
Suara tamparan kuat terdengar, tangisan juga teriakan semakin terdengar.
"Ampun kak Cinta, sakit kak ampun. Kenapa kakak melakukan ini kepada Kasih."
"Kamu bukan Kasih, dia sudah kembali dan menjadi istri Ravi."
"Apa maksudnya kak Cinta?"
"Kasih memang manusia sialan, aku seharusnya membunuh dia dari dulu. Ravi harus menjadi milik cinta, banyak perempuan yang aku singkirkan agar Ravi melirik aku, tapi dengan mudahnya cinta Ravi berpindah kepada kalian."
"Kak Cinta tidak pernah kasihan terhadap ibu, dia sangat menyayangi kakak menganga kakak putri kandungnya, tidak sekalipun dia menyebut siapa kakak."
"Aku tahu betapa besarnya cinta ibu, karena itu aku tidak bisa membunuh kamu. Tapi Kasih selalu menantang aku dan sekarang tanpa ada angin dan hujan dia sah menjadi istri."
"Dari awal mereka sudah ditakdirkan bersama, lihatlah bagaimana kakak coba menyingkirkan banyak kekasih Ravi sampai dia bertemu Kasih, kakak berhasil menyingkirkan aku, tapi akhirnya Kasih menjadi pemenangnya."
"Kamu yang menyedihkan Karin, betapa banyaknya hal romantis yang kalian berdua lalui tapi akhirnya Kasih yang menikah." Cinta tertawa, melangkah keluar dari ruang penyekapan.
Karin meneteskan air matanya, sejak Ravi mengatakan cinta, Karin ingin mengatakan kebenarannya. Rasa takut jika Ravi membencinya dan memutuskan pernikahan membuat Kasih mengurungkan niatnya, dalam hati Kasih hanya berdoa agar mendapatkan jawaban dari rahasianya.
Kini Kasih mendapatkan jawaban dari rasa takutnya, Kasih kembali dan duduk di posisinya yang sesungguhnya. Wanita yang membuat Ravi penasaran sehingga berjuang untuk mempertahankan.
"Kak Kasih maafkan Karin yang tidak jujur soal pernikahan, aku mencintai Ravi kak tapi aku lega karena kakak tidak membuat keluarga besarnya malu dengan menghilangnya aku."
Karin meneteskan air matanya, menangis sesenggukan. Kasih wanita luar biasa yang Karin temui 10 tahun yang lalu, Karin sedang dalam pelarian karena melarikan diri dari keluarga angkatnya bertemu Kasih yang sedang liburan sekolah ke luar Negeri.
Keduanya sama-sama terlihat bodoh, Karin yang bernama Raya Karina tidak mengetahui jika dia kembar. Berbeda dengan Kasih yang terlihat santai tidak ada rasa takut, sampai Kasih bisa menolong Karin untuk keluar dari kejaran, kembali dengan menggunakan kapal dan perjalanan panjang.
Diam Kasih bukan karena dia tidak terkejut tapi tidak ada gunanya marah, Kasih membawa Karin bertemu bapaknya dan marah besar di sana.
Setelah semuanya tenang, bapak barulah bercerita jika Cinta anak dari saudara sepupunya, Cinta ingin di jual tapi Bapak berhasil menyelamatkannya. Saat Kasih dan Karin akan lahir, bapak sedang bekerja dan yang mengurus persalinan ibu mertuanya.
Kepanikan terjadi di ruang persalinan, Ibu tidak sadarkan diri kedua bayi di culik dan bapak berhasil kembali dan mengejar kedua anaknya, Kasih bisa di temukan tapi Karin sudah di bawa terbang. Saudara sepupu bapak meminta ganti rugi atas Cinta yang gagal di jual sebagai gantinya salah satu putri kembar di jual.
Dengan penuh kesedihan, bapak membawa Kasih seorang diri. Tidak ada yang mengetahui jika Kasih kembar kecuali mertuanya yang memutuskan untuk merahasiakan dari ibu dan seluruh keluarga.
Terpukul sudah pasti Kasih dan Karin rasakan, Karin yang paling menderita karena harus hidup dengan keluarga yang hidup dengan uang haram, tidak tahu agama, mengambil hak orang dan korupsi. Kekerasan juga selalu terjadi, sejak hari itu Kasih memutuskan bertukar posisi, meminta Karin menenangkan diri dan hidup dengan tenang.
Bapak menolak keinginan Kasih tapi dia tidak punya pilihan selain kembali, karena mereka pasti akan mencari Karin sampai ketemu dan bisa menyakiti keluarga yang lainnya.
