang mengendalikan pasti menjadi incaran.


Rerumputan membantu keduanya, Kasih tidak bisa menghindar lagi, dia memeluk Bella, tapi sebuah tembakan terdengar. Tama berdiri melindungi Kasih yang memeluk erat Bella.


"Kak Tama."


Tama berjalan maju, meminta tim Ravi semuanya Keluar, pihak musuh banyak yang terluka karena di tembak sembarangan.


Tian dan Erik melihat Tama yang baru kembali bertugas, dia juga masih menggunakan baju seragam. Tama sangat kaget saat berada di kantor bertemu dengan Kasih dan Billa yang di tahan polisi karena mobil yang mereka gunakan sempat kebut-kebutan.


Langkah kaki Tama terus melangkah, lima orang penembak tidak sadarkan diri, tapi satu orang masih tertawa.


"Kakak, tolong Cinta." Cinta langsung berlari dalam pelukan Tama, Kasih kaget melihat salah satu penembak ternyata Cinta.


"Kenapa kamu melakukan ini Cinta?" Tama masih terdiam, tidak membalas pelukan Cinta.


"Kakak jangan salah paham, Cinta di ancam kak, Cinta sangat takut." Cinta menangis histeris, tubuhnya sampai berguncang karena tangisan terisak.


"Kamu tahu betapa kakak menyayangi kamu dan Kasih, kalian harta kakak, kebanggaan kakak, wanita yang ingin kakak lindungi. Kalian sangat penting untuk kak Tama Cinta."


"Cinta juga sayang kakak."


"Tapi mengapa kamu menyakiti Kasih hanya karena cinta, kamu melukai dia dan menjadi orang jahat."


Cinta melepaskannya pelukannya, menatap tajam Tama dan tersenyum sambil menangis.


"Kenapa semua orang sangat menyayangi Kasih? kakak lebih mempercayai dia dari pada Cinta. Kenapa kak? apa karena Cinta bukan adik kandung kakak?"


"Cin, bahkan kakak menutup mata dan telinga, saat kamu melakukan kejahatan dan kakak salah satu korban yang hilang bertahun-tahun. Bahkan kak Tama tidak percaya dengan kebenaran jika kamu yang ingin membunuh kakak, karena apa dek? karena aku sangat menyayangi kamu, aku ingin kamu berubah tapi kamu bukan berubah tapi menjadi penjahat yang tidak punya hati."


***

__ADS_1


__ADS_2