__ADS_1
Kasih pergi membawa dendam untuk pamannya, dia mengendalikan keadaan dan kekacauan sampai kembali normal. Kasih selalu kembali kapanpun dia ingin jika merindukan ibu, bapak, Karin, Tama dan Cinta.
Tapi Cinta berubah dan bersikap buruk kepada Kasih, Cinta tidak terima jika Kasih menghancurkan bisnis Ayah kandungnya. Kasih tidak takut dengan Cinta yang ternyata mendengar seluruh percakapan Kasih Karin dan bapak.
Pertengkaran keduanya terus berlanjut, Cinta tidak pernah unggul untuk mengalahkan Kasih, berbeda dengan Karin yang terlihat biasa saja.
Pertemuan dengan Ravi bukan sebuah kesengajaan, bahkan Kasih melupakannya jika Karin tidak bercerita.
"Ya Allah lindungi Kasih, buka mata kak Cinta agar menghilangkan sikap iri terhadap Kasih." Karin menghela nafas, tidak bisa melepaskan diri.
***
Keluarga Prasetya sedang makan malam bersama, ini akan menjadi malam terakhir Ravi tinggal dan makan bersama.
"Ravi kalian kapan ingin honeymoon?"
"Nanti saja Mom, Ravi ada urusan mendesak. Kasih juga sudah memakluminya." Ravi menatap Kasih, tapi Kasih hanya tersenyum.
"Jawab sayang jangan hanya tersenyum, kamu pikir kita lagi iklan pasta gigi."
Bibir Kasih langsung manyun, bete dan kesal mendengar candaan Ravi yang tidak lucu baginya.
"Ravi jangan sering menggoda istrimu."
"Kak Ravi benar, Vira juga merasa aneh."
"Ravi sialan, dia yang ingin aku tutup mulut, dia juga yang mulutnya bocor." Batin Kasih kesal.
"Sayang nanti sudah makan langsung ke kamar ya, badan aku sakit semua tolong di pijit." Ravi nyegir menggoda.
"Aku bukan tukang urut Ravi." Kasih buka suara sambil melotot.
Viana dan Vira langsung tertawa, Rama tersenyum melihat Kasih yang mendadak bete.
"Berani menolak keinginan suami, baiklah tidak masalah, dosa tanggung sendiri."
"Mommy tolong hubungin mbak Zia, kata orang bukan hanya seksi tapi pijitannya enak, lumayan bisa merasakan tangannya." Ravi langsung melangkah pergi.
"Jangan di telpon Mom, dasar Ravi genit, mata keranjang, tidak pernah cukup satu perempuan, playboy cap kapang." Kasih menghentakkan kakinya karena kesal, Viana dan Rama saling pandang, sedangkan Vira merekam ucapan Kasih yang pelan.
__ADS_1
Di dalam kamar Ravi berbaring tengkurap membuka bajunya, Kasih masuk menuangkan minyak, memijit dan memukuli punggung Ravi pelan.
"Bau minyak apa ini Kasih?"
"Minyak urut,"
Ravi menyentuh punggungnya, mencium bau di tangannya menatap Kasih kesal.
"Kenapa lagi?" Kasih mengerutkan keningnya.
"Minyak goreng, kamu pikir punggung aku ikan goreng."
"Mana Kasih tahu, sudah di bilang Kasih bukan tukang urut."
"Kamu bisa menggunakan lotion Kasih, bukan minyak pengoreng."
Ravi langsung berdiri melihat punggungnya yang putih menjadi merah licin, semut juga bisa jatuh. Kasih hanya diam saja mendengar Ravi mengomel, langsung masuk kamar mandi dan mandi malam-malam.
"Dasar Playboy cerewet, dia yang minta dia juga yang marah." Kasih menendang baju Ravi, menginjak di lantai.
Kasih langsung berbaring memejamkan matanya, tidak lama suara teriakan Ravi terdengar.
"Kasih! kamu tidak tuli, cepat."
"Apa? aku lagi tidur."
"Handuk, cepat aku dingin."
"Dasar Ravi brengsek, tidak punya otak, bikin ribet." Gumam Kasih pelan turun dari ranjang.
"Di mana handuknya?"
"Di cari jangan mengomel, pakai mata kamu."
"Aisshhh yang mengomel dari tadi dia, nyalahin orang."
Kasih berlari mendekati pintu menyerahkan handuk sambil memalingkan wajahnya.
"Dasar siput, lama banget."
__ADS_1
Kasih menggenggam tangannya, ingin sekali dia menonjok kepala Ravi.
